
Miria menatap sekelompok maha sisawa laki-laki yang mengoloknya dan memandang remeh dirinya.
Mereka masih tertawa terbahak bahak.
Miria yang berteriak meminta mereka diam saja mereka tak diam. Sampai Miria jadi tontonan maha siswa lain yang belum keluar kelas.
"Miria gitu ya?" Kata beberapa dari mereka.
"Iyaa tuh sok kalem banget aslinya Murahan banget, aneh!" Seketika mereka diam diam tertawa di belakang Miria.
Padahal Miria disitu dan bisa melihat mereka.
Mereka tertawa kecil.
Salah satu dari lima maha siswa laki-laki itu berdiri.
"Heran gua..emang ibunya itu mantan cewek piala bergilir ya.. atau dia gak tahu lagi siapa ayahnya dan Mungkin..."
Plak...
"Wahah....nampar gue lo!" Bion marah ia tak terima tamparan dari Miria.
"Jangan pernah bawa orang tua gue di mulut busuk lo, lo bahkan ngatain gue seenaknya... Lo gak pernah ada di posisi gue.. Lo gak tahu itu."
Miria langsung pergi dan tiba-tiba hijapnya di tarik sampai peniti hampir mencekik lehenya dan hampir menusuk lehernya.
"Apa! Apa lo bilang nilai seenaknya, gue ngomongin fakta berita nya gitu dan orang tua lo itu miskin Ri! Lo kuliah di kampus ini beruntung lo. Anak beasiswa!"
Seketika Bion menarik hijap Miria lebih kencang sampai robek dan hampir memperlihatkan rambutnya beruntung Miria maju dan mengelak cepat.
"Ayahnya gak jelas hidupnya miskin maka jangan banyak Buat dosa lo."
"Ibu lo itu pasti dah seneng seneng mulu kan sebelum ada lo dan pas ada lo penyesalan terdalamnya."
"Ibu Lo itu pasti sering gonta ganti pasangan sampe lo..."
Brugh...
"Gue gak bisa tahan Ibu gue lo ejek... Lo bahkan gak pernah gak pernah tahu apa yang gue rasain lo gak bisa berada di posisi gue.. Gue harap lo jaga mulut busuk lo buat gak ngomong sembarang."
Miria melempar kursi kearah Bion dengan cepat teman Bion menyelamatkannya dan memisahkannya tapi, Miria itu tidak lemah ia tak bisa tahan jika ibunya terus di katai tak baik dan mereka pun tertawa seteleh mengatakan hal aneh itu.
"Jangan-Jangan !" Kata teman-teman Bion.
__ADS_1
Seketika itu Miria melempar kursi ke meja sebelum menghantam kepala Bion dengan kursi yang ia pegang, dan pergi tapi, Bion dengan cepat menarik jilbab coklat Miria dan robek sepenuhnya juga jarum yang lepas dan terlihat aurat rambut Miria yang indah yang sudah lama tak terlihat.
Sebuah Jaket dengan cepat mendarat menutupi kepala Miria dan juga kain syal Qinan.
"Ria.." Seketika itu Miria tak bisa bicara dan hanya diam mengigil takut menutup kepalanya.
Tangis Miria pecah ia teringat dimana saat Ibunya menangis di pasar ketika para preman hendak menyentuh ibunya dan saat itu ibunya pulang dari pasar dan ayahnya melihat ibunya berantakan langsung memarahi tanpa meminta penjelasannya, tak hanya memarahi bahkan memukul dan menendang ibunya karena telah berbuat tak baik dan tak menjaga dirinya.
Ayahnya langsung pergi entah kemana dan ibunya marah dengan semua hal di sekitarnya.
Ayahnya juga tak pernah pulang kerumah sekali pulang ayahnya selalu marah bertindak kejam dengan memukuli ibunya sembarangan.
Ria ketakutan dan Shaka berdiri menatap kelimanya termasuk Bion yang entah kenapa ia terluka.
Bima dan Qinan menbawa Ria pergi dan Devon berusaha menghentikan Shaka.
Perkelahian dan amarah Shaka meluap saat itu. Jilbab coklat Miria tergeletak di lantai sembarangan.
Shaka tak habis memukul bahkan membuat mahasiswa yang melihat perbutannya ketakutan sampai tak berani berpindah dan hanya menyingkir.
"Shaka udah jangan lepas kendali." Cegah Devon tapi, mata Shaka sudah gelap dengan emosinya.
"Mana ada yang mau lihat hal seperti itu... mereka juga gak akan mau dan marah! Von!" Bentak Shaka seketika itu memendang perut Bion sampai batuk dan muntah darah.
