AKU RINDU

AKU RINDU
CCTV


__ADS_3

Rindu mengingat kembali permintaan si penculik yang tak masuk akal, seperti ada keterkaitan dengan serenteran kejadian baru-baru ini.


Suasana yang awalnya biasa berganti ketegangan. Karno masih setia menatap Rindu, menunggu jawaban bagaimana kejadian sebenarnya.


"Aku tidak tahu pasti. Aku hanya tidak mengerti dengan permintaan orang itu. Orang itu ingin kasus tabrak lari mendiang Mas Nano ditutup," tutur Rindu.


"Aneh sekali. Jelas ini bukan disengaja. Ini sudah terencana. Aku bisa minta rekaman CCTV taman waktu itu terjadi?" Ucap Mas Karno dengan mengusap dagu.


"Kak Lin yang punya. Aku tak da-lah Mas, nanti biar aku minta copy-nya," Sedikit memberi jeda, "Lalu bagaimana dengan Nan?"


Mas Karno menghampiri Rindu, memegang kuat pundak berbalut kemeja biru itu, kemudian berkata, "Tutup kasusnya. Biar aku tangani dengan cara ku."


Rindu mengangguk. Mempercayakan penuh kepada orang yang dia anggap tepat. Setelah menceritakan semua yang menimpa keluargannya siang ini Rindu berpamitan. Berharap semua bisa segera terselesiakan dengan cepat.


Sedikit kelegaan menemani Rindu pulang, langit sudah menghitam. Jalanan juga semakin renggang. Selang beberapa menit sudah sampai tepat dihalaman rumah. Rumput yang tadinya nampak sejuk dipandang mata menyisahkan jejak roda mobil yang lewat serampangan.


Jemari lentik Rindu memijit ringan pelipisnya. Hembusan nafas terdengar jelas. Mobil hitam dof milik Pade Ari sudah berada disana.


Setengah berlari Rindu hendak masuk kedalam rumah. Pintu tertutup rapat. Menyisahkan jendela kaca yang pecah dengan gorden bekas terbakar.


Mengetuk pintu secara perlahan. Belum ada jawaban dari dalam. Sambil menunggu Rindu merapikan rambutnya yang acak acakan kemudian mengikatnya asal.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam,"


Beberapa saat kemudian terlihat Kak Lin membuka pintu. Mata sayu dan lesu terlihat. Kodisinya kini nampak berantakan. Masih menggunakan baju yang sama.


Pakde duduk dengan raut wajah penuh emosi, bude winy hanya tertunduk diam. Sesekali menghapus air mata yang keluar.


Mang udin terlihat membersihkan kaca yang berseraka. Rumah sedikit lebih rapi dari sebelumnya. Rindu menghampiri Linda yang sedang terduduk, tangannya menopang kening dan sesekali memijat pelipisnya.


Masalah satu belum selesai mengapa timbul masalah baru? Apa motif orang itu sebenarnya? Apa Mas Nano memiliki musuh selama ini?. Dalam pikiran Linda.


Rindu yang duduk disebelahnya tak dihiraukan, hingga saat ia mendongak keatas sesaat baru menyadari ada adik sepupunya disana.


"Rin kamu dari mana?" Menoleh Rindu yang ada disebelahnya.


"Eenn," belum rapung Rindu menjawab Linda beranjak dari sana.


"Pa gimana? Apa kita tutup kasus Nano? Atau kita laporkan saja kasus penculikan Nan?" Tanya Bude Winy.


Hembusan nafas berat terdengar, "Jangan ditutup kasusnya. Nanti kita pikirkan lagi. Soal Nan nanti Papa minta Abhi untuk mengurusnya."


"Tapi pa?" bantah Bude Winy.


Rumah yang tadinya ramai mendadak sunyi. Hanya terdengar suara binatang malam saling bersahutan.

__ADS_1


Rindu melangkah menuju dapur, disana ada Linda yang sedang duduk termenung, pelan Rindu mendekati Linda. Ingin menanyakan sesuatu.


"Enn ,,, Kak Lin apa aku boleh meminta copy rekaman CCTV di taman waktu itu?"


Kening Linda sedikit mengkerut, "Untuk apa? Rekaman CCTV dibawa Abhi."


"Aku ingin tau detail kejadian sore itu." Terang Rindu.


"Baiklah besok ku minta'kan pada Abhi." Putus Linda.


Malam semakin larut, tapi tak ada satu orang pun dirumah itu yang terserang rasa kantuk. Seakan seisi rumah terkena insomia.


Hingga sayup sayup terdengar adzan subuh berkumandang. Seluruh anggota keluarga bergantian membersihkan diri. Untuk mengadukan masalah yang sedang mereka hadapi kepada sang pencipta alam semesta.


