
"Oiya kamu bukan asli sini?" Ucapnya sambil menuliskan nomor disebuah kertas dengan bulpoint.
"Bukan," jawabnya sambil menerima kertas itu dan menyalakan ponselnya lalu menyimpannya.
Waktu sudah menunjukkan sore hari. Masih terlihat sangat cerah hari ini. Itu sebabnya teman-teman Rindu mengajaknya bersantai setelah penat mengikuti mata kuliah hari ini. Beruntunnya lagi di jam terakhir dosen berhalangan hadir.
Terlihat Bahtiyar melirik Rindu sekilas. Entah apa yang ingin ia katakan atau yang ia fikirkan saat ini. Cuek, Rindu melihat kearah yang berbeda dengan bersedekap dada. Kakinya sedikit bergerak ringan tanda ia mulai bosan dan ingin segera pergi.
Astagah lama sekali. Jika aku yang bawa motor pasti sudah ku tinggal ni anak. Umpat Rindu dalam hati.
"Okey Bahtiyar, Adnan kita balik dulu. Terima kasih," ucap Dewi karena hari ini dapat traktiran dari orang yang baru ia kenal. Pun sama dengan yang lain terkecuali Rindu yang masih malas berbasa-basi.
Keempatnya berpamitan, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," balas Bahtiyar dan Adnan bersamaan.
Tanpa beralih sedikit pun mata Bahtiyar mengiringi kepergian gadis yang sudah tiga kali tanpa sengaja bertemu dengannya. Beruntung ia dapat tugas dari papanya untuk melihat-lihat lokasi yang akan digunakan sebagai outlet baru ditempat ini. Jika tidak, mungkin saja pertemuannya dengan gadis manis yang menyebalkan tidak pernah terjadi.
Ditengah perjalanan Dewi yang kepo dengan pemuda tadi menanyakan langsung kepada Rindu, "Ri kamu kenal cowok itu dimana?".
"Tidak penting. Aku tidak mau membahasnya," malas Rindu menanggapi pertanyaan Dewi.
Dewi pun berujar, "Eelah pelit amat. Ganteng lo orangnya."
"Pemuda gila," ucap Rindu.
Sepertinya Dewi tak mendengar kalimat terakhir yang terucap oleh Rindu. Terbukti tidak ada sahutan sama sekali. Seolah kalimat itu kabur terbawa angin.
Sebenarnya ada yang tidak enak dalam hati Rindu. Mengingat pertemuannya yang terakhir waktu itu dengan Bahtiyar sedikit menyakitkan. Pertengkaran kecil tercipta disana. Sungguh aneh tiba-tiba sikapnya menjadi begitu manis.
Tak butuh waktu lama motor yang membawa dua gadis muda itu sampai di rumah yang tampak asri dengan rumput hijau sebagai alas. Terlihat jelas jika sang pemilik merawatnya dengan baik. Siapa lagi tukang kebun dirumah itu jika bukan Rindu. Tugas Rindu memang membersihkan halaman. Hanya itu, karena tugas yang lain dikerjakan Bude Winy dan Linda kakak sepupunya.
Seusai menurunkan Rindu. Dewi langsung berpamitan untuk segera pulang. Saat menyusuri jalan menuju rumahnya kini Dewi mengendarai motornya sendiri. Senyum merekah diwajahnya. Entah apa yang sedang ia bayangkan.
***
Waktu terlewat dengan singkat. Linda yang berada dikediaman Bapak Sepuh (Pakpuh) diperlakukan begitu baik. Seperti biasa Linda bangun dipagi hari untuk membantu Bupuh. Mentari pagi belum menampakkan sinarnya, tetapi Linda sudah terbangun untuk menunaikan kewajiban.
"Lin kesini semalam dengan siapa? Maaf Bupuh tidak bisa menyambutmu." Ucap Bupuh yang sedang mengupas bawang.
__ADS_1
"Tidak apa Bupuh. Oiya Bupuh Mas Ferly kemana?" Tanya Linda kemudian.
"Masmu itu jangan ditanya. Dia lupa jalan pulang," terang Bupuh yang memang dari dulu putranya seperti itu. Jarang dirumah yang taunya minta uang saja.
Terlihat seorang gadis remaja menghampiri keduanya. Jika dilihat dari wajahnya mirip sekali dengan Ferly Kakak sepupu Linda.
"Kak lutfi, udah gede aja?" Sapa Linda yang memang dulu terakhir kali ketemu Lutfia masih sekolah dasar.
Senyum melengkung manis dari bibirnya," Hehe iya Dek, masak Lutfi kecil terus," sloyor Lutfi.
Disilsilah keluarga anak dari Bapak sepuh memang di panggil Kakak atau semacamnya walaupun usianya terbilang lebih muda. Mengingat Pakpuh adalah kakak dari Papa Linda.
Percakapan-percakapan ringan saling berbalas. Hari ini waktu berjalan sangat cepat. Pagi berganti siang yang menampakan matahari tegantung indah dipusat langit. Hingga tak ada seorangpun mampu menatapnya secara langsung. Siang kini juga mulai terkikis saatnya matahari menampakkan warna jingga yang teduh dipandang mata.
