Anxietas

Anxietas
Kandungan yang lemah


__ADS_3

Sejam dua jam berlalu sampai sekarang jam sebelas siang. Miria bingung dan rasanya gelisah membuat dadanya bergemuruh.


Perasaannya tak enak.


Miria pergi turun ke bawah melihat bibi di dapur, Miria berpikir apa sebaiknya ia ajak bibi bicara saja.


Mungkin gelisahnya ini karena ia merasa Shaka akan benar-benar bertunangan dengan Indri.


Alezer di ruangannya tepat di kamarnya sedang sit up sambil menyalakan telponnya.


"Lakukan apa yang Shaka minta, jangan banyak alasan lain lagi." Kata Alezer dengan tegas tanpa penolakan.


Selesai sit up dia pergi mandi.


Di halaman mobil yang sudah terparkir dan ia di pakai Alezer.


"Minta Mikaila mengawasinya sampaikan sekarang sebelum aku keluar gerbang." Perintah Alezer diangguki pengawal pribadinya.


Mikaila di ruangan oprasional kamera pengawas duduk sambil meminum es boba bersama dengan Yuki dan Qinan.


Jangan tanya Olva kemana.


Olva sudah melakukan tugasnya.


Di ruangan vvip lantai sepuluh dimana area makan keluarga yang sudah Eyang pesan tas nama yang akan makan bersama sekarang sudah masuk hidangan ringan.


"Kita merasa tak enak kalo Eyang terlalu memanjakan Indri yang belum tentu bisa menjadi istri yang baik untuk Shaka. Apa istri Shaka tak baik?" Tanya ibu Indri.


Eyang tersenyum manis.


"Tak bisa di bilang baik luar biasa atau buruk tapi, biasa dan standar itu pasti. Jika indri saya pasti senanh semoga kalian cepet di berikan cucu setelah menikah."


Shaka makan dengan malas. Berulang kali ua melirik ponselnya yang belum ada notif dari Olva.


Saat yang sama Kak Vina mendapat talpon dari rumah darurat.


"Apa!... Iyaa bibi tunggu, Vina kesana bi!" Semua menatap Vina.


"Kenapa Vina?" Tanya Eyang sedikit bingung juga malu.


"Maaf eyang... Semuanya Maaf, Saya undur diri... Miria jatoh di kamar mandi, Pendarahan hebat sekarang di rumah sakit Bibi yang jaga, Aku pulang Pah."


Papa langsung menatap Shaka.


Seketika itu Shaka berdiri dan mengikuti Kakaknya.


"Shaka!" Suara Eyang menghentikan langkah Shaka sebelum sampai pintu.


"Eyang.. maaf, Miria lebih penting Eyang bisa bicarakan semua yang eyang mau tanpa Shaka." Shaka langsung pergi keluar.


Papa menatap Eyang dan keluarga Indri.


Dalam diamnya Indri menggenggam erat alat makannya.


Tak suka dengan suasana seperti ini.


"Kenapa?" Tanya Ibu Indri.


Eyang tersenyum.


"Silakan habiskan dulu." Kata eyang.


***


Miria sadar dan melihat Zavina disana bicara dengan dokter.


"Keanadaan Nyonya Miria mungkin sedikit mengkhawatirkan karena sangat lemahnya dan stresnya mampu membuat dirinya seperti tertekan... Semuanya kajaiban jika bukan kuasa Tuhan mungkin Janin-janinnya tak akan selamat."


Miria mendengar samar-samar yang di katakan dokter pada Kak Vina.


"Shaka... Miria sadar temani Miria." Kata Kak Vina setelah bicara dengan Dokter.


"Kamu dengar sendirikan apa yang dokter bilang."


"Aku gak tahu kalo ini kejadian tapi, Miria gak bilang apapun." Shaka seperti menyembunyikan sesuatu raut wajahnya datar dan tak terbaca.

__ADS_1


Miria menoleh kesamping.


Vina mendekat.


"Kamu gak ngerasain apapun?" Tanya Vina.


Miria menggeleng.


"Cuman bulan kemaren aku gak Datang bulan."


Vina mengangguk.


"Biasanya sebulan gak datang bulan atau dua bulan gak datang bulan." Kata Miria pelan.


"Dokter bilang apa kak, Perut aku sakit banget tadi aku juga gak tahu tadi aku mau cuci kaki di kamar mandi."


"Hem...Miria kamu kepeleset di kamar mandi terus pingsan bibi yang bawa kamu kerumah sakit Kakak langsung dateng pas Bibi telpon."


Miria ingin duduk tapi, rasanya sangat sakit.


"Aku pingsan?" Miria tak percaya dan bertanya lagi.


"Gak usah banyak tingkah!" Suara berat terdengar kesal itu dari samping kirinya.


"Shaka!" Miria panik menatap Vina dengan tatapan bingung juga kaget.


"Ehm... Itu, aku sama Shaka kabur, shaka juga ngapain ikut kakak juga bisa ngurus Miria..." Melempar kesalahan pada Shaka.


Miria menatap shaka.


"Hahalaah.. gak usah di urusin bodo amat, Biarin kek jadi enggak, orang aku juga gak suka pake di paksa... aku ngiyain juga karena Miria.. aku biarin eyang ngambil keputusan." Kata Shaka kesal berakhir bersuara pelan malu juga ia di tatap Miria tajam.


