
Shaka dan Miria baru akan bersiap erangkat ke kampus namun ponsel Ria yang baru saja ia ambil di kamar tadi ketinggalan seketika terkejut, dengan banyaknya panggilan masuk darirumah sakit dan Miria menerima lagi dan seketika itu air mata juga mengucur deras dari matanya tanpa genangan lebih dulu.
Miria keluar kamar degan cepat dan berjalan turun tangga.
Tak memperhatikan langkahnya sampai hampir jauh dari tangga.
Jika tidak Shaka yang bergerak cepat mungkin Miria menginap di rumah sakit.
"MIRIA!" Bentak Shaka merasa terus menggoncang dan melihat Miria yang terus menangis dan memanggil terus dengan pelan tk berefek, Bentakan sekali dan keras itu membuat Shaka melihat jika Miria terkejut dan menatapnya lalu jatuh merosot kelantai.
Yanuar yang melihat menantunya begitu langsung mendekat bersamaan dengan Zavina setelah mengantar dua putranya yang masuk pagi karena ada kegiatan pagi di sekolahnya.
"Shaka kenapa dengan Miria?" Tanya sang papa.
Ponsel Miria menyala dengan notif pesan masuk dan banyaknya panggilan masuk dari rumah sakit yang belum terjawab dan satu terjawab.
Shaka langsung membuka ponsel Miria dan membaca pesan dari salah satu isi pesan perawat yang sepertinya sering mengiriim pesan dengan Miria.
Shaka selesai membacanya dan menyimpan ponsel Miria ke kantong hoddienya.
"Hey.. Ria, Ria.." panggila Shaka lembut.
Mendanga menatap Shaka masih menangis.
"Kita kerumah sakit sekarang, jangan nangis aku temenin." Zavina mengangguk.
Papa juga mengangguk membenarkan apa yang Shaka bilang.
***
Di rumah sakit didepan ruangan sang ibu Miria berdiri bersama Shaka dan satu perawat yang dekat dengan Ibunya.
"Ria.. kondisinya gak begitu baim, efek kemo dan juga cuci darah hanya berefek menghambatnya dan hari ini jadwalnya ia harus cuci darah tapi, ia tak mau melakukannya dan minta bertemu dengamu Ciko juga Damar."
"Tapi, Sus.. Ciko masih kecil gimana... Kakak lagi keluar kota."
Perawat itu mengangguk dan menepuk pudak Miria.
"Kamu masuk buat ketemu sama Mama temenin mama aku jemput Ciko juga Bang Damar." Kata Shaka menatap Miria mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.
Miria masuk dan Shaka segera pergi.
Sambil mengabari salah satu anak buah papanya untuk menjemput Damar di lokasi kerjanya ini darurat.
__ADS_1
Didalam ruangan rawat sang ibu. Miria menahan tangisnya mencoba kuat dan mencoba tak memeperlihatkan air matanya.
"Mama..."
"Ria..."Lemah pucat dan semakin kurus.
"Mama kenapa gak mau cuci darah, kan mama bilang mau sembuh dan hari ini Ria bawa Suami Ria mau ketemu mama."
Mama tersenyum dan mengusap pipi putrinya yang duduk di sebelahnya.
Tangan sang putri memegang tangannya yang mengusap pipi basahnya.
"Mama harus sehat.. mama gak bisa ninggalin Ciko yang masih butuh mama.. Miria mau kok gantiin tempat mama.. kita donor ginjal aja ya, Miria kasih ginjal Miria buat mama."
Menggeleng pelan dengan air mata menggenang di kelopak matanya.
"Enggak sayang... Mamah enggak kenapa-kenapa... Mama sebentar lagi sembuh kok."
Miria semakin tak bisa menahan kesedihannya dan menangis dengan sendirinya.
"Hem.. " Tersenyum memegang tangan Miria.
"Kamu jaga Ayah sampe sembuh Mama titip Ciko nak..."
"Hussh dengerin Mama, Jangan jadi istri yang buruk buat Shaka nak, Shaka baik mau nerima dan minta kamu nutup aurat dengan baik, mama seneng."
