
Kehidupan ini berlalu dengan cepat.
Secepat itukah semuanya berlalu sampai ia tak bisa menjelaskan setiap detiknya kebersamaan mereka.
Shaka merasa bahagia sekarang. Saat ia rasa semua masalah hilang dan pengganggu sudah tidk ada tapi apa yang ia lihat ia malah mendatapkan gangguan yang lebih parah dan itu bisa jadi mebuat Shaka kehilangan kebahagiaannya, MIria dan senyumannya atau suara anak-anaknya.
Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke tempat bascamp mereka yang baru di didrikan beberparapa minggu lalu karena becscamp lama di renovasi.
" Shaka dateng tuh kenapa dia?" Tanya Juno dan bima juga lainnya Dominic bersama yang lainnya kecuali Zeus Alezer dan Devon mereka pergi membeli persediaan kulkasnya.
"Siapa yang bisa gua mintain tolong buat lacak Saskia sekarang." ucapnya saat melangkah keluar mobil dan menatap semuanya yang sedang duduk makan kacang.
"Apa lagi, Ka?" tana Juno. Shaka menghela nafasnya menceritakan semua kejadiannya dari datangnya paket yang ia dengar dari bibi dan Miria yang membuka dan menyimpan apa yang ia lihat isi dalam kota paket itu. Shaka sebenarnya malam itu mengikuti Miria yang keluar kamar tanpa jilba dan buru-buru lalu ke dapur dan membuang sesuatu sepertinya mencurigakan dan apa yang Shaka rasa itu bukan benda yang wajar.
Lalu semua teror pesan juga telpon.
Tiba-tiba Alezer membanting pintu mobinya.
"Kenapa lagi tuh bocah?" tanya Juno yang kaget kapan Alezer datang dan suara bantingan pintu mobil membuatnya terkejut.
"Olva di culik gue baru dapet pesan... Miria apa kabarnya katanya rumah lo..." Alezer tak mau melanjutkan ucapannya.
"Saskia bebas dia mau ancurin keluarga lo." Terusnya.
Semua langsung tegap berdiri.
"Lah... barusan shaka ngomong jelasin semuanya..."
"Ini belom terlambat tapi, Shaka... Lo harus dateng sendiri kita ngawasin di belakang."
"Kita bareng Le!" Kata Zeus tiba-tiba membawa kayu pemukul base ball.
"Gak bisa... nyawa olva dalam bahaya, Gue gak mau bunuh calon ibu..." Kata Alezer dua kali mengejutkan mereka begitu juga Shaka.
"Wadoooh Bangs*t Saskia... Women satu ini!" Kesal Juno.
"Gue akan kesana lo kasih alamatnya ke gue gua atasin itu."
"Iyaa kita percaya sama Lo!" Kata Dominic yang tiba-tiba muncul entah dari mana sudah siap dengan persiapannya.
Dominic yang terlihat gagah dengan Jaket Erlangga terlihat bagus disana.
"Gue dapet dan gue bordir sendiri.. cakep?" Memamerkan jaket kulitnya.
"Gas lah.. Berangkat!" Kata Zeus menghancurkan suasna promosi Dominic.
"Ck.. pengacau lo pada!"
Di tempatnya kediaman keluarga Olva dan lainnya ada semuanya duduk dengan nyaman tapi, Saskia memegang pistol sambil minum teh.
__ADS_1
"Kamu kenapa gini nak mama kan dah bebasin kamu, uang yang kepake banyak apa yang kamu lakuin sekarang!"
"Diam!"
Dor...
Lengannya berlubang akibat peluru yang menancap dalam.
"Jangan kira Saskia gak tahu kalo mama berubah, mama lebih sayang sama dia, anak haram anak pungut dan dia yang udah menghancurkan keluarga kita, mama gak sayang aku."
Wajah mamanya semakin pucat. Olva merangkul Mamanya Saskia.
"Lo kalo mau marah dan benci, cukup gue aja! Gue! gak usah ngelibatin irang lain, Cupu banget lo!"
"Cupu? Lo bilang gue cupu?"
Saskia tertawa seperti terpaksa.
