
Belom ada kesan dan tanda baik apapun sekarang, padahal Miria suka dan cinta sama Shaka sejak malam itu.
Datang ke kampus dengan pakaian tertutup dan sederhana dan tiba-tiba dapat kejutan dari lantai dua saat melewati halaman depan.
"Eh.. salah.. buang, air kotornya.." Saskia terkekeh.
Miria menatap sekitar. Tiba-tiba bau air pel membuat kepalanya pusing.
Qinan yang baru turun dari mobil Mika berteriak kaget.
"Eh.. Miria!" Berlari mendekat sebelum Miria benar-benar pingsan di lantai.
"Eh.. itu kak Qinan?" Mereka menatap bingung kenapa gadis cantik seangkatan Shaka dekat dengan Miria.
"Aduh.. pada Liatin aja, ambil Taduh napa Woy, mana petugas kesehatannya!" Bentak Mikaila tak sabaran.
Saat akan ada yang mau menggendong Miria langsung di tatap dan di bentak Mika.
"Fahri!" Fahri menciut.
Juno dan Devon datang membawa tanduh .
Mika menepuk pipi Miria yang masih setengah sadar.
"Ri.. kita ke ruang kesehatan, bangun Ri!" Ria mengangguk lemah.
Qinan membantu Miria pindah ke tanduh.
Di ruang kesehatan. Qinan masuk lagi membawa gamis dari luar yang baru di belinya dan jilbab simpel warna hitam.
"Dah.. ini aja yang gue dapet.." Nafasnya seperti habis lari maraton bolak balik.
Setelah di lap bersih dan ganti baju. Miria di suapi air dan teh manis.
"Kamu kok pingsan kok bisa Ri?" Tanya Qinan.
"Saskia sirem air pel dari atas aku gak tahu, Bau airnya buat kepala aku pusing."
"Waah.. Jengkelin juga tuh cewek ya," ucap Qinan menggebu marah.
"Ya udah kalo gitu Lo istirahat aja.. pejemin mata tidur dan gue sama Qinan disini jagain lo." Kata Mika.
Miria mengangguk sajalah apa katannya.
Kepalanya berat sekali dan ia mungkin sangat lemas juga ngantuk.
Sejam berlalu Miria pulas.
Qinan dan Mikaila keluar ruang kesehatan dan duduk di depan.
Mereka memainkan ponsel sambil bergantian menjaga.
Di depan Shaka datang dengan setelan tuxedo dan wajah juga rambut tertata sempurna.
Berkarisma sekali.
Shaka berjalan dengan langkah lebarnya melewati setiap maha siswa yang terpesona dengan karismanya bahkan laki-laki juga.
"Mika!" Shaka mendekat ke mading saat Melihat Mika membawa tentengan. Dan melihat ia bicara dengan juniornya.
"Apa?" Tanya Mika.
"Mana?" Shaka bertanya balik tak sabaran.
Mika mengangguk dan mengajaknya pergi ke ruangan kesehatan.
__ADS_1
"Loh tumben rapi?" Tanya Mika acuh.
"Gue dateng ke undangan nikahan kolega sama Kak Zavina karena itu temen dari koleganya kak Zavina."
"Oh.. Lo tahu kalo bini lo ngisi?" Shaka menghentikan langkahnya lalu kembali berjalan.
"Maksud lo apa?" Tanyanya bingung.
"Gue harapnya sih gak terlalu ngarep juga, Dia pengen rujak dan pengen telor gulung cilok bakar sama minumnya es boba... Buset... Kalo bener mah ya gue seneng banget asli!" Kata Mika sambil membayangkan kalo itu benar.
"Gue gak tahu, Miria pingsan?" Mika berbalik badan dan menyodorkan makanannya.
"Bawa ke bini lo, Gue ama Qinan mau ke perpus." Katanya lalu pergi.
Shaka menerima jajan yang di borong itu dan masuk kedalam.
Melihat Miria duduk sambil memainkan ponsel.
"Sayang?"
Miria menoleh.
"Huh kaget kukira sapa?" Shaka mengusap kepala dan melihat tas kertas coklat berisi pakaian Miria.
"Kamu ngidam?" Pertanyaan yang gak pernah Miria harapkan kenapa tiba-tiba di tanyakan sama Shaka.
"Ahah! Aku? Ngidam?"
"Enggak!" Jawabnya santai tapi, takut juga kalo beneran ngidam gimana.