Ayam jago berkokok, saling bersahutan.


Matahari pagi menampakkan sinar terang, dengan segera Rindu bersiap-siap.


Mengantarkan Kakak sepupunya untuk mengambil rekaman CCTV.


"Yuk Kak?"


"Hemm," Linda mengangguk, kemudian mengendarai mobil masing-masing.


Jalan disini tak ramai seperti di kota, hanya beberapa kendaraan roda empat yang melewatinya. Sepanjang jalan Linda menatap serius kedepan sesekali melihat spion mobilnya. Memastika Rindu tak tertinggal.


Berbeda dengan Linda, tangan Rindu yang satu tampak memasang handsfree pada daun telinga, sesekali mata cokelat Rindu melihat layar ponselnya. Mencari-cari kontak telpon seseorang.


Setelah menghubungi nomor ponsel yang dimaksud Rindu kembali fokus mengemudi. Jemari lentiknya mengetuk ringan setir yang ia pegang. Tanda tak sabar menunggu telpon tersambung.


"Lamanya,"


Belum juga ada yang menjawab, telpon terputus.


Mobil Linda yang ada di depannya terlihat berbelok memasuki sebuah rumah yang lumayan besar. Kediaman pengacara keluarga.


Mobil keduanya terparkir sempurna. Disebuah halaman yang cukup luas dengan tatanan pavingstons yang sengaja ditata indah oleh pemilik rumah.


Langkah jenjang Linda mengawali untuk menaiki tangga menuju pintu utama, disusul Rindu dibelakangnya.


Rindu memperhatikan setiap sudut halaman, hingga tertinggal, "Kak Lin tunggu!" dengan sedikit berlari mengikuti.


Ternyata pintu rumah tidak ditutup, Linda mengetuk pintu, "Selamat Siang!"


Terlihat seorang wanita menghampiri keduanya, "Selamat siang. Mari masuk Non Linda, Den Abhi sudah menunggu diruang kerja."


"Terima kasih Bu," Linda mengangguk kemudian mengikuti langkah ART pengacaranya.

__ADS_1


Sampai didepan sebuah ruangan didekat tangga menuju lantai dua. ART itu membukakan pintu agar Linda dan Rindu dapat masuk.


Seorah pria dengan perawakan tinggi gagah, rambut hitam yang dipotong rapi, kemeja putih tanpa dasi dan jas.


Rindu tak berkedip, ringan tangannya memukul kepala. Hingga tersadar atas lamunan tak jelasnya.


Pria itu terlihat sibuk membolak-balik berkas ditangan, "Hey Lin sudah datang. Duduklah,"


Segera keduanya duduk, kemudian menerangkan kembali maksud kedatangannya. Menceritakan detail kejadian penculikan Nan juga. Abhi mendengarkan, sesekali mengangguk tanda mengerti.


"Sebelum menutup kasus ini apa kau tidak ingin melihat pelakunya?" tutur Abhi.


Linda menggeleng, ada kekawatiran pada raut wajahnya. Rindu menautkan jemarinya pada jemari Linda. Sedikit memberi penekan, meyakinkan.


"Oke, kita tutup kasusnya. Jika itu yang kamu mau," ucap Abhi tegas.


Segera keduanya berpamitan kepada pemilik rumah, tidak lupa jabatan tangan dan ucapan terima kasih terlontar.


Dengan mobil terpisah Linda dan Rindu menyusuri jalan berbeda.


Sejak meninggalnya Mas Nano, Rindu memilih tinggal terpisah, terlalu takut untuk bersitatap dengan Linda. Masih berfikir semua yang terjadi gara-gara kecerobohannya.


"Oke rekaman CCTV sudah ada ditangan," gumam Rindu.


Dijalan yang sama menuju pembangun yang sedang digarap Karno. Rindu menggiring mobil memasuki parkiran. Langkahnya sedikit berlari karena gerimis membasahi bumi.


Saat ada diteras Rindu menepis ringan baju yang sedikit basah, hingga dikagetkan suara laki-laki yang kemarin ia temui.


"Rin, kok tidak mengabari dulu," tanya Karno.


"Tadi aku udah telfon tapi gak Mas angkat," ucap Rindu dengan melangkahkan kaki mendekati salah satu kursi disana, "Ni Mas, di flashdisk ini ada copy rekaman CCTVnya."


Karno mengulurkan tangan mengambil benda kecil yang Rindu sodorkan, "Aku tidak ada laptop disini. Kau bawa tak?"


thanks you for reading. Pada beberapa bab yang akan segera end.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Sekali lagi saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.

__ADS_1


Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.


arigatou gozaimasu.


__ADS_2