
Mendengar suara dering telpon disaku jaketnya Shaka buru buru merogoh saku jaket dan melihat siapa yang menelponnya.
nama Miria yang tertera di layar pangilan telpon Shaka.
"Ya hallo kenpa?" Kata Shaka dengan wajah yang bingung karena Miria tumben sekali menelponnya.
Miria menatap cermin dan sebotol obat berisi pil tidur yang mirip dengan miik ayahnya namun dosisnya rendah.
"Lo bisa pulang sekarang gak gue mau ngomong sama Lo Shaka?"
Shaka sedikit bingung di tempatnya mengerutkan keningnya seakan itu hal yang penting sampai ia harus pulang namun, rasanya tak terlalu penting.
Firasatnya menolak keras kalo itu tidak penting.
Shaka segera masuk kedalam mobil dan sambungan telponnya terputus
***
Di kediaman nya Ria selesai dengan Sholat isya nya bicara pada Ayah shaka yang menjadi imam di sholatnya bersama para pelayan dan juga pelayan lelaki.
Duduk berdua dua di temani lampu taman dan air mancur juga suasana malam yang agak tenang.
Papa biasa Shaka memanggilanya.
Bercerita pada Ria yang orang asing. Tentang putranya sendiri.
"Sebenarnya Shaka itu anaknya pendiam dan pendendam juga menyimpan masalahnya sendiri. kamu boleh masuk kekamar putraku di temani pelayan tapi, Ria?" Berhenti sebentar dan menghela nafasnya.
"Kamu jangan jauhin dia, apapun yang kamu liat di kamar nya bahkan kalo kamu gak menemukan apapun di kamarnya kamu juga jangan terkejut kalo misalnya kamu yakin nikah sama dia dan kepribadian dia beda ketika sudah sah menjadi suami kamu, kamu jangan jauhin dia juga, saya sebagai ayahnya juga tidak hafal tingkah anak sendiri." Wajah Tuan Yanuar seketika sendu. Miria jadi tak tega.
"Iya om tapi, itu apa engga berlebihan om, Saya kan Orang asing di sini dan kamar Shaka itukan pribadinya juga tentang keputusan saya... Saya akan pikirin lagi setelah saya matang."
Jelas Miria sedikit ragu di akhir ucapannya.
Yanuar tersenyum dengan ucapan Ria yang seolah memang itu salah jika di buru-buru dan tak di benarkan sama sekali kalo memperlihatkan ruangan pribadi seseorang yang bahkan tak ada hubungan keluarga.
"Jarang loh ada anak perempuan yang langsung nolak ketika di tawari kamar laki laki, jaman sekarag mereka malah minta izin duluan tapi, kamu Ria malah menolak nya dan merasa malu," ucapnya senang dan Ria hanya mengangguk pelan.
"Iyaa kan saya orang lain dan saya perempuan takutanya, maaf ya Shaka lupa naro barang pribadinya dan keliatan sama saya dia bisa malu dan marah ke saya."
Sontak papa Shaka tertawa terbahak bahak. Bagaimana bisa Ria sangat polos di jaman yang saling memanfaatkan manusia untuk kepentingan pribadi mereka.
"Hehm." Miria jadi sungkan dan malu.
__ADS_1
"Jadi Miria kamu mau nerima atau kamu tetap nolak? Saya gak menawarkan apapun yang saya punya karena saya seperti menyakiti perasaan dan harga diri kamu kalo saya berikan sesuatu." Katanya pada Miria.
"Eh apa maksudnya om?" Malu Miria.
"Om sama sekali gak melakukan itu justru saya yang merasa kurang pantas sama anaknya om apa lagi jadi menantu om."
Pelayan yang menemani Miria datang dan sekarang Yanuar di tinggal sendirian oleh Miria di taman.
Naik kelantai dua di rumah mewah dan besar ini lalu diarahkan ke pintu kayu cat putih di bukakan oleh pelayan.
"Silakan nona." Miria mengangguk Masuk dan saat itu pertama kali yang dia lihat adalah ruangan bersih rapi dan mewah memang masih laki sekali nuansanya tapi, ini rapi!
Seketika itu Miria melihat sebotol pil diatas meja dekat akuarium ikan hiasnya Shaka.
Membuka dan melihat isinya lalu membacanya.
Miria juga melihat ada resep dokter di salah satu tumpukan catatan di madingnya.
Anak laki-laki yang rajin dan perencana banget orangnya.
Miria ragu untuk mengambil keputusan tapi, hati kecilnya bilang ia harus mengambil keputusan tepat.
Miria menelpon Shaka dan tak lama Shaka mengangkatnya.