Ditempat Nano kini ia tengah bersiap-siap untuk mengantarkan Linda. Berpakaian rapi dengan kemeja yang lengannya ia singsingkan sebatas siku. Wangi maskulin menunjang penampilannya.
Terburu-buru Nano melangkah, dikoridor ia berpapasan dengan Hari.
"Mau kemana No?" Tanya Hari kemudian.
"Antar Linda kebutik. Bukankah aku sudah menceritakannya padamu," terang Nano.
Tak memakan waktu lama untuk tiba ditempat Linda kini berada. Mengingat ia sudah berada di kota yang sama. Sehingga mudah untuk menempuhnya.
Rumah yang tidak terlalu besar namun sejuk dan asri dipandang. Banyak bunga-bunga tertanam, ada sebuah kolam kecil dengan ikan koi didalamnya. Pohon rindang menambah kesan teduh rumah itu. Melihat letak rumah itu menghadap barat sehingga pas jika pohon tumbuh dihalaman sebagai peneduh kala terik disiang hari yang langsung menyorot tepat kearah rumah.
Tingtung...
Ditekannya bel rumah untuk memberi tahu sipemilik jika sedang ada tamu diluar. Mas Nano tampak sedikit nervous, tangannya merogoh sling bag miliknya mengeluarkan happydent white.
Ckleeekkkk.
Pintu terbuka.
"Assalamualaikum," ucap Nano.
"Waalaikumsalam," jawab seorang remaja putri. "Masnya mencari siapa ya?" Tanya Lutfi tidak tahu jika orang didepannya yang sedang ditunggu-tunggu adik sepupunya.
"Saya teman Linda," terang Mas Nano.
__ADS_1
"Oo, masuklah, Dek Linda sudah menunggumu sejak tadi," Lutfi mempersilahkan tamu untuk masuk dan menunggu didalam.
Tak lama Linda sudah keluar, begitu cantik dengan kemeja merah, rambutnya ia ikat begitu saja yang menyisakan beberapa juntaian anak rambut. Setelah cukup berbincang-bincang sebagi perkenalan keduanya pun berpamitan untuk melihat butik yang bakal jadi tempat untuk Linda mewujudkan mimpinya.
Linda takjub manakala melihat butiknya sudah siap ditempati. Bahkan hanya tinggal medisplay hasil rancangannya. Bingung bercampur senang. Pasalnya ia belum sempat membeli etalase, manekin dan sebagainya untuk menunjang agar tempat ini segera beroprasi.
"Mas Nano yang menyiapkan ini?" Tanya Linda berbalik kearah Nano.
Nano hanya mengedikkan bahu. Dengan melihat Linda sesenang itu tidak ada lagi yang ingin Nano minta.
"Kenapa repot-repot Mas? Akukan bisa menyiapkan ini sendiri," ucap Linda sambil menjelajahi setiap sudut butik itu.
"Tunggu?" Mata Linda tertuju pada etalase khusus untuk mendisplay alas kaki, "Mas akukan akan buka butik. Bukan toko sepatu. Kenapa itu ada disana?" Tanyanya kemudian.
"Tak apa. Biar orang yang datang untuk membeli hasil rancanganmu bisa sekalian mencocokan dengan alas kaki yang sesuai dengan gaunnya," sedikit memberi jeda. "Sambil menyelam minum air. Siapa tau ini bisa menjadi peluang yang bagus. Dicoba tidak salahkan?" Jelas Mas Nano.
Tampak Linda mangut-mangut mengerti atas penuturan Nano. Tidak berlama-lama setelah melihat butiknya, ia tak membiarkan waktu berakhir begitu saja.
Tanpa sepengetahuan Linda, Mas Nano melakukan reservasi disebuah resto. Bukan. Bukan resto mewah seperti pada novel yang sering kita baca.
Mereka duduk berdua saling berhadap-hadapan. Ada bunga mawar ditengah-tengahnya lengkap dengan lilin yang menambah malam ini semakin romantis.
"Mas kenapa kita makan disini?" Tanya Linda. Bukan meragukan kantong Mas Nano, melainkan tidak biasanya sikap sang kekasih seperti sekarang.
"Diamlah. Tenang saja cuma beberapa menit saja," terang Nano sambil menggenggam jemari tangan Linda.
Beberapa saat kemudian waiters datang dan membawa pesanan keduanya. Sedikit canggung suasana saat ini. Mengingat Mas Nano tidak seperti biasanya. Tapi saat ia sudah mendapatkan balasan cinta dari seseorang yang sudah lama ia damba, sikapnya jadi sebucin samudra. Pernah lihat sinetron Samudra Cinta? Nah itu dia kayak gitu tu Si Mas Nano.
Tanpa diduga Nano mengeluarkan sebuah tempat perhiasa kecil berbentuk angsa. Angsa? Kenapa bukan hati. Aahh bentuk hati mah terlalu pasaran. Ini niatnya cari yang beda. Mangkanya pilih yang angsa.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.