
Cuitan burung terdengar begitu merdu, dingin yang menusuk tulang membuat Rindu enggan untuk membuka mata. Kesibukan sayup sayup terdengar di telinganya suara indah dari dentingan perabotan dapur yang setiap hari di geluti mama Winy, tak membuat Rindu terganggu.
Pemalas gelar dari Linda memang cocok di sematkan pada Rindu si tukang tidur.
Linda yang sudah biasa bangun pagi terlihat mondar-mandir di sekitar rumah, entah apa yang tengah ia cari.
Seolah-olah benda atau apalah itu sangat berharga baginya, hingga Linda tak menyadari bahwa sepasang mata teduh mama Winy memperhatikannya.
" Duh dimana ya?" Linda bergumam pada dirinya sendiri.
" Nyari apa sih?" pertanyaan Rindu seakan mengagetkan Linda yang tengah serius mencari.
Sedikit berjingkat Linda nampak kaget " astagah Rindu bikin kaget saja." berlalu meninggalkan Rindu begitu saja.
" Yeehhh di tanya malah pergi, sapa tau aku bisa bantukan." sambil berlalu menuju kamar mandi rindu bergumam.
Waktu berlalu begitu cepat kegiatan demi kegiatan berjalan seperti biasa. Rumah nampak sepi karna tinggal mama Winy yang berada di rumah sederhana itu.
Linda yang biasanya ada dirumah pun tidak terlihat karna harus membeli beberapa kebutuhan untuk menjahit, Linda yang dari dulu ingin menjadi seorang desainer baju mulai merintis karir dari nol.
Di tempat lain terlihat dua orang tengah berbicara santay.
" Kapan No kamu kembali bekerja di kota? Apa kamu tidak merasa aneh dengan kejadian tempo hari di taman? " tanya Karno pada Nano yang sedang bersantai di teras rumah.
" Besok pagi! jelas, tapi aku tidak mau menuduh kesembarang orang." jawab Nano sambil memandang langit, terlihat Nano sedikit menyipitkan matanya karna silau." mau kopi?" tanya Nano kemudian.
" Boleh deh." Karno menjawab setelah sedikit menyesap rokok.
Nano hendak melangkah merasa ada sesuatu yang terlupa akhirnya berbalik haluan. " He he he." tawanya keluar sambil melirik ke arah Karno.
" Jangan bilang lo kehabisan kopi?" Karno menebak apa yang tengah membuat temannya itu tertawa nyengir.
" Iya." masih dengak expresi nyengir kuda.
Ini si mas Nano ni..
" Bentar ya bro biar aku suruh Nani dulu." sanggah Nano agar temannya tidak kecewa. " ni...!! Nani...!! Cepet sini bentar dek...!! Tolong belikan kopi ya di warung." panggil Nano pada adik bungsunya.
" Yaa!! Bentar Mas," Nani menjawab dan berjalan menuju teras, " mana uangnya?" kemudian menengadahkan tangannya.
Segera Nani pergi ke warung dekat rumah, " bu! beli buu!!! " Nani memanggil si pemilik warung.
Terlihat menghampiri nani dari arah dalam " Beli apa neng?" tanya si pemilik warung.
" Gula sama kopi bu!" Nani pun mengutarakan maksud dan tujuannya.
Setelah melakukan transaksi jual-beli, Nani segera pulang dan membuatkan kopi untuk Karno. Diletakkannya kopi diatas meja yang terletak diantara Karno dan Nano.
" Trus lo mau diam begitu saja?" Karno kembali bertanya pada tujuan awal dia kemari.
" Entah lah, yang jelas kita harus bertanya pada setya." jawab Nano, yang kemudia di angguki oleh Karno.
*****
Intro : Am F G Am F E Dm Am E
F E Am
Am
Saat kita berpisah
F E
Kau pegang erat tanganku
Dm Am
Sepertinya tak merelakan
__ADS_1
F E
Kepergianku untuk meninggalkanmu
Am
Dermaga saksi bisu
F E
Waktu ku kucup keningmu
Dm Am F
Perlahan kau lepaskan pegangan tanganku
E Am
Aku lihat kau menangis...
