
Selepas kepergian Linda dan Nano.
Rindu mengerucutkan bibirnya. Meratapi gelas kaca kosong didepannya. Padahal bibirnya terlihat semakin memerah karena pedas menjalari.
"Biasa saja. Aku bisa membelikan lagi untuk Rindu." Ucap Setya. Masih dengan tangan menempel pada bibirnya.
Hari terlihat masam. Menatap Rindu lamat-lamat.
"Tidak perlu." Hari memberikan segelas es kelapa miliknya. "Minumlah. Ini belum sempat aku minum Ri." Terangnya kemudian pada Rindu.
"Ya sudah." Ucap Setya cuek. Melenggang menuju tukang bakso.
"Terima kasih." Ucap Rindu setelah meneguk habis minumannya.
"Ya." Masih dengan intonasi yang sama menjawab pernyataan Rindu.
Terlihat Setya kembali dengan semangkuk bakso dengan dua es kelapa.
"Nih Har. Untukmu." Ucap setya dengan menyodorkan gelas.
"Aku bilang TIDAK PERLU!!" ucap Hari dengan kemarahan diikuti gelas kaca yang terlempar.
"Astagah Mas Hari." Pekik Rindu kaget.
"Har kau kenapa?" Tanya Setya masih santai. Dengan mengerutkan kening. "Itu untukmu, aku tidak mebelikanya untuk Rindu." Terang Setya.
Rindu melihat kemarahan dikedua bola mata Hari. Diraihnya tangan Hari menjauh dari meja dimana Setya berada.
Kenapa dengan Hari? Aneh. Batin Setya.
Setelah menjauh dari sana. Rindu mulai mengatur nafasnya yang sedikit tak beraturan. Kaget atas tindakan Hari.
"Mas! Ada apa denganmu?" Tanya Rindu kemudian.
"Aku tidak suka dia meminum dari gelas bekas bibirmu." Ucap Hari lembut.
Mendengar penuturan Hari seolah Rindu tak habis pikir. Itu hanya sebuah es dalam gelas. Lalu apanya yang salah?
"Ayolah, itu hanya es didalam sebuah gelas mas." Ucap Rindu sedikit membuang muka.
"Apa kau tidak mendengar ucapan Linda." Tegas Hari.
"Itu tidak berarti apa-apa. Jangan terlalu kolot deh." Ucap Rindu dengan memutar kedua matanya jengah. "Jangan bilang kalau cowok cewek bertukar sandal bisa hamil? Ayolah jangan terlalu berlebihan." Imbuh Rindu panjang lebar. Mengingat pesan orang tua jaman dulu.
"Tapi aku tidak suka itu." Ucap Hari.
Iihhh orang ini. Kudu ku jitak saja kepalanya. Batin Rindu.
Dari jauh Setya mengamati obrolan Rindu dan Hari.
"Ada apa dengan mereka? Ciihh bahakan aku disini seperti seorang supir yang sedang mengantar dua sejoli double date" bergumam sendiri.
Kembali lagi pada Rindu dan Hari.
"Terserah!" Putus Rindu dengan mengangkat kedua tangan keudara. Meninggalkan Hari begitu saja. Hari tampak gusar dengan menendang ringan pasir-pasir putih yang tak bersalah.
Rindu kembali duduk didepan setya.
Menikmati sebiji baso yang masih tertinggal dimangkuk.
"Kenapa Hari?" Ucap Setya penuh selidik.
__ADS_1
Rindu hanya mengangkat bahu. Tidak mungkin juga mengatakan apa alasan Hari naik darah. Bisa panjang urusannya.
Hari mengacak-acak rambutnya frustasi.
Aarrgghhh kenapa juga aku jadi emosi. Memang Rindu siapa ku?. Tanya Hari pada dirinya sendiri.
Hari mencoba menenangkan hati dan fikirannya. Memang tak seharusnya dia bersikap seperti itu. Mengambil nafas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan.
Ayolah,, ciuman secara tidak langsung. Astagah konyol sekali. Dasar Linda kenapa aku jadi terprovokasi omonganmu. Seulas senyum pada sudut bibi Hari kala memikirkan tindakannya.
Berjalan perlahan menuju meja dimana ada Setya dan Rindu disana. Gengsi kali ya meminta maaf. Santai Hari duduk disebelah Setya. Tanpa terucap satu katapun. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pertemanan yang amat kental kadang kala seperti itu. kata maaf seakan pantang terucap tanpa alasan yang mendasar.
***
Dibelahan pantai yang lain.
Dag dig dug
Detak jantung Linda semakin terpacu. Suara ombak yang bergemuruh seakan tersaingi oleh suara jantungnya.
Hembusan nafas menerpa leher jenjang Linda, bahkan hembusan angin pun seperti enggan tuk bersaing ditengah-tengah romansa cinta.
