
"Kamu kenapa mau sama cucu saya? tanya Eyang saat menyapa Zavina pagi tadi. Pertanyaan untuk Miria yang berdiri di samping Zavina.
Ria mau menjawabnya tapi, Zavina berusaha mengalihkannya dengan bilang kalo anak-anak nya mau duduk sarapan di sebelah Eyang.
Zavina juga paham hal itu maka ia berusaha mencegah Miria sakit hati karena ucapan Eyang.
"Kita disini sebentar Aku capek mau pulang kerumah." Kata Shaka yang merasa lelah sampai ia membuat sandaran Kursi sedikit rendah dan memegang tangan Ria duduk didalam mobil dan membuka sedikit jendela mobil dan melihat kedepan.
Tepi Jurang juga pemandangan mengarah langsung keperkotaan.
Ini tempat hiburan memanjakan mata saat malam, ramai tukang jualan dari camilan malam atau muda mudi kumpul tanpa alkohol atau hal-hal di larang. Tempatnya tenang dan disini juga anti berbuat mesum karena area terlarang, katanya ada yang meninggal karena diam-diam mesum.
Miria melihat jajaran mobil terparkir kosong tapi, mobilnya lah yang terparkir tapi, ada orangnya.
"Kamu mau keluar?" Kata Shaka melirik Ria yang tak sadar kalo Shaka memperhatikannya menatap keluar dan seperti penasaran.
"Enggak kok." Shaka berdehem dan melepas sabuk pengaman dan turun.
Ria juga langsung turun.
"Kamu pengen liat-liat apa? Ngomong aja?" Miria tersenyum.
Shaka mengambil tangan Miria dan menggandengnya dengan benar.
"Aku gak mau liat apa-apa cuman penasaran kalo dah gak penasaran ya udah." Kata Miria.
Shaka berdehem saja.
"Malu banget pegangan tangan gini, Lepas aja ya." Ria melepaskan gandengan tangannya tapi, Shaka menahan tangannya.
"Gak mau?"
"Kalo aku lepas kamu nanti aku susah cari kamu, kamu tuh kecil kalo nyangkut, kena angin gimana!"
Mira mencubit Shaka tapi, tak sakit karena mantel tebal juga kemeja Shaka dan perut Shaka itu keras.
"Ngatain aja teross!" Miria berjalan duluan dengan tangan masih di genggam Shaka.
"Posesif banget sih!" Omelnya pelan.
"Lah udah nikah dikit posesif gak masalah lah," ucapnya santai.
"Eh.. cantik, Boleh kenalan gak?" kata laki-laki di depan Miria saat berhenti mengantri bonekan kelinci.
Shaka diam disampingnya.
"Maaf gak terima kenalan!" Shaka menahan tawanya.
"Loh cuek banget..." menggoda dengan terkekeh geli bersama temannya.
"Awas jadi perawan tua lo, cuek gitu." Kata mereka.
__ADS_1
Miria melirik.
"Maaf yaa saya gak merasa perawan tua, situ kali perjaka tua!" Seketika itu maju dan mengambil bagiannya.
Setelah dapat Miria menghampiri Shaka.
"Eh.. Bang, Adeknya cakep kalo gak ada kandidat calon adek ipar ganteng, saya maju bang!"
Shaka menoleh menatap merek.
"Iya." Sahut salah satunya dengan binar senang.
"Oh, Calon gak ada sih." Kata Shaka Miria menatap Shaka dan bergantian menatap gerombolan anak muda itu.
"Saya Suaminya."
"Bagus lah bang... Haah!"
***
Malam semakin ramai Shaka sudah merasa tenang sedikit melihat Miria tersenyum hatinya berdebar senang.
"Kita pulang ajalah, dah malem makin dingin." Katanya.
Shaka membukakan pintu mobil untuk Miria.
Pulang dari tempat hiburan malam di dekat taman bukit. Masuk ke halaman rumah dan memarkirkan langsung mobilnya di garasi.
Berjalan masuk lewat pintu samping.
Saat masuk suasana rumah sunyi.
Tapi, suara orang samar terdengar.
"Mau gak mau Kamu harus bisa ajak dan minta Shaka nikahin Indri!"
"Mama gak mau tahu!"
Zavina memijat dahinya.