"Mamah.. jangan bilang gitu, kalo gitu mama istirahat aja yaa besok kita donor ginjalnya, kan Ria dah bilang pake aja Ginjal Ria sebelah Ria gak papa satu Ginjal aja."
Tangis sang ibu pecah juga sambil tersenyum.
"Makasih sayang... Mama dah gak perlu."
"Mamah!" Teriak Ciko masih dengan seragam sekolahnya.
"Ciko... mama kangen!"
Naik langsung keatas ranjang sang ibu dan memeluk ibunya perlahan.
"Mama jangan pergi mama gak boleh sakit, Ciko mau sama mama aja, ciko ikut mama ajalah... mama katanya mau pulang kerumah... kerumah kita mah jangan kerumah Allah."
Miria semakin sedih semakin tak bisa menahan air matanya.
"Mama kan sebentar lagi sembuh sayang.. Kalian jaga diri masing-masing dan jaga satu sama lain saling bantu kalo satu kesulitan jangan berantem ya."
__ADS_1
"Hiks.. mama... Ciko ikut mama aja... hiks... Kakak kok diem katanya mama bakalan pulang kerumah katanya mama bakalan sembuh tapi, malah mama mau pulang kerumah Allah."
"Ya Allah jangan bawa mama ku dulu kalo mau bawa mama bawa aku juga aku mau nemenim mama disana aku gak mau mama sendirian."
Miria semakin tak bisa bicara adiknnya sangat sangat sayang pada ibunya.
Shaka tak bisa berbuat apapun ia juga pernah ada di posisi itu bahkan buruknya Shaka sendirian dan mereka tak boleh mendekat ke ibunya karena Shaka tak mau mereka ada di sekitar nya dan ibunya saat terakhir.
Dama yang baru saja datang dengan istrinya yang di gandenganya berlarian mencari ruangan ibunya yang langsung ketemu.
Melihat Shaka didepan.
Damar menghampirinya dan mengajaknya untuk masuk. Walau awalnya menoleh Damar bisa memaksanya masuk.
Sat tiga orang dewasa masuk Ciko menoleh dan tambah sedih.
"Abang... Mama gak boleh pergi jangan biarin mama pergi ya, Ciko janji Ciko bakalan dapet peringkat satu ujian besok atau semua kegiatan sekolah ciko ikut... Tapi, mama sembuh bang mama harus sembuh... abang batuin mama."
Damar sama lemahnya dengan Miria ia mendekat dengan perasaan hancur bersama genggaman tangannya dan istrinya Damar masih bisa berjalan walau ia sudah hampir tak bisa.
"Mama..."
"Damar.. anak mama udah dewasa benget.. mama dapet cucu dari kalian berdua... mama seneng makasih ya, Mama bahagia selama kamu bahagia, Mama boleh tolong jagain dua adikmu dan bantu Miria jaga ayah nah," ucapnya semkin lemah dan terbata di paksakan untuk bicara banyak.
"Mama... hiks.. mama..." Damar tak kuat ia juga menangis di lengan sang ibu.
Shaka di tatap dengan lembut dan di minta mendekat.
"Kamu Shaka?"
"Iya.. saya Mah, Maaf saya..."
Menggeleng memegang tangan Shaka.
"Jagain Miria buat saya, Saya gak bisa jaga Miria lagi setelah saya sakit, saya juga jarang denger di cerita waktu saya sakit, anak itu pinter nyembunyiin masalahnya tapi, wajahnya gak bisa bohong kalo dia tertekan sama keadaan."
"Enggak Mah Ria gak tertekan.. Mama sembuh ya Mah.. Ria panggil dokter Mama cuci darah Ria juga sekalian tanya Dokter gimana apa masih bisa donornya... Mama jangan pergi ya mah, Ria mohon mah."
Lagi-lagi sang ibu hanya tersenyum manis.
Hujan deras di luar dan sangat lebat di tambah suara gemuruh dan guntur datang setelah suara tangis diruangan itu terdengar begitu pilu.
Seorang laki-laki tua terduduk dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar.
__ADS_1