AKU RINDU

AKU RINDU
OPSESI


__ADS_3

Di tempat lain...


Mentari senja jingga keabu-abuan menemani dua insan yang tengah duduk berdua.


"Terima kasih sudah mau menemuiku." ucap Sita memecah keheningan.


"Cepat katakan...apa mau mu." serka Setya.


Belum rampung mereka berbicara, dari arah belakang segerombolan orang menghampiri.


Buugghhh buuuggghhh buugghh


Tiba-tiba seseorang menyerang Setya dengan brutal, memukul rahang setya menendang perut hingga Setya tak bisa mengelak serangan.


Darah segar keluar dari mulut Setya, Sita terlihat panik meminta tolong. Namun sayang tidak ada satu orang pun yang lewat.


"Hentikan...tolong hentikan!!!" Teriak dan isak tangis Sita tak di hiraukan.


Malah Sita kini talah di tarik paksa oleh salah satu dari mereka, terlihat Sita meronta memohon untuk di lepaskan.


Hasilnya nihil, teriakan Sita tak membuatnya terlapas yang ada Sita kini sudah berada di dalam mobil.


"Lepaskan!!! Lepaskan aku!!!" Seru Sita yang sudah berada di dalam mobil tersebut.


"Tenanglah Nona." ucap salah satu dari orang itu.


Mereka adalah orang suruhan Doni, Doni terpaksa melakukan ini karena beberapa bulan yang lalu Sita memutuskan perjodohan secara sepihak.


Selepas kepergian Sita, Doni baru menunjukkan diri didepan setya. Seringai licik terukir disudut bibir Doni, kini ia duduk didepan Setya yang masih tersungkur ditanah.


"Aku sudah pernah katakan padamu...jangan mendekati Sita!!!" sentak Doni dengan suara lantang.


"Ciiihhh...kesialan Sita mendapatkan orang sepertimu." ucap Setya tak kalah sinis.


"Kurang ajar!!!" Sergah Doni dengan mendaratkan satu pukulan di wajah Setya yang sudah penuh dengan darah.


"Habisi dia." putus Doni kemudian meninggalkan orang-orangnya menyelesaikan.


Terlihat Setya di seret mendekati danau, beruntung ada yang melihat kejadian itu. Belum sempat Setya terlempar mereka meninggalkannya tergeletak tak berdaya di bibir danau.


"Sepertinya pemuda ini bukan orang sini...coba cek apa ada tanda pengenal." ucap salah satu orang yang datang membantu Setya.


"Ada mas." ucap seseorang yang telah menemukan dompet di saku celana Setya.


Setya segera mereka bawa keklinik dekat tempat itu, Hari serta Nano yang mendapat kabar dari klinik segera menemuinya.


Terlihat sudah ada polisi berada disana, karena warga yang mengetahui kejadian ini melaporkan pada pihak yang berwajib.


"Selamat siang pak." ucap mas Nano pada petugas kepolisian.


"Selamat siang...apa anda kerabat saudara Setya?" tanya pak polisi.


"Ya pak saya temannya." jawab mas Nano.


"Mari ikut saya...saya akan menanyakan beberapa hal kepada anda." pinta polisi pada mas Nano.


Mas Nano dan hari mengikuti bapak polisi, terlihat mereka berbicara dengan serius.


Menanyakan apa yang perlu polisi ketahui agar mempermudah pengusutan.


Percakapan pihak kepolisian dengan mas Nano pun usai.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak melanjutkan masalah ini No?" Sergah hari tak terima mas Nano menutup kasusnya.


"Karena aku punya cara lain untuk menyelesaikan ini." ucap mantap mas Nano dengan menekan kuat pundak Hari.


"Maksud mu?" Tanya Hari tak paham dengan penuturan mas Nano.


Terlihat Nano melirik kondisi di sekitarnya sebelum bicara, dirasa aman mas Nano mulai membuka suara. "Kau tau jika polisi yang turun tangan tidak akan sepadan dengan kondisi Setya saat ini." ucap mas Nano sedikit berbisik.


Hari sudah mengerti maksud temannya ini, segera mereka menghampiri Setya yang belum sadarkan diri. Lebam keungu-unguan menghiasi sudut bibir dan rahang Setya.


"Lihat Har...jika polisi yang menyelesaikan, mungkinkah sipelaku bisa seperti Setya?...aku rasa tidak! Bahkan seseorang mungkin saja bisa menjamin kebebasannya." ucap Nano menerangkan dengan rahang mengeras dan tangan mencengkrap kuat pinggiran tilam.


"Kau benar No...kita akan lalukan lebih dari ini." ucap mantap Hari.


*********


Ditempat lain.


"Bagaimana sudah kalian selesaikan." tanya Doni pada orang yang ia tunjuk (orang 1)


"Ma...maaf Don...kita tidak berhasil." jawab orang 1 gagap.


"Br**gsek!!!!...aku bayar kalian tidak untuk kegagalan." ucap sarkas Doni.


Sita terlihat menyunggingkan senyum miring pada sudut bibirnya. Doni yang menyadari itu segera mendekat kearah Sita yang sedang duduk dikursi pojok.


