Anxietas

Anxietas
Benar-benar marah


__ADS_3

Miria merasakan pergerakan di bantal. Seketika membuka matanya pelan melihat Shaka gelisah dengan mata terpejam.


"Shaka?" Panggilnya.


Beberapa memanggil nama dan berakhir mencubit hidungnya dan seketika Shaka membuka mulutnya bernafas bersamaan membuka matanya.


"Kamu mau bunuh aku?" Tanya kesal.


"Bunuh apanya kamu aja gak punya warisan.." Kata Miria dengan wajah santai dan beralih turun dari kasur dan tiba-tiba Shaka meraih gaun tidur Miria yang panjang dan terutup.


"Kamu gak akan ninggalin aku kan?" Pertanyaan aneh yang Miria dengar dari Shaka membuat Miria ngeri sendiri padahal Shaka yang bertanya.


"Aneh-aneh aja, mang kenapa kamu berhaarap..."


"Etttt... No! Aku gak maksud gitu... Dah sekarang aku mau ke kampus." Shaka lebih cepat bangun dan pergi ke kamar mandi.


Pagi yang cerah di awali suasana capur aduk di meja makan.


Shaka menghela nafasnya pelan. Miria memperhatikan wajahan mereka semua pagi ini. Sangat tak bisa menjadi satu kesatuan yang ceria untuk pagi ini.


Shaka bangun dengan bayangan mimpi buruk dan mimpi bahagia di satu mimpi dan satu waktunya.


Selesai dengan sarapaan dan bersiap pergi ke kampus.


"Eyang mau kamu ngeluangin waktu buat Indri bisa atau Miria bisa kan berbagi tempat kamu buat Indri." Eyang menatap wajah Shaka danabergantian menatap wajah Miria.


"I-ya Yang!" Shaka menatap Indri dan pergi masuk kedalam mobilnya.


Sampai di tempat biasa menurunkan Miria.


Saat akan turun dri mobil tangan Shaka menahnnya.


"Kamu yakin mau turun dsini lagi, kamu dah ada dia disana! gak mungkin kamu harus terus sembunyiin status kita didepan mereka."


Shaka menatap wajah Miria yng keliatan begitu bingung. Miria diam, ia bingung mau jawab apa.


"Haah! Ok itu semua kamu aja tapi, kalo kamu udah berubah pikiran kamu bisa bilang sama aku jangan pernah malu atau takut aku turutin mau kamu selagi itu baik buat kamu juga."


Shaka tersenyum. Miria tersenyum manis dan lebar.


"Makasih, Yaa udah, aku mau turun dulu disini nanti, kalo aku ajak kamu pulang bareng berarti aku dah ambil keputusan."


Shak mengangguk okelah kalo gitu.


"Iyaa, hati-hati." Miria keluar setela menyalami Shaka.


Saat sudah masuk kedalam gerbang Shaka juga barusan datang masuk gerbang dengan mobilnya yang langsung mengarah ke parkiran.


" Miria!" Sapa Qinan yang baru turun dari ojolnya dan langsung memanggil Miria dan merangkulnya.


Miria tadinya murung kini kembali ceria. Setelah Qinan merangkul tangannya, mereka jalan bersama.


Miria merasa canggung sekarang tadinya tak seberapa banyak mata memperhatikan mereka sekarang setiap mereka melewati mahasiswa mereka akan menoleh melihat dan bahkan tak berkedip.

__ADS_1


" Lo kenapa Ri?" Tanyanya bingung.


Qinan langsung memperhatikan maha siswa yang menatap mereka berdua dengan aneh.


" Mereka semua cuman kepo am gue yang deket sama Lo, apalagi kejadian waktu itu."


Miria mengangguk dan tersenyum.


***


Hari hari berlalu perut miria perlahan terlihat agak buncit yang tadinya rata kurus sekarang, gemuk berisi namun, tetap kelihatan ramping setidaknya tak terlalu kurus.


"Apa ini sehat naikku banyak banget, aku gak banyak makan tapi, badanku juga tetep berisi biasanya." Kata Miria yang baru saja menimbang di dalam ruangan periksa dokter kandungan.


Dokter tersenyum menatap Zavina.


"Itu biasa." Kata Zavina.


Dokter mengarahkan Miria duduk di atas ranjang dan berbaring perlahan.


Sebenernya periksa kandungan ini sering Mira lakukan sesuai jadwalnya tapi, entah kenapa kemarin Shaka sama sekali tak bicara dengannya apa karena ada yang salah dengannya atau harinya tak beres.


"Miria selamat ternyata kamu beneran.." kata Zavina dengan mata berkaca-kacanya.


"Beneran dok." Miria kaget tak percaya. Ia merasa sekarang semua akan bahagia tapi, bukannya sekarang terlambat.


