Anxietas

Anxietas
Hampir membahayakan


__ADS_3

Pulang dari luar kota memakan waktu sejam perjalanan juga melelahkan.


Eyang belum pulang ke rumahnya dan sekarang malah seringemperhatikan Miria.


"Aku mau langsung kekamar aku gak mau ketemu Eyang." Katanya menatap shaka memohon saat sampai mobil didalam.garasi.


"Kenapa, apa eyang..."


"Enggak bukan gitu...."


Shaka mendengarkan ceritanya dan Shaka tersenyum.


"eyang sayang sama kamu dia gak mau cicit nya kenapa-kenapa?" Katanya masih berpikir positif.


"Tapi, ya gak gitu lah, masa jamu gak selesai sehari malem ada, gak selesai malem pagi abis makan jamu lagi, aku gak mau walaupun gelas kecil tapi, itu gak enak... aneh... abis minum juga aku enteng si badan tapi, aku sering capek sama keringetan."


Tekanan eyang harus minum banyak jamu sampai Ria pisang dan muntah dan dokter kesal di buatnya waktu itu, belum Ria bilang ke Shaka karena akhir-akhir ini Shaka sibuk dengan urusan kampus dan pekerjaannya belom lagi kalo malam harus terbagi istri dan dirinya juga pekerjaan yang belum selsai di kejar waktu tenggang.


"Oyaa.. bagus sih, kalo kamu minumramuan jamu gitu kalo kesering kurang baik juga, sekarang kamu bilang Eyang kalo Aku juga ngelarang terlalu sering, ok, eyang juga gak akan marah." Kata Shaka dengan lembut.


Miria mengangguk.


Turun dari mobil berjalan bersama.


Dan masuk kedalam rumah.


Eyang yang duduk meminum teh di ruang tamu sambil melihat Tabletnya terganggu suara langkah.


Menoleh dan pas, melihat Shaka dan Miria.


"Eh... kamu pulang juga.. nanti jam sembilan jangan tidur minum jamu dulu ya,c kata eyang lembut.


Eyang terlihat begitu karena Shaka.


miria tak seperti itu perlakuannya ketika sendiri.


"I-iya." Tergagap. Shaka merasa jika Miria sedikit tertekan hanya dengan kalimat Eyang yang mengingatkannya.


"Susu ibu hamilnya.."


"Enggak perlu di kasih Susu ibu hamil lagi, Jamu dari eyang dah cukup Shaka..." Miria yang mau menjawab keduluan Eyang yang menyela.


Shaka terdiam.


sengaja ia bertanya karena susu ibu hamil yang ia beli bibi bilang di simpan eyang dan tak di berikan pada Miria.


"Dah aman pake jamu alami, Susu bagus itu susu langsung dari sumbernya Eyang sering nyetok.c kata Eyang lagi.


Shaka mengangguk.


cMakasih eyang, Kita keatas dulu." Miria mengangguk dan melanglah mengikuti Shaka.


Eyang terlihat tersenyum aneh Shaka bisa meeasakan wajaj eyang yang tak suka dengan Miria namun, di sembunyikan.


"Ria.. kamu bisa jujur kenapa kamu tiba-tiba minta gak mau minum jamu eyang.."


"Iya, tapi, di kamar." Shaka mengangguk dan melangkah masuk kamar mereka.


Setengah sembilan eyang mengetuk pintu kamar dan membawa segelas kecil jamu ramuan eyang di racik kental.


"Kamu dua hari gak minum dan kamu dah bagus gak kenapa-kenapa? Sekarang minumnya didepan Eyang.c Katanya.


Shaka yang baru saja pergi menelpon di balkon tak mendengar, pura-pura tak tahu.

__ADS_1


"Iyaa.." Miria meminumnya dan Eyang tersenyum.


Lalu keluar dan menutup pintu seketika itu wajah eyang berubah jijik.


Saat itu juga Shaka memberikan kantong pelastik dan meminta Miria mengeluarkannya.


Shaka mengikat dan menyimpan jamu yang belum tertelan itu kedalam kantok coklat diatas meja rias Miria.


"Pait!!!" Shaka menyiap susu kotak murni tanpa pemanis didalam saku celanannya yang kebetulan ia ambil tadi, rasnaya ia tak mau menimunya ia hanya ingin mengambilnya saja tidak tahunya firasatnya untuk hal inj.


"Aku gak mau minum jamu, eyang maksa kalo gak ada kamu dia duduk dan nunggu sampai aku telen sampe kampus aku muntahin, bau kentel gak enak..."


"Iyaa.. sekrang habisin susunya."


Shaka tahu jika itu bukan jamu untuk ibu hamis karena baru saja ia menelpon Yuki karena Yuki tahu tentang beberapa tanaman obat termasuk cauran terdisional yang di sebut jamu yang sering ibu hamil minum jaman dulu.


Shaka sebelumnya saat masuk kamar meminta Miria untuk tidk menelannya dan Shaka akan menelpon Yuki.


saat eyang keluar Shaka juga menutup telpon dengan mengatakan pada yuki kalo ia akan bawa cairannya besok.


