
Tidak ada yang rela tentang apa yang sudah lama ia jaga dan ia berikan untuk pernikahan ini lalu apa yang ia kira, untuknya selamanya malah tidak selamanya tapi, di bagi dua.
Shaka suaminya, Miria enggan berbagi atau membagi dua kasih sayang Shaka tapi, keegoisannya tak boleh lebih besar dari perasaan dan akal sehatnya.
Shaka berhak bahagia dan papa juga Eyang berhak bahagia, mendapatkan cucu atau cicit dari Shaka. Jika Miria tidak bisa maka, orang lain yang akan memberikannya.
"Ri ?" Mika menepuk bahunya.
Miria mengatakan semuanya membuat Yuki Qinan dan Olva sedih.
Juan dan Ethan tak mendengarkannya mereka main di awasi bibi dan pelayan lain.
"Kita sebenernya gak maksa lo buat Shaka sama Lo terus tapi, asal lo tahu, orang yang dari awal gak suka dan dari awal suka itu jarang ada. Seklipun banyak pihak atau orang terdekat nawarin dia buat pindah ke pilihan lain dia gak akan mau."
Miria menatap Olva.
Bergeser Mikaila merangkul Miria.
"Mereka itu dari awal emang gak suka ama Shaka, karena belum sebaik sekarang." Kata Mika.
Qinan pun mengangguk setuju.
"Shaka itu tipe orang dan laki-laki teguh pendirian jika pun, dia berubah haluan atau dia jadi nerima indri itu ada alasannya, yaitu ngelindungin lo dan posisi lo sebagai orang yang paling dia sayang dan dia cinta." Kata Mikaila lagi.
Miria sedikit merasa menyesal tapi, ia tak akan pernah berubah keputusan.
"Kenapa lo malah maksa dia buat nikah sama Indri, Ri?" Kata Qinan memang ingin bertanya itu.
Miria menjelaskan tentang kejadian kemaren seperti ngidam ternyata ia datang bulan dan membeli alat tes kehamilan dua-duanya negatif.
"Hem..." Mereka semua tak bisa bicara lagi.
"Yaa gitu emang kalo orang tua yang tua banget punya keinginan dan tuntutan kalo gak kesampean selalu kurang ikhlas ngasih doanya." Kata Olva jadi tahu kenapa waktu itu mereka mengadakan acara jalan-jalan dan acara honeymoon Miria dan Shaka.
"Jadi waktu itu sebagian besarnya Shaka gak kasih tahu kekita karena nenek-nenek keraton konde itu kasih doa jelek ke elo," ucap Mikaila paham.
"Iyaa dan tadinya Shaka ngira aku hamil kak kita beli empat alat terus aku pake dua, rasanya mau pake empat kok gak enak... pas di cek gitu, mungkin Eyang terpaksa juga ngasih restunya... sekarang kepalaku rasanya pening karena kebanyakan nangis dari tadi."
Olva menepuk lengan Miria.
"Sabar yaa.. Kalo gitu mendingan Lo ikutin hidup sehat biar cepet hamil gimana... Tapi, cara ini Lo dulu yang minta sama Shaka buat malem nanti." Kata Qinan dengan mudahnya.
Olva menatap geli.
"Minta apaan!" Kata Olva.
"Heh.. bocah diem!" Tunjuk Qinan.
Olva mendengus.
Mikaila tersenyum senyum biasa saja.
"Eh ada telpon sebentar ya.." Kata Mikaila menyingkir dari mereka.
Yuki menatap Mika sedikit curiga.
__ADS_1
"Kita dukung Lo sama Shaka... kayaknya gue rasa lo gak sakit Lo sehat Ri, Lo cuman stres aja makanya tuh cebong gak jadi."
Miria semakin tertekan dengan bahasa Qinan dan Yuki yang membahas tentang hubungan suami istri.
"Ih..iya!" Jawabnya.
Miria merasa senang ternyata ada juga orang yang mau dekat dengannya.
Dan mereka juga teman-teman Shaka. Mereka bukan kalangan bawah tapi, mereka gak pilih-pilih bergaul.
Cantik modis sederhana tapi, glamour sedikit. Gak keliatan mereka anak orang kaya intinya.
"Iyaa.. Lo siapin semua gue disini ngawal tenang, beres lagian kita agak lama sampe lo sama keluarga Lo balik, tenang gak keluar rumah.. janji Bosa... Hisss cerewet Lo!"
Di restoran mewah yang sudah Eyang pesan ruangan vip. Mereka semua ternyata sudah menunggu.
Indri dengan kedua orang tuanya. Eyang masuk bersama dengan Zavina Papa. Shaka?
