AKU RINDU

AKU RINDU
MAAF


__ADS_3

HARAP TENANG ADA UJIAN


suasana yang saat ini tenang sesuai dengan tulisan yang ada di depan gerbang sekolah, hari ini adalah hari penentu kelulusan murid- murid SMK 1 yang sudah menempuh kegiatan belajar selama tiga tahun.


Seluruh ruangan nampak hening dan hikmat saat melakukan ujian akhir sekolah.


Ketegangan dan kecemasan terbingkai di wajah masing-masing siswa, Rindu terlihat mengerjakan dengan tenang. Hingga ujian pun telah usai tampak wajah yang tadinya pucat menahan ketegangan kembali memerah karna lega ujian telah berakhir hari ini, hanya tinggal menunggu hasil yang memuaskan.


Seluruh siswa keluar meninggalkan kelas masing-masing.


" Rindu...!!! " seseorang terdengar memanggil dari jauh.


Diwan akhirnya muncul juga. Gumam lirih Rindu.


Diwan menunggu Rindu di gerbang sekolah, ya Diwan adalah seseorang yang waktu itu mencetak dan menyebarkan isu miring tentang Rindu, setelah dapat penolakan dari Rindu saat menyatakan cinta. Bukan tanpa sebab Rindu menolak untuk berpacaran, tapi karna Rindu hanya ingin fokus belajar.


" Ada apa?" ucap Rindu saat sudah di dekat Diwan.


" Ikutlah dengan ku sebentar saja." pinta Diwan dengan suara hampir tak terdengar.


" Apa? aku tidak dengar." ucap Rindu merasa Diwan kurang keras saat berbicara.


" Tolong ikutlah dengan ku sebentar saja, aku ingin bicara." Diwan mengulangi kalimatnya.


" Berbicara saja disini kenapa harus di tempat lain." jawab Rindu sebagai bentuk penolakan.


" Ayolah sebentar saja." ucap Diwan memaksa.


" Okey." ucap Rindu kemudian mendudukan dirinya di motor Diwan.


Segera Diwan tidak buang-buang waktu, untuk memacu motor sportnya. Dian yang melihat kepergian Rindu dan diwan bermaksud mengikuti diam-diam. Takut jika terjadi sesuatu dengan Rindu, mengingat hubungan Rindu dan Diwan tidak begitu baik.


Di sebuah taman Diwan memberhentikan motornya, kemudian mereka turun melihat sekeliling yang memang tertihat tidak begitu banyak pengunjung.


" Bicaralah." tanpa basa-basi Rindu membuka percakapan.


" Aku ingin meminta maaf kepada mu soal kejadian beberapa waktu lalu." ucap Diwan sedikit acuh, karna ia terpaksa menurunkan egonya di depan wanita.


Terlihat Rindu sedikit tersenyum " Mudah sekali, setelah perlakuan mu terhadap ku apa kau berharap aku akan memaafkan mu semudah itu?" terang Rindu panjang lebar.



" Bahkan kau tidak tulus meminta maaf kepada ku." imbuh Rindu kemudian karena tau Diwan melakukan ini atas paksaan mas Karno.


" Terserah kau mau menerima permintaan maaf ku atau tidak yang penting aku sudah meminta maaf kepadamu." tegas Diwan masih dengan egonya yang tinggi " ayo kuantar pulang, tujuan dan maksud ku mengajak mu kemari sudah selesai." imbuh Diwan.


" Tidak mau aku bisa pulang sendiri, pergilah." tungkas Rindu jengkel


" Okey permintaan di terima." segera Diwan meninggalkan Rindu di taman sendirian.


Sial sungguh keterlaluan...dia benar-benar meninggalkan ku sendiri...DASAR BATU.. Rindu berteriak dalam hati, kesal terlihat di bibirnya yang mulai mengerucut lengkap dengan hentakan kaki di atas rumput.


" Hahahaha." suara tawa penuh ledekan terdengar dari balik pohon, seketika membuat Rindu menoleh mencari sumber suara.


" Diiaann!!!!" ucap Rindu seraya mencebikkan bibirnya. " ngapain di situ." imbuhnya.


