Anxietas

Anxietas
Membenarkan kesalah pahaman


__ADS_3

Miria yang marah melempar semua bantal dan guling bahkan selimut dan seprainya juga.


Shaka pun di tamparnya saat akan memeluknya.


"maaf!"


Miria menggeleng.


"Telen maaf maaf itu buat kamu sendiri, apa aku masih banyak yang kurang?"


"Maaf." jawab Shaka hanya kata itu saja.


"Kamu bilang maaf maaf aku mau kamu jawab pake jawaban yang lain, bisa gak bilang alesannya apa oh! Aku tahu, kamu ngira saking maunya aku hamil buat hubungan kita direstuin eyang kamu sampe dengerin alesan omongan bahkan setiap, kata yang keluar dari mulut Indri kemaren kamu dengerin baik-baik."


"Enggak aku gak gitu... Maksudku aku masih mau liat kamu sehat.."


"Kamu pikir ak-ku gilaa? Iya... Bener-bener keterlaluan kamu Shaka!"


"Miria dengarin aku ngomong sebentar aja, jangan marah dulu."


"Apaa! Kamu mau ngomong apa, kamu dah bilang gitu, kamu bahkan percaya omongan mereka di bandingin apa yang udah aku lakuin, cuman karena aku gak ngalamin hal ngerepotin kayak ibu hamil di tiga bulan pertama... Bukan berarti aku hamil palsu atau aku gak normal!"


Shaka makin tertekan ia bingung kenapa lidahnya sulit sekali mengatakan hal yang bisa meredakan amarah Miria.


"Jauh dari aku!" mendorong Shaka dan pergi seketika perutnya keram. Miria berlutut memegangi pelutnya.


Shaka melihat tangan Miria hampir meremas perunya.


"Aku mau ngomong ama kamu sebentar." Tangan Shaka memegang kedua tangan Ria hampir meremas perutnya.


"Aku bilang keluar! Kamu keluar!" Shaka tak mendengarkannya dan tetap ada di dekat Miria.


"Miria..." Pelan. Miria menoleh Ke Shaka.


"Aku akan bilang klo aku batalin pernikahan ini.."


"Pergi!" Tegas Miria. Menjauh dari Shaka.


Shaka sudah di batasnya. Shaka tak bisa menahannya lagi.


"Enggak!" Tegas Shaka seketika Miria diam patuh.


Suara bentakan penolakan Shaka seakan seperti aba-aba siap di telinga Miria.


Miria patuh di tuntun ke kasur di dudukkan perlahan bersandar pada kepala kasur.


Shaka membuka jasnya dan menelpon seseorang. Miria masih memperhatikan apa yang Shaka lakukan.


"Ale.. Lo beresin semua sekarang atau gue gak akan pernah waras lagi..." Setelah telpon tersambung tanpa basa basi ia langsung bicara panjang.


"Gue bilang juga apa! Lo harus ngambil keputusan beg*! Tol*l sih! Batu banget di bilanginnya."

__ADS_1


Seketika itu Alezer mendengar suara telpon putus.


"Belom kelar ngomong dah diputus, dasar gak waras."


Ale menatap pintu mobil dan seketika itu masuk wanita tua yang masih terlihat cantik, yah... karena uang, setua apapun bisa terlihat awet muda, bukan.


"Kita berangkat sekarang Alezer." Kata wanita itu dengan lembut.


Ale mengangguk dan menjalankan mobil mewahnya.


Shaka yang menutup sambungan telponnya seketika itu tak lama setelahnya Ale datang ke rumah papa Shaka.


Membawa seorang wanita dengan pakain sopan di sebelahnya, semua mata keluarga Eyang dan mata keluarga Indri membulat sempurna.


"Ningsih?" Papa Shaka kenal siapa perempuan di samping anak muda yang sepertinya seumuran dengan Shaka.


"Selmat siang Yanuar. Saya gak mengganggu kalian kan, langsung saja aku bilang sesuatu.. Anak ku sengaja datang kemari karena tahu Indri ada disini dia sengaja meminta menikah dengan Shaka itu karena orang tuanya punya hutang besar dengan keluargaku."


" Tidak!" kata ibu Indri berteriak menyela ucapan ibu Alezer.


"Tunggu dan diam semuanya." kata paapanya Shaka penuh penekanan. Eyang terduduk lemas, fakta ini memang nyata. Salah seorang yang Alezer baw adalah ibunya dn di ikuti mobil lain saat datang adalah mobil ibunya yang di kemudikan asisten ibunya Ale.


Asisten itu maju menyerahkan berkas pada ibunya Alezer.


"Kalian bisa lihat semua daftar pinjaman pribadi perusahaan hingga membawa lari barang berharga putraku lalu menjualnya." Melirik Eyang yang menatap Ibu Alezer dan menatap keluarga besar indri juga Indri dengan remeh.


Bukti nyata hingga ada rekaman suara percakapan semua hal dimana saat Indri dan eluaganya bersikap layaknya seorang benalu yang merusak inangnya.