Doni tidak pernah melakukan kekerasan pada Sita, karena Doni sangat mencintainya.


"Sayang!...mengertilah aku melakukan semua ini untuk mu...aku tidak ingin kehilangam mu...aku sangat mencintaimu." tutur lembut Doni pada Sita.


"Haahhh omong kosong!!!...cinta mana yang kau maksud...ini bukan cinta ini obsesi!!!" Ucap Sita ketus.


"Kalian pergilah!" Perintah Doni pada semua orang suruhannya.


"Aku terlanjur sayang pada mu Sita...aku tidak ingin ada orang lain yang memilikimu selain aku." ucap Doni lembut dengan berlutut di depan Sita.


Sita membuang muka, tak ingin bersitatap dengan mata sayu Doni. Terlihat Doni tak bergeming, kini jemari tangan Sita Doni genggam kuat. Seolah mengharap agar Sita kembali seperti dulu, Sita yang tau batasnya Sita yang penurut Sita yang bisa menerimanya.


"Apa kurang ku padamu?...apa yang tidak kuberikan padamu?" Ucap Doni dengan mata mengkilat.


Pertanyan Doni membuat sita balik menatapnya. "Tidak ada yang kurang dari mu mas...hanya saja..." ucapan Sita terputus.


"Hanya apa?" Desak Doni.


"Hanya saja cinta tidak bisa di paksakan...aku sudah mencobanya tapi tidak bisa mengubah apapun." ucap Sita dengan tertunduk merasa bersalah.


Doni tak menanggapi ucapan Sita, segera Doni berdiri dihadapan Sita. Berbalik badan singkat, mengatur nafas yang sedikit tersegal karena emosi mengerogoti.


"Mari...mas antarkan pulang." ucap doni dengan tangan mengajak Sita segera berdiri dari duduknya.


Sita hanya menurut, selama ini memang doni memperlakukan Sita istimewa. Bahkan lebih cenderung posesif, Sita bagai burung didalam sangkar emas.


Itu yang membuat Sita membangkang, ingin lepas dari jeratan Doni.


Mobil fortuner hitam sudah siap mengatar Sita kembali pulang, Sita kini tidak lagi bekerja di pabrik.


Doni selalu ada cara untuk membuat sita tak berkutik, orang tua sita pun mempercayakan sita sepenuhnya pada doni.


Jalanan cukup lenggang, mata sayu Sita menatap di luar jendela mobil. Tatapan kosong, entah apa yang sedang ia lamunkan. Tangan Doni masih setia diantara jemari Sita, hingga kini telah sampai ditempat tujuan.


"Mama papa." Sita berhambur memeluk kedua orang tuanya bergantian.

__ADS_1


"Sayang...mama merindukan mu." ungkap mama Sita.


Papa Sita segera mengajak Doni untuk berbincang.


"Doni...bagaimana kabar mu." tanyanya kemudian.


"Sangat baik pa." jawab Doni.


"Maafkan tindakan Sita selama ini." ucap papa Sita penuh penyesalan.


"Papa tidak perlu meminta maaf...mungkin saja Sita sedang emosi jadi muncul tidakkan yang tidak seharusnya." ucap Doni mencoba untuk tidak mempermasalahkannya.


Hingga cukup lama keduanya berbincang, hari ini adalah hari yang sangat-sangat menguras emosi bagi tiga orang yang telah terjebak cinta segi tiga.


*****


Klinik...


"Aku disini butuh bantuan kalian!"


Terlihat mas Nano menelfon seseorang.


"Nanti akan ku ceritakan kepadamu setelah tiba disini!"


Masih dengan ponsel menempel pada daun telinga.


"Okey...aku dan hari akan menjemput mu"


Tutup mas Nano.


Hari terduduk memperhatikan temannya yang sedang meminta bantuan.


"Bagaimana No,apa bisa mereka datang kemari?" Tanya hari mendesak ingin segera tahu.


"Beres....kita tinggal tunggu waktu yang tepat...besok Karno akan tiba di kota ini...kita akan menjemputnya." terang Nano.


"Uhuukkk uhhuukkk." Setya terlihat sudah sadarkan diri.


Hari segera menghampirinya, terlihat membantu setya duduk bersandar.


"luzer...!! Bagaimana bisa seorang Setya bisa jadi telur dadar" ledek hari.


"Tutup mulut mu." sarkas Setya sedikit meringis menahan sakit di perutnya.


Mas Nano mendekat pada kedua temannya. Terlihat kecemasan pada kedua mata coklat pemuda itu.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya mas Nano tanpa babibu.


Setya pun memceritakan rentetan masalahnya dengan Sita hingga berujung seperti ini. Mulai dari penyerangan di taman waktu itu, Setya awalnya tidak tahu jika akan berbuntut panjang. Karena itu Setya tak menginginkan teman-temannya tahu, lebih tepatnya tidak ingin membawa temannya dalam masalah pribadi.


"Seperti itulah No...aku sungguh tidak menduga akan serumit ini." jelas Setya pada Nano.


"Tak masalah jika ini yang mereka inginkan!" ucap tegas Nano tersenyum penuh arti di balik kalimatnya.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu


__ADS_2