"Apaa... apa lo bilang gue yang cupu? Lo Olva Lo! Yang cupu bahkan Lo bawa temen lo buat nangkep gue dan walaupun berhasil lo juga di bantu mertua lo, Gegara lo gue gak lulus kuliah gue gak bisa liat bagaimana hidup bahagia gue ama Shaka...."
"Saskia udah cukup udah! Lo gak bisa dapetin Shaka nyerah aja... Miria dah kasih si kembar buat Shaka... lo dah gak bisa lagi masih banyak Kia, Masih ada laki-laki lain selain Shaka."
"Sssuuuttttt... Diem lo diem aja... okey, gue mau Shaka dateng dan semua harus tenang."
Saskia mengatur rencananya mengatakan semua itu demi Shaka datang padanya dengan sendirinya.
Shaka yang mengemudi mobil nya dengan kecepatan tinggi berakhir memelan dan akhirnya sampai di depan gerbang rumah keluarga Olva.
Melihat banyak sekali orang berbadan besar wajah sangar.
"Berhenti sekarang gue bilang Kia!" Bentakan Olva sangat keras.
Seketika itu mengarahkan pistolnya ke arah Olva.
Suara pistol siap menembak.
"Gue disini gue yang lo mau Lo usik semua, sekarang apa mau lo?"
"Kak, gue mau lo sekarang gue mau lo tanda tanganin surat cerai lo ama Miria... lo cuman boleh sama Gue kak..."
"Sekarang gue yang tanya..." Melangkah maju seketika itu Shaka meminta semua mundur.
Saskia meminta semua anak buahnya mundur.
"Kak... Gue..."
Shaka menatap tajam.
"Jangan sentuh gue... Lo gak berhak nyentuh gue, gue cuman punya istri gue!"
__ADS_1
Datar dan mampu membuat Saskia terdiam, Saskia kalah dalam sisi manapun bahkan, berniat menyentuhpun seketika terhenti dengan tatapan tajam dan juga ucapan Shaka.
"Apaa!"
Saskia mengambil pistol seketika mengarahkan ke Olva tapi, dengan cepat Alezer merebutnya.
Semuanya tak ada yang sadar kalo yang ada di ruangan itu Devon dan Alezer juga lainnya.
Dominic Zeus Juno Bima ada didepan hanya mereka berempat.
"kalian di bayar perempuan ini, ingat kontrakku belom habis sama Erlangga!"
"Sial... Diem lo devon!"
"Cih.. apa yang diem, Gue masih bisa ngendaliin mereka, Salah satu ketua ada di pihak gue dan kalo dia tahu itu buat ngancem atau bahkan nyakitin salah satu temen gue dia bakalan gak ngasih lo pasukannya inget itu," ucap Devon dengan sangat santai dan sombong sedikit.
"Sekarang gue bilang berhenti di sini dan jangan pernah gangguin shaka!"
Saat itu juga Shaka berbalik pergi dan menjauh dari rumah itu membawa semuanya.
Kecuali, Olva.
Alezer dan olva di tinggal berdua di dalam rumah itu.
Sedangkan Shaka pulang kerumah dan langsung menghampiri Kamarnya saat yang sama sebelum naik tangga Papa turun kebawah dan berhadapan shaka di tangga.
"Apa kamu maksud dengan banyaknya pengawal di rumah nak?"
"Apa kamu tidak memikirkan istrimu, kamu meninggalkannya pas kamu marah besar, Miria itu lagi menyusi, Air susunya gak keluar dua jam lalu dan sekarang keluar sedikit, dia stres."
"Iyaa tapi, dia ngerahsiain sesuatu, Pah Shaka mau naik keatas aja."
"Shaka... Papa harap kamu bis kendaliin emo si kamu buat Miria." Papa pergi sambil menepuk bahu Shaka membuatnya sedikit kuat dengan masalahnya.
Miria duduk menatap sedih tiga putranya.
"Maaf ya Nak... Mama belum bisa kasih lagi, Abian laper ya, maaf ya.."
Seketika itu air matanya jatuh deras.
Shaka melihat Miria dari depan pintu mengusap pipinya.
Tiba-tiba menarik ingusnya dengan nyaring.
Ciri khas Miria pasti sampai ingusan kalo nangis.
Shaka mendekat.
Miria merasakan langkah kaki seseorang.
__ADS_1
"Ri.."
Terdiam membeku di tempatnya.