Shaka akan menikah dengan indri dan saat ini mungkin pertemuan kelurga di rumah.


Kenapa semakin Hari rasa penyesalan menikah dengan Shaka semakin besar rasanya sesuatu mengganjal.


Shaka janji akan membuatnya bahagia tapi, anak ini.


Setelah periksa dan kembali kerumah Miria yang sudah menguatkan hati karena akan mengatakan semuanya setelah jawaban ini ada.


Saat masuk seketika itu, menatap ada banyak tamu di ruang Tamu menatap Miria yang tak di undang.


Wajah yang tadinya berseri kini langsung suram dan malu tertunduk kembali mundur dari langkahnya masuk pintu depan.


"Miria!" panggil Papa pada menantu perempuannya.


Zavina mengejar Miria yang memutar arah masuknya kedalam rumah jadi lewat pintu belakang dapur.


"Seharusnya kamu gak mundur. Ini belum pernikahan ini cuman temu keluarga besar, mereka baru dateng buat bertamu bukan menikah." Kata Zavina seperti berulang kata menikah di kepala Miria.


Miria berbalik sebelum naik ketangga.


Zavina berhenti.


"Kak aku mau sendiri dan bilang Shak pake kamar lainnya jangan masu kamarnya kalo aku masih ada di dalam kamar."


Shaka melihat Miria dan langsung melangkah e pintu belakang lewat dalam dan ketika melihat Miria dengan Zavina. Miria menangis seperti mengatakan kamar dan Shaka dan jangan masuk.


Setelah melihat Miria naik ke atas dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


Shaka menghampiri Zavina.


"Miria? Apa kata Dokter?"


Shaka menatap sang kakak yang menatap tajam. Lalu berbalik pergi tanpa mengatakan apapun.


"Kak!"


Zavina menoleh dengan tatapan tajamnya.


" Kamu itu seharusnya batalin sejak awal waktu Zavina dibilang dokter hamil... kamu malah percaya kata uler kobra itu yang bilang kehamilannya palsu!" Shaka menunduk kaget ia sepertinya mabok tapi, ia sedang tak minum.


Melihat adiknya kebingungan dan merasa bersalah.


"Kakak gak mau liat Miria sedih! Anak kalian laki-laki tiga kembar kalo sampe empat-empatnya kenapa-kenapa karena kamu dan kelakuan ceroboh kamu, kakak bisa potong lid*h kamu pak tangan kakak sendiri."


Shaka terdiam lagi dengan ucapan kakaknya sendiri yang berjalan menjauhinya naik ke atas kamarnya.


Shaka tak ada piihan lain selain naik keatas kamarnya dan menggunakan kunci cadangan dan sandi dari ponsel pintar yang memang konekting dengan pintu kunci otomatisnya.


Cklek....


Saat pintu terbuka Miria menoleh.


"Ngapain kamu masuk! Keluar!" teriaknya melempar bantal bahkan hampir melempar sendalnya tapi, berhenti.


"KELUAR AKU BILANG!"


" KENAPA KAMU MASUK.. HIKS... KAMU GAK PERCAYA AKU HAMIL KAN."


"KAMU MARAH WAKTU AKU GAK HAMIL!"


" KAMU MALAH RAGU SAAT ANAK INI MEMANG KENYATAANNYA ADA DIDALEM PERUT AKU!"


Shaka menatapnya dengan tenang.


"AKU EMANG GAK SEBAGUS INDRI SECANTIK MIKAILA AKU MEMANG BANYAK KURANGNYA... AKU BUKN ORAG KAYA AKU BUKAN PEREMPUAN DENGAN PENDIDIKAN BAGUS."


"KAMU MINTA AKU NIKAHIN KAMU? YA AKU MAU!"


"KAMU MINTA AKU JADI ISTRI KAMU?"


Miria diam, mengambil nafasnya.


"Aku bahkan, nurutin mau kamu buat kamu bahagia kalo aku bisa jadi istri terbaik kamu, aku bahkan relain keluarga aku buat kamu, aku bahkan masih takut, buat ngasih segalanya termasuk diri aku ke kamu, sekarang! Kamu dengan gampang bilang dan kamu ngerasa ragu kalo aku hamil palsu, APA SEBENERNYA MAU KAMU? HAH! JAWAB!"


"Kenapa dim... Gak punya jawabannya... Kamu cerdas pinter kamu juga unggul kamu juga terbaik akhirnya Eyang yang dulu kata kamu masa bodo sama kamu, sekarang! Anggep kamu sma kaya cucunya yang lain dan aku, apa? Mau kkamu buang? Iya?"


"NGOMONG DONG!"


Shaka mendekat. Seketika itu Miria menamparnya dengan keras.


"Maaf!"

__ADS_1


__ADS_2