
Shaka ternyata kembali dengan tubuh segar.
Pantas lama.
"Mandi?" Shaka menoleh dan menganggukkan kepalanya santai.
Duduk di sofa samping Miria.
"Kamu denger apa aja, ceritain semuanya dari awal," ucap Shaka.
Miria menghela nafasnya dan hendak berdiri.
Shaka menahannya dan kembali duduk di sampingnya lagi.
"Kalo kamu gak jujur aku akan lakuin apapun tanpa dengerin omongan kamu." Menoleh menatap Miria yang terdiam takut.
Tangan Shaka masih memegang pergelangan tangannya.
"Tangan kamu lembab keringetan, dingin? Kamu jangan Takut." Shaka meletakkan sendoknya menghentikan makannya dan mengelap tangannya dengan tisu.
Minum dan memegan kedua tangan Ria duduk berhadaoan dengan Istrinya.
"Lihat aku, Aku ada sama kamu, kamu gak akan kemana? Aku pun sama gak akan kemana-mana dan gak akan jauh atau ninggalin kamu, inget aku dari dulu gak pernah gak lepasin janji yang dah aku bilang dan belom ada yang gak aku selesai in, sekarang tenang ok."
Miria menunduk.
Menarik nafasnya dan seketika berdehem dan melepas pegangan tangannya.
"Kamu mau di jodohin sama calon yang Eyang putri bawa. Kata calonnya kalo aku di duain gak papa, aku jawab tunggu keputusan akhirnya kalo pun iya gak papa tapi, jangan cerain aku ya, gak papa kalo pun kamu lebih direstuin eyang dan kamu suka sama dia."
Shaka menatap tak suka wajah sedih dan setiap tetes air mata yang keluar dari kelopak mata yang langsung Miria hapus.
"Satu, satu aja aku dah punya banyak tanggung jawab yang harus aku usahain penuhin dan aku takut tanggung jawab itu gak terpenuhi, jadi nambah satu lagi itu pusing."
Shaka mengusap air mata dan pipi Miria.
"Gak usah tanggepin, Hatiku buat kamu."
Deg..deg.. Antara senang juga tambah sedih.
Miria terkekeh sambil menangis.
Shaka tersenyum.
Kembali melanjutkan makannya.
"Suapin?" Kata Shaka memberikan piringnya dan meminta Ria menyuapinya.
Ria sedikit terharu juga tersenyum sambil menyuapi Shaka yang tersenyum manis sambil menerima suapan demi suapan dan tersenyum sambil mengunyah kadang mengatakan pujian untuk Miria.
Shaka sangat lucu.
Selesai makan Shaka keluar mengantarkan piringnya dan meminta Miria menemaninya.
Mengobrol sambil mencuci piring.
"Kamu mau dimandiin?" Miria memukul lengan Shaka.
__ADS_1
"Gak lucu!" Kesal menjauh dan duduk di kursi pantry.
"Lahh kok ngejauh, kangen aku ntar!" Ejek Shaka seketika Shaka mual sendiri.
"Geli banget, ogah ah gini... Ri deket napa, jangan jauh dari aku ntar aku rapetin nih ruangan dirumah biar kamu nempel sama aku."
Ria berdecak malas banget dan mendekat saja lah, sebelum lebih panjang ocehannya.
"Selain itu ada lagi?" Kata Shaka.
"Enggak ada Masalahnya Kak Vina langsung nyetop dan alasan ngajak aju pergi."
Shaka mengangguk.
Zavina paling paham bagaimana Shaka mengamuk dan marah bahkan Zavina paling jelas tahu kejadian di kampus juga sekolah dulu jika ada yang mengganggu Shaka.
Papa tahu tentang keburukan Shaka tapi, itu dari Zavina.
Shaka juga paham kalo, Zavina tak akan menceritakan kebenarannya.
Ya sudahlah, Shaka sementara tak terlalu takut Eyang putri menyakiti perasaan Miria, karena ada Kakaknya.
Dah selesai cuci piring. Shaka menggandeng tangan Ria naik keatas tapi, Ria dengan cepat menjauh dan melarikan diri.
Shaka dengan santai berjalan dan terkekeh.
"Rukun banget, Shaka?" Suara itu menghentikan langkah Shaka.
"Lama kita gak ketemu?" Kata Indri sambil berjalan mendekat.
"Lo! Apaan Lo! Kenapa Lo dateng ke rumah ini, Gue dah usir Lo jauh jauh dari hidup gua!" Tekan Shaka di setiap ucapannya.
Shaka mundur kebelakang.