" Sedang lihat telenovela, hahaha." ucap dian masih dengan terus tertawa.


" Lempar sendal baru tau. Dasar." ucap Rindu dengan satu tangan hampir mendekati kakinya.


" Kau kan pake sepatu dimana ada sendal hmhmhm...sorry sorry." ucap Dian sambil menjewer ringan telinganya sendiri.


Mata Rindu yang lebar terlihat mencari-cari sebuah kursi untuk bisa iya duduki.


"Nahh tu.." gumam Rindu sambil mendekati kursi taman. " Dian sini." imbuh Rindu sambil melambaikan tangannya.


Tanpa banyak bicara Dian menghampiri Rindu, duduk bersebelahan.

__ADS_1


Siang itu taman nampak sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang lewat.


" Sejak kapan kau bersembunyi di balik pohon?" tanya Rindu membuka percakapan.


Dian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal " Eeemmm ya sejak tadi maksud ku, sejak aku melihat mu keluar gerbang sekolah bersama Diwan." ucap Dian jujur.


" Kau tau Diwan sunggu menyebalkan! tega sekali dia meninggalkan ku sendiri disini." ucap Rindu penuh emosi.


Manis sekali kalo lagi emosi. Gumam Dian dalam hati.


Dian hanya terdiam memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari bibir menawan Rindu.


Bahkan Rindu tak menyadari jika Dian hanya memperhatikannya sejak tadi.


Setelah lega bercerita panjang kali lebar Rindu baru beralih menatap Dian.


" Hey Dian apa kau mendengar ku!! kenapa tidak menyahuti sama sekali?"


ucapan rindu mengagetkan Dian yang sedang berkhayal.


Segera Dian beralih menatap kearah yang lain " Iya aku mendengar mu." ucapnya seolah memang benar-benar mendengar penuturan Rindu.


" Cilok neng." tawar abang cilok saat melewati Dian dan Rindu.


" Boleh bang dua bungkus ya." jawab Rindu seraya memberikan uang lembar sepuluh ribu rupiah.


Drrrttt drttttt drttt


Rindu merasai ada getaran di dalam tasnya, sengaja tadi ponselnya di stel dengan mode getar saat ujian berlangsung.


Setelah sibuk mencari akhirnya ponselnya ketemu Mang Udin yang tertera pada benda pipih itu.


Mata rindu membulat sempurna, mana kala lupa tidak mengirim pesan pada seseorang yang biasa mengantar jemput dirinya.


Terlihat Rindu menelpon balik, di nomor yang sama.


Beberapa detik kemudian.


" Hallo mang Udin maaf Rindu tadi tidak sempat memberi kabar, Rindu sudah pulang mang Udin pulang aja tidak apa-apa." terang Rindu menjelaskan.


" Dengan siap Ri? nanti kalo mamang di tanya bibimu biar bisa jawab." ucap mang Udin dari sebrang.


" Sama Dian mang, tolong sampaikan pada bibi winy ya terima kasih." ucap Rindu.


" **I**ya Ri sama-sama." ucap mang Udin mengakhiri telpon.


Setelah mengakhiri telpon Rindu menghampiri abang cilok.


"Terima kasih ya bang." ucap Rindu


Rindu menghampiri Dian yang sedang sibuk melamun, wajah yang tadinya ceria sedikit nampak berbeda.


" Kenapa Di?" tanya Rindu sambil mengulurkan cilok yang ia beli tadi.


" Terima kasih." jawab Dian dengan wajah tak bersemangat.


Ada apa dengan Dian ya. Rindu membatin


Mereka memang duduk berdua di taman, tapi tak ada satu pun yang ingin memulai percakapan. Hanya tangan dan bibir mereka sesekali bergerak untuk memakan cilok yang ia beli tadi.


Dian masih betah dengan pemikirannya, entah kenapa rasanya Dian enggan untuk sekedar bertanya. Resah menggelayuti hatinya, perasaan takut kehilangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Memikirkannya saja membuatnya seakan susah untuk menghirup udara gratis di sekitar.


" Dian are you oke??" tanya Rindu ragu-ragu, karena sikap Dian tidak seperti biasanya.


