AKU RINDU

AKU RINDU
BOSAN


__ADS_3

Sepulang sekolah Rindu memilih untuk tidak mengikuti persiapan bazar.


Padalah dua hari lagi acaranya di mulai, yang di hadirin tamu-tamu dari luar sekolah.


" Wi aku pulang dulu ya?" pamit Rindu ke pada teman ketua kelompoknya.


" Kenapa? Masih malu sama kejadian yang tadi?" tanya Dewi.


" Aku tidak enak badan Wi," jawab Rindu lesu.


" Okey ... tapi jangan lupa besok kamu harus siapin semua!!" Dewi memberi ijin sekaligus memberi peringatan.


Rindu hanya mengangguk.


Diruang kelas Dian nampak memikirkan sesuatu, hingga beberapa saat kemudian nampak ada lampu menyala di atas kepala Dian. Clingg (ilusi bro) setelah itu barulah Dian pergi meninggalkan sekolah.


****


Hari sudah mulai menunjukkan malam, bintang yang menghiasi langit menandakan cuaca yang cerah.


" Okey udah siap," Dian bercermin dan berbicara pada pantulan dirinya di sana.


Bibbbibb Bibbbibb


Terdengar bunyi ponsel Dian diatas tilam,


Raut wajah dian berubah serius,


"Ya aku mengerti," sahut Dian dengan ponsel yang menpel pada telinganya.


*****


Banyak sekali motor-motor modifikasi berjajar rapi di sebuah stadion.


Suara bising melengkapi suasana malam itu.


Terlihat dian berbicara pada seseorang, wajah berbingkai serius dan sesekali anggukan kecil nampak di sela obrolan.


" Diwaann...!!!"


Suara seseorang menghentikan obrolan Dian, seketika senyuman sinis yang hampir tak terlihat.


Rupanya dia sudah datang. Gumam Dian dalam hati.


Segera Dian memacu motornya ke arah dimna Diwan berada.


" Berani sekali kau mengganggu Rinduku?" Dian memulai percakapan.


Diwan sedikit melirik tajam kearah Dian.


" Tidak usah banyak bicara," ucapnya kemudian.


Percakapan singkat itu pun berakhir, hingga keduanya terlihat siap berada di belakang garis start.


3...2...1


Terlihat seorang gadis tengah menghitung mundur tanda pertandingan segera berlangsung...


Gooo..!!!!


Seketika kedua kuda besi itu berpacu dengan sengit, bukan di arena balap.


Melainkan di jalan raya yang ramai dengan kendaraan lain.


Terlihat motor Dian begitu lincah membelah keramaian kota. Meliak liuk mencari celah. Begitu pula dengan Diwan tampak sama seperti Dian. Sepertinya maut sudah berteman baik dengan keduanya hingga rasa takut mati tak bersarang di hati mereka.


Greeng greenngg...


Sesekali terlihat mereka berdua berebut posisi hingga Dian tak menyadari ada kendaraan lain yang tengah menghadang jalannya.


Dengan segera Dian menarik rem motornya , hingga body motor belakangnya terangkat seperti pada film-film action.

__ADS_1


Siiiaalll. Gerutu Dian


Kemenang sepertinya berpihak pada Diwan.


" Bagimana?" begitu bangga Diwan berada di samping Dian dengan senyuman sinis menghiasi sudut bibirnya.


" Perjanjian kita batal," Imbuhnya sambil berlalu pergi.


Tak henti-hentinya Dian mengumpat kesal, tanpa sadar tanganya memukul stang motornya hingga meninggalkan bekas sedikit memar di buku-buku jarinya.


Malam panjang pun berakhir tak sesuai pemikiranya.


***


Pagi harinya


Suasana kelas nampak gaduh karna jam pelajaran belum di mulai.


Hingga seseorang yang baru datang dengan wajah ditekuk sempura memasuki kelas yang seketika hening.


Rindu yang tak menyadari itu tak menghiraukannya. Namun sesaat setelah sampai pada bangku yang biasa kosong kini nampak penuh dengan sampah.


Segera dipungutinya sampah itu tanpa banyak bicara, seakan tidak ada tenaga hanya untuk bertanya pada temannya.


Brruuuukkk


Suasana heningpun pecah, tak kala melihat Rindu terjatuh dari kursi yang ia duduk. Mata Rindu mulai berkaca-kaca satu kedipan saja butiran air pada mata lelah itu meleleh.


Dengan santai Rindu berdiri dan mengankat kepalanya hendak memaki,


Belum sempat terjadi kedua mata Rindu membulat melihat papa tulis hitam itu penuh dengan coretan hinaan yang di tunjukkan padanya.


Bukan coretan yang membuat dada Rindu begitu sesak, melainkan foto yang menggantung di sana.


Segera Rindu memunguti foto-foto itu


Ya tuhan kenapa ada foto memalukan seperti ini. Rindu membatin


Celotehan demi celotehan masuk pada pendengaran Rindu


Dasar tidak tau malu...


Sok kecantikan...


Dan masih banyak lagi...


Rindu berlari meninggalkan kelas sesekali tangannya sibuk menyeka air mata yang menetes.