Di restoranpun shaka langsung bergegas pulang setelah memastikan semua aman.
***
Tak lama mobil masuk halaman dan Shaka melihat Papa nya duduk sendirian di taman dan hanya diam memainkan tabletnya.
Sang papa mengangkat wajahnya.
Langsung tersenyum manis.
"Papa ngapain di luar malem-malem?" Tanya nya.
"Ria mana?" Katanya lagi sambil berjalan menghampiri Papanya.
"Dia ada di kamar kamu papa yang suruh dia masuk dan liat liat barang juga buat kasih keputusan ke papa... papa suka nih sama Ria dapetin hatinya cepet dong... papa mau gendong cucu dari kalian berdua."
"ASTAGHFIRULLAH PAPA!" Tahan emosi Shaka.
Giginya sampai bergemelutuk menahan ucapannya yang hampir berteriak.
__ADS_1
Langsung Shaka lari masuk kedalam meninggalkan papanya yang tertawa sendiri geli karena ulahnya.
Masalahnya Shaka sulit terbuka dengan papanya jadi. Papanya selalu jahil bahkan membuat Shaka seperti harus jadi penyembunyi handal agar papanya tak tahu sesuatu darinya.
Shaka melihat pintu kamarnya terbuka dengan cepat melangkah dan seketika itu ia melihat Miria duduk di tepi kasurnya dan baru akan duduk.
"Ria!" Panggilnya.
Miria menoleh.
Dan tersenyum.
"Mb.. keluar dulu saya mau ngomong berdua sama dia... gak usah di tutup pintunya." Kata Shaka yang langsung di kerjakan pelayan.
"Ri? Lo dah nemu apa aja.." ragu bertanya sambil menarik kursi belajarnya dan duduk di dekat Ria.
"Lo boleh marah sama gue karena gue masuk kamar lo pertama, keduanya ini lo dah tahu pasti bokap lo yang suruh gue masuk dan buat liat-liat awalnya gue dah nolak lembut tapi papa lo pasang muka sedih.. Ketiga pertanyaan dari gue tapi lo harus jawab jujur?"
Shaka terdiam perasaannya sepertinya sudah mengerti masalahnya apa.
"OK!"
"Tapi Syarat gua lo mau nerima pernikahan ini arena lo dah tahu rahasia gua sebelum gue jawab pertanyaan lo, diel?" Shaka mengajukan syaratnya.
Miria menghela nafasnya memang orang kaya Shaka tuh enak nya diapain sih pasti ada aja idenya.
"Ok gue terima tapi jawab jujur kalo lo boong kita batalin pernikahan dengan alasan gue lebih unggul?" Shaka menganggukinya dan keduanya bersalaman.
Miria memperlihatkan botol pil yang ia temukan lalu resep dokter dan satu lagi botol pil kosong yang dosis obat tidurnya tinggi.
Tiga barang itu Ria perlihatkan. Ria melihat wajah Shaka yang datar.
"Lo depresi lo ada maslah sama Apa Shak?"
Shaka sedikit bersandar lalu akhirnya mencondong kan badannya.
"Gue juga cacat kayak lo tapi, gue berusaha buat sembuh karena gue mikir hal ini bakalan terjadi di masa depan nanti dimana papa minta gue nikah dan gue gak mau gue takut buat anak orang celaka kalo gue masih punya trauma tentang pernikahan yang pernah gue liat dari papa gue sendiri dan keluarga papa."
"Gue anak terakhir dari empat bersaudara mama gue bukan perempuan yang di padang baik di keluarga nya dan mama gue yatim piyatu terus dia ketemu papa waktu umur gue baru empat puluh hari.. Mama gue di tuduh hamil anak haram, gue! Abis gue lahir dia di ceraiin suminya terus ketemu papa di rumah sakit waktu istri pertamanya berobat."
"Setelah istri pertama papa meninggal beliau nikahin mama setelah umur gue baru empat puluh hari ya gue masih bayi. Mama ngebesarin semua anak papa Yanuar sama rata bahkan kita berempat ngerasa kayak sodara kandung bukan tiri terus lahir ade gue tapi, dia meninggal bareng mama karea kondisinya gak memungkinkan dia hidup lama setelah dua hari di rumah sakit dua-duanya pergi bareng."
Shaka menatap Ria yang sedih dan seketika itu lagsung mengusap air matanya. Shaka mengambilkan tisu dalam lemari nakas dan Langsung Ria menyeka air mata tak lupa ingusnya sembarangan.
__ADS_1
Gak ada malunya, gak jaim nih cewek asli!