Anxietas

Anxietas
Amarah Yuma


__ADS_3

Setiap hari adalah hari yang bisa menjadi kenangan atau hal yang baik untuk masa depan.


Sebelum ada masa lalu pasti ada masa sekarang dan sebelum ada masa depan pasti ada masa lalu dan masa sekarang.


Masa sekarang adalah penentu bagaimana bisa menjadikan kita lebih baik di masa depan atau menjadi buruk di masa depan atau malah tak melakukan apapun untuk masa depan.


***


Makan siang dan sarapan juga di kantin.


Miria berangkat pagi-pagi sekali karena ada kelas pagi.


Shaka tak masuk pagi jadi Miria hanya diantarnya di tempat biasa Miria di turunkan.


Belum bisa juga Miria mempublikasikan dirinya dan Shaka itu sah menikah.


Miria sedang malas berurusan dengan para perempuan kampus yang mengidolakan Shaka bahkan diam-diam mendoakan Shaka agar jadi jodoh mereka kelak lalu jika ada yang dekat atau Shaka sudah memiliki istri atau tunangan di minta menjauh, itu doa mereka.


Rasanya Miria sedang di harapkannya tiada atau di ceraikan Shaka.


Tapi, untuk apa juga memikirkan hal gak berguna itu.


Miria kan memilih sendiri jalan ini dan tinggal kuliah dengan baik jika Shaka tetap menentukan setahun menikah Miria tak masalah. Karena kuliahnya yang sudah hampir selesai nanti lumayan bisa mencari pekerjaan lebih baik.


Padahal Shaka sudah tak menggunakan patokan usia pernikahan mereka hanya sampai setahun saja.


Tapi, Miria tetap berpikir kalo mereka menikah hanya sampai setahun saja.


"Heh.. upik abu!" Suara Yuma tak di tanggapo Miria yang sibuk membaca sesuatu seperti pengumuman di mading.


"Lo tuh yaa.. Punya kuping gak sih! Oh ketutup jilbab lo ya, atau lo sengaja gak mau noleh gue panggil, lo ngehindarin gue?" Yuma sedikit tinggi nadanya.


Beberapa maha siswa menjauh.


Cukup sekali mereka mengejek Miria berakhir Shaka yang mengamuk dan memarahi juga membuat Bion babak belur.


"Gegara lo, Bion di rawat lama di rumah sakit, gue curiga jangan-jangan lo sengaja deketin, kak Shaka biar pada ngelirik dan angkat lo jadi mahasiswi alim tercantik."


Lagi-lagi Miria mendengar omong kosong.


Cantik? Dari mananya...


Miria saja tak menganggap dirinya cantik tapi, biasa saja.


Tapi kalo ada yang memuji ya udah Ria terima.


"Masih banyak orang di kampus gak usah cari masalah." Kata Miria memberi Yuma kesempatan untuk pergi agar tidak malu.


"Kenapa... Lo gak suka?" Yuma tersenyum setelah bertanya dengan nadanya mengejek. Tersenyum sinis menatap Miria dari atas sampai bawah.


"Liat apa mata lo." Mirua menatap malas Yuma.


"Lo! Mur*h*n."

__ADS_1


Yuma pergi dan dengan santai tanpa rasa bersalah.


"Kenapa lagi hari ini..." Kata Ria sambil menghela nafasnya.


***


Berangkat bekerja hari ini setelah libur sehari kemarin.


Kata Shaka boleh bekerja boleh tidak, eh ujungnya malah bilang gak usah kerja.


Emang dasar Shaka!


Membantu mencuci piring juga membersihkan meja di bagian depan setelah cuci piring juga membersihkan lantai yang kotor. tak hanya Miria ada teman resto lainnya jika meja itu mereka bersihkan berarti mereka juga membersihkan lantai dan juga kursinya di rapikan.


"Lama gak kerja rasanya enak juga." Kata Miria setelah duduk istirahat sebentar.


"Ria?" Panggil Cakra salah satu teman kerja bagian yang membuat minuman enak.


"Iyaa kenapa?" Cakra memanggil sambil berjalan mendekat dan memberikan minumn dari jus buah segar.


"Eh apaan ih buat gue?" Tanya nya bingung.


"Iyaa... Coba minum enak gak?" Miria tersenyum dan menyedotnya setelah membuka nya dari bungkus.


