AKU RINDU

AKU RINDU
KASIH SAYANG


__ADS_3

Saking semangatnya Linda bangun pagi-pagi sekali, hingga tak mau didahuli oleh sang mentari.


"Sayang sudah bangun ini baru setengah empat dini hari, tumben bangun secepat ini." ucap bibi Winy pada Linda.


"Ya ma, karena Linda akan menyelesaikan proyek ini segera." ucap Linda riang.


Entah kenapa bibi Winy begitu sedih, mungkin karena Linda anak satu-satunya. Yang cepat atau lambat akan segera meninggalkan rumah.


Layaknya anak merpati jika sudah bisa terbang maka tanpa ragu akan meninggalkan sarangnya.


"Ma ... mama." panggil Linda menyadari kesedihan sang mama, dipeluknya erat dari belakang. "Mama jangan sedih, Linda akan sering mengunjungi mama." ucap Linda dengan mata berkaca-kaca.


"Mama tidak bersedih sayang, mama selalu mendukungmu." ucap bibi Winy sambil mengusap lembut pipi Linda.


Merasakan lembut sentuhan tangan bibi Winy tangan yang sudah membesarkannya dengan kasih sayang. Tanpa sadar Linda menitihkan air mata, merasai tangannya basah, bibi Winy segera berbalik menatap sang putri.


"Sayang mengapa menangis." tanya bibi Winy penuh kasih sayang.


"Terima kasih mama, terima kasih telah mencurahkan seluruh kasih sayangmu padaku." ucap Linda sedikit tersedu.


"Oohh sayang." kini bibi Winy tak bisa membendung air matanya. "Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya." terang bibi Winy dengan mengusap lembut pucuk kepala Linda.


Beberapa saat ibu dan anak ini saling berpelukan, Linda memang tergolong anak yang tak pernah jauh dari orang tua. Sewaktu masih remaja bahkan sampai kuliah tak pernah pergi sendiri.


Kesibukan pagi ini diliputi dengan rasa kasih yang melebihi hari-hari sebelumnya.


Seperti biasa Linda membantu mama Winy didapur.


Dari balik jendela dapur sorot mentari menerobos untuk memberi tahu sang pemilik rumah jika diluar sudah terang alami.


Melihat itu Linda segera keluar untuk membersihkan halaman, entah kenapa Linda nampak bersemangat. Tidak seperti biasanya, karena selama ini Rindu mendapat tugas untuk membersihkan halaman dan seisi rumah.


Sepasang mata jelas mengawasi Linda yang tengah duduk di kursi samping rumah setelah lelah membersihkan halaman.



Siapa lagi jika bukan Rindu yang mengawasi. Karena sekarang sudah pukul 06:10 jelas Rindu sudah bangun.


Iseng Rindu menghampiri Linda di halaman rumah. "Kakak...mimpi apa semalam." ucap Rindu tiba-tiba.


Rindu menatap langit yang cerah hingga panasnya mentari pagi menerpa wajah manis Rindu.



"Karena setelah ini kau harus kerja double." ucap Linda penuh penekanan.


"Kenapa begitu." ucap Rindu tampak belum bisa mencerna perkataan Linda.


"Ya...karena aku akan segera pergi dari rumah yang artinya kau harus membatu mama untuk membersihkan halaman lengkap dengan urusan dapur...hahahaha." ucap Linda diakhiri tawa renyah penuh ledekan.


"Whhaaatttt." seru Rindu pura-pura kaget, sebenarnya mah tidak sama sekali, karena Rindu cukup bisa memposisikan dirinya.

__ADS_1


Bibi Winy menghampiri kedua gadis yang sedang asik mengobrol itu untuk sarapan pagi. Rindu sudah tidak bersekolah, hanya menunggu hasil ujian saja.


Kini formasi makan lengkap ada papa/paman Ari, mama/bibi Winy, Linda, dan Rindu. Karena tiga hari kepergian Linda dan Rindu meja makan begitu sepi. Bagaimana tidak karena kedua gadis ini yang bisa membuat gaduh meja makan.


"Paman kenapa mengijinkan kak Lin pergi kekota untuk membuka butik disana?" Tanya Rindu ditengah-tengah makan dengan mulut penuh.


Cleetaaakkk


Satu sendok melayang tepat landing diubun-ubun Rindu. Siapa lagi yang dengan sigap mendaratkannya.


"Habiskan dulu makanan dimulutmu!" Tegas paman Ari.


Segera Rindu meneguk air mineral di sebelahnya. "Kenapa paman membiarkan kak lin pergi kekota." ulang Rindu.


Sebelum menjawab paman Ari meneguk sedikit air mineral untuk membantu nasi masuk kedalam tenggorokan. "Kau pun nantinya harus seperti kak lin." ucap paman Ari.


"Bukan begitu paman...jika kak lin kekota pekerjaanku disini bertambah banyak." ucap Rindu dengan wajah seolah-olah sedang sedih.


Cleeetaakkk.


Naahhh siapa lagi ini yang sudah mendaratkan sendok tepat di atas kepala Rindu.


"Rasakan...jangan bicara yang tidak-tidak." sergah Linda dengan sendok masing mengacung tepat kearah Rindu setelah ia gunakan untuk menjitak kepalanya.


