
Ada karya baru, nih, berharap sekali Akak sekalian mau mampir ke Ruang Tanpa Cinta.
Cuplikan bab:
Sejak awal memang tante suaminya ini paling tidak setuju dengan pernikahan Kyra dan Agam, sehingga setitik kesalahan bisa dijadikan Eka sebagai alasan untuk merusak nama baik Kyra.
Kyra hanya berdiam, sebab apa yang hendak dia sampaikan dipotong terus-terusan. Telapak tangan besar terasa menepuk pundak, dirinya pun menoleh. Zack berdiri dengan sorot mata tajam, seolah-olah ingin menerkam. Namun, gelengan serta tatapan sendu yang tersirat dimatanya, mampu meredam amarah pria itu.
"Kenalin Tante, saya Zack teman Kyra, kita ke sini tadi bertujuh, kok. Cuma yang lain lagi ada urusan, jadi pulang duluan. Tante tidak perlu curiga, di sana ada Zuey," terang Zack ketika netranya menangkap sosok yang baru kembali setelah disibukkan dengan telepon.
"Zuey, sini!" Zack melambai agar sang teman menghampiri.
"Halo, tante. Saya Zuey, teman Kyra." Zuey mengulurkan tangan setelah mendekat, tetapi tidak bersambut. Eka melengos lantas pergi begitu saja.
"Itu siapa, sih?" tanya Zuey tanpa menatap lawan bicaranya, dia sedang asyik mengamati langkah Eka yang semakin menjauh.
"Antar aku pulang sekarang!" Kyra menarik pergelangan Zuey. Jiwanya sedikit terguncang, dia yang biasanya memiliki pembawaan tenang tidak cukup mampu menahan rasa malu.
"Biar aku yang antar." Zack masih mencemaskan keadaan Kyra.
__ADS_1
"Enggak perlu, Zack. Makasih," ucap Kyra sambil berjalan cepat diikuti sang sahabat. Bunyi bib terdengar begitu jarak dengan mobil sudah dekat, bergegas dirinya membuka pintu dan duduk dalam diam.
"Kamu kenapa, Ra?" Setelah kurang lebih lima menit, Zuey mengutarakan keingintahuannya. Dia tahu persis bagaimana menyikapi keadaan Kyra ketika mendapat masalah. Begitu merasa lebih baik, sahabat baiknya itu selalu mengutarakan apa yang dirasa.
"Aku diomeli, Zu." Kyra memeluk erat dengan berurai air mata, mengadukan masalah kepada temannya. Malu sekali rasanya ketika ditegur di depan umum seperti tadi, dia merasa jadi seorang pengkhianat.
Zuey mengusap lembut punggung Kyra yang berguncang, dia pun merasakan kepedihan yang sama saat air mata membasahi pipi sang sahabat meski tidak tau pasti kronologi sebelumnya. "Itu tadi siapa?"
"Tantenya Mas Agam." Kyra beringsut, melepaskan pelukan.
"Aku dibilang enggak bisa punya anak, trus suka keluyuran. Makanya Mas Agam gak betah di rumah." Sambil tersedu-sedu ketika menerangkan duduk persoalan, mata elok Kyra buram, air hangat terbendung dan sebagian merambati pipi.
"Apa menurutmu, itu keputusan terbaik?" Kyra bertanya balik dengan keragu-raguan.
"Kurasa, ya, karena—" Zuey mendeja kalimatnya, dia tampak menimbang-nimbang sesuatu.
"Begini, Ra, selama hampir setahun pernikahanmu ini ada perkembangan, nggak?"
"Mungkin, eem, maksudku Mas Agam masih mencintai pacarnya. Dan, aku hanya, kukira benar. Sudah saatnya hubunganku dengannya berakhir," papar Kyra kemudian setelah memahami maksud dari sang teman.
__ADS_1
"Okay, lupakan soal Tante gila itu," ucap Zuey sambil mengusap pipi Kyra, "Jangan nangis lagi, atau kalau tidak ... kumaki-maki orang yang udah buat teman termanis Zuey bersedih. Udah dong, cup, cup, cup, kecup 100 kali, nih," goda Zuey sambil meletakkan hidung ke pipi Kyra.
Berpisah adalah jalan terbaik untuk semua, batin Kyra.
...***...
Malam mulai larut, jalanan belum juga surut. Kendaraan makin kalang-kabut, melaju kencang seolah-olah jalan milik nenek moyang. Kyra sudah sampai di rumah, selepas sang teman berpamitan dia pun masuk. Derai udara yang dingin memeluk erat, membuatnya mendekap kedua sisi bahu sendiri.
"Sudah pulang?" Suara berat terdengar begitu memasuki ruang tamu.
"Mas Agam." Kyra tergemap, tidak menyadari ada seseorang di rumah. Pasalnya ruangan itu minim penerangan, juga sebelumnya sang suami berkata ada urusan di luar kota.
"Aku sudah pernah bilang, jaga sikap kalau sedang di luar. Jangan memancing kecurigaan. Kamu boleh bermain-main sama cowok mana aja, tapi inget jangan sampai keluarga kita tahu." Agam berdiri lalu menghidupkan lampu dan menatap tajam Kyra sambil berkacak pinggang. Meski intonasinya biasa saja, tetapi mampu menusuk hati orang yang kini dituduhnya.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Agam. "Mas! Kalau ngomong dijaga, ya. Aku bukan wanita rendahan yang bisa dekat dengan banyak pria, karena ini." Kyra menunjukan jari manis tepat di wajah Agam.
"Nih, Mas lihat! Ada cincin yang mengikat. Kalau mau, udah aku buang ini dari dulu! Lagi pula aku sudah izin." Dia tidak melepaskan tatapan tajam pria di depannya, tidak terima dengan segala tuduhan dari sang suami.
Agam memegang pipi yang kemerahan, ada bekas telapak tangan di sana. "Aku tidak asal bicara, Ra! Tante Eka telepon aku barusan. Dia bilang kamu mesrah-mesrahan sama seorang pria."
__ADS_1
"Terserah! Mas Agam bisa menilai sendiri." Kyra berlari menaiki anak tangga, ada yang berdenyut di dada. Terdapat luka sayat yang teramat lebar, tetapi tidak ada darah bercucuran di sana.