AKU RINDU

AKU RINDU
GOMBAL TINGKAT PRESIDEN


__ADS_3

Seseorang tampak keluar dari kamar, bathrobe menghiasi dirinya dengan handuk melingkar dileher satu tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.


"Doni? Sejak kapan kau kemari?" Tanya Frans saat sudah mendudukan dirinya. Disofa ruang tamu apartment miliknya.


"Baru saja tiba." Ucap Doni setelah meneguk minuman ditangannya.


"Apa kau sudah mengerjakannya Frans? Afrans Wijaya!" Imbuh Doni. Ada penekanan pada kalimat terakhirnya.


"Bersabarlah." Frans melangkah menuju kamarnya. Tak lama Frans keluar dengan menggunakan pakaian lebih santai kaos oblong warna putih dan celana pendek sebatas lutut.


"Sebelum orang itu tiada Sita tidak akan mau bersanding dengan ku." Ucap Doni datar.


"Ya kalau kau masih tak sabar lepaskan saja Sita seperti yang dikatakan james. Gampangkan." Santai Frans mengucapkan itu.


Doni tak menyahuti ia melangkah masuk kedalam salah satu kamar yang ada di apartment Frans. Doni tampak kacau dasi yang sudah mengendur dan kancing kemeja yang terlepas sebatas dada.


Frans terlihat menggelekan kepala melihat keadaan Doni.


*****


Esok hari.


Sore hari sang surya memancarkan cahaya keemasan dari ufuk barat. Sayup sayup terdengar suara adzan berkumandang. Tenang bagi siapa saja yang mendengarkan. Terlihat langkah kecil anak-anak berbondong-bondong menuju masjid.


Selepas melaksanakan ibadah menghadap sang khalik, Nano melakukan perjalannya menuju kediaman Linda.


Untuk menuju kampung halaman memakan waktu tiga jam dengan menggunakan motor. Waktu sudah menunjukkan pukul 19:30 motor Nano berhenti dihalaman rumah dengan karpet rumput berwarna hijau. Sepi, hanya suara hewan malam yang saling bersahutan.


"Assalamualaikum." Diketuknya pintu kayu berukir itu dengan mengucap salam.


"Waalaikumsalam." Dari dalam terdengar suara Linda menyahuti.


"Mas Nano, sudah sampai aja? Pulang kerja langsung kemari ya?" Tanya Linda saat berjalan beriringan memasuki ruang tamu.


"Iya yang biar cepat sampai juga." Terangnya.


"Duduk dulu Mas. Istirahatlah sebentar." Linda mempersilahkan Nano agar beristirahat.


"Iya. Om Tante dimana?" Tanya Nano kemudian saat melihat rumah tampak sepi.


"Mama papa sedang kondangan." Jawab Linda sambil berlalu kedalam.


Nano sandarkan punggungnya pada sandaran kursi ketika dirasa lelah menjalari tubuh. Menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri, agar ototnya sedikit mengendur.


Mata lelahnya perlahan terpejam merasa nyaman setelah perjalanan panjangnya. Sebetulnya bukan masalah perjalannya kemari. Dia lelah karena setelah selesai bekerja langsung melanjutkan perjalanan untuk menjemput Linda.

__ADS_1


Didapur Linda menyiapkan sedikit kudapan untuk makan malam sebelum berangkat. Tangannya cukup lincah sebab ia bukan wanita manja yang memiliki banyak asisten rumah tangga.


"Kak Lin, Mas Nano sudah tiba ya?" Tanya Rindu setelah menyelesaikan hybernasinya. Rindu yang baru keluar kamar menghampiri Linda yang sibuk didapur. Langkahnya terhenti tepat didepan lemari pendingin diruangan itu. Diambilnya teh pucuk kemasan botol satu liter.


"Sudah, baru saja. Be apa kau yakin tidak ingin ikut?" Tanya Linda sekali lagi. Mengingat saat Rindu menangis diam-diam ketika menatap foto masa kecilnya. Merindukan seseorang memang sakit. Benar kata Dilan rindu itu berat.


Rindu menggeleng, dasar ABG batu. Kenapa egoisnya lebih besar dari pada logika. Lagi-lagi penolakan yang tak sesuai dengan keinginan. Linda terlihat menghembuskan nafas berat.


"Ri tolong panggilkan Mas Nano ya? Pasti dia belum makan." Pinta Linda pada Rindu.


"Heemmm," Rindu bergegas menemui Nano diruang tamu.


