
"Ayah sayang Miria enggak benci." ucap Miria dalam hatinya ketika melihat di taman halaman appartemen pagi ini banyak yang berolah raga Miria duduk di balkon apatemennya dan melihat ke bawah seorang anak yang bermain bersama ayahnya lalu anak gadis yang diajari naik motor oleh ayah ada juga yang di temani ayah ibunya belajar papa roda juga sepatu roda. Ada lagi kakak berdik kecil bermain bola di sana. Banyak sekali keluarga menghabiskan masa senggangnya bersama. Miria tak bisa seperti itu dulu, dan sekrang apa ia bisa?
" melihat mereka." Shaka mendekat.
" oh enggak aku cuman takut aja. Oh enggak maksudku.." Shaka memeluk Miria dari samping dan mengecup kepala sampingnya.
"takut kenapa semua baik baik ajaa kmau mau cerita?"
Miria menunduk.
" aku gak pernah ngerasain kasih sayang ayah aku bahkan lebih sering ke mama dan aku juga gk deket banget yang kaya berbagi cerita sama mama walaupun aku sering dapet kasih sayang perhatian mama tapi, kalo perhatian kecil dari ayah rasanya aku bahagia banget walau itu cuman sekali seumur hidupku dan sebelum aku bisa kasih cucu ayah udah pergi dulu."
"Hehmm anak kita... gimana klo anak-anak ini yang bakal dapet apa yang gak bisa kamu dapetin." Shaka melihat senyuman indah di bibir Miria.
"Yaa walaupun kamu gak bisa ngasih diri kamu rasa puas atau bahagia karena kasih sayang ayah kamu bisa kasih itu ke anak kamu, Semua yang gak bisa kamu dapetin di waktu kecil jangan sampe anak kamu dapet juga."
" iya maksih kamu hibur aku terus, selama hamil aku nyusahin ya cewrewet dn sedih mulu.
Shaka menggeleng.
" Ga papa aku dah bilang kalo kamu dan aku akan terus jadi penyembuh sekarang kamu hamil dan kondisi emosi emang gak lagi baik." Shaka sangat dewasa
Saat asik nya bicara berduatak terasa wktuu berganti sekrang Miria periksa kandungan di bulan bulan dekat dengan kelahirannya.
"Aku gugup?" katanya Shaka memegang tangannya tenang aja.
"Silakan berbaring nyonya." kata dokter.
" pelan pelan aja iya, maaf sebentar ya."
Menyikap sedikit pakaian Miria agar alat busa melakukan tugas dan mereka bertiga bisa melihatnya di alat usg.
" Bayinya sehat mau denger detak jantungnya?"
tawar dokter tersebut dingguki Miria dengan antusis.
Deg
deg...
Sedih haru.
"Dijaga ya pola makanya dan juga jangan teres kerja ringan banyakin minum air dan buah yang bagu untuk kelancaran nanti juga sehat untuk bayi sampai wkatunya tiba juga."
__ADS_1
Setelah cek dan periksa kondisi semua baik.
Tiba-tiba Paula duduk di kursi tunggu dengan wajah yang terlihat santai.
"Pak, Bu..." Sapanya saat Kebetulan Shaka melihatnya Miria melihatnya dan Paula menoleh.
"Siapa yang sakit?" Tanya Miria.
"Oh temen saya, Di hamil dan katanya dia mau jaga anak itu sendiri... sedih dia gak jadi nikah padahal laki-laki itu dah keterlaluan!"
Miria menoleh kedalam.
"Kalo gitu kita langsung aja." Kata Shaka datar.
Saskia dan Indri keluar dari sana setelah Shaka dan Miria pergi jauh.
"Gue hamil beneran sialan si bion ngehamilin gue!" Kata Indri.
"Lo sih mabok muku, keluar penjara sehat-sehat bapa lo!"
Tak lama setelah Paula mengomelinya datang Lena dan yuma.
"Gimana kalian kesini?" Tanya Saskia bingung.