Rona merah yang terpancar dikedua sisi pipi itu nyaris tak terlihat. Tersamarkan sinar mentari yang hampir saja terbenam.
"Sorry ada daun kering dibelakang, terselip pada rambutmu. Sebentar menghadaplah sana kuambilkan." Ucap mas Nano kemudian.
Astagah Linda pikiran menjijikan apa yang meracuni otakmu hingga tidak waras. Gerutu Linda pada pemikiran kotornya.
"Sudah." Ucap Nano sambil memperlihatkan daun yang sudah mengering.
"Mas pulang yuk sudah sore." Ajak Linda tiba-tiba yang sudah beranjak dari duduknya. Menepuk-nepuk ringan celananya yang kotor tuk sekedar mengusir canggung.
"Tidak ingin berfoto dulu?" Tawar Nano.
"Boleh yang bagus ya." Ucap Linda.
"Yuk mas." Ucap Linda dengan mengukurkan tangan. Setelah puas berfoto.
Mas Nano mengangguk. Berjalan menghampiri Setya serta yang lainnya.
Terlihat ketigannya sudah duduk manis didalam mobil jeep yang mereka gunakan.
"Lama sekali." Sungut Rindu yang dibiarkan sendiri dengan kedua teman Nano.
"Maaf maaf kupikir kalian juga ingin menikmati indahnya sunset dipantai." Ucap Linda.
Rindu hanya mencebik. Hari yang gemas hampir saja menyentuhnya. Beruntung otaknya masih bisa berfikir jernih jadi berbelok menuju pucuk kepala Rindu dan mengacak-acaknya.
"Hahaha sudahlah jangan cemberut seperti itu. Ayo Setya kita pulang." Pinta Hari. Yang sudah lebih baik setelah memikirkan ucapan Rindu.
"Enak saja! Ganti kau yang setir." Tolak Setya.
"Kemarikan biar aku saja." Sahut Nano. "Yuk Lin." Imbuhnnya.
Kini Rindu, Hari, dan Setya duduk dikursi belakang dengan posisi Hari berada ditengah-tengah Rindu dan Setya. Sepanjang perjalan tidak ada percakapan hanya suara musik pada jeep tersebut.
Duuuggg
Tanpa sadar kepala Rindu terantuk kaca mobil.
__ADS_1
Setya berdecak lalu menggumam dalam hati terantuk begitu keras tidak membuatnya terbangun. Dasar.
Disenggolnya bahu Hari, membangunkannya agar memposisikan kepala Rindu lebih nyaman.
"Har,"
"Heemm."
Hanya mata Setya yang memberi isyarat untuk menoleh kesebelah kirinya.
Segera Hari memposisikan kepala Rindu pada pundaknya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba dikediaman Linda.
"Yank bangukan Rindu, sudah sampai." Ucap Nano sambil melepas sabuk pengamannya.
"Heemm." Linda mengangguk.
"Be, Cabe ayo bangun sudah sampai!" Ucap Linda.
"Ri sudah sampai bangun." Ucap Hari sambil menepuk ringan pipi cubby Rindu.
Rindu menggeliat menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan saat menguap.
"Hemm ya." Ucap Rindu singkat sambil melangkah keluar mobil. Berlalu meninggalkan teman dan kakaknya.
"Terima kasih ya Mas Nano, Setya, Hari. Sudah mengajak aku dan Rindu berjalan-jalan." Ucap Linda dengan senyum mempesona.
Setya hanya mengangguk.
"Iya. Beristirahatlah." Ucap Nano sambil mengusap lembut pucuk kepala Linda.
Hari yang melihat itu seketika membuang muka sambil menggerutu. "Jiaaahhh. Tahu tahu kita hanya numpang, ayo Setya. Nano kita tinggal." Sambung Hari.
"Hahaha. Iya tunggu. Assalamualaikum Lin." Ucap Nano kemudian.
"Waalaikumsalam." Balas Linda.
Berjalan perlahan. Menyapa kedua orangtuanya yang tengah duduk santai menikmati acara TV.
"Lin bangunin Rindu sana. Begitu tiba dia langsung masuk kamar." Ucap Bibi Winy.
"Iya Ma."
Berjalan santai menuju kamar mandi tuk hilangkan lengket dibadan.
Tak lama untuk menghabiskan waktu membersihkan diri.
"Be, Cabe bangun mandi dulu gih."
"Heemm. Ya kak." Dengan mata mengerjab Rindu mengumpulkan seluruh nyawanya.
Malam datang menampakkan sedikit bintang yang menyapa. Semua terlelap, terlena dalam mimpi indah masing-masing. Kukukkan burung hantu terdengar merdu. Serangga malam pun saling beradu.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu