
Sore menampakkan warna keemasan diufuk barat warna teduh menandakan hari mulai berganti malam.
Ditemani kuda besi mas Nano menuju kontruksi bangunan bakal butik Linda nanti.
Nuansa black and grey menjadi pilihan butik Linda. Sudah nampak kokoh berdiri siap untuk menjadi penunjang kemajuan karier linda didunia desainer.
Nano melihat dari bawah bangunan, senyum menampakkan gigi ginsulnya.
Terlihat mas Nano mengeluarkan ponsel untuk memoter agar bisa iya share kepada Linda dikampung.
"Assalamualaikum, Lin ini aku kirimkan gambar pembangunan butik barumu" pesan singkat Nano kirimkan.
"Waahh sudah hampir jadi ya mas?" Tanya Linda.
"Lebih cepat lebih baik bukan?" Pesan singkat mas Nano.
"Terima kasih mas sudah mau memantau perkembangan pembangunan butikku" ucap Linda lewat pesan singkat.
"Iya, apa yang tidak untukmu❤❤" pesan singkat mas Nano dilengkapi dua gambar hati.
Sepersekian detik Linda tak tahu harus menjawab pesan mas Nano seperti apa. Haruskah ia menambah gambar hati juga pada akhir kalimat.
Iiihhhh, apa tidak terlalu kekanak-kanakan. Gumam Linda diseberang.
"😊😊😊 terima kasih mas Nano" hanya pesan singkat bergambar smile Linda kirimkan.
"Hanya itu Lin?" Pesan singkat mas Nano.
"Ya" balas Linda masik kukuh dengan pendiriannya. Tidak lucu bukan jika harus kekanak-kanak sedangkan umur yah, sudah bisa dikatak matang untuk menikah.
Pesan singkat pun tak berbalas, nampaknya nano ingin tau jika ia tak menanggapi apa yang hendak dilakukan Linda.
Satu detik dua detik tiga detik hingga sepuluh menit berikutnya.
"Terima kasih mas Nano❤❤❤" sukses Linda mengirim ucapan terima kasihnya diakhiri tiga tanda hati. Karena yang ditunggu-tunggu tak kunjung merayu.
"Nah begitu, sudah malam aku akan kembali kemes." Pamit Nano pada Linda untuk kembali kearea mes tempatnya tinggal selama dikota.
"Iya hati-hati assalamualaikum" pesan singkat Linda.
"Waalaikumsalam" jawab mas Nano.
*****
Perjalanan menuju pabrik tampak lenggang malam ini, tak banyak kendaraan berlalu lalang.
Dari jauh tampak manik mata mas Nano menangkap seseorang.
Silla? Kenapa dia dijalanan seperti ini sendirian? . Gumam mas Nano dalam hati.
"Silla!!." Seru mas Nano.
Sang pemilik nama pun seketika menoleh.
Silla tampak mengenakan topi berwarna merah. Seakan sengaja bersembunyi dari seseorang agar tak seseorang pun mengenalinya.
Isshh Nano kenapa harus bertemu sekarang sih. Gumam Silla.
Mas Nano pun menepikan motornya.
Segera ia berjalan mendekati Silla yang masih tertegun, mencoba mencari alasan yang tepat kenapa ia ada disini.
"Sil kau akan kemana?" Terlihat Nano melihat Silla dari atas sampai bawah. Tidak biasanya Silla berpenampilan seperti sekarang ini.
"A-aku, aku sedang mencari makan malam." Ucap Silla sedikit gugup.
"Mau kuantarkan?." Ucap mas Nano memberi penawaran.
"Tidak. Tidak perlu No." Jawab cepat Silla.
Nano sedikit melirik penuh selidik, sedikit tidak percaya.
"Eemm baiklah." Ucap Nano sambil melangkah menuju motornya.
Silla masih tak bergeming dari tempatnya.
Fiiuuuhhhffff selamat. Silla membatin.
Taksi lewat.
Tak butuh pikir panjang Silla segera memberhentikan taksi, kemudian menaikinya.
Silla masih menoleh kebelakang takut jika Nano mengikutinya. Setelah merasa aman Silla meminta supir taksi untuk menuju cafe tujuannya.
Karena merasa ada yang ganjal. Mas Nano sembunyi-sembunyi mengikuti Silla.
__ADS_1
Tentunya tanpa sepengetahuan sipenumpang taksi.
Cafe...
Silla masuk kedalam cafe? Haruskah aku mengikutinya?. Gumam mas Nano dalam hati.
Sebaiknya tidak. Mungkin silla sedang berkencan dengan seseorang. Syukurlah jika dia sudah memiliki tambatan hati yang baru. Gumam mas Nano senyum-senyum dengan pikirannya sendiri.
Melaju dengan kecepatan sedang nano meninggalkan cafe dimana sedang ada Silla. Entah siapa dan untuk apa Silla berpenampilan seperti tadi. Mengingat Silla selalu berpenampilan meminim.
Didalam cafe Silla memperhatikan satu persatu orang disana, manik matanya belum menemukan yang ia cari.
Hingga dehem berat masuk pada indra pendengaran Silla. Sontak Silla membeliakkan matanya. Yang di cari tepat di sebelahnya kenapa juga tidak teihat
"Ehhemm, kau mencari siapa? Duduklah aku menunggumu sejak tadi!" Perintah pria aneh yang begitu narsis dimedia sosial. Terlihat dari caranya memotret kopi yang sudah ia pesan.
Siapakah pria yang sudah menunggu Silla sejak tadi?.
"Maaf sudah membuat anda menunggu." Ucap Silla yang dengan segera mendudukkan dirinya di depan pria tersebut.
Brrraaakkkk.
Meja cafe bergetar saat mendapat gebrakan dari tangan kekar seorang pria yang entah siapa dan dari mana.
"Maafkan saya." Takut nampak jelas pada bibir Silla saat melontarkan kalimat penysalan.
Wajah datar terlihat pada pria didepannya.
Hembusan nafas berat sedikit terdengar.
"B*doh. Serangan pertamaku sudah berhasil,," sejenak memberi jeda pada kalimatnya. "Siapa orang yang membantu teman sialanmu itu, hah?!" Imbuhnya dengan intonasi tajam.
"Sungguh aku tidak kenal mereka." Ucap Silla dengan tertunduk.
"Katakan. Apa yang bisa kulakukan pada adikmu?." Seringaian licik tersunggin pada bibir pria tersebut diakhir kalimatnya.
"Tolong! Jangan apa-apakan adikku. Kumohon." Terisak silla disela-sela memohon dengan tangan mengatup didepan dada.
Sipria hanya tersenyum sinis. Diusap kasar wajahnya.
"Dapatkan informasi tentang mereka!!" Perintah terakhir pria tersebut meninggalkan Silla dicafe.
Air mata Silla semakin menganak sungai. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Apa ia harus membuka rahasia ini kepada temannya. Teman yang sempat mengisi hatinya yang kosong...
Menjerit. Silla tak peduli jika teriakannya memancing mata pengunjung menatap kearahnya.
Kini Silla menundukkan kepalanya dimeja cafe bertumpu dengan kedua telapak tangan yang basah oleh air mata.
sayup-sayup terdengar lantunan melody dari penyanyi cafe tersebut.
Rahasia Hati - Element
Intro: C
F#m B
Waktu terus berlalu tanpa kusadari
Em A
Yang ada hanya aku dan kenangan
Dm
Masih teringat jelas
G C
Senyum terakhir yang kau beri untukku
F#m
Tak pernah ku mencoba
B Em
Dan tak ingin ku mengisi hatiku
A
Dengan cinta yang lain
Dm G A
Kan ku biarkan ruang hampa didalam hidupku
__ADS_1
Reff I:
F# Bm E
Bila aku harus mencintai dan berbagi hati
A
Itu hanya denganmu
G F# Bm
Namun bila... kuharus tanpamu
E G
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Int: F#m B Em A Dm G C
A Dm
Hooo... hanya dirimu yang pernah
C Bm7-5
Tenangkan ku dalam pelukmu
E
Saat kumenangis
Reff II:
F# Bm E
Bila aku harus mencintai dan berbagi hati
A
Itu hanya denganmu
G F# Bm
Namun bila... kuharus tanpamu
E C#m
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Reff III:
F# Bm E
Bila aku harus mencintai dan berbagi hati
A
Itu hanya denganmu
G F# Bm
Dan bila harus tanpa dirimu
E G
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Coda:
F#m
Tak pernah ku mencoba
B Em
Dan tak ingin ku mengisi hatiku
Lagu yang sedikit menenangkan hati Silla saat ini. Mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.