
Katakan jangan iri untuk setiap hal berat yang di lalui bersama nya, iri pada hal ringan itu bukan tantangan tapi alasan beristrirahat dari tantangan berat.
Lebih baik besar berat dan menantang, tantangan itu agar orang tahu dan sadar jika ingin berada di posisi terbaik jalur yang di lalui itu tak mudah.
***
Bangun di pagi hari yang lumayan masih terlihat gelap setelah sholat subuh Miria langsung bersiap untuk memulai hari ini walau gempuran dari Shaka semalam memang tidak bisa Miria bayangkan semangatnya.
"Kamu capek banget Ri." Ketika masuk dapur melihat wajah Miria lelah.
"Hehe gak papa cuman kurang tidur aja." Zavina tersenyum seperti ahu maksud dari ucapan Miria tentang kurang tidur, Miria malu saat melihat jika Zavina tersenyum seperti tahu sesuatu.
"Miria kamu siapin aja itu kopi buat Shaka." Kata Vina melihat Shaka yang turun dari kamarnya.
Miria mengangguk, langsung menyiapkannya.
Saat sudah siap dan akan ia letakkan di meja makan depan Shaka ponsel Miria bergetar.
"Kenapa?" Tanya Shaka saat melihat eksprsi Miria membaca pesan dari sekolahan Ciko.
"Eh anu enggak... Apa-apa." Katanya langsung berjalan kedapur.
Shaka diam dan melihat Miria langsung naik keatas kamarnya dan keluar lagi pakaian rapi.
Shaka diam saja memperhatikannya.
Shaka merasa Miria menyembunyikan hal yang tak mau ia beritahukan padanya.
***
Berangkat ke sekolahan Ciko pagi ini karena Ciko punya masalah dan guru pun belom bisa memberi Ciko peringatan. Mempertimbangkan dia anak kurang mampu dan kebetulan punya beasiswa jadi guru memanggil walinya.
Miria yang setiap ada masalah datang kesekolah Ciko ia yang di undang.
"Permisi..." Miria sampai di sekolah Ciko dan masuk ruang kepala sekolah.
Lalu ada beberapa orang didalam sana Ciko juga tampilannya lusuh dan berantakan.
Bukannya istri Bang Damar ada apa Ciko yang susah di aturnya.
"Maaf pak..." Kepala sekolah yang dekat dengan Miria meminta Miria duduk dulu.
Langsung duduk dan menyapa senyuman pada orang yang ada didalam ruangan kepala sekolah.
"Miria ibu gak teralalu mempersalahkan kesalahan Ciko tapi, kata mereka Ciko yang buat anak-anak mereka jadi kayak gitu." Miria menoleh ke tiga anak yang duduk di samping ibunya masing-masing.
"Lalu?" Miria menatap kepala sekolah lagi.
Kepala sekolah memberikan vidio cctv yang mana kebanarannya itu ada di sana dan Ciko sama sekali tak salah.
__ADS_1
"Ehm... Ciko minta maaf ya, ayo dek." Kata Miria.
Ciko menatap ketiganya.
"Maaf Gio Diki Sevan," ucap nya menatap ketiganya dengan wajah tertunduk.
Sebenarnya kedua tangan Ciko mengepal kuat.
"Nah sudah Ibu-ibu... sekarang masalah selesai adik saya mengakui kesalahannya."
Miria tersenyum dan menatap ketiganya ramah.
"Gitu aja dari tadi kenapa susah banget." ata ibu dengan anak bernama Diki.
"Iya aku cape banget di ruangan ini. Masa Ciko mau minta maaf aja panggilin kakaknya." Dii menimpali ucapan iunya.
"Kalian kasta rendahan harusnya ingat kalo kami itu gak bisa di remehkan kami minta maaf tidak bisa." Kata i unya Saven.
Saven terenyum remeh bersama Gio dan ibunya.
Miria sebenarnya berharap mereka tak mengatakan hal itu setelah Ciko meminta maaf pada mereka tapi mereka malah mengatakan hal yang membuat Miria merasa jika enam orang itu melukai harga diri adiknya.
"Miria berdiri dan meminta kepala sekolah mngizinkan ciko pulang hari ini.
