Anxietas

Anxietas
Pernikahan di terima


__ADS_3

Shaka tekekeh.


"Lu gak malu buang ingus sampe segitunya depan gue?" Tanya Shaka berpikir kalo Ria tak sadar.


"Lah iya ada lo! dah terlanjur lo ini gak masalah gue buang ingus pertaa gue di kamar lo!" Katanya dengan sombong.


Dia memang sengaja bersikap seperti itu. Dia anggap Shaka bukan lah masalah hanya karena ia membuang ingus tidak terkesan kalem.


"Terus lo gimana gue dah ceritain semua belom semua juga kayaknya tapi itu sedekit banyaknya sih. Apa keputusan lo?"


Ria duduk ladi di tempatnya lagi setelah membuang tisu bekas ingusnya lalu tersenyum tipis memberikan tiga barang pada Shaka.


"Gue terima tawaran nikkahnya dan gue mau ngomong ke bokap lo sekarang tapi," Shaka diam menunggu kalimat berikutnya.


"Anterin gue pulang?"


Shaka mengangguk.


"Siap yuk sekarang." Ria mengerjap. Gampang banget!


"lo kok?" shaka menatapnya dengan bingung


"Why??" ucap Shaka


"Lah lo ga takut gue cerita ke bokap lo tentang barang itu?" Shaka melirik obatnya.


"Yang mana?" Tanyanya bingung sok gak paham padahal paham.


"Ituu loh." Menujuk ke atas kasur dimana Shaka meletakkan obat itu disana lagi.


"Oh itu.. Gue percaya sama lo gak pernah ada yang masuk kamar gue walaupun itu pelayan dan Lo orang pertama asing yang masuk kamar gue, mana kasih tanda ingus lo tapi, gak papa nanti juga lo bakalan jadi penghuninya." Mengerjap tersenyum jahil.


Ria melotot, heh apa maksudnya?


"Tentang mb tadi yang ikut masuk kamar gue itu biar urusan gue." Katanya lagi sebelum keluar kamar dan benar-benar menjauh dari Ria.


Mata genitnya sengaja terlihat jelas. Ria kaget dan malu.


"Lah mata empat! Woyy!" Teriak Ria tak bisa, takterma di geiti dengan mata seelahnya berkedip deperti itu ditambah senyuman manisnya itu.


Shaka pergi keluar begitu saja dan membuat Ria merasa kalah.


Tadinya Ria pikir ia bisa menekan Shaka mengancam tapi orang itu? Aiiihs mata empat!


Shaka berjalan keluar kamar tanpa menunggu Miria tak lama menuruni tangga Miria keluar dan menutup pintu kamarnya.


Shaka tersenyum.

__ADS_1


"Shak... Eh pap eh om!" Kata Ria hampir latah.


Ria langsung berdiri sejajar dengan Shaka di sebelah kirinya Ria tak sangka kalo papanya Shaka ada didalam dan melihat kearah Shaka saat Ria meneriakinya di tangga.


"Shaka kamu apakan dia sampai teriak gitu?" Tanya papanya selidik curiga.


Ria jadi tak enak shaka yang di tuduh macam-macam.


"Enggak kok om, oiya saya.." Ria melirik Shaka dan menatap Papanya Shaka.


"Saa.. Saya terima lamarannya." Ria rasanya mau pingsan tangannya berkeringan dadanya berdebar dan ia hanya seperti sedang menghadapi maut saja.


Mana orang di sebelah kanannya ini asik senyum senyum aneh, tak gerogi liat aja sudah nikah nanti Ria akan bully dia!


Papa Shaka menatap putranya dan Ria bergantian lalu menatap Shaka lagi seketika memeluk Shaka.


"Selamat nak... Papa akan bilang Dimas dan Lira untuk siapkan pernikahan sederhana kalian lalu papa akan undang Gaven dan Putri."


Shaka terdiam. Ria merasa itu empat orng jika mereka menikah lalu satu orang kenapa? Tidak di sebutkan. Eh apa urusan Ria ia sama sekali tak ada huungannya.


"Kak Zavina gak papa undang?" Papanya berhenti berjalan mendengar pertanyaan Shaka tentang anak ke tiganya.


"Dia wanita karir papa, bahkan gak bisa menghubunginya tanpa di beritahu mungkin jika dia ingat keluarga dia akan datang dan tinggal disini lagi, haah... Biar Dimas dan Gaven yang mengurus Zavina."