Saskia menatap dua temannya juga menatap Paula Indri bergantian.
"Kalian berdua?" Kata Indri.
"Kita temen sekarang." Kata Yuma dan lena mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan.
Di dalam mobilnya saat macet.
Miria yang diam tiba-tiba inget.
"Gimana kamu bisa besarin anak itu, dia bukan anakku!"
"Mas kamu tahu, Miria itu lahir adan aku pun gak keluar rumah jauh-jauh dan tetangga sini pun kalo kamu mau tanya, cari tahu aku itu keluar sama laki-laki mana!"
"Halah kamu basa basi... kamu tahu muka dia itu gak ada miripnya sama kita berdua bahkan sama keluargaku atau keluargamu."
Miria kecil tertunduk lesu duduk di belakang pintu kamarnya.
"Mas cukup lah mas, kita rawat Miria urusan tentang wajah mungkin bisa di jelasin medis kenapa, Mungkin juga itu wajah..."
__ADS_1
"Halahh banyak alasan, aku itu mencintai kamu sayang sama kamu jadi kamu harus lepasin anak bawa sial itu, Kamu tahu anak itu buat aku hampir celaka karena aku mikirin dia di tempat kerja, kamu bilang di demam, buktinya dia bantuin kamu ngejemurin baju bantuin kamu nyapi, apanya yang demam!"
Isak tangis ibu perlahan terdengar.
"Miria bisa denger mas.." Pelan dan terdengar suara tangisnya.
"Maaf kan mama nak..." Ayah langsung pergi dengan amarahnya.
Mama mengetuk pintu kamar dan Miria kecil membuka pintu dengan wajah polosnya.
Dulu ia tak paham apa maksud amarah dan ucapan ayahnya padanya saat sudah mengerti Miria sedih dan menangis sendiri tanpa ada yang tahu.
"Aww... Aduuh!" Tangannya tak sengaja terkena air panas. Dengan cepat mama mengambil salep obat mengoleskan pada telapak tangannya.
"ria kamu ini gimana sih, mama ka nuang air panas kenapa kamu pegang, sayang!."
Dengan di tahan terlanjur memandikannya an setelahnya selesai mandi sang mama langsung memakaikan Miria kecil salep. Ayah melihatnya dengan tatapan sedih.
"kenapa?" tanya ayah pada mama saat miria kecil mengenakan seatu hendak berangkat sekolah.
" sayang kamu gak sekolah dulu izin aj mama di suruh ayah buat kamu istirahat aja ya?"
miria mengangguk polos kembali melepas sepatu dengan tngan satunya yang tidak terluka sama sekali.
Mamanya jug membantu.
Sing hari saat bosan Miria keluar unruk main namun, ta ada yang mau bermain katanya tangannya jelek dan serem.
"aku pulang."
Pulang kerumah dan melihat mamanya mnyiapkan makan siang ayahnya pulang siang hanay untuk makan di rumah saja.
" mah aku laper." katanya lalu mama mengambilkan nasi dan telur dadar.
Saat akan makan Miria kkecil berpiir bagaimana cara makan dengan tangan kiri yang tidak sakit tangan kirinya tk pernah di gunakan untuk melakukan hal yang di lakukan tangan kakannya.
" ayah menatapnya diam diam dan seketika itu mira tersenyum.
" mam aku makannya nanti aja." alasannya menyembunyikannya sulit mmemotong telur dadar dengan sendokdan menyuapinya sendiri kedalam mulutny sendiri, mama menoleh yah menatapnya taja.
" suapin ayah sini." seetika itu Miria terenyum bercampur sedih didalm hatinya ia merasa sangaat sengang. Ayah kembali berangkat kerja dan Miria kecil bermain sendiri di halaman belakang rumah.
Kenangan itu saja yang membekas dalam benaknya bgaimana ayanya masih perhaian dengannya walupun hanya suapan nasi dan telur dadar disaat ayah sedang makan siang dengan wakrtu ia harus kembli bekerja lagi
__ADS_1