Sebelum memsuki gedung Shaka minta izin untuk pergi dulu ke toilet.
Papa sempat merasakan gelagat anehnya tapi, terserahlah kalo pertunangan batal itu bagus.
Zavina menatap curiga adiknya ini mau apa sebenarnya.
Eyang tak perduli sama sekali mau ke manapun Shaka yang penting jika pembicaraan penting ia hadir.
Di toilet pria yang sepi, Shaka menelpon Mikaila dan setelah berbicara sebentar.
Ketukan di pintu bilik toilet dekat tembok terdengar.
"Dah Beres Lo tinggal dateng aja kesana sepuluh menit tan dan setelah sepuluh menit lo masuk, Lo bakalan kaget apa yang ada disana."
Alezer menyalakan rokoknya.
"Ngebul!" Kata Shaka.
"Elah mumpung gue disini males gue rapat!" Kata Alezer.
Alezer memang putra tunggal Argobaskoro tapi, ia butuh tempat untuk mendengarkan keributan di kepalanya.
Intinya Alezer diam tapi, isi kepalanya berisik.
Shaka dan Alezer yang tahu seperti apa Ale itu, didepan teman-teman Ale memang terlihat garang pendiam dan tak banyak bicara, sekalipun banyak bicara berarti keributan di otaknya tak terlalu parah.
Hampir tingkat stres sih, si ale itu.
Shaka terkekeh.
"Lama banget gue gak ngerokok..." Alemengetuk pembatas antara mereka.
"Mau?"
"Sorry, aset gue lebih sehat tanpa ngerokok, Kalo ngerokok rasanya jadi kecil sedih gue!" Kata Shaka tanpa basa basi sindir halus buat Ale yang memang perokok sedang.
"Bangs*t!"
__ADS_1
Shaka terkekeh.
Seketika itu keduanya keluar bilik.
"Udah waktunya kan?" Kata Shaka di angguki Ale.
Ale mencuci tangannya dan Shaka mencuci tangannya.
Meraka berdua keluar Toilet sambil mengamati situasi dan seketika itu ada pelayan lelaki yang seperti menyangka kalo Ale dan Shaka Gay.
Alezer tak sengaja melihat pelayan itu ia menghafal wajahnya.
Saat akan bicara dengan orang tua Indri tentang hubungan kelanjutan tiba-tiba pelayan masuk menyediakan hidangan beratnya.
Shaka juga masuk bersamaan pelayan.
Membuat eyang malu tapi, tak masalah yang penting Shaka mau menikah dengan Indri.
"Ohoho.. Shaka sekarang lebih ganteng ya, dan dia keliatan sekali kalo sudah banyak bisnis yang ia tekuni." Pujian dari ibunya Indri.
Shaka datar saja menanggapinya.
Terlanjur malas dan mual mendengar kata-kata mereka seperti penjilat.
"Ohyaa.. gimana sampe dimana kita?" Tanya eyang.
Ayah Indri mengatakan jika pernikahan ini akan membawa ke untungan saham yang pasti jadi ini dokumen rahasia perusahan mereka yang mereka jaga dan akan mereka perlihatkanpada calon besan mereka yang memang sudah cocok dan pasti.
Tiba-tiba salah satu pelayan menumpahkan kuah sup keatas dokumen resmi.
Semua berteriak kaget.
Shaka saja yang tersenyum.
Dokumen yang gak lebih penting dari harga diri mereka hancur karena kuah sup.
"Maaf! Maaf!" Pelayan tadi pergi langsung dan membuang rompi pelayannya.
Tiba-tiba eyang melihat sesuatu di lantai saat para pelayan membersihkan dan pelayan yang menimpahkan sup tadi pergi tanpa di curigai semua kecuali, Shaka.
"Apa ini?" Tanya Eyang seketika itu membukanya dan ternyata ada tiga amplop putih.
Didalamnya ada banyak foto Indri dan para laki-laki berjoger pegang sana pegang sini duduk bahkan ada foto merek bertukar air liur. Berciuman banyak pria.
"Apa-apaan kalian!" Kata Eyang marah.
Kedua orang tua Indri terkejut.
"Gak.. eyang itu bukan aku!" Indri menyentak kedua tangannya melihat fotonya yang membuatnya gemetar ketakutan.
Shaka menatap dengan senyumannya dan mendatarkan wajah saat papa atau Zavina atau eyang melirik kearahnya.
Eyang malu melihat walaupun bukan cucunya tapi, ia malu.
"Handoyo kita batalkan pertunangannya!" Papa memutuskan dulu karena Eyang yang bicara, melihat mamanya masih syok.
__ADS_1