"Kamu minum warnanya kayak gini tiap aku gak ada.." Miri mengangguk."


***


Di ruangan laboratoriumnya Yuki yang sibuk di rumahnya tiba-tiba menerima paket dari Shaka yang menjadi kurirnya Devon.


"Kenapa lo jadi kek orang edan gini?"


"Ngomong apaan sih lo!"


Yuki tak tahu apa itu edan.


"Lo tumben bukan lab lagi kayaknya dulu lo gak mau buka lab gini..."


Iyaa sih." Dovon masuk kedalam ruangannya sebelumnya mencuci tangan dan memakai masker.


"Lo neliti taneman?"


"Iyaa gitulah kalo mahluk hidup agak kurang suka, takut gue jadi gila kek mantan lo kek cewek yangs ering nguber lo sampe sekarang!"


"ceunah, heh.. mereka gila karena terpesona bukan karena bunuh mahluk hidup, lo pinter apa gimana tumbuhan taneman pohonkan hidup juga mereka bukan benda mati..."


"Iyaa?" Meledek Devon


"Heh gu nikahin juga lo!" Yuki langsung melempar akar tanaman mati pada Devon.


"Makan tuh tananh.."


Devon melihat lihat sedangkan Yuki sibuk meneliti.


Saat Yuki sibuk melihat cairan dengan memisahkan kemurniannya karena sebelumnya masuk kedalam mulut Miria.


"Sudah... sekarang kita cek.."


"Ngomong sendiri kan.. kan gue disini lo yuki, Gue mahluk tuhan paling ganteng seksi lo gak lirik apa?"


yuki mendecih malas


Saat Yuki fokus dengan mikroskop saat itu tiba-tiba melihat secara berulang dan Devon melihat ekspresi Yuki panik.


"Von telpon Shaka minta dia bawa tes ur*ne nya Miria...c


"Haah!"

__ADS_1


Devon kaget setengah mati seumur hidup ia geli dnegan hal berbau penelitian tapi, melihat Yuki dia suka tapi, kenapa malah mengatakan hal itu kenapa ia disuruh mengatakan itu pada shaka.


"Kok gue...!"


Shaka yang duduk menatap keluar jendela perpustakaan tiba-tiba mendapat telpon dari Devon.


Shaka terdiam kaget.


"Kok lo yang bilanh!"


"dah.. buruan gue mau di gantung idup idup ama maklampir... lo mau jadiin gue tumbal apa.. selametin gue buruan.."


"Ha... Haiss mati lagi." Shaka mencari Miria dan saat bertemu ia langsung mengajaknya ke toilet.


Di rumah Yuki Miria datang bersama dengan Shaka.


Saat sampai dan diantar pelayan keruangan Yuki saat itu Yuki langsung memprosesnya.


"Kalian boleh liat-liat.." kata yuki.


Miria mengangguk. Melihat devon di atas sofa tertidur dan wajahnya lelah seketika itu ia tahh apa yang yuki lakukan pada Devon.


"Napa tu anak!"


"Gue kasih cacing tanah!"


Jawab yuki sangat santai.


Shaka menatap geli pada kedua orang yang memang bisa di bilang serasi.


Dua jam kemudian setelah lama dir umah Yuki di paviliun belakangd ekat kolam renang Miria shaka sedang duduk menunggu Devon dan Yuki datang membawa hasil leb nya.


"Ini gak bisa terlalu lama lagi, shaka lo harus jagain Miria.. ini taneman obat bahaya bukan buat ibu hamil kalo baru sekali dua kali gak masalah kalo keterusan bayi lo bisa cacat."


Shaka terkejut.


"Yuki..." Devon mengikut lengannya.


"ck.. gue gak boong bukan gue yang ngomong tapi, alat yang akurat dan gue punya banyak taneman obat itu buat apa coba buat lansia buat yang kalo kembung pencernaan kurang lancar ada juga kalo masuk angin atau usu buntu bahkan obat buat hewan pun di campur di ramuan itu!"


Shaka terdiam menatap hasil leb nya.


miria mengambilnya.


"Malem tadi lo sempet minum susu?" tanya yuki.


"Iyaa kak shaka bawa susu tawar...c


cHuufh.. selamet lo untung lo minum susu...


"Dan dokter pernah bilang apa lo pernah ngadu ke dokter kandungan lo?"


"Iyaa katanya gue masih aman karena gue muntahin semuanya sebelum terlambat."


"Bagus.. emang anak Shaka itu dah ngerasa itu bukan minuman baik buat bundanya jadi muntahin dan lo sering minum susu diam-diam kan setelah minum itu.."


"Iyaa abis munta aku minumin susu vanila sama yogurt?"


Yuki menghela nafasnya.


"Anak yang cerdas.c kata yuki menatap Perut miria.


"anak lo satpam buat nyawa ibunya.

__ADS_1


__ADS_2