Netra coklatnya menangkap sosok yang sedang tertidur dengan tubuh bersandar polos pada sandaran kursi. Saking pulasnya tertidur Mas Nano tampak seperti bayi yang sedang terlelap. Tak tega rasanya ingin membangunkan jika tidurnya senyenyak itu.


Rindu menggerak-gerakkan telapak tangannya didepan wajah Nano yang terpejam.


"Mas, Mas Nano? Bangun?" Pelan Rindu membangunkan Nano tanpa menyentuh.


"Ri, belum lagi? Ish kau nih lama sekali?" Umpat Linda.


"Lihatlah bayimu sedang tertidur pulas. Bangunkan saja sendiri!" Rindu melangkah masuk menuju meja makan. Bukan karena jealous, melainkan Rindu benar-benar lapar setelah puas tidur panjang.


Diusapnya lembut bahu Nano oleh Linda.


"Eemmm ya, sorry aku tertidur." Terang Nano dengan sedikit mengucek matanya.


"Yuk Mas." Ajak Linda.


"Tidak menunggu Om dan Tante dulu?" Tanya Nano. Belum beranjak dari duduknya.


"Mama papa baru saja berangkat Mas. Lagi pula merekakan sudah makan disana." Ucap Linda kemudian. "Tapi nanti sebelum berangkat tungguin Mama papa pulang dulu ya?" Imbuh Linda menoleh kebelakan sejenak.


"Tentu saja." Ucap Nano dengan beranjak, menyusul Linda menuju ruang makan.


Disana sudah terlihat Rindu duduk dengan satu piring penuh makanan.


"Mas Nano, ayo duduklah. Ini masakan calon istrimu. Hahaha tadi pagi Bibi yang bumbui Kak Lin tinggal goreng hahaha." Sapa Rindu sambil menggoda Linda.


"Biarpun cuma bisa masak air aku tetap suka." Timpal Mas Nano sambil menyenggol pundak Linda yang masih berada didekatnya. Wajah cantik Linda memerah bak buah cerry diatas kue salju. Diikuti dengan jari lentik Linda yang mencubit ringan pinggang Nano.


"Peeeehhhh, akut. Gombal tingkat presiden. Hahahah." Tawa Rindu pecah mendengar Mas Nano ngegombal. Pasalnya Nano tipe orang yang tidak pandai merayu.


"Iisshh kau ni sakit tau." Ujar Nano sambil mengusap pinggang yang tidak sakit.


"Sudah selesai berguraunya? Ayo duduk dan segera makan!" Ucap Linda yang kemudian mendudukkan dirinya dikursi.

__ADS_1


Mereka bertiga pun memulai makan malam yang sesekali di selingin percakapan. Tak lama setelah mereka menyelesaikan makan malamnya Bibi Winy dan Paman Ari datang. Saat itu Nano sedang menunggu Linda diruang keluarga sambil menikmati acara TV. Ia tidaklah sendiri ada Rindu yang duduk sedikit lebih jauh dari tempat yang Nano duduki berbekal snack potato ditangan.


"Assalamualaikum," terdengar suara Bibi Winy memasuki ruang keluarga dengan mengucap salam.


"Waalaikumsalam," Nano beranjak dan segera mencium punggung tangan kedua orang tua dirumah itu.


"Sudah lama No?" Tanya Paman Ari kemudian.


"Lumayan Om ba'da maghrib tadi." Jawab Nano.


"Rindu jadi ikut?" Tanya Bibi Winy saat sudah duduk didekat Rindu.


"Ee Rindu ikut? Kenapa tak bilang?" Tanya Nano yang tak tau apa-apa mengenai keikut sertaan Rindu.


"Tidak Ma. Rindu bilang tugas kuliah banyak." Sahut Linda yang baru keluar.


Seketika Bibi Winy menoleh kembali kearah Rindu nampak menelisik sesuatu,


Rindu hanya nyengir kuda.


"Ya sudah kalau tidak ingin ikut." Ucap lembut Bibi Winy dengan mengusap pucuk kepala Rindu


"Segeralah kalian berangkat agar tidak terlalu malam." Titah Paman Ari.


"Heem." Linda dan Nano mengangguk. "Kami berakat.Assalamualaikum." Setelah mengucap salam dan berpamitan.


"Waalaikum salam."


Keduanya berangkat menggunakan motor Nano.


Hari yang sudah menggelap tak menyurutkannya untuk hanya sekedar beristirahat di tengah perjalanan.


Rasa lelah seolah tak Nano rasakan, terlebih lagi kini ia tengah membonceng pujaan hati.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.

__ADS_1


__ADS_2