"Saayyaaang...jangan begitu kasihan Rindu." ucap bibi Winy sambil mengusap lembut pucuk kepala Rindu.


"Aaa bibi...lihatlah paman dan kakak tidak menyayangi ku." rengek Rindu merasa ada yang membela. Tak luput Lidah Rindu menjulur mengejek Linda.


Rindu yang sudah selesai segera berlari menghindar, takut ada serangan kedua.


"Lihatlah pa...walau sudah besar tetap saja mereka seperti anak kecil." ucap bibi Winy dengan tatapan berkaca-kaca sedih jika harus berpisah dengan keduanya.


Tangan kekar paman Ari mengusap ringan punggung tangan bibi Winy. "Jangan sedih sayang...apa kau mau kita buat baby untuk menggantikan mereka." goda paman Ari pada sang istri.


"Isshhh...papa kita sudah tak muda lagi." celetuk bibi Winy segera beranjak dari meja dengan membawa piring kotor.


Paman Ari mengikuti dari belakang, membantu membereskan meja. "Tak masalah sayang, aku masih sanggup." ucap paman Ari dari belakang seraya memeluk erat dengan meletakkan dagu di pundak bibi Winy.


"Sayang hentikan, malu jika anak-anak melihat." ucap bibi Winy canggung.


Linda menjadi anak semata wayang bukan karena bibi Winy tidak bisa memiliki anak lagi. Tapi karena bibi Winy masih trauma dengan kelahiran Linda waktu itu.


Bagaimana tidak Winy muda yang waktu itu tengah hamil tua tapi belum waktunya harus dipaksa mengeluarkan bayi yang berada didalam perutnya. Menginggatnya saja sudah membuat bibi Winy merinding.


Apa aku harus lepas kb ya. Gumam bibi Winy dalam hati.


"Sayang aku berangkat dulu ya." pamit paman Ari membuyarkan lamunan bibi.


Bibi Winy yang sedang termenung di depan vas bunga seketika berdiri dan menghampiri paman Ari, diciumnya punggung tangan paman. Tak lupa paman mendaratkan kecupan ringan di kening bibi Winy. Memang kebiasaan inilah yang membuat dua insan yang sudah menikah selama kurang lebih 23 tahun ini tetap romantis.


******

__ADS_1


Keluarga Linda memang tidak memiliki ART, bukan karena tidak bisa. Hanya saja bibi Winy tipe orang yang tidak bisa diam saja, mangkanya sengaja tidak menggunakan jasa ART.


"Kak jika aku sudah lulus nanti boleh ya ikut bekerja bersama mu, di butik milikmu yang ada dikota?" Tanya Rindu santai dengan tangan aktif menggunting tangkai mawar putih.


Bibi yang mendengar itu tampak kaget, tidak bisa di bayangkan jika kedua gadis ini kompak meninggalkan rumah.


"Tidak!!...mana bisa begitu." jawab Linda cepat.


"Kenapa tidak?" Tanya Rindu masih dengan aktifitasnya.


Bibi Winy hanya mendengarkan tanpa komentar, ingin tau alasan Linda.


"Kau harus fokus dengan kuliah mu." jelas Linda.


"Aku bisa kuliah sambil bekerja, aku bisa kerja paruh waktu." gerutu Rindu.


"Mana bisa begitu, butik hanya buka pukul delapan pagi sampai delapan malam." jelas Linda.


Bibi Winy terlihat lega mendengar penuturan Linda.


"Yahkan aku bisa kerja setelah pulang dari kuliah sampai pukul delapan malam." ucap Rindu masih memaksa.


"Kalau aku bilang tidak ya tidak!! apa yang kamu cari sampai harus bekerja paruh waktu?" ucap Linda tegas bahkan penuh penekanan tanpa bisa di jawab Rindu.


Rindu hanya tertunduk tak bisa membantah, memang kebutuhan rindu sudah terpenuhi.


"Ri, apa Rindu tidak merasa kasihan kepada bibi jika harus dirumah sendirian." ucap bibi Winy setelah cukup diam memperhatikan.


Ucapan bibi Winy semakin membuat Rindu merasa sedih, bukan sedih karena tidak mendapatkan apa yang ia mau. Tetapi bersedih kenapa tidak memikirkan perasaan bibinya, sepertinya Rindu terlalu egois.


Setelah percakapan serius cukup membuat hening sesaat, tak ada obrolan tercipta hanya suara gunting beradu dengan tangkai dan suara goresan pensil pada buku Linda.


Rindu beranjak meninggalkan ruang tamu, terlihat menuju dapur mencari sesuatu yang bisa membuat suasana mencair. Di ambilnya teko dengan gelas kini Rindu sibuk membuat es jeruk.


"Bibi kakak cuaca panas sekali ya." ucap Rindu setelah kembali dengan membawa baki di tangan. "Silahkan." imbuhnya sambil meletakkan baki berisi es jeruk dalam teko.


"Waaahh boleh." senyum Linda mengembang melihat es jeruk segar.


"Ini bibi." tawar Rindu pada bibi Winy.


"Terima kasih sayang." ucap bibi Winy.


Seketika suasana yang tadi beku kini mulai mencair berkat es jeruk buatan Rindu, hingga obrolan tercipta begitu saja diiringi tawa menggema di ruangan.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu


__ADS_2