Miria tersenyum mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


"Enak banget." duduk santai di belakang dekat gang empit hanya untuk isirahat.


"Gue pusing nih.. Pengen deh lulusin kuliah besok, tapi bokap ama nyokap gak ada yang dukung masa aneh Ri!"


Ria menatap santai mengangguk sediit-sedikit meminum jusnya.


"Maksudnya kenapa atau mungkin orang tua lo ada alasan lain," ucap Miria.


"Gue di mintatetep kuliah lanjut S2 sama lanjutuuin kerjaan bokap abis tuh nikah."


"Tau Lo punya usaha orang tua kenapa lo kerja tempat lain dan kalo kata gue nurut bagus sih." Kata Ria sambil tersenyum tipis.


Cakra berdiri mematikan puntung rokoknya.


"Iyaa nurut aja kali ya, ntar nungguin gue ya, gue bakalan lamar Lo Ri!"


Deg..


Laah kok gitu, bukan gitu arti sarannya.


Ria tak bisa menjawabnya Cakra juga pergi meninggalkannya sendiria tau dia malah berdiri di sampingnya.


"Lo cantik pake jilbab. Gue suka."


Ria menoleh dan mengerjapkan matanya.


Triiing.....

__ADS_1


Telpon dari Shaka.


"Aelah... Pas amat nih orang." Miria mengangkatnya saat memastikan tak ada orang.


"Aku gak bisa pulang sama kamu kamu pulang sama pak Tony ya."


"Eh gak usah aku naik taksi aja." Shaka menatap pekerjaan diatas meja kerjanya masalahnya harus ada yang ia urus di tempat tongkrongannya masalah alat fitnes juga beberapa ps yang rusak.


"Ehm iyaa buat hari ini gak papa. Kamu mau mampir tempat ayah atau nginep sama Ciko?" tanya Shaka


"Ehm enggak kayaknya, sekarang isrinya kak Damar ada di rumah kakak juga sering pulang kerumah. Kalo kakak ada urusan luar kota baru Aku sering meriksa Cio ke bu arum." Jelasnya.


"Oh ok, hati-hati, maaf ya."


"Iya." Saat itu telpon tertutup dan Ria berbalik masuk dan ketika itu Shaka langsung menyelesaikan tugasnya dan selesai langsung pergi ketempat tongkrongan yang ia kelola menjadi tempat penghasilan ada juga yang menambahkan barang dagangan seperti air minum, handuk ataupun sabun, sampo, sepatu olahraga atau pakaian olah raga lainnya dan ada juga penyajian makanan jadi atau makanan yang di buat dengan air panas juga ada lemari minuman dingin untuk orang-orang yang bermain ps.


***


Keluar dari resto saat pesanan ojolnya datang. Miria menghampirinya dan di kasih helem.


Sepanjang jalannya hanya diam tiba-tiba motor rem mendadak.


"Ehh pak kenapa?" kaget Miria.


"Ini mobil depan maaf ya neng, ada yang luka gak?" Kata ojol tadi takutnya Miria terluka karena ia rem mendadak.


"Eh enggak pak."


Lanjut jalan eh tapi, berhenti lagi.


"Ria!"


Sekelompok orang yang didepannya gadis cantik Ria kenal suara yang memanggilnya Yuma.


Ojol tadi ketakutan dan meminta Ria turun.


"Kita jalan aja pak gak papa kalo kenapa-kenapa saya tanggung jawab."


"Maaf neng saya gak mau dapet masalah lagi, saya laki lagi dan mereka preman perempuan di jalan ini saya mau cari nafkah aman." Ria turun meberikan helem dan jumlah uang tunai yang sama sesuai aplikasi.


"Separuh aja neng." Kata Ojolnya.


"Gak papa pak buat bapak sama istri aja atau ini buat anak bapak yang ada di layar hp bapak. Makasih ya pak sekarang bapak cepet pergi aja." Ojol tadi langsung pergi meninggalkan Ria sendiri.


Segerombolan teman-temna preman Yuma mendekat.


"Lo bisa gak gak usah cari masalah di kampus kalo lo mau tennag di keidupan sebelum Lo deket Shaka. Dan gak usik Bion."


"Bukan Gueyang usik tapi Bion yang brengs*k!" bela Ria.


Plaaak...


Wanita paruh baya menampar Ria sekeras mungkin sampai terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2