Anxietas

Anxietas
Apa bisa?


__ADS_3

Kaget dengan syarat yang Eyang bilang wktu itu.


Apa bisa Miria mengandung anak laki-laki harus sempurna dan tanpa cacat.


Miria takut itu membuat berantakan semuanya. Kenapa juga ia menerima pernikahan ini, hatinya ragu kalo memikirkan tentang ucapan Eyang.


***


"Iyaa gak akan ada yang nikah sama Indria, mungkin aku doang yang gak nikah sama Indri karena ada kamu."


Kata Shaka yang tiba-tiba ada di belakangnya dan berdiri sambil berjalan santai kaos hitam dan celana pendek di bawah lutut lu kemeja hawai lengan pendeknya sedikit-sedikit terbang terkena angin pantai.


Miria membalik badannya dan berhenti. Shaka menyamakan berdiri mereka berdua saling berhadapan.


"Apa yang kamu pikirin lagi?" Tanya Shaka tepat sasaran.


Miria menatap arh lain menyamping asal waah yang keliatan banyak pikiran tidak menatap wajah Shaka.


"Aku tahu kamu mikirin tentang Indri."


"Enggak siapa? Au gak mikirin Indri ngapain juga," ucap Miria dengan menatap arah lainnya.


Helaan nafasnya kasar.


"Ya itu terserah kamu mikirin dia atau enggak tapi, jangan berharap atau mikirin macem-macem kalo aku bakalan mau nikah sama indri."" Kata-kata Shaka sangat tegas setiap menjelaskan tentang penolakannya dan itupun sangat pasti tanpa ragu-ragu sedikitpun.


"Aku biaa aja, aku gaak papa lagian kamu tadikan ngobrol sama temen kmu ngapain ikutin aku?" Tanya asal.


Shaka menatap wajah Miria pnik lalu risih dan berjalan menjauhi Shaka. Shaka berdiri diam melihat Mria yang berjalan menjauhinya.


"Apa ada yang salah dari aku bilang," katanya beruca pada dirinya sendiri sambil mengedikkan bahu. Shaka tetap erjalan pean mengikuti Miria.


Dari kejauhan setelah berselancaar. Alezer dan Zeus ke bibir pantai mengeringkan tubuhnya dan istirahat.


"Kalo di perhatiin Shaka itu udah pas jadi sumi bahkan mereka kayak orang pacaran." Alezer mentap Zeus yang mengajaknya bicara.


"ya karena memang udah jodohnya."


Kata Alezer terdengar pasrah.


"Lo kecewa, lo ngincer Miria dari lama malah yang keduluan dapet si Shaka iya..." Kata Zeus menggoda Alezer .


Alezer berdiri dari duduknya dan berjalan menjauhi Zeus.


"Cinta segitiga, kek diderama aja." kata Zeus melangkah mengejar Alezer yang mendekat ke mika dan kawan-kawannya makan makanan yang di bakar Dominic.

__ADS_1


***


Malam hari di hotel pinggir pantai pemandangan yang ukup gelap ke arah pantai tapi lampu hias kuning dan juga musik yaang terdengar mengalun santai i antara Shaka dan teman-temannya makan malam kali ini pihak Restran yang menyiapkannya.


"Apa yang kalian pikirin kalo misanya kitaa cinlok?" Kata Yuki sembarangan membuat Zeus Fahri Juno dan Devon serempak mengatakan, "BIG NO!!!"


"Lah bukannya perasaan manusia yang paling tahu itu manusia itu sendiri sama tuhannya dan kalian pasti ad yang suka sama Gue!" kata Qinan dengan percya dirinya.


"Hah.. Maf dikata sorry banget nan, LO kita sukain Lo boros rajin belanja masak kagak pernah dandanan lo modis mulu, Lo gak cocok sama kita Lo cocok sama Sugar daddy!" Kata Juno membuat Qina marah.


"Eh.. Lemes denger ya, gini gini bokap gue bingung ngabisin duitnya gimana jadi gue sebagai anak baiknya membantu menghabiskan uang beliau, sugar daddy gue, ya bokap guleh.. Mau bokap lo, gue mak tiri lo!"


Juno menembur minumannya ke bawah pasir.


"Tidak sudi aku jadi anakmu, emak durhaka macam kau tidak akan ku biarkan menikah dengan papaku" Teiak Juno menggema kencang.


Devon langsung memasukkan potongan daging ikan ke mulutnya Juno. Membuat semua diam karena yang berisik hanya Juno.