Di depan cermin wastafel Rindu mencuci muka untuk mengilangkan air matanya yang tak berhenti menetes.


" Bosan, aku ingin segera menyelesaikan ini. Aku harus cari tahu," Rindu berbicara dengan pantulan dirinya di cermin.


" Hallo mas, aku ingin minta tolong sesuatu bisa?" Rindu berbicara dengan seseorang lewat telfon genggamnya.


Terdiam sejenak masih dengan telfon yang menempel di telingannya.


" Terima kasih," Akhir pembicaraan singkat Rindu.


Setelah sedikit lega Rindu melangkang kembali kedalam kelas.


Bersikap sebiasa mungkin sedikit senyum terlukis di sudut bibirnya saat menerima sapaan dari teman beda kelas yang ia lewati.


Kelas terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, seorang guru tengah berada di depan kelah.


" Rindu kemari?" bu Wahyu mengajak Rindu sebentar untuk berbicara di tempat lain.


RUANG BP...


Hening...


Belum ada yang membuka suara, sejenak bu wahyu memperhatikan Rindu. Seolah menunggu Rindu menceritakan sesuatu, sayangnya Rindu hanya bungkam.

__ADS_1


" Rindu jelaskan pada ibu?" tanya bu Wahyu.


" Tidak ada yang perlu di jelaskan bu," Rindu menjawab dengan kepala tertunduk, karna malas sekali menjelaskan sesuatu yang tak mungkin ada jalan keluarnya.


Ya jalan keluarnya hanya satu yaitu dengan keluar atau lulusnya Rindu dari sekolah ini.


" Sudahlah bu, Rindu tidak apa-apa," Rindu mencoba berdamai pada keadaan. Tidak ingin hari seperti ini terulang kembali.


Huuuffssss...


Nafas berat berhembus, Rindu beranjak pergi " Permisi bu, terima kasih," pamit Rindu pada Bu Wahyu.


Waktu bergulir lamban bagi Rindu, Rindu melirik bangku yang kosong di sebelahnya. Yuni teman sebangkunya tak masuk.


Triiiingggg trrriiiiinggg


Bel sekolah berbunyi menandakan waktu belajar telah usai. Tak menunggu waktu lama semua siswa siswi berhamburan meninggalkan sekolah.


Tiba di kediaman paman Ari, segera Rindu membersihkan diri dan membantu pekerjaan rumah bibi Winy.


" Bi, Rindu keluar bentar ya?" pamit Rindu pada bibi Winy.


" Ya sayang," dengan memberi ijin sambil menyentuh lembut pipi Rindu.


Dengan lincah Rindu menggunakan skateboard miliknya, Rindu nampak santai dengan jogger pants dan kaos oblong warna merah lengkap dengan topi yang ia balik kebelakang.


Diluar sekolah dan di rumah Rindu memang nampak berbeda. Saat di rumah Rindu selalu menampilkan wajah ceria tanpa beban.


tok tok tok....


" Rindu...masuk," si pemilik rumah memberi ijin.


" Lagi repot ya mas," tanya Rindu seraya melangkahkan kakinya.


" Sama sekali tidak Ri," membalas pertanyaan Rindu.


" Langsung aja ya Mas, tolong bantu Rindu, Rindu sudah bosan ditindas," dengan kesal Rindu menyampaikan tujuannya kemari.


" Siapa yang berani menindas mu," dengan santai menjawab pernyataan Rindu, " kamu mau dia aku apakan?" sambungnya.


" Sedikit syok terapi, terserah Mas mau apain dia," ucap Rindu asal, "Tapi biar gak salah paham tolong Mas cari tau dulu ni sapa yang udah berani cetak."


Cleeetttaaakkk


Stik drum tepat mendarat di kepala Rindu, seketika itu Rindu terkesiap dan mengusap kepalanya yang cenut-cenut.


" Jadi kamu belum tau siapa targetnya, mau cari mati apa menyuruh aku eksekusi orang yang belum jelas kesalahannya," Terangnya sambil berkacak pinggang.


" He he he okey okey aku mau tanya teman ku dulu, bentar ya," Rindu berdiri mondar-mandir sambil menunggu sambunga telfonnya.


" Hallo, gimana kamu udah tau sapa yang udah iseng cetak foto aku, kalau kamu tau siapa yang punya file aslinya malah bagus," Rindu berbicara pada seseorang yang dirasa punya info yang ia butuhkan.


" Okey kirimkan pada ku rekamannya," sambung Rindu kemudian mematikan ponsel miliknya.


Tiiinngg...


Segera Rindu membuka data yang masuk di ponselnya, Rindu tersenyum manakala tau sapa yang harus dia eksekusi.


Video yang jelas menampakkan wajah-wajah orang yang Rindu kenal.


" Nih Mas orangnya, perhatikan dengan sekasama biar tak salah orang," Rindu menyodorkan ponsel yang masih menyala.


" Jadi bocah ini, gampang bisa diatur," Jawabnya.


" Okey kalo gitu Rindu pamit pulang ya, takut Bude Winy mencari ku," Rindu berpamitan pada si pemilik rumah.


.....


....


...

__ADS_1


..


.


__ADS_2