
Mendengar Ciko tak bisa berjalan dan harus oprasi pemulihan Shaka langsung mengiyakannya.
"Ciko keseleo separah itu! ini gimana kasian dia kalo gak bisa jalan gimana gimana sekolahnya gina dia berteman.. gimana..!" Miria panik sangat bingung.
"Heh heh... Ria Liat liat semua baik baik aja ini oprasi ringan inget dokter bilang apa..."
Miria menunduk menatap Shaka seketika menangis lagi.
"Tapi,"
"hey.. Istighfar nyebut! kamu itu terlalu banyak pikiran kamu sampe lemes gini kamu itu hamil sayang kamu lagi hamil!" Shaka berusaha meminta agar Miria tenang.
Berhasil tenang tapi, ekspresi wajahnya sama sekali tidak tenang.
Tak lama dokter keluar dan mengatakan jika oprasi lancar.
Shaka menoleh ke Ria dan mengangguk.
Setelah di perbolehkan masuk Miria melihat Ciko yang kedua kakinya harus di oprasi.
Saat menunggu sadar tiba-tiba ada telpon dari rumah jika Damar dan ayah mau datang melihat Ciko.
"Iya boleh." Ria mengizinkannya.
Setelah lama menunggu Damar menuntun ayah dan Lila mengajak anak-anak nya menemui om kecilnya.
Mereka masuk keruang rawat terlihat Shaka yang lanhsung berdiri dan Ria yang terlihat berbalik menoleh kearah ayahnya.
Sudah lama ia tak melihat sang ayah dan sekarang ia melihat semakin kurus dan semakin terlihat sakit lebih sakit.
"Siapa?" Tanyanya pelan.
Damar mengantarnya. Miria menyalimi mencium dan perlahan memeluk.
"Kamu... siapa?" Katanya lagi di ulang dengan pelan serak dan lemah.
Miria menahan air mata agar tak tumpah malah tumpah diddepan sang ayah.
"Ini.. Ria yah, Miria... anak... anak ayah, Hiks... maaf yah," miria tak tahan dia harus bilang apa ia merasa bersalah tapi, tak tahu apa yang membuatnya salah sekarang.
"Ria.. Miria..." Ayah menatap semuanya dan menarik membawanya kepelukannya.
"Makasih nak... ayah minta maaf ayah yang minta maaf, kamu anak perempuan ayah.. maafin ayah, kamu jadi harus seperti ini karena ayah yang gak berguna, Damar sama Ciko lah yang sekarang jaga Ayah sekarang kabar Ciko gimana.. kamu gak pernah dirumah," katanya lalu menoleh kerah Shaka dan Shaka mendekat.
__ADS_1
"Maaf yaa ayah gak bisa jadi wali nikah anak ayah, ayah belom sehat. Kamu suaminya. Makasih jaga anak saya sejauh ini, Ayah tenang kamu bahagia, selama ini kamu tersisksa sama ayah, ayah minta maaf, ibu kamu juga..."
"Ibu udah gak ada ayah.." Ayah mengangguk dan menoleh ke qrah Ciko. Damar mengikuti saat ayah berjalan mendekat ke damar Miria memberikan kursinya dan Ayah duduk di samping Ciko.
"Ciko pasti sembuh ya kan?" Miria mengangguk.
Dua hari berlalus etelah kunjungan ayah ke rumah sakit Ciko pulang dengan kursi roda sekolah di rumah di bantu Lila dan anak-anaknya.
Ketika seorang merasa ia sudah lebih lega memaafkan tapi, hati Ria malah sedih setelah mendengar ayah meminta maaf padahal Ria yang salah karena Ria ada di dunia ini dan membuat ayah salah.
Selamanya dalam hidup yang teratur kebahagiaannya hanya sedikit kadang bisa senang kadang sedih tak berujung sekarang apa yang Miria rasakan tidak akan ada yang bisa orang rasakan.
Menikah ini bukan lah rencana. Setelah lahir anak ini apa Ria akan berpisah.
Memikirkan tentang setahun dari pernikahan dan percaya ucapan Shaka ataupun eyang Miria masih bingung.
Manusia bisa berubah di waktu tak tetap diasaat kita memiliki segalanya atau di saat kita hancur tanpa sisa.
Menyedihkan.
Tapi, itulah hidup dalam kekhawatiran yang belum tentu pasti Miria selalu ada didalamnya tapi, kadang terpaksa berani tanpa memikirkan resiko padahal ia tiap kali ingat hal yang akan menjadi keputusannya pikiran positif selalu terganti dengan pikiran negatif dua tiga kali lipatnya.
"Kamu gak lagi ngelamunin hal yang gak penting bukan semua masalah itu pasti ada jalan keluarnya walaupun gaks egera tapi, kita jalan kearah pintu keluarnya, kamus elalu diam belakangan ini apa yang kamu pikirin.