"Sadar Tol*l..." Pelan Juno meminta Shaka sedikit tenang.
"Astagfirullah..." Pelannya seketika itu menghembuskan nafasnya tapi, tangannya tetap terkepal.
Shaka keluar dari dalam kelas Ria dan tinggal Juno dan Devon disana.
"Kalian langsung bawa nih anak.. kasih tahu perkembangannya ke kita awas sampe lo pada gak kasih tahu, bisa bisa posisi Bion kalian juga dapet." Ancam Juno membuat ke teman-teman Bion mengangguk mengerti.
**
Miria di rangkul di tuntun Qinan pergi ke ruang kesehatan dan meminta Olva dan Yuki membawa hijap untuk Miria.
"lo duduk debentar ya." Seketika itu Miria memundurkan tubuhnya.
"Keluar! Pergi!" Katanya setengah bergetar, takut dan tertunduk.
Shaka yang berlari ke ruang kesehatan melihat Bima dan Qinan keluar hanya melihat dan langsung masuk tanpa bertanya ada apa dengan Ria.
Ketika Shaka masuk Ria memundukan langkahnya kebelakang dan menggeleng di balik jaket yang menutupi kepalanya.
__ADS_1
"Jangan.. Jangan pukul aku.. Jangan... Ampun ayah.. Maaf maafin mama ayah.. Maaf ayah... Hiks.. Jangan pukul ayah... Jangna cerain mama ayah.. Hiks.. Jangan pergi... Hiks.. Hiks.. Jangan pisah jangan pergi.. Ria aja yang pergi."
Ria tidak sedang baik dan Shaka benar-benar lemah mendengar Ria mengatakan hal seakan ia akan di pukul Shaka, sebenarnya Shaka saja kaget dengan reaksi takut Miria.
"Sayang, Aku Shaka..." Seketika itu gelengan dan getaran dan tangis Ria berhenti kencang , mereda sebentar.
"Shaka..." pelan dan perlahan mengangkat wajahnya. Shaka langsung memeluknya dan menutup kepalanya lagi yang terlihat rambutnya sedikit dengan jaketnya.
"Shaka aku gak salah aku gak.." Shaka mengusap punggungnya dan meminta Ria tenang.
"Huss... Udah sayang gak aku gak akan marah dan mukul kamu kita gak akan pisah ok, kamu tenang aku disini." Menenangkan Ria yang masih menangis di pelukannya
Didepan Malika dan Olva datang membawa jilbab yang mereka beli dadakan di toko terdekat lengkap dengan penitinya dan juga beberapa hal yang di butuhkan karena ruang kesehatan jauh dari kantin sekalian saja Malika membawa air mineral yang ia beli di depan kampus.
"Gimana Ria?" Tanya Yuki yang datang tak lama Olva dan Mika berdiri didepan Qinan.
Shaka keluar dan melihat Olva juga Mika yang ternyata ada dan sepertinya mereka baru datang.
"Kalian bisa.." Seketika itu Qinan menyodorkan kantong yang Olva dan Mika bawa.
"Kita dah bawain dan lo urus Ria, gimana Ria?" Tanya Mika dan Shaka yang menerima kantong coklat seketika mengeratkan pegangannya pada kantong yang ia pegang.
"Dia inget masalalunya waktu, ayahnya sama ibunya berantem dan dia kira gue bakalan gebukin dia dan cerain atau bahkan ajak dia pisah.."
Juno, Devon, Bima, Mika, Yuki, Qinan dan Olva mengangguk dan wajah mereka seperti sudah paham keadaannya, mereka sangat menyayangkan dan sedih.
"Makasih ya, kalian peka... Oh buat Bion kalo bokapnya dateng suruh datengin dan temuin gue.. Gakk ada panggil bokap gue.. Gue yang gebukin anaknya."
Kata Shaka mengalihkan suasana
Juno dan Devon paham Bima Olva Mika Qinan hanya saling diam.
Shaka mengangkat kantong dan pergi masuk meninggalkan teman-temannya didepan ruang kesehatan.
Dari pada begiong Qinan berinisiatif ke kantin.
Qinan mengajak temen-temennya pergi ke kantin.
"Ngantin yukss!" Ke empatnya pergi saling bergabdengan.
"Gue ikut," Juno berteriak mengejar keempatnya.
Bima menatap kedalam ruang kesehatan dari kaca pintu dan Devon mengajak Bima.
__ADS_1
"Dah ada suaminya kita dah gak ada urusannya." kata Devon. Bima mengangguk mereka berdua langsung ikut mengejar Juno dan keempat geng Qinan.