Anxietas

Anxietas
Serba salah


__ADS_3

Dalam mobil yang berhenti di lampu merah.


"Kapan kamu paham aku sesak nafas, aku gak nunjukkin, kalo aku sesek?" tanya Ria takut salah. Melihat wajah Shaka sepertinya tak bisa diajak bicara tentang Eyang.


"Aku liat muka kmu pucet dan hidung kamu juga keringet banyak, kamu cara kamu natap dan kaget waktu aku datang ke dapur," jelas Shaka.Shaka meraih tangan Ria dan menggenggamnya.


"Aku ada di pihak kamu aku ada buat kamu aku usahain itu, jangan takut. Sekarang kamu mau sarapan apa?" Miria menatap Shaka malu-malu.


"A-aku bawa bekal." Katanya membuka tas bekalnya.


"Kamu mau?" Tanya Ria. Shaka mengangguk.


Lampu kembali hijau dan mobil kembali berjalan.


Mengemudi sambil di suapin makan.


"Udah, aku gak terlalu suka roti isi, kamu abisin dan nanti makan siang kamu panggil ata telpon aku aja." Ria mengangguk.


Shaka menoleh dan mengusap bahu Ria sambil fokus mengemudi.


Shaka tak suka Indri karena ia masa lalunya dan awalnya Shaka suka gadis seperti Indri tapi ia memperlihatkan sifat aslinya dan itu membuat Shaka jijik dekat dengannya.


"Kamu kenapa gak ikut sarapan dirumah, semalem kamu juga gak ketemu sama eyang, a takut Eyang mikir buruk tentang aku." Menunduk memainkan tali tasnya.


"Aku gak selera, lagian aku lebih mentingin kamu yang sesek nafas dari pada ngobrolin perjodohan gak penting." Kata Shaka diselingi wajah santai juga senyuman manisnya.


"Maaf ya, aku jadi pengacau, aku gak nyesel nikah sama kamu tapi, kalo tahu ada hal ini aku juga gak mau." Katanya menatap keluar jendela.


Shaka menoleh dan menatap datar kedepan lagi.


"Semua udah di. Putuskan, apapun halangan juga msalah atau apa yang orang bilang itu semua gak akan mengubaah apapun." Jelas Shaka.


Tak ada suara lagi dari Ria sampai akhirnya monil Shaka terparkir di parkiran khusus.


"Kok sampe masuk kalo ada yang tahu aku turun dari mobil kamu gimana?" Menoleh kesana kemari masih memegang sabuk pengaman dan duduk didalam mobil.


"Aku gak masalh, ini tempatnya sepi lagian dosen yang tahu juga gak akan ada yang berani komen."


Ria bergerak turun dari mobil di ikuti Shaka juga keluar dari mobil.


"Au berangkat assalammualaikum." mengambil tangan kanan Shaka dan mencium punggung tangannya.


"Walaikum salam, aku langsung ya, inget telpon suami jangan mikir macem-macem."


Ria tersenyum mengangguk dan Shaka meminta Ria duluan pergi biar Shaka yang melihatnya sampai masuk k dalam gedung belakang aula.

__ADS_1


Setelah Ria masuk kedalam tempat aula seminarnya.


Shaka pergi dengan mobilnya.


Saat acara di mulai Ria dapat tempat duduk tengah bersama deretan anak fakultas lain yang di undang Bu Risma juga mereka sama matkulnya walau beda fakultas kejuruannya.


"Assalammualaikum semuanya dan Selamat pagi semuanya juga, saya Risma selaku pengada acara yang tidak terlalu formal seperti biasa, kita santai aja dan juga semoga kita semua selalu dalam sehat mental hati dan pikiran juga fisik ya, teman-teman juga adik-adik juniorku, Saya baru luar wajah-wajah baru nih, jangan kaget kalo seminar ini beda dari lainnya karena ini memang saya buat beda...."


Banyak lagi hal yang di sampaikan basa basi juga candaan yang santai tapi, lucu tak terlalu serius.


Ria harus fokus tentang seminar ini harus nyatet beberapa poin penting karena ini bisa jadi jalannya lulus ujian hariannya bu Risma.


****


"Eh.. Ri!" Saskia datang dengan Yuma dan lena.


"Eh.. lo sok tuli apa gimana sih!" Kesal saskia.


Ria menoleh melihat Saskia dengan santai.


"Kenapa?" Datar dan malas berhadapan dengan Saskia.