Eyang menatap Indri dengan tatapan penuh kebencian.


"Selesaikan urusan kalian dan kau, juga Indri pergi dari rumah putraku!" Seketika Eyang pingsan.


Sesak nafasnya sudah tak bisa di tahan lagi.


Zavina langsung membawa Eyang masuk kedalam kamar di bantu bibi dan lainnya.


"Bereskan semua barangmu dan pergi!" Kata Alezer menatap Indri.


"Hah! Apa! Enggak! Om!"


Papa Shaka mengangkat tangannya membuat Indri berhenti memanggilanya.


"Alezer... kamu teman Shaka... kamu dekat dengannya... Kamu pasti tahu siapa Indri... kamu teman yang baik terimakasih membuka jalan ini, aku boleh minta padamu, urus wanita ini!"


Dengan tatapan benci dan juga mengalihkan wajahnya dri wajah Indri.


"Dengan senang hati om." Ale mengangguk dan menatap Indri dengan senyuman miring.


***


Batal dengan perjodohan ini bukan karena kabar kehamilan tapi, Alezer yang melempar bom dan meledak kan nya dengan lilin kecil.

__ADS_1


"Miria..." Tidak menoleh menatap Shaka yang memanggilnya.


"Semua selesai sebelum nikah kamu bisa tenang sekarang."


"Keluar!"


Shaka menghela nafasnya.


"Aku tahu kamu dah periksa kehamilan dan anak kita kembar.." Miria menoleh dengan cepat.


"Aku gak bermaksud seneng tapi, aku lebih takut, kamu dalam bahaya, kembar tiga itu bukan hamil yang gampang juga enak, kamu paham kan kenapa aku harus ngelakuin ini, kamu dulu minta aku milih indri takut anak ini bukan jalan keluar kita tetep bareng, sekarang kamu sedih kecewa, aku berulang kali tanya, iya.. Udahannya sekarang aku salah kenapa aku ngelakuin kemauan eyang..."


"Kamu itu emang kembar tiga dari awal kamu periksa cuman aku gak tahu jenis kelaminnya apa... Alezer Mikaila sama lainnya dah bantuin aku buat cari alasan bagus supaya perjodohan bener-bener sampai sini... Di bawah mungkin ada Alezer sama Mamanya, Mereka juga korbannya Indri... Sekarang bukan Alezer yang mau kita bahas tapi, salah paham kamu sama aku yang ngira aku dengerin semua alasan dan ucapan Indri."


Shaka mulai menceritakan bagaimana semuanya terjadi dan saat sudah ceritanya Miria menatap Shaka.


"Aku.." Miria merasa bersalah.


Shaka memegang kedua tangan Miria.


"Semua dah lewat, aku maafin kamu sekarang nurut apa kata aku, kamu jangan ragu lagi sama aku, aku udah pertimbangin semuanya kalo aku dah ambil keputusan yang gak bakalan ngerugiin kita atau kamu atau mereka yang di perut kamu, aku emang keliatan gak terlalu menyakinkan buat kamu sekarang tapi, aku sadar sepenuhnya, aku mohon jangan kayak tadi lagi ya," ucapnya menatap Miria lembut dan sedih.


Miria mengangguk dengan wajah tertunduk malu.


"Aku hampir ngeluarin kata yang gak baik buat kamu, jangan ulangin lagi ya." Miria mengangguk lagi.


Di luar sana Cakra yang bertemu dengan Yuki sedang membicarakan orang yang Cakra suka dan kebetulan juga Mikaila ada bersama Yuki.


Mikaila paham arah pembicaraan Cakra teman masa kecil Yuki ini.


"Restoran ini Shaka yang urus.. dan beberapa hari juga pegawai namanya Miria ngambil cuti panjang dan itu pun mirip cuti hamil."


Mikaila dan Yuki berdehem pelan.


"Aku curiga kenapa Miria ngejauhin aku dan dia ngambil cuti hamil dan abistu ngambil shif malem lagi."


Kata-kata Cakra seolah curiga dan penasaran.


"Eh.. Ale telpon gue.. Keknya Gue harus pergi, Cakra Yuki gue..."


"Eh.. Cakra gue mau bareng Mikaila... Lo kalo ada apa-apa telpon atau kirim pesan ke gue... Ok.. Gue masih dapet skor gak boelh nyetir sendiri."


Cakra menatap keduanya.


"Oh.. gitu.. Yaa gak masalah... hati-hati...Yuki!"


Yuki Melambai!


Keduanya masuk kedalam mobil.


"Gue gak bisa bohong sama Cakra kalo sampe dia tanya macem-macem." Kata Yuki.

__ADS_1


"Emang Lo aja yang ngerasa gitu gue iya lah." kata Mikaila.


Memang semuanya harus tutup mulut untuk hubungan Shaka dan Miria dan di tambah Shaka tak masuk kerja padahal ia tipe rajin ke kantor restonya namun sudah di pastikan kalo ia membantu Alezer mengurus Indri dan ya Cakra jadi bicara begitu karena situasinya mirip.


__ADS_2