***
Sejak pulang dari kampus Miria terlihat sangat pucat bahkan Shaka merasa kalo Miria sendiri gak sadar sesuatu tapi, Shaka gak berani bilang.
"Waktu itu kamu samperin aku buat nanyain Ciko tentang sekolahnya? Lalu kamu..."
Miria menatap sendu ujung jilbabnya.
"Enggak! Aku mau ngaku kalah aja sama mereka aku juga gak bisa liat Ciko di bully terus tapi, mau pindah juga kita gak punya dana banyak."
Shaka tibamemegang tangan Miria.
"Aku ada."
Miria menatap Shaka. Miria tak mau merepotkan dan menganggap Shaka itu atm berjalan.
Bagaimana bisa ia menganggap Shaka atm berjalan.
Ia sendiri saja kaget tahu ayahnya mengamuk dan Ciko ama bang Damar yang nenangin.
"Kamu banyak pikiran?"
"Aku kayaknya bukan, ehm... aku ngerasa kalo semuanya gak akan baik-baik aku ketakuta..." Kata Miria menatap keluar jendela.
Saat akan sampai rumah Shaka sengaja membelokkan kemudinya menuju taman hijau kota.
Tanpa banyak tanya Miria mengikuti Shaka yang turun dari mobil dan melangkah ke penjual es krim.
"Kamu mau rasa apa?"
"Apa aja.." Shaka memesankan rasa vanila coklat dan mint vanila.
Duduk berdua di kursi taman di bawah pohon akasia.
"Kenapa kamu nanya aku ngidam... apa aku kelihatan kayak orang ngidam?" Tanya bingung.
__ADS_1
Shaka tersenyum.
"Enggak aku tanya aja." Kata Shaka.
"Kamu makan lah eskrimnya nanti cair." Miria memakan esnya perlahan.
Shaka tak mau bilang kalo ia berharap Shaka itu dapat kabar bagus hari ini.
Tapi, kalo ia pikir lagi Miria saja sangat takut waktu ia bilang tentang ngidam.
Miria sama sekali tak terlihat suka kalo hamil anak darinya.
Aduh! Kenapa Shaka jadi stress memikirkan wajah Miria yang gak suka kalo Miria hamil.
"Aku gak berharap kalo misalnya di kasih. Kamu gimana?" Kata Shaka tanpa menatap miria.
Miria menoleh menunduk dan meletakkan esnya dan mengepalkan kedua tangannya yang saling mengganggam.
"Aku gak tahu, aku seneng... aku seneng kalo kamu seneng..." Perasaab Miria tiba-tiba merasa gak nyaman.
Ia sesak dan merasa bingung kepalanya juga pusing dan mual.
"Toilet?" Tanyanya.
Shaka langsung mengajaknya ke toilet umum.
Didalam toilet didepan wastafel toilet perempuan Miria tak memuntahkan apapun.
Melihat wajahnya di cermin.
"Aku kenapa ya?" Miria menuleh ke pintu dan menatap lagi wajahnya di cermin panjang besar.
Tidak bisa berharap banyak tapi, kalo misalnya kenyataannya gitu Shaka seneng dan gak masalah.
Miria keluar dan melihat Shaka menunggunya didepan toilet.
"Kamu... mau cek?" Tanya Shaka malu.
Miria menunduk malu.
"Ya udah cek..." ucapnya pelan.
Sampai di apotek terdekat Miria keluar dan membeli sendiri ia mengambil dua.
Dan saat itu Shaka menambahkan dua lagi.
Pegawai apotek sedikit kaget. Gerakan mata Shaka membuat Miria malu.
"Pengantin baru ya.. Mb nya masih muda... semangat mas mb!" Miria tersenyum mengangguk dan mengambil kresek putih berisi empat tes kehamilan.
Sampai di rumah didalam kamar mandi. Miria mulai mengeceknya.
Keluar dari kamar mandi dan menunggu.
Tak lama Shaka keluar dari ruang bacanya dengan santai.
Tiba-tiba terdengar suara eyang datang dan Juan juga Ethan menyapa nya.
"Aduuh cicit eyang!" Katanya Shaka masih melirik kebawah dimana pintu keluar itu langsung terlihat di atas lantai dua depan kamar Juan dan Ethan.
"Shaka?" Sapa Nenek dengan senyuman cerahnya.
Shaka tersenyum tipis lalu mengangguk dan pergi setelahnya kembali masuk kedalam kamar.
Miria yang duduk di lantai bersandar kasur menunduk menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
Shaka yang masuk belum sadar Miria yang duduk di lantai.