Shaka menole kearah Miria yang memainkan tulang ikan dan cangkang kepiting.


"Kamu mau nambah apa lagi?" Tanya Shaka lembut.


Semua langsung beralih fokus ke pautri muda itu.


"Huwaaaa mami aku mau nikah!" teriak Mikaila merasa sangat gemas dan sosweetnya perhatian Shaka buat Miria membuat Mikaila cemburu.


Mikaila langsung mendecih malas.


"Abang Alezer lamar aku dong?" Kata Mikaila seketika membuat Alezer tersenyum sinis.


"Sorry gak minat." Jawab cepat Alezer datar.


Seketika itu tawa mereka pecah dan Yuki juga Olva menahan tawanya masalahnya Alezer itu dendamnya halus kalo Mikaila godaannya ke Alezer nyata.


"Kapokk kapok di tolak.. " ejek Juno mendapat tatapam mematikan Mikaila.


"Aa Zeuss lindungi adek A!" Lebaynya membuat Zeus sampai merinding.


"Lepasin gue Juno, geli tralla gue ama lo kkalo gini, buset dah. Qinan?" Keduanya langsung kembali tertib.


"Aku kenyang, aku mau minum aja." Kata Miria di angguki Shaka.


Seketika itu Shaka mengambil cumi dam meletakkan diatas piring Miria dan tiba-tiba di tusuk garpu dan dimakan.


Shaka tersenyum geli sendiri.

__ADS_1


Setelah makan bersama semua sibuk sendri-sendiri di tempat mereka datangi ada yang berfoto menggoda turis atau mereka yang memang melakukan pekerjaannya lewat daring termasuk, Alezer anak tunggal kaya raya yang tak terlalu hiperaktif seperti yang lain kadang terlihat ekstrovet namun langsung kembali introvert yang menyeramkan anti senggol, sekali lirik golok melayang.


Shaka duduk di kursi depan balkon kamarnya dan Miria dengan pakaian simpel dan jilbab kaosnya.


"Apa aku bisa kayaknya enggak deh, udah shaka aku ambil gampangnya aja gimana kalo kamu iyain aja apa kata eyang gak papa aku, seriusan." Shaka menarik tangan miria agar mendekat padanya dan duduk di pangkuannya.


Wajah shaka menghirup parfum yang Miria pakai hanya untuk berdua dengannya dan dia pakai sekarang saat di hotel.


Benar-benar istri penurut dan baik.


"Aku gak mau, sayang!" Katanya lagi dengan penekanan.


"Kamu pasti sedih nanti aku udah bilang berulang-ulang, enggak dan gak akan, Aku mau kamu, satu!"


"Ya tapikan Saka posisi ini itu kayak kita kalo salah langkah dimakan hewan buah kalo berbalik jatuh kejurang, kamu tahu aku bukan dari keluarga kaaya. Kalo sampe kamu.."


Kecupan singkan membuat Ria bungkam dan diam seperti patung.


"Kamu mau mulai sekarang?" Tawar Shaka membuat jantung Miria berdetak tak beraturan rasanya sangat menggaggunya.


Miria yang melamun akibat kecupan langsung sadar mendengar tawaran Shaka melakukannya sekarang.


"Tapi," Shaka memeluknya dan membenamkan wajahnya dalam pelukan Miria.


"Aku mau kamu malam ini boleh?"


Deg...


Miria diam dan menjauhkan sedikit, merenggangkan pelukannya.


"Kamu ragu? Takut? Masih belom percaya sama aku?" Shaka meminta Ria berdiri dari pangkuannya dan Shaka pergi masuk kedalam.


Ria diam di tempatnya dan menatap Shaka yang menjauh.


"Aku..." Shaka berhenti. Belom menoleh dan diam saja di tempatnya.


"Aku... aku mau tapi, jangan kenceng-kenceng jangan kecepetan!" Cepat dan sedikit berteriak agar jelas.


Untung kamar mereka jauh dari keramain dan teriakan tak terlalu kencang itu tak akan terdengar sampai ke depan.


Wajahnya sudah merah dan tubuhnya lemas.


Miria tak bisa berdiri lagi ia lemas dan malu.


Shaka menahan tubuh Miria yang lemas.

__ADS_1


Wajahnya jatuh tepat membentur dada bidang Shaka yang ter lihat sedikit belahannya dari kimono jubah handuknya.


"Aku malu."


__ADS_2