
Sejak kejadian dimana jamu yang sering eyang berikan untuk Miria di uji di lab Yuki saat itu Shaka selalu meminta Eyang tidak memberikan jamu pada Miria tapi, sekarang shaka belum keluar kamar dan Miria ingin minum susu hamilnya.
"Kamu pasti ngeracunin pikiran Shaka supaya kamu gak minum jamu itu lagi kan? Iya aja! Kamu itu emang cucu menantu gak bisa di harapkan!" Kata Eyang.
"Tapi, dokter gak nyaranin, dan aku juga selalu munta setiap abis minum kecuali aku minum susu yang shaka beliin." Pelan dan lembut.
"Halah! Kamu itu alesan aja, emangnya secinta itu Shaka sama kamu, Shaka gak bakalan cinta sama kamu kalo kamu gak bakalan punya anak!"
"Eyang... Ria minta maaf kalo ria salah tapi, Eyang jangan ngomong kayak gitu..."
"Halah sok derama kamu."
"Masih pagi ini Mah, ngapain mah ngeributin shaka lagi, bukannya dari awal mama emang gak suka Shaka dan kemana Mama terus buat Miria tertekan sih mah," ucap Papa yang baru datang.
Eyang langsung pergi.
"Kamu pindah dulu ke apartemen Shaka hari ini Eyang sebenarnya mau lama disini karena eyang mau cek kondisi kesehatan di rumah sakit yang ada di jakarta."
"Tapi, papa gimana?" Kata Miria.
Papa mendekat mengusap kepala Miria.
"Kamu ini khawatir sekali ya, Papa aman nanti juga Zavina akan pindah kamu bakalan nemenin papa lagi sama Shaka kayak awal, Anak aneh itu juga udah tahu mungkin dia lagi siap-siap."
"Ayo keatas..." Kata Papa lagi meminta Miria naik.
Tapi, dia belum masak pagi.
"Kamu gak usah ngapa-ngapain kamu cukup sarapan buat cucu papa dan udah kan kamu naik gih liat suami kamu." Miria mengangguk.
Melangkah ke tangga naik keatas dan sampai di tengah tangga ia melihat Zavina akan turun ke bawah.
" Eh kamu dah bangun baru aja aku mau panggil tapi liat kamu disini aku mau kasih ini." katanya menarik pelan angan Miria membawanya ke kamar nya.
__ADS_1
"aku ada banyak baju bayi punya Juan saaama Ethn dan beberpa udah kekecilan juga ada yang masih baru kemungkinan kan bisa kepake sayang kalo di buang kalo di ksih keorang lan takut nya kaka mereka gak make karena gak sesuai selera mereka dan kaka kan bukkkan orang asli sini."
"gimana kamu suka gak."
""atau kamu gak selerayaa karena baju bekas aku dah sneng aja kalo bajunya baru tapi aku gak tahu kalo orang.."
"Enggak kok kak mau baju baru atau bekas sama aja semuanya sama-sama di pake, gak papa ini juga masih keliatan bagus dan aku juga suka semua warnanya kalem dan walapun kembar gak harus mirip juga kan?"
Zavina memeluk Miria tiba-tba dan membuat Zavina enangi seketik.
"makasih ya aku kira merek eh kamu gak sukajangankan baru kamu pasti miir kalo..."
"eh mikirin apaan sih kak kalo masih bagus itu gak papa walaupun warna juga luntur yang penting baju nyaman di pae juga gak masalah ."
"Ya ampun kamu baik banget sih Miria rasanya awal ketemu kalo kamu itu bakalan jadi musus bebuyutn karena keliannya kamu suka banget mortin Shaka..."
"Kakak blak blakannya.."
Keduanya tertawa dan memiih pakaian bayi dan sudah ada tiga box zavina keluar kamarnya memanggil pak tarno untuk membawa boks ini ke mobil Shaka.
" Kak zavina kasih, gak papa kan?" Saha mengangguk."Oh kamu dah tahu kalo.."
