Anxietas

Anxietas
Cintaku daripada rasa takutmu


__ADS_3

Setelah di obati luka ringannya dan kaki yang memar tetap jalannya pincang walau tak separah saat Shaka melihat pertama kali.


Shaka memilih menggendongnya dari turun lantai dua ia tak tega melihat Ria jalan terus sampai mobil.


"Tolong buka." Kata Shaka saat sampai didekat mobil dan meminta Ria membuka pintu mobil.


Shaka meletakkan Ria di kursi samping nya perlahan.


Memasang sabuk pengaman. Lalu berpindah kesamping tempat kemudi


"Shak..." Shaka menoleh.


"Berubah? Manggilnya Shaka lagi? Mas dong!" Ria menunduk menatap keluar jendela.


"His.. Ya udah, Mas."


"Makanya kamu jangan keceplosan, Yaa terserah kamu aja Ri, Gak masalah mau manggil apa juga, yang penting sadar diri aku ini lebih tua dan kepala rumah tangga juga suami kamu yang berusaha buat selalu bisa dan ada buat kamu, kapanpun."


Ria tersindir. Pas sekali sindiran Shaka kena sampai ulu hatinya.


"Maaf... Iya iya, Aku minta maaf gak nurut." Mengaku salah.


"Hem.. maafin gak nih." Ledek Shaka tapi, wajahnya serius. Ria melirik Shaka yang bicara tanpa meliriknya tetap fokus pada kemudi.


"Iyaa Maafin boleh gak juga terserah aku juga gak masalah.. " Seketika terisak lagi.


Shaka terkekeh.


"Iyaa sayang.. Mas maafin, Lucunya!" Mencubit pipi lalu mengusap kepala sambil satu tangan fokus pada kemudi.


"Kamu bisa cerita sekarang sebelum sampe rumah?" Menatap kedepan tanpa melirik.


Ria takut-takut mengatakan. Tapi, Ria juga takut lebih lagi kalo Shaka marah.


Ria menceritakannya pelan dan jelas juga sedikit nadanya memelas takut.


"Terus Yuma ngapain kamu?"


"Yuma gak ngapa-ngapain aku, cuman tante-tante itu yang bilang kalo Bion anaknya sampe pake gigi palsu karena kiranya, aku yang nonjok. Aku di keroyok temen-temen apa, orang-orang Yuma bayar aku gak paham."


Apa adanya tanpa di tutupi, Ria sekali melihat Shaka mengamuk rasa takutnya melebih takut nya sejak kecil pada kemarahan ayahnya, tadi saat Shaka datang Ria pelan-pelan mendekat tanpa Shaka tahu kalo kakinya sakit sekali, bersamaan dengan Shaka yang terus berjalan mendekatinya, saat mendekat itu ketika Shaka marah atau diam Ria sudah ketakuan, aslinya Ria ketakutan mau menangis tapi, Shaka suaminya ia haus tetap perlahan mendekati walau Ria ketakutan, membujuk suami arah bukannya dapat pahala jadi, Ria akan berusaha berani.

__ADS_1


"Kamu ngelawan..."


Setelah lama dia akhirnya Shaka mengeluarkan suaranya. Ria menggeleng cepat sebagai jawaban dari ucapan Shaka yang kedengaran belum selesai.


"Kalo ngelawan juga gak masalah sih." Kata Shaka.


"Mereka banyak rame-rame.. abang ojol yang nganterin ampe minta puter balik dan maaf-maaf terus."


"Kalo gitu kamu puter balik aja sama Ojolnya bayar lebih kamu gak bakalan di gebukin..."


Ria diam.


"Udah malem... aku juga takut sama ojolnya kan laki, bapak-bapak lagi."


Shaka mengalah. Seharusnya dia yang salah dan meminta maaf karena dia Miria jadi seperti ini kalo, saja dia ajak Miria pasti tak begini.


Masalahnya juga Shaka tidak bisa melihat teman-teman menatap Ria dan kadang mengajak Miria bicara Shaka takut dan cemburu.


"Cakra...?" suara berat Shaka membut Ria langung memegang tangan Shaka yang di pangku Shaka ke pangkuannya.


Memegang tangan Shaka yang hangat dengan kedua tangannya yang dingin. Shaka menoleh sebentar.


Shaka mengusap pipi Ria.


"Iyaa.."


***


Shaka sampai di rumah dan ternyata semua orang sudah tidur di kamarnya.


Rumah terlihat sepi jadi, perlahan Ria berjalan bersama Shaka melangkah masuk kedalam rumah sampai naik tangga dan akhirnya masuk kedalam kamarnya.


"Sebentar." Shaka pergi ngambilin baju tidur untuknya dan saat ria mendapatkannya Shaka pergi keluar kamar.


Ria langsung saja berganti bajunya dengan baju tidurnya kaos dan celana panjang kaos. Saat akan mencari selimut setelah segar menyiram kaki juga menyikat gigi dan semua ritual sebelum tidur yang berhubungan air sudah Ria langsung naik kasur dan menarik selimut tapi saat akan berbaring Shaka masuk.


Tanpa baju dan hanya celana panjang dan handuk di kepalanya.


"Uh ganteng banget." Bisik Ria. Melanjutkan baringannya dan Shaka yang duduk di meja belajarnya.


Terlalu lama mengamati Shaka.

__ADS_1


Pekik girang tak bisa Ria tahan. Itu sangat bagus. Bentuk badan Shaka.


"Mau sentuh?" Ria mendengar suara Shaka dekat seketika itu membuka selimutnya perlahan.


Wajah Shaka tanpa kaca mata dan jaraknya dekat sekali.


"Shak...Mas ini-ini!" Menelan ludahnya.


Gluk...


Shaka tersenyum.


Cup...


Kecupan singkat di dahinya dan Shaka bergerak ke samping Ria tidur diatas selimut menghadap Ria.


Suli bernafas rasanya semua oksigen diambil Shaka.


"Ihhh jangan liatin aku enapa sih kamu... Eh." Kaget!


Shaka semakin dekat, ketika menoleh ria tepat menyenggol hidung mancung Shaka yang hidung Ria sendiri tak erlalu mancung.


"Hahaah...hhaha hah! Lucu banget, mukanya merah banget Ria, akku gak mau ngapa-ngapain kamu, atau kamu yang mikir kita mau ngapa ngapain."


Shaka duduk menatap Ria yang masih berbaring setengah selimut menutup wajahnya.


"Kamu masih belum mau, aku tanya Ri?" Ria menlirik arah lainnya.


"Maaf aku takut." Shaka mendengar suara Ria bergetar takut hampir menangis menyerah.


"Iyah... Yah dah tidur aja." Shaka tidur memeluk Ria. Ria semakin kaku Shaka tahu dan membiatkan Ria biaasa dengan pelukannya.


"Maaf Shaka aku takut aku takut abis kita ngelakuin itu kamu kecewa dan kamu pergi dan kalo aku sampe hamil au gak bisa apa-apa sekarang," ucapnya melirik Shaka yang sudah memejamkan mata dan hanya terasa nafas lembutnya keluar seperti dengkuran halus.


Sejam kemudian Ria tidur dengan posisi menghadap Shaka.


"Hari yang berat untuk Ria," ucapnya seketika mengecup bibir Ria pelan tanpa membangunkan siempunya.


"Milikku teap milikku mau ceritanya tak baik atau ceritanya baik yang dia bilang apa rang bilang."


" Istriku sempurna di mataku."

__ADS_1


__ADS_2