Anxietas

Anxietas
Dibela Cakra


__ADS_3

Ria bangun dan menatap Yuma juga wanita paruh baya didepannya.


"Jadi ia yang buat Bion di rawat di rumah sakit." Mendekat menginjak jari Ria saat akan berdiri.


"Aisssh Aw."


"Gini aja udah kesakitan, karena kamu Bion gak bisa makan bener, dia harus pasang dua gigi palsu, karena kamu yang pukul dia sampai dua giginya lepas." Omelnya didepan wajah Ria.


Ria sama sekali tak memukul Bion bagian wajah, kalo Shaka yang pukul, Ria tidak tahu.


"Saya gak tahu, bahkan saya gak mukul wajah anak tante," ucap Ria membela diri.


"Kalian semua hajar aja." Aba-aba dari ibu Bion langsung di laksanakan Kelima perempuan yang masih menggunakan pakaian sekolah sma ada juga yang sudah menggunakan pakaian santai.


"Apa..." Pukulan tamparan bahkan di tendang bagian perut sampai Ria mundur kebelakang.


Ria berusaha berdiri dan mendorong mereka bergantian juga memukul dan menampar. Menjambak rambut mereka.


Sampai Ria tergeletak miring telungkup memegangi perutnya yang sakit.


Wanita paruh baya itu mendekat dan mencengkram rahang Ria.


Wajah manisnya sudah lebab dan darah keluar di luka sobekan kecil.


"Kamu itu anak beasiswa bisa apa kamu, lagi kamu cantik juga pake jilbab jangan-jangan berita itu bener..." Sindirnya tepat didepan wajah Ria sambil tersenyum menghina.


Ria terdiam tangan yang tak sakit terkepal keras.


"Liat deh, tangannya ngepal, mau marah dia tan." Kata Yuma.


"Oh oh... Berani ya kamu!" Seketika itu mejambak jilbab Miria untuk kesekian kali dengan orang yang berbeda.


"Mama!" Teriakan suara berat itu dari belakang Miria. Dari kedatangannya Cakra tak bisa menghentikannya hingga Wanita paruh baya menjambak jilbab ria baru Cakra membentak.


"Yuma.. apaan sih lo!" Marahnya ketika matanya melihat Yuma disana diam saja.


"Kak Cakra!" Kaget Yuma karena bisa ada Cakra disini.


"Mama juga ngapain Ria mah.. jambak jilbabnya?"


Mata Cakra melihat luka bekas sepatu ibunya di punggung tangan Ria.


"Tangan Ria juga mama Injek?" Cakra menatap semuanya bergantian.


Membantu Ria berdiri tapi, Riamenolak di sentuh dan uluran tangan Cakra di abaikan.


"Gue balik." Katanya sambil berjalan pincang.


Cakra mendecih marah pada Yuma.


"Cakra.. jangan kejar atau mama bilang ke papa kamu gak bakalan ada di jakarta lagi!" Acaman itu lagi. Cakra muak tapi, ia tak bisa dan tak mau pergi dari jakarta.


Ria berjalan kaki sendiria. Cakra benar-benar tak tega.


"Mama.. apa-apaan yang udah mama perbuat kenapa mama lakuin itu sih mah, Mama juga perempuan mama bayangin kalo sampe keluarga perempuan mama di gituin." Mamanya pura-pura tuli dan memilih masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Cakra balik menatap Yuma.


"Eh.. Lo manja.. Lo apain Nyokap gue.. Kecewa gue anggep lo sepupu yang manis dan imut, ternyata ibl*s lo... S*tan bener ngehasut mama!"


"Kak.. aku gak ngapa-ngapain aku cuman anterin tante indah datengin orang yang udah buat Bion masuk rumah sakit."


Cakra terdiam menghentikan gerakannya memakai helmnya.


"Apa lo bilang, Ria yang udah nyelakain Bion?" Cakra menatap wajah Yuma.


"Gak percaya gue!" Kata Cakra lalu pergi meninggalkan Yuma sendirian menatap kepergiannya.


Ria berjalan pincang sambil menangis. Ia takut di marahi Shaka atau ayah Shaka.


Kalo sampe mereka mengira Ria main aneh-aneh di luar bagaimana Ria takut mereka benci dan marah atau Shaka memukulnya atau ia di laporkan ke kakaknya.