Kepala sekolah menetujuinya
"Hihi dasar miskin susah sih ngelawan kita." Kata ibunya Saven.
Setelah kepala sekolah sendirian. Telponnya terbukan dengan pesan masuk.
"Jika rapat selesai hubungi saya segera." Kepala sekolah langsung menelpon orang yang mengirim pesan itu.
"Hallo pak."
"Jelaskan bu," katanya di sebrang sana terdengar sangat datar dan pelan.
***
Hari ini sama cerahnya yang kemarin kalo gak hujan.
Di taman dekat mini market. Miria mengajak Ciko makan eskrim dan juga membelikannya jajanan yang Ciko mau.
"Kenapa kamu gak pukul aja kepalanya!" Kata Ria tiba-tiba.
Ciko terdiam.
"Males kak, mereka itu sombong banget kalo dah sombong bawa nama orang tua mereka dan bilang mereka bisa beli banyak pengawal dan juga tukang jagal buat jagain mereka."
Miria tertawa.
__ADS_1
"Itu gak banget buat anak-anak kayak kalian!" Kata Miria masih sedikit geli membayangkannya.
"Yaa mereka itu tiap hari cari masalah dan karena aku hampir lempar pala Saven pake gagang sapu dia malah lari ke guru bilang aku nganiaya. Padahal mereka ganggu aku, aku dah diem aja.." Miria paham.
Mengusap kepala adiknya lembut.
"Kamu bisa berantakan gitu gimana?" Kata Miria. Ciko terdiam badannya gemetar.
"Tadi pagi Kak Lila dateng sama anaknya terus berangkat ngantwr anaknya abis aku sarapan kak Lila juga liat ayah di kamar di temenin abang Damar sambil nyapin ayah makan sama minum obat... tapi, tiba-tiba ayah ngamuk dan Kak Lila langsung di tarik bang Damar.. aku bantuin Abang buat nenangin ayah."
"Jadi seragamku kotor..." Miria mengangguk.
"Oh gitu, iyaa gak papa, Kakak kira Kak lila gak ngurus kamu atau kamu yang susah di urusnya karena gak ada kakak."
"Enggak kak, Kak lila baik banget! Kak lila sering buatin susu sebelum tidur sama Kayak Miel atau Silla, terus kalo buat sarapan aku di samain kayak Miel sama Silla."
Miria tersenyum mengangguk.
"Kamu tiap hari di gangguin mereka?" Tanya Miria tiba-tiba.
"Ehmm... kalo aku lagi gak ketemu mereka ya aku gak di gangguin." Kata Ciko jujur.
"Di sekolah?" Ciko menggeleng.
"Miria.." Namanya di panggil seseorang di belakangnya.
"Eh... Bang Shaka?" Ciko langsung bersembunyi di belakang Miria.
"Hay?"
"Ciko lama gak ketemu, gimana kabar kamu?"
Ciko memperlihatkan wajahnya sedikit.
"Aku sehat." Perlahan Ciko mendekat saat mata Miria mengisyaratkan, jangan bersikap seperti itu gak sopan.
Ciko mendekat ke Shaka dan mencium tangannya.
"Aku dah tahu kamu kemana pagi tadi, kamu mau gimana?" Kata Shaka langsung tanpa basa basi.
"Aku...
"Aku gak tahu, Dek.. kamu mau pindah sekolah atau kamu mau sampe selesai, Kalo sampe selesai ikutin kata Kak Shaka ya?" Kata Miria.
Ciko tak mengerti.
Miria menatap Shaka.
"Ciko.. Kakak kamu sayang sama kamu dan Abang juga sayang sama Ciko juga jadi, Ciko harus buktiin kalo mereka gak ada apa-apa nya di bandingin ini," ucap Shaka menunjuk kepala dan hati Ciko.
__ADS_1
"Abang berteman sama kepala sekolah jadi apapun yang terjadi sama kamu langsung sampe ke telinga abang, Abang janji bakalan dateng buat kamu kalo mereka kelewatan lagi sama kamu, jangan takut sama mereka yang punya kekuasaan gak seberapa itu, kamu masih punya Allah sama Sholat kamu."
Ciko tersenyum mengangguk.