Miria menghela nafasnya.


Vina membantu Miri sedikit meninggikan ranjang bagian kepala.


"Gak usah duduk gini aja ya..." Kata Vina.


"Makasih kak."


Zavina mengisyaratkan Shaka bicara Shaka menatap apa ia bingung, apa arti isyarat kakaknya kalo ia harus bilang apa.


"Kamu hamil... Kamu hampir keguguran juga... Katanya kandungan kamu lemah."


Miria terdiam mengerjap.


"Hah!"


***


Mikaila dan Olva juga Yuki Qinan langsung kerumah sakit pagi-pagi saat tahu kalo Shaka pergi keluar hotel.


Alezer sampai panik juga.


Mikaila merasa aneh karena Alezer kaget sekali.


Saat di suapin bubur Miria tak mau dan maunya di pegang tangannya saja.


Shaka kewalahan.


"Sayang makan dulu, Kamu gak mau makan maunya di manja aku terus udah yaa lanjut dirumah lagi manjanya, ok."


"Ih.. gak mau Shaka.. aku pegang tangan kamu aja.. makan nya nanti aja."


"Sayangku... manis... Makan dulu ya, Anak aku kasian waktunya makan ini."


"Gak mau dia juga gak minta kok, kamu alesan aja."


"Ya Allah, Istriku sayang, kamu makin manis kalo makan buburnya... anak kita.." menjeda dan melanjutkan ucapannya dengan baik, Anak kita.


"Gak mau! Dia anak aku!" Tekannya. Mendengar kata anak kita Miria kurang suka.


Shaka mengangguk menyikan saja apa mau Bumil ini dan mulai menyuapi Miria dengan di sambut senang.


Rasanya seperti ini merawat ibu hamil. Menatap Miria yang asik mengunyah makannya.

__ADS_1


Ketukan pintu terdengar lalu muncul Olva dan Yuki lalu Qinan dan Mikaila.


Shaka menoleh kepintu.


Miria juga menoleh kearah pintu.


"Hallo... Calon Onty cantik dateng..." Kata Qinan dengan percaya diri.


"Ria... gimana caranya, ampuhkan... kamu juga pasti yang...." Qinan merasa semua menatapnya.


"Hehe.. gak jadi..." Katanya sambil tersenyum malu mundur.


"Ka.. Lo sama kemaren gimana?" Tanya Mika sambil berjalan duduk di sofa.


"Gue pergi aja lah, lagian siapa dia... istri gue lebih penting."


Yuki mengacungkan dua jempolnya.


"Mendingan udahan ajalah maen sama mereka... Ri! Suami lo ini dah gak suka sama Indri dan gak akan pernah, paham satuhal deh." Kata Mika.


"Maksudnya...kan kemaren dia yang nerima..."


"Aku terpaksa sayang, Sekarang udahan aja ya.. ada anak ini, kita jaga aja.. gimana sampe ketahuan hasilnya sampe lahir sampe gede.. sampe ada cucu..."


Keempat perempuan disana jadi murung.


"Ck.. bucin liat tempat dodol." Oceh Olva jengah.


Shaka mendecih.


"Makasih ya kak, banyak banget jadi ngerepotin..."


"Heh apaan sih.. kita itu mau yang terbaik buat bos junior jadi, tuh Cebong Shaka pokoknya harus lebih ganteng..."


"Lebih manis!"


"Lebih pinter!"


"Yang penting gak pake kaca mata walaupun ganteng gak enak mata empat!" Olva paling julid sudah terakhir bicaranya malah membuat Shaka mood anjlok.


"Bener!" Miria menimpali.


Shaka menatap Istri kesal.


"Kalo gitu kita pamit ya... kita cuman bentaran." Kata yuki.


Mika dan Qinan juga pamitan dengan Miria.


"Lanjutin sono bucin lo!" Kata Mika lalu pergi bersama gengnya.


Sekarang tinggal mereka berdua lagi.


Tak lama Mika dan lainnya keluar dokter dan perawat masuk.


"Gimana perasaannya, Apa masih kurang nyaman atau ada keinginan mual?" Sambil tersenyum mengecek tekanan sarah infus yang tinggal sedikit.


Suster juga mencatat perkembangannya.


"Nanti nyonya Miria boleh pulang setelah obat nya siap ya, Oh iya.. Tuan Shaka.. boleh bicara sebentar..." Kata Dokter.


Shaka mengangguk dan pergi bersama Dokter.


Shaka yang tak lama kembali lagi.


"Kita pulang yuk dah selesai semuanya." Shaka menghampiri dan berdiri sambil mengusap tangan Miria.


Miria mengangguk.


Tak lama Bibi datang bersama sopir Papa.


"Non.. Dah mendingan?" Bibi membantu miria berganti baju.


"Iya.. Lumayan bi," jawab Miria dengan senyuman.


Shaka mendorong Miria keluar ruang rawat ke parkiran dengan kursi roda.

__ADS_1


Shaka harus lebih berhati hati. Ingatan tentang pernyataan Dokter tentang lemah kandungan dan kondisi Miria yang rentan, bisa membahayakan nyawa ibu dan anaknya sekaligus.


Shaka tak akan bercanda lagi dengan indri abis ini.


__ADS_2