" Heeemmm." hanya itu yang berhasil lolos dari bibir seorang Dian yang biasanya rese' dan slengek-an.


" Sudah sore pulang yuk?" ucap Rindu ingin mengajak Dian pulang.

__ADS_1


" Kau tadi kemari dengan siapa?" tanya Dian.


" Dengan Diwan." jawab rindu sedikit heran akan pertanyaan Dian, serasa ada sinyal-sinyal kejahilan.


" Ya sudah pulanglah dengan Diwan. Kenapa mengajak ku pulang, bahkan dengan tangan mu ini kau hampir lemparku dengan sendal." tutur dian dengan mimik wajah serius sambil tangannya memegangi jemari lentik Rindu.


Seketika Rindu menarik tangannya, berdiri dari duduknya dengan berkacak pinggang.


" Maksud mu kau tidak mau mengantarkan ku pulang, yang benar saja disini tidak ada angkutan umum dian." ucap Rindu dengan mata mulai berkaca-kaca. "Teganya kamu Dian" imbuh Rindu sambil memukul bahu Dian ringan.


Rindu berpaling sambil mencebikkan bibirnya yang merah bagai cerry.


Astagah Rindu lucu sekali expresi mu kalau sedang marah, lihatlah bibirmu itu membuatku ingin menggigitnya saja. Batin Dian.


Terlihat Rindu melangkah dengan gontai berharap Dian memanggilnya.


Ayolah Dian panggil aku, panggil aku, tega sekali dirimu. Batin Rindu penuh harap.


Merasa tak tega Dian segera menghampiri Rindu, seketika jemari besarnya menyusup diantara sela-sela jemari kecil Rindu yang lentik.


Senyum mengembang sempurna di bibir merah Rindu, sesaat Rindu mendongak keatas " Terima kasih Dian." ucapnya lirih nyaris tak terdengar.


Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir taman, tanpa bicara hanya melangkah beriringan. Orang yang melihat kedekatan Rindu dan Dian pasti mengira jika mereka berdua adalah sepasang kekasih.


Dengan santai Dian memacu kuda besinya, tak ingin waktu begitu cepat belalu. Jika boleh Dian ingin menghentikan waktu saat ini.


" Dian kenapa hari ini dirimu tidak banyak bicara apa kau sedang sariawan?" ucap Rindu polos.


Malas sekali menjawab pertanyaan mu dasar cewek tidak peka! aku takut setelah lulus kita tidak bisa seperti sekarang. Dian hanya menjawab dalam batin.


Rindu menarik-narik ujung hoodie Dian ringan, merasa Dian tidak seperti biasanya.


Mungkin benar Dian sedang sariawan yang ada dalam benak Rindu, karna sama sekali tidak menyadari perasaan Dian sebenarnya.


Beberapa saat kemudian sampailah di kediaman paman Ari, nampak lampu sudah menyala menandakan hari memang benar-benar sudah sore menjelang malam.


" Masuk dulu Di?" ucap Rindu


" Aku langsung pulang saja salam untuk Paman, Bibi dan Kak Linda ya." jawab Dian


Seperti biasa dian mengulurkan tangannya " sini cium tangan aku mau pulang." ucap Dian usil.


" Iisshhh, sudah sana gih pulang." ungkas Rindu sambil menampik tangan Dian.


Segera Dian menarik tangannya kembali, senyum mengembang menghiasi sudut bibirnya.


" Dian!! Tunggu!! " Rindu mendekati Dian.


Apa ... apa ini ... apa Rindu ingin mencium ku. Gumam Dian


" Terima kasih Dian." bisik Rindu di telinga Dian.


Astagah dangkal sekali pikiranku . Umpatnya dalam hati.


" Hemmm." ucap Dian sedikit canggung " assalamuallaikum." imbuhnya.


" Waalaikumsalam." jawab Rindu.


Masih setia Rindu menunggu Dian sampai tak terlihat dari jangkauan matanya, sebelum iya sendiri masuk kedalam rumah.


,,,


,,,


,,,


,,,

__ADS_1


Saya ucapak banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu


__ADS_2