"Lo ada hubungan apa sampe kemaren Shaka marah-marah sama mamanya Bion sampe Mamanya Bion pun gak berani ngusik Lo lagi, Gue rasa Lo itu bukan orang bod*h yang selama ini gue kenal."


"Terserah, Lo mau bilang apapun boleh Saskia, gue gak akan hentiin lo, gue lagi males dan minggir lo ngalangin jalan gu, mulut capek ngomong ama bebek."


saskia membulatkan matanya.


"What.. Ducky! Apa lo bilang!" Syoknya karena Ria mengatai Saskia bebek.


Benar-benar berani sekarang dia.


Selesai seminarnya Ria tak langsung pulang ke rumah ia milih naik angkutan umum ke restoran Yanuar Foods.


Sampai dan setelah membayar ongkos dia masuk kedalam.


Melihat masih ada mobil Shaka Miria merasa Shaka pasti masih sibuk didalam.


"Aku ada di restoran aku kerja lagi," ucapnya pada pesan terkirim di ponsel.


Ruangan Shaka ada Indri juga Eyang juga ada Shaka dan papanya.


Ponselnya bergetar dan menandakan pesan masuk dari Istrinya.


Shaka diam-diam memfoto ruangannya dan semua yang bisa ia foto.

__ADS_1


"Kamu jangan keluar dapur." Balas pesan Shaka.


Ria yang sudah berganti pakaian melihat balasannya dan melihat foto yang Shaka kirim.


Ria terdiam.


"Ok.." Jawabnya.


Shaka tenang dan membalik ponselnya diatas meja kerjanya.


Ria tak boleh khawatirterus. Mungkin jika ia benar Shaka menikah lagi tak masalah, jangan sedih.


Sebenarnya Papa datang bersama sopir tapi, baru sampai di depan resto mobil harus isi bahan bakar jadi tak terlihat ada mobil Papa di parkiran.


***


Didalam ruangan Shaka baru saja pelayan membawakan minum juga makanan ringan untuk Eyang dan Indri juga Papanya.


"Kalo kamu sudah dewasa gini, apa kamu mau nunda keturunan, Shaka?" Kata eyang sambil meminum teh hangatnya.


"Eyang Shaka itu punya pilihan sendiri, maaf saya nyela, sebaiknya Indri pulang aja Eyang, Lagi pula Indri gak enak sama Miria, Indri juga perempuan... kasian Miria." Eyang tersenyum menatap wajah memelas Indri.


"Gak buru-buru juga, Aku juga butuh waktu buat jadi ayah." Kata Shaka cuek.


"Bahas kayak gini terus Shaka gak akan berubah pikiran." Katanya tegas.


Eyang lagsung mengubah raut wajahnya masam lalu menatap Yanuar yang santai tenang.


"Anak kamu?" Kata eyang mentap papa marah.


"Berarti anak itu telah berpikir panjang Mah.. Lagian lai-laki jaman sekarang sulit menahan nafsu dan hasratnya jika putra bungsuku bisa, kenapa aku khawatir," sindir halus Papa pada Eyang yang terus ingin Shaka mengatakan setuju dengan Indri.


Eyang tak mau jika Miria sampai mengandung anak dari shaka.


"Yanuar, Miria itu asing dan Miria itu tidak jelas bahkan ibunya penyakitan dan miskin ayahnya depresi kakaknya karyawan teladan kamu juga adiknya masih kecil." Shaka duduk tegap di kursinya.


Sang papa memilih mendengar tak mau menimpali takunya mamanya pasti marah.


"Eyang bilang Ria asing miskin dan gak sesuai sama yang yang harapkan, Eyang tahu Mama juga asing, Ethan juga asing tapi Eyang cuman gak suka sama mama Shaka dan suka sama Ethan juga Shaka, " jelasnya membuat Eyangnya diam.


"Itu berbeda, masalahnya Mama kamu itu..." Kata Eyang bingung mau bagian mana yang mau ia jelaskan, tak ada kalimat cocok di kepala Eyang.


"Apa yang beda? Mama itu orang terbaik yang biarin Shaka hidup setelah lahir, Shaka bersyukur walaupun dalam keadaan batin mama tergoncang karena ayah kandung Shaka pergi dan gak ngakuin Shaka anaknya sama sekali Shaka bersyukur."


"Apa yang beda... Shaka dapet kasih sayang dan bisa berdiri juga duduk di sini itu karena Papa Yanuar... Anak eyang sendiri, apa maksud eyang Shaka harus balas budi dan demi lunasnya hutang papa Yanuar yang eyang pikir caranya nikahin Shaka sama pilihan Eyang, gitu?"

__ADS_1


__ADS_2