
"A-a-aku... gak maksud.. Aku minta maaf, Maaf Shaka.. Maaf mass aku gak aku gak akan gak stres.. aku-aku... cuman belum keluar aja iyaa, Asi nya belum lancar, nanti lancar kok, Maaf.. maaf jangan marahin aku, Aku minta maaf," ucapnya sambil menangis sekaligus kaget bingung karena kedatangan Shaka matanya menatap kiri kanan.
Belati tajam yang Miria miliki ada tanpa wujud perlahan menusuk dan menyayat perlahan perasaan Shaka.
Miria kaget Shaka tiba-tiba di belakangnya.
Shaka tak bisa lagi marah tapi, ia kadang lupa jika Miria memiliki trauma bentakan dan amarah walau sebenarnya Miria kuat menghadapinya, kadang ketika lemah ia jadi seperti ini.
Ia duduk di lantai saking lemasnya kakinya menatap Shaka yang mendekatinya.
Shaka tak melakukan apapun tapi, Miria sangat takut.
"Maaf maaf..."
"Enggak... bukan, bukan kamu yang salah, aku... aku yang bohong aku yang salah.. aku minta maaf nanti juga asi nya keluar, jangan marahin aku ya.. aku janji." Miria menangis. Kedua telapak tangannya saling telungkup dan memohon agar Shaka tak marah tak meninggalkannya.
Shaka tak bisa menahan air matanya.
"Sayang."
Shaka menatap kedua mata Miria dengan nada lembutnya. Miria terdiam dan perlahan menatap Shaka. Beberapa detik kemudian wajah Miria datar dan diam tatapan kosong ke lantai, air mata mengalir deras.
Miria menatap Shaka dengan mata basahnya mundur kebelakang menjauhi tangan Shaka.
Shaka berlutut dan memegang bahu Miria membantunya bangkit dan menuntunnya duduk di kursi Shaka berlutut lagi di lantai dengan kedua tangan diatas pangkuan Ria.
"Maaf maafin aku, Maas aku salah maaf aku gak jujur maaf aku gak tahu kenapa air susunya gak keluar... maaf.. maa..."
"Heh.. eh... Tenang.. tenang dulu, aku gak marah aku gak benci aku cuman pengen ketemu kamu liat kamu, Kamu jangan gitu sayang, kamu ketakutan..." Shaka sekuat tenaga sabar dan menahan air matanya.
Shaka menarik Miria ke pelukannya tanpa aba-aba membuatnya langsung menangis memeluk Shaka.
"Nangis...nangis aja gak papa..." Shaka tak tahu kalo Miria yang ketakutan dengan kemarahannya bisa seperti ini dan ini membuat Shaka bingung.
Shaka awalnya tak melihat lagi Miria seperti ini setelah kejadian jilbabnya di lepas paksa.
Tapi, kenapa sekarang lagi-lagi ia melihatnya.
"Ampun ampun... ampun mass.. Ampun ayah... aku gak akan bohong lagi maaf, maaf..."
Shaka terkejut.
Mengusap bahu dan punggung belakang Miria.
Semenjak Shaka pergi Miria hanya bisa menangis. Tak bisa bayangkan kalo ia menjadi alasan trauma Miria kambuh lagi.
Tak bisa tenang Shaka menarik Miria ke pelukannya.
"Maaf Sayang aku yang harus nya minta maaf."
Menangis, menangis saja yang bisa Maria lakukan.
__ADS_1
Ia tak bisa bilang apapun ia sangat takut dengan amarah dan kebencian orang lain atau orang terdekatnya.
Walaupun sudah berusaha untuk tetap tegar tetap saja ia tak bisa kembali melupakan teraumanya saat sesuatu yang padat ia tekan maka akan meledak seketika di waktu yang tak bisa ia prediksi sama sekali,
dan Trauma apapun itu bentakan dan tatapan marah yang paling ia tak suka bisa ia lihat di wajah Shaka tadi pagi.
