
Miria dan Olva belum pergi jauh dari kantor polisi dan mereka menunggu Shaka dan juga yang lainnya saat itu Miria memastikan lagi penglihatannya, jika ia tak salah lihat jika perempuan itu sangat mirip dengannya berjalan keluar kantor polisi bersama Shaka Alezr dan juga bima. Padahal tak memkai riasan, polos sama sekali di tambah tanda titik hitam itu, tahi lalat di dahi samping itu jelas tak terlalu besar.
"lo kenal?" tanya Olva.
" Gak." jawabnya singkat, Olva menghela nafasnya menceritakan tentang Syena dan kenapa ia bisa bertemu dengan Syena di depan mini market dan juga melihat wajah mereka begitu mirip dan Miria terdiam hingga jendela mobil sampingnya di ketuk Alezer.
Alezer meminta olva turun. Bukan olva saja yang turun melainkan semuanya turun. Syena menatap Miria dengan tatapan datar dan Miria tak kalah dingin mengamati syena didepannya.
Shaka bima dan Alezer terdiam di tempat begitu juga Olva mereka masih tak percaya.
"Lo siapa?" Tanya Miria lebih dulu.
Miria mendengar penjelasan Bima tentang Syena yang memang mirip dengan Miria dan Syena ini mengurus panti asuhan tanpa ada pengelolanya dan kebutuhan anak panti Syena yang mengurusnya dan saat itu kejadian tanpa di sengaja itu kalo Bion mabuk dan hampir memperkosanya Syena melawan dengan cara yang ia bisa ia terpaksa. Makanya Syena menyamar dan Syena pernah melihat Miria di sesuatu tempat tapi, lupa.
"Terus Syena biasanya kalo korban jadi pelaku, cuman karena membela diri." Olva bicara seperti itu dan membuat Bima tersenyum.
"Suami lo dah ngurus itu Olva, tenang aja."
Syena mendekat dan meminta maaf bersalaman. Miria seketika memeluknya dan mengatakan kalo semua itu tak masalah.
Mereka semua berpisah dan Miria kembali kerumah, di kamar saat semua sedang sibuk sendiri Miria terdiamm dengan pikirannya.
"Lo bakalan habis sama gue liat aja gue bakalan rebut apa yang lo punya, kalo muka kita mirip gini gue yakin Lo bisa menghilang dan gue gantiin posisi lo, tungguin aja." Kata-kata yang Syena ucapkan itu membuat Miria kepikiran tapi, Miria tak bisa terus-terusan memikirkan hal itu, Miria akan anggap itu adalah gertakan, semua yang Syena alami sepertinya sangat berat jadi biarkan saja sekarang fokus dengan kehidupan si kembar dan kuliah yang sebentar lagi selesai.
Tiga tahun berlalu si kembar Arzen Janendra dan Abian sudah semakin bisa dan pintas membals ucapan dan nasehat yang salah bahkan mereka bertiga pernah kelur rumah tanpa bilang dari pagi sampai malam namun, kembali pulang diantar tante ningsih.
"yaampun kalian ini buat mamaa khawatir sayang, kalian kemana hem.. Kenapa bisa sama nenek ayu?"
" Abang, Mama." Kata Abian menunjuk Arzen yang sealu terlihat sepperti ketua geng dengan selayer hitam bergambar tengkorak di buat menutup hidung dan mulutnya seperti masker.
Janen menggunakan selayer sebagai bandanan selyer milik Janen selalu berwarna gelap seperti merah gelap biru gelap dan abu-abu tua jika Abian dia menggunakan sorban entah milik siapa tapi itu pasti milik kakek Yanuar yang selalu di bawa jika mau ke masjid.
__ADS_1
"Astagfirullah nak, kalian ini."
"Maaf ya tante anak-anak ini buat saturumah ngira mereka di culik aku sampe panik untung gak jadi buat laporan ternyata sama tante, lega ria tan."
Tante ningsih mamanya alezer tersenyum. " gak masalah, Rasaya gak sengaja ngeliat mereka bertiga ngumpet di deket gerbang mereka lagi usilin Alira anaknya Alezer yang masih kecil jadi tante ajak aja mereka masuk sekalian tante tanya mereka dari mana, mereka jawab rumah, terus tanya lagi mampir kemana, mereka bilang gak ada tujuan katanya di rumah bosen mereka mau cari suasana baru."