"Telpon gak ya... Hiks.." Sambil menangis.


Tak sadar ia menekan tombol telpon dan dengan takut ia menempelkan ponsel di telinganya.


Shaka yang melihat semua alat sudah di daftar dan besok akan mulai di beli dan di bawa ke tempat fitnes juga psnya.


Triing...


Shaka melirik ponselnya saat membantu Alezer mengedit daftar alat.


Nama layar panggilan Miria dan emot Love.


"Halo..."


Tak ada suara hingga suara tangis terdengar.


Shaka langsung berdiri.


Alezer menatap Shaka.


"Mass... Hiks... Jangan marah ya..."


"Apa Sayang... kenapa kamu nangis, hem!" Shaka merasa tak nyaman dadanya terasa berdetak tak karuan.


"Aku belom sampe rumah aku ada di pinggir jalan."


Ria menatap sekitar.


"Dimana?" Suara shaka datar membuat Ria kembali menangis ketakutan.


"Hiks... mas jemput aku di jalan depan pets shop deket sama terminal."


Shaka langsung mematikan sambungannya dan pergi tanpa mengatakan apapun.


Alezer Juno dan Zeus hanya diam.


"Dah kan tinggal pesen aja selesai itu biarin Shaka ngurus masalahnya."


Mikaila yang berpapasan dengan Shaka menatap semuanya dengan tatapan, kenapa Shaka?

__ADS_1


Semua menjawab gelengan dan mengedikkan bahu.


***


Berdiri menatap sekitar memainkan ujung jilbabnya ketakutan tangisnya juga berhenti karena tempat yang begitu sepi.


Lampu mobil membuat Ria memundurkan langkahnya saat yang turun Shaka Ria menangis.


"Maasss..."


Shaka langsung menghampir Ria yang langsung menangis melihatnya.


Saat berjalan mendekat. Shaka kaget.


"Kamu dari mana.. kenapa..." Shaka tak melanjutkan ucapannya lagi dan memilih menuntun Ria masuk ke mobil saat menuntun melihat kaki Ria pincang Shaka semakin meradang.


Ia tak bisa diam saja.


Siapa yang membuat Ria makin kemari makin berantakan.


"Pelan pelan." Setelah duduk.


Shaka yang masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobilnya.


Ria yang masuk ke mobil Shaka di lihat Cakra dari kejauhan.


"Ada hubungan apa Ria sama Pak Shaka."


Shaka tak bisa pulang dan memilih mengajak Ria ke tempat teman-teman nya.


Saat masuk di papah Shaka. Olva yang akan keluar terkejut melihat Shaka datang membawa itrinya.


"Ya ampun, Ria!" Teriak heboh Olva.


Mika menoleh dengan Yuki yang sedang sibuk melihat-lihat toko online memesan baju.


"Kenap... Lo ria!" Mika langsung membatu ria menggantikan Shaka dan olva menyiapkan tempat.


Yuki dan Qinan dengan cepat mengambil alat yang di butuhkan untuk luka dan mengompres.


Semua teman laki-laki Shaka yang ada disana termasuk Juno Devon bima Alezer terkejut.


Arka yang baru tiba membawa nasi padang kaget saat semua menatap ke bagian kursi kumpul Mika dan lainnya.


"Loh.. kenapa bini Lo Shak.. Lo main kasar sama bini lo atau..."


"SHUUUUT... DIEM!" Omel Juno membekap mulut Arka yang langsung nyerocor asal-asal tanpa tahu masalahnya apa.


"Tolong obatin... Aku selesain urusan bentar nanti kita pulang, gak papa kan.." Ria mengangguk takut.


Tangannya yang terluka mengusap air matanya, wajahnya tertunduk malu juga takut.


Shaka berbalik menghampiri Alezer.


"Shaka..." Menoleh menatap Dominic.

__ADS_1


"Ok.. gue gak jadi tanya..." Yang lain langsung merasa canggung saat Dominic yang paling berani selain Shaka, Dominic saja barusan takut dan tak akan bertanya dengan tatapan tajam Shaka, lalu mereka yang seperti ini bisa apa, lebih baik diam.


__ADS_2