"Eyang... udahlah Eyang bisa darah tinggi kalo gini terus."
"Zavina kamu itu belain eyang atau belain perempuan kasta rendahan itu, Heran saya di rumah ini gak bisa banget diajak musyawarah masalah masa depan Shaka." Sambil mengipasi leher dan wajahnya Eyang menatap jengah dua Orang didekatnya.
"Yan, Kamu paling di tuakan di rumah ini kalo aku gak ada di rumah kamu, Kamu harusnya bisa ambil keputusan yang benar."
"Mah cukup!" Kata papa.
"Vina.. kamu paling Eyang andalkan masalah Shaka, sekarang pun boleh, Eyang minta bujuk Shaka, gak papa dia nikah dua kali dan punya istri dua yang penting ke acara keluarga ada Indri dan Shaka, di acara perusahaan juga ada Indri dan Shaka di acara keraton juga ada Indri sama Shaka pokonya kalo di luaran Indri sama Shaka itu baik kan, nanti di rumah terserah Shaka mau sama Miria atau Indri, Kalo Miria dah punya anak satu Shaka harus punya banyak anak dari Indri."
Miria merasa sakit dan sesak didalam badannya tidak tahu bagian mana yang sakit rasanya ia tak tahan.
__ADS_1
Tahu begitu Miria gak akan mau nikah sama Shaka.
Ketakutan akan keluarga Shaka itu sudah terbayang saat akan Akad.
Di kepala Miria banyak pikiran tentang bagaimana keluarga Shaka bagaimana keluarga besarnya dan sifat semua saudara dan sepupunya.
Miria sudah panik dengan penerimaan Miria di keluarga Shaka itu baik atau enggak.
Ternyata enggak sama sekali.
Zavina berdiri dan menatap Eyang lembut.
"Ini udah Malem Eyang, lebih baik istirahat ya," ucap Zavina menengahi dan meminta di sudahi secara baik saja. Jika di teruskan Zavina takut kalo ada yang dengar terutama Miria.
"Miria." Kata Zavina saat membuka pintu dan melihat Miria disana.
"Ini semua gak seperti itu, Miria besok kakak jelasin sekarang kamu istirahat ya." Kata Kak Vina memegang bahu Zavina yang ketakutan juga sedih di wajahnya yang tertunduk.
Eyang melipat tangannya di depan perut.
"Miria kamu tahukan Shaka itu anak paling muda di keluarga ini, kamu anak pertama jadi? Saya minta sama kamu mengalah buat kebaikan Shaka, biarin Shaka nikahin Indri!"
Miria mengepal dan melepaskan kepalan tangannya yang tak bisa menahan sedihnya.
Miria pergi.
Tanpa ada kata yang terucap.
"Maaf Kak, Papa Shaka sedih kalo gini caranya, Shaka akan pulangin semua yang Shaka punya di rumah ini dan shaka akan bawa uang tunai yang ada di lemari Shaka juga baju, Shaka gak tega liat Istri Shaka... Maaf Kak Pah..."
Eyang mengerutkan dahinya.
"Shaka!" Eyang menarik tangan Shaka.
"Eyang... lepasin shaka..." Mohonnya.
"Sadar kamu itu di bodohin sama perempuan Gak bener itu!"
"Eyang!"
Plakkk
Tamparan di pipinya Shaka membuat ingatan Shaka kembali ke waktu dimana mamanya di tampar Eyang Miranti di depan tamu undangan acara keluarga.
Semua wartawan juga tamu yang hadir di acara besar itu membuat Shaka kecil bingung dan menatap Mamanya yang berkaca-kaca tapi, tersenyum pada Shaka kecil yang ada di sampingnya menggenggam tangannya.
"Eyang... bener Shaka anak gak tahu diri yang hidup numpang keluarga kaya, Shaka emang gak tahu diri dan Shaka anak Perempuan yang di buang suami karena fitnah yang gak beralasan, Semuanya bener, gak ada yang salah... makasih tamparannya yang nyata!" Shaka menatap Zavina dan Papa dengan sedih dan senang bersamaan.
Eyang menatap takut juga tangan yang gemetar setelah menampar Shaka.
"Aku keluar dari rumah ini besok!" Kata Shaka dengan tegas dan datar.
__ADS_1
Papa menatap marah.