"Kamu mau tanya bagian mananya?" Tanya dengan lembut.
"Aku masih takut kamu pergi takut kamu berubah khawatir kalo aku bukan istri yang baik selama ini dan semua hal yang berjalan di sekelilingku aku tahu kamu nerima aku apa adanya aku takut aku bukan yang terbaik dan aku juga gak... sesuai sama apa yang kamu harapkan kamu diam aja.
Shaka duduk dengan tenang dan santai di pinggir kasur dekat kursi Ria yang menghadap miring kekasur dan sampingnya bis amenoleh ke balkon luas apartemen.
"Aku udah sembuh sama depresiku aku juga sembuh sejak kamu mulai buka hati buat aku bahkan kamu percaya seluruh hidup kamu sama aku, walaupun diawal kamu udah denger aku bilang bukan yang bertanggung jawab tapi, aku berusaha..."
Ria tersenyum tipis...
cAku gak minum obat itu lagi sampe sekarang papa atau kakak yang lain gak tahu cuma kamu yang tahu, Terakhir kita ziarah ke makam Mama itu lah aku nekat gak minum obat. Aku juga sering tidur diam-diam pegang dan cium punggung tangan kamu.
"Aku gak bisa hilangin kebiasaan itu karena itu pengganti obat... aku juga gak konsumsi rokok kayak yang temen..."
"Makasih... aku percaya kamu aku gak akan nuntut lagi, makasih... aku cuman takut tapi, emang gak terjadi apapun."
Shaka mengambil kedua tangan Miria dan memegangnya sambil tersenyum.
"Loh kok bisa gitu Ol... lo gak cerita kekita kalo lo itu masih keluargaan sama siska dan ibu lo itu selingkuhannya dan lo... What the Dam***"
__ADS_1
Yuki mengusap rambutnya dan menatap tak habis pikir.."Papa lo kasihs emua aset dan warusan ke elo tapi, Sisaka enggak karena ibunya... orang kaya,c ucap Yuki lagi.
"Lo sembunyiin inj semua dari kita selama inj, Hidup lo gak begitu baik Olva lo sering nginep di bescamp itu karena ini,c ucap Mikaila.
Olva mengangguk.
"Gue dah peka sejak lo natap Siska waktu itu, Dan siska bilang lo anak yang..." Qiqnan berhenti bicara mengingat kalimat yang Siska bilang waktu itu.
"Gue anak haramnya keluarga Angguto dan gue sepeserpun gak pernah makan dari mereka setelah mama gue meninggal gue selalu tanya kerjaan apa yang bisa di kerjain sama anak kecil sama bibi yang ngerawat gue dari umur tujuh tahun... gue kerja m cari barang bekas mukung setiap ada acara gue juga jualan mainan di sd atau kalo ada pesta ulang tahun kota atau apa gue jualan es di temenin anak Bibi art yang lebih dewasa dari gue gue di kasih duit mereka dan gue lukus Sma gue balikin uang sekolah sd smp bahkan sma yang udah mereka kekyarin buat biayaain gue.. sekarang Siska nuntut hak warisan gue terpaksa ngalah tapi, pengacara ayah bilang karena dokumen udah paten gak bisa ubah walau ilegal dan semuanya milik gue, Sekarang gue kasih rumah ayah buat mereka gue tinggak di apartemen biarlah dan perusahan gue kasih bagian yang mereka mau dan gue ngurus bagian cabang dan semua udah pindah tangan dan putus...c
"ayah lo?"
"Masih koma."
"Surat wasiat warisan?"
"Di buat sebelum beliau kecelakaan di hawai kemaren ninjau proyek hotel.
"Firasat kayaknya bokap lo!" kata Qinana.
"Lo pantes dapetin semua ini..." kata Yuki.
cLo cuman mau ngasih tahu ini dong?" kata Mika yang menatap geli.
"Iya.. masalahnya gue gak enak akrena Lo semua pasti gak suka kalo denger dari itang lain dans ebelum siska bilang gue anak haram.
Mikaila memanggil pelayan restoran.
"Kalian siapin meja dan menu hidangan hari ini saya mau pesen makanan seafood terbaik restoran ini dan ya tolong catet nama undangan yang dateng semuanya tamu ku.."
"Mika!"
"Lo kok gitu..."
"Gue mau denger kalian ada yang maujur lagi.. Yuki mengeratkan pengan gangan yang bertaut antara tangan kiri kanannya.
"Gue gak merasa sakit hati atau malu Gue senang kali Olva udah ngakuin kita sebagai teman dan dia anggep kita keluarganya... tenang olva Backingan Lo gue Alezzer juga gak bakalan nolak kalo gue bilang bantuin lo.." Olva terdiam.
ceh..." Qinan dan yuki menatap Mika.
"Mereka dah pdkt.
"WHAT....
__ADS_1