Ria melihat sorot mata sedih papanya Shaka.


"Oh ya antarkan mennatu papa dengan sselamat.."


"Masih calon pah!" Ingatkn Shaka pada papanya.


***


Pernikahan yang berlangsung sederhana cepat dan lancar di tambah dengan tamu undangan hanya orang terdekat saja.


Damar datang dengan istrinya dan juga anak-anaknya yang masih kecil. Damar juga tak menyangka jika ia benar-benar menggantikan posisi ayahnya menjadi wali nikah sang adik.


Setelah ijab selesai pesta sederhana pun selesai tinggal tamu terdekat keluarga dan kolega di tempat acara.


Miria duduk dengan takut sejak tadi tangannya terkepal saling mengusap kadang bergetar takut.


"Gu..." Kata Ria takut-takut.


"Aku kamu ria.. gak gue lo lagi," ucap Shaka dengan lembut mengingatkan panggilan mereka harus berubah sopan dan dekat.


Mira tersenyum malu dan takut sekaligus.


"Bibi anterian Ria kekamarnya."

__ADS_1


Seketika akan berjalan empat teman Shaka datang yang perempuan dan meminta Ria untuk berfoto dengan mereka sebentar.


"Ehm.. jangan di upload ya kak, aku gak suka di unggah.." Kata Miria.


"Eh tenang aja kita privasi cuman temen-temen yang ada disini yang liat." kata Qinan.


Shaka mendekat dan membubarkan ke empatnya.


"Lo pada jangan up di sosmed tuh foto atau lo pada gue blacklist." Kata Shaka mengancam.


"Elah bucin.. Belom berjatah aja.." Kata Malika tanpa rem. Memebuat Olva dan Qinan langsung membekap mulutnya.


Yuki langsung menutup wajahnya.


"Asli bukan temen gue!"


Tiba-tiba pesta sederhana itu kedatangan tamu yang di tunggu pengantin pria dan tuan rumah.


"Shaka!" Teriak Gaven seetia itu membuat mereka yang masih membuli Malika berhenti dan tatapan Shaka beralih ke depan pintu masuk pesta.


"Omm." Teriak Dinda anak kecil yang ada di gendongan Dimas.


Lira menghampiri Ria dan memeluk juga mengecup pipinya kanan kiri.


Lalu Putri istri Gaven dan tak lama seorang wanita cantik dengan pakaian formalnya rok sepan panjang putih dan bluss berwarna merah muda rambut panjang hitam lurus dengan poni panjang.


Mira menatap Shaka dan bergantian menatap Wanita didepannya.


"Selamet Shaka... Kakak bahagia kamu akhirnya nikah."


Eh kaka? Ria terdiam.


"Kak Zavina." ucap Ria pelan sekeika itu Zavina memeluk Ria dan mencium pipi kanan pipi kiri.


"Selamet ya Ria kaka bahagia buat kamu.. Jaga dan bahagiain Shaka ya..." kata Zavina sketika itu Ria mengangguk malu.


Teman teman perempuan dan Laki-laki Shaka merasa kagum karena Zavina akhirnya datang dan itu membuat Dominic dan Juno tahu siapa Zavina saling pandang dan mengedikkan bahunya.


Shaka dan kakaknya saling berbincang ringan dan Ria pergi ke kamar mengganti gaunnya lebih panjang dan lebih tertutup dari sebelumnya.


Memang tadi tertutup tapi, Shaka suka Ria menggunakan hijap.


Sebelumnya Shaka bertanya pada Ria mau menggunakan pakaian yang mana terserah Ria karena Shaka menyiapkan empat gaun untuk Akad dua dan pesta dua.


Shaka membawa dua gaun panjang tanpa hijap dan dua gaun anjang terlihat mewah tapi sederhana panjang, menutupi kaki dan pergelangan tangan lengkap dengan hijap kepalanya dan di tambah dalaman penutup kepala.


Antara senang juga sedih untuk Ria di hari ini.

__ADS_1


Anatar kagum dan bahagia untuk Shaka hari ini. Dirinya dua kali di kejutkan dengan pilihan Ria menggunakan hijap ketika akad dan menggunakan hijap penutu kepala dan menutup dagu juga lehernya dengan bai di pakaian pestanya.


Zavina terpesona bahkan ia sampai meneteskan air matanya itu benar-benar mengingtkannya pada ibu Shaka.


__ADS_2