"Iya, sekali lagi makasih banyak ya tan aku jadi gak enak." tante ningsih mengeleng menepuk bahu Miria. "heh apa apaan ini mereka juga tante anggep cucu tante sendiri. Kalo gitu tante langsung pulang ya."
Setelah berpamitan dan salam, miria kembali membawa ketiganya untuk duduk di ruang tengah meminta bibi untuk buatkan susu kesukaan mereka.
"Gak mau nenek bibi, maunya mama." kata Arzen memanggil bibi dengan gaya bahasa nya.
"Iyaa mama aja." kata Abian.
Miria menggeleng dan bangkit dari duduknya meminta bibi temankan tiga putranya selagi dia membuat susu.
"Nah susu dah mama buatin kan, sekarang sebelum itu minum dulu dan bilang ke mama dengan sejujurnya, kalian kemana aja. Hem?"
Ketiganya saling menatap dan mengangguk, ketiganya kembali menatap Miria mulai bercerita bergantian di mulai dari melihat orang mirip mama mereka didepan gerbang lalu mereka keluar karena pensaran. Arzen menyamar menjadi bandit, Janen menjadi anak ketua geng dan Abian jadi anak pak ustad biar kalo ada yang melihat kedua abangnya dalam masalah setidaknya Abian bisa manfaatkan sorban sebagai bantuan meminta tolong.
Lalu mereka juga bilang kalo tante itu mencuri wajahnya mirip mama mereka mereka juga melihat anak-anak di suruh ngamen dan beruntung ketiganya cepat kabur dan masuk ke perumahan elit dan tepat sekali mereka berjalan melihat ada suster dan bayi cantik Alira anak tante Olva.
"ehm... Lain kali kalian harus bilang bibi apa mama atau bilang kakek, kalian pasti capek boleh mama minta kalin ke kamar kakek dan minta maaf sama kakek, kasian kakek ketakutan kalian kenapa-kenapa, papa juga di marahin kakek."
"Papa pasti marah sama kita mah.." kata Janen sekarang, karena yang paling takut dengan Shaka itu Janen dan Arzen juga Abian takut tapi, tak setakut Janen.
"Iyaa papa marah, gak papa biar itu mama yang bilang, kalian ke kamar kakek ya minta bibi temankan minta mb-mb di dapur bantu kalian naik tangga, hati-hati."
Ketiganya mengangguk langsung turun dari sofa dan mencium tangan mamanya.
Setelah ketiga putranya pergi Miria kembali melamun ingatan, tentang kata-kata Syena yang lama.
__ADS_1
"gak gak mungkin Syena ngelakuin itu, dia segaja neror si kembar." Miia bangkit dari duduknya seketika mendengar suara deru mesin mobil Shaka dan suara pintu mobl di tutup kencang.
Buru-buru Miria mendatangina dan menyambutnya.
"Apa belom ketemu..."
"Ada nemein papa di kamar, mereka ada di rumah tante ningsih main sama Alira."
Shaka menghela nafsnya dan melangkah masuk memeluk Miria.
"maaf sayang, aku salah maaf." membalas peluan Shaka. Miria tersenyum.
"Enggak mas, ini salah kita... Anak-anak penasaran sama sesuatu dan beruntungnya Allah masih gelindungin mereka bahkan mereka sempe bilang..
"Apa?" Shaka penasaran.
Ehm...
"Kita ke kamar aja ya, pala ku pusing bantu aku pijit ya." Kata Shaka. Miria di tarik masuk ke kamar dan di dudukkan perlahan.
Miria terdiam lalu Shaka pergi mandi dan setelah beberapa menit Shaka datang membawa handuk kecil meminta Miria mengeringknnya.
"Syen.. Dia ada di depan gerbang sikembar ngikutin Syena dan ngeliat perlakuan Syena sama anak panti itu gak baik sampai di suruh ngamen, merek lari sebelum ketahuan dan mereka beruntung masuk halaman Tante ningsih."
Shaka mengambil handuknya dan duduk di samping istrinya. Memegang kedua tangan Miria.
"Aku janji aku pasti jaga mereka selagi semuanya bisa aku kendaliin." Miria menangis memegang erat kedua tangan shaka.
"maaf aku selalu khawatirin semua hal yang gak pasti dan kamu jadi kewalahan sendirian."
"iyaa gak masalahan khawatir itu gak apa-apa asalkan jangan berlebihan."
__ADS_1
Hari berlalu begitu saja saat Sarapan yang tenang.
"Syena !"