Dm
Lambaian tanganmu
G C G -Am
Masih ku ingat selalu
Dm
Itu yang terakhir
G E F E
Ku melihat dirimu
Reff:
Am Dm
G C E
Namun tak pernah aku jawab
Am Dm
Lalu ku kirimkan undangan
F E
Agar kau tak berharap
Am Dm
Bukannya aku tak tega
G C
Bukan pula aku tak cinta
F Dm
Karena orang tua
E Am
Yang tak merestui cinta kita
.
Coda : Dm G E Am G - F E - D B
__ADS_1
C-E-Dm F-E Am
Back to : (*), Reff
Am
Dermaga saksi bisu
F E
Waktu ku kucup keningmu
Dm Am F
Perlahan kau lepaskan pegangan tanganku
E Am
Aku lihat kau menangis...
Coda : Am F G Am E
Bukannya aku tak cinta ~ iklim.
Seketika sorak soray di ruang kelas Rindu, pipi merah tomat tercipta jelas di wajah Rindu tak kala dirinya di tunjuk teman sekelasnya.
Secepat kilat Rindu meninggalkan kelas yang masih ramai. Kini Rindu tengah berada di bawah pohon taman sekolah sambil sesekali memainkan batu dengan kakinya.
" Dooorrr!!!" suara kerasa dian mengagetkn Rindu. " kenapa diam sendiri disini?" tanyanya kemudian.
" Gak papa lagi males aja," jawab Rindu enggan menatap balik dian.
" Tadi rame-rame ada apa sih di kelas mu?" Dian bertanya ingin tau apa yang sedang terjadi.
" Jangan mimpi ya bisa sama diwan !!!" ejek siswi yang baru melewati tempat dimana Rindu dan Dian berada.
Mendengar itu dian segera menoleh pada Rindu. Seolah menunggu jawaban yang pasti, mengingat rindu tidak satu kelas dengannya.
" Kekantin yuk?" suara Rindu yang mengurai keheningan kala itu, dengan memegang pergelang tangan Dian agar segera beranjak mengikutinya.
Dian menurut tanpa bertanya, sebab Rindu paling tidak suka privasinya di ganggu. Sekalipun dian yang tergolong teman akrab.
Terlihat beberapa pasang mata mengarah pada kehadiran seseorang yang baru datang, bukan tatapan kagum melainkan tatapan syirik bercampur jengkel.
Menyadari itu Dian meraih tangan Rindu, yang seketika berhenti sebelum melanjutkan langkahnya.
" Pliss crita dulu Ri, kali ini aku memaksa!" pinta Dian pada Rindu.
Rindu menghela nafas sejenak kemudian menatap Dian dengan wajah seceria mungkin. Diraihnya kedua tangan Dian yang masih setia memeganginya.
Gelengan kecil Rindu suguhkan pada Dian, " aku tidak apa-apa Dian, ayolah tenang saja." Rindu mencoba meyakinkan.
Akhirnya mereka berdua kembali melangkah menuju meja yang masih kosong.
" Mau pesan apa, aku yang traktir," Dian mencoba mencairkan suasana, " Eemm kamu tunggu sini ya," tambahnya.
Yang di jawabi anggukan singkat Rindu.
" Uupsss sorry, gak sengaja," seorang siswi sengaja menumpahakan minuman kearah Rindu.
Seketika Rindu mengambil langkah seribu dengan mata mulai berkaca-kaca menahan tangis yang siap meledak sedari tadi.
Dian yang tak menyadari kejadian itu terlihat mencari-cari keberadaan Rindu.
Hingga Dian bertanya pada teman yang tadi berada di dekat mejanya
" Kenapa disini jadi basah? Kemana rindu?".
Terlihat temanya memberi isyrat pada Dian agar mendekat kearahnya, mereka berdua pun berbisik-bisik. Sesekali dian mengangguk tanda Dian mengerti perkataan temannya.
" Okey ... terima kasih," ucap Dian.
__ADS_1
Ditoilet terdengar tangisan Rindu tersedu-sedu, sesekali Rindu mengusap air mata dengan telapak tangan.
Kenapa harus seperti itu Diwan, apa salah ku pada mu. Rindu membatin