"iya papa yang bilang ke aku kamu nyembunyiin mu mas." Shaka terkekeh,,
"aku mau kasith tahu dadakan biar kamu gak ada persiapan tapi, eyang malah maaraaahin kamu subuh suuh. Kamaau di apain sama eyang."
Menggeleng. Shaka menganggukk dan mengecup dahi Miria seketika itu Miria terkekeh. Rasnya ia snagat malu.
"heehm.." suara deheman itu dari pintu dan zavina dengaaaana pak tarno sopir eyang yang baru karena yang lama sudah pensiun.
"haah klain ini..
Setelah semua beres Shaka menjalankan niatnya langsung pergi ke apartemennya dengan Miria saat smpai di aapartemennya Shaka memanggil satpam apartemen untuk membawakan barangnya keatas ke lantainya. Miria dan dirianya berjalan hanya mmbawa tas kecil berisi dompet ponsel dna barang yang akan mereka butuhkan sekali untuk memeriksa dan meliht isi apartemennya.
__ADS_1
"eyang dah bak tapi, aku masih gak enak kalo akau nolak tapi, jujur eyang sebegitu gak sukanya sama aku ya," Shaka menggenggam tangan Miria,
"kamu gak usah miir lain lain laaagi kamu fos aja sampe anak ini lahir besarin anak ini juga, atau kamu aaada niatan buat tambahin lagi... Hmmmp"
"kamu ini.." lift terbuka."
"tiga aja belum tentu kamu snagup adaniata nambah lagi kamu ini.." Shaka terkekeh..
Miriaaa seketika melihat Shaka dari samping dan teringat omongan Eyang kalo Shaka suka dengannya karena ia bisa menghasilkn anak untuknya, lalu bagaimana jika tidak?
Hatinya sudah jatuh dan sudah seperti ini keadaanya dan bagaaiana kalo misalnya ia tak melahirkan dengan selamat dan ia tak bisa hamil waktu itu dan ia sudah kehilangan segalanya dan juga ibu lalu ia tak aaakan lagi bertmu dengan papa yanuar dan ia juga akn terlupakan tapi, semuanya berbalik dari apa yang ia pikirkan ternyata Shaka masih mau bersamanya dan Shaka memang marah karena hasilnya tak seperti di harapkan tapi ia marah sekali kalo di pojokkan untuk menikah dnegn Indri wktu itu, salah kah?
" heyyy!"
"h kamu melamun ini bisa bahaya Ria?" seketika itu Shaka mengajaknya duduk di sogfa dan membanunya untuk tenang dan tak lama suara bel dan terlihat semua barang sudah di bawa Satpam yang mengantar tadi pergi setelah Shaka beri tip.
" doain an saya lahir normal dan lancar ya pak." kata Shaka.
" oh iya pak semoga di dengar yang kuasa ya pak, Amiin."
Shaka menatap miria yang duduk didepan tv dan sofa berini siatif engambil air dan memeberikan Miria yang terlihat menghela nafsnya.
" Apa lagi yang gak buat kamu tenng.
"aku cuman mikirin apa kata Eyang kalo misalnya aku gak.."
"Huss kamu gak usah mikirin itu sekkarang kamu cuup fokus sama pa yang buat kamu bhagia aku gak maslaah inget aku gak papa gak kamu jadiin hal utama kebahagia kamu yang penting buat aku itu kamu samma anak anak itu sehat itu aja dan kamu klo mau jenguk ayah sama ciko lebih deket dan ya olva da di lanti tujuh kamu bisa tanya atau minta temenin atau tolong sat aku gak ada ini bagu kan?"
Miria tersenyum.
"ya udah aku beresin barang kamu sama barang ku.."
"Aku bantu ya?" Miria menatap Shaka.
__ADS_1
"ok."
Keduanya naik ke kamar atas dimana kaamar utamanya dan di kamar kedua sengaja luas karen untuk tiga bayi dan semuanya lengkap juga beberpa setel baju bayi saja Shaka memnaag ayah yang siaga bahkan Miria seperti putri raja. Perlakuan Shaka sangat tak pernah Miria harapkan terlaksana dan bisa ia rasakan miria benar-benar berutung.