"Jangan sentuh gue, Gue jijik Sikap lo, Lo muncul disini dan buat gue inget ke jelekan lo," ucap Shaka lalu pergi menjauh mengejar Miria yang ternyata menunggunya di tangga atas.
Ria melihatnya tatapan Shaka dan Indri.
Ria rasa ia akan di buang dari sini.
"Heh.. ayo tidur.. liat apa kamu, Aku ini suami kamu bukan suami dia kenapa sedih," ucapnya. Ria tersenyum dan berjalan mengikuti Shaka.
"Liat aja Shaka gue bakalan buat Lo dateng ke gue lagi pelan-pelan."
***
Pagi ini Miria akan ikut seminar dan itu diadakan dosen Risma dan Miria juga mengambil matkul dari dosen Risma.
Setiap awal bulan akan ada Seminar dari dosen Risma.
"Ria kamu berangkat pagi?" Tanya Zavina saat semua sarapan sudah siap.
"Iyaa Kak, aku harus cepet aku takut telat aku juga gak bisa minta Shaka anterin karena ini gak bisa buat Shaka telat berangkat ke restoran buat ketemu orang bahas bisnis." Katanya sambil membereskan beberapa alat makan.
"Iyaa ya, kamu bener.. Yaudah kamu sarapan duluan aja," ucap Zavina.
"Iyaa aku bekal ajalah," ucapnya. Zavina mengangguk dan menyiapkan seketika Miria tersenyum senang juga malu.
__ADS_1
"Eh.. kak kok, di siapin, makasih banget kak!" Zavina terkekeh.
"Kamu ini kayak sama siapa aja, kamu sama kayak Shaka tahu, Semangat kuliah," Katanya dengan terkekeh bersama.
Eyang dan lainnya tak lama datang dan meja makan siap dengan sarapan.
"Kalian akur banget?" Tanya Eyang menatap bahagia Zavina lalu melirik jijik Miria.
Zavina merasa tak nyaman.
"Oh hoho, Oh yaa Eyang Juan sama Ethan katanya mau duduk samping Eyang boleh?" Kata Zavina.
Seketika itu mengajak Eyang duduk dan Juan juga Ethan sepertinya ikut menambahkan ekting sang ibu agar terlihat sungguhan.
Ria langsung membereskan dapur di bantu pelayan tapi ketukan di lemari atas kompor membuat Ria berhenti mencuci piring.
"Jam berapa seminar, ayo! Telat kamu nanti." Shaka berdiri disampingnya.
Miria menatap kaku. Rasanya ia asing dan malu juga tertekan dan sesak tiba-tiba.
"A-aku jalan sendiri aja, Anu.. ma-mahkasih."
Shaka menajamkan matanya.
Bahaya, Ria sesak nafas.
Shaka langsung mengambil lap tangan, mengelap tangan Ria dan membawanya pergi keluar.
"Mau kemana Shaka?" Tanya Eyang dengan suara yang tegas.
"Keluar." Berjalan mengenggam tangan Ria.
"Sarapan dulu," kata Eyang lagi, menghentikan langkah Shaka.
"Kamu semalem gak ketemu eyang apa kamu gak mau basa basi sama Eyang, Dan eyang mau ngomong serius sama kamu." Menatap Shaka di depannya.
"Gak ada yang penting, sekarang Shaka mau keluar, Shaka sarapan diluar." Lalu pergi membawa Ria juga keluar.
"Lihat Yanuar! Menantu apa membawa hal buruk buat Shaka, apa itu sopan? Kamu salah besar angkat dia jadi mantu." Eyang berdiri.
"Eyang gak nafsu makan lagi." Katanya lalu pergi.
Yanuar tetap sarapan. Juan juga Ethan mengikuti perintah sang ibu untuk tetap sarapan.
Juan melirik kakeknya.
"Jangan dengarkan, itu biasa." Kata kakeknya.
"Iyaa Juan, Kakek itu keren banget sekarang." Seketika Ethan tersenyum.
Kakek Yanuar mengangkat kepalan tangannya dan Ethan juga melakukannya mereka beradu kepalan dari jarak posisi duduk mereka.
Zavina tersenyum melihat dua putranya tak terpengaruh juga papanya yang santai.
Lagi pula Eyang memang seperti itu, memaksa!
"Eh Indri makan dulu yaa, yang banyak nambah kalo bisa?" Indri mengangguk tersenyum malu.
__ADS_1
Sejujurnya Indri iri Shaka bisa memegang tangan perempuan yang disebut istrinya.