Terpaksa Zavina mencari susu formula yang paling bagus untuk si kembar.
Karena Shaka membuat Miria stres dan air susunya sama sekali tak keluar bahkan Miria tak mau makan banyak.
Sampai tiga hari berlalu, saat tak ada siapapun. Miria bangun dan melihat ke luar jendela.
"Dah di bilangin nikah itu gak mudah... sekarang kenapa rasanya gak nyaman."
"Aku salah mulu, Aku yang salah, sekarang anak-anak gak ada yang bisa aku kasih susu, aku ibu gak guna.."
"Miria..." Menarik dan menutup jendela.
"Aku mau mati aja, mati aja," ucapnya seketika Shaka memegang lengannya menahan kedua tangannya menyakiti dirinya dan meminta Miria tenang.
Shaka tak suka jika seperti ini.
"Hey.. lihat.. aku, aku sembuh karena kamu, aku sembuh jadi kamu harus sembuh Buat mereka, anak kita Arzen Janendra sama Abian, yaa kamu sayang kan sama mereka kamu ibunya, kamu harus ada buat mereka, sekarang aku temenin kamu sembuh jangan negatif thingking lagi."
Miria menatap shaka mengangguk.
***
Bahkan berkahnya ada, yaitu air susu ibu Miria berlimpah.
Bahkan terlihat si kembar makin gemuk.
"Aku minta maaf, aku janji gak akan buat kamu Stres lagi, aku gak bisa ngendaliin emosiku waktu itu maafin aku," ucap Shaka saat miria terlelap dalam pelukannya setelah menyusui si kembar dan sekarang hanya tidur untuk menghilangkan penas pikiran dan tubuh.
Pagi yang cerah ini Miria bangun dan bersiap dengan kegiatannya yang super sibuk bahkan Shaka sekarang mulai mengurus banyak usaha Papa dan juga usaha milik teman-teman nya yang di ketua Shaka.
Geng yang di ketuai Shaka itu memang tertutup soal nama karena sensitifnya nama itu, salah menyebut di waktu tak tepat bisa berakibat tak baik jadi tak ada nama geng, anggap saja gitu pikur semua temannya.
Shakabangun dari tidurnya melihat Miria menyediakan setelan kerjanya dan juga mempersiapkan kebutuhan kampusnya.
Miria juga bersiap dengan kuliah onlinenya.
Ya semenjak melahirkan miria sudah di rumah dan bahkan saat cuti hamil pelan-pelan Shaka minta ia kuliah daring.
"Kenapa susah banget!" Kesalnya setelah mandi dan sudah berpakaian rapi, Shaka tak bisa mengikat tali sepatu dnegan benar.
"Kamu salah sini.." Mengambil alih dan mengikat kencang.
"Loh.. biasanya aku gitu tapi, gak kenceng aja, makasih sayangku."
"Hem..." Balas Miria.
__ADS_1
"Apa itu hem!"
"Yaudah berangkat sana!"
"Gak mau apaan berangkat sana, suami lo ini durhaka nanti!"
"His.. males lah, aku mau ke si kembar.."
"Awas yaa.. liat aja si kembar aku ungsiin..."
Miria menoleh galak.
"Apa.. ungiin apa, kamu mau mulai lagi, aku lagi sehat loh ink, ntar kamu uring-uringan aku kayak waktu itu!"
"Enggak Sayang enggak..."
Shaka memberikan tangannya dan memberikan kecupan di dahi Miria saat Miria selesai mencium tangannya.
Di kamar ketiga putranya.
"Papa..papappa.." Janendra.
"Paah... pah!" Teriak arzen.
"Maah.. Mamamam hehe."
"Abi.. manggil papa Lah bi, Mama mulu kamu mah!"
"Dah keburu telat sana." Shaka bercanda dan mendekati tiga putranya memberikan kecupan di kedua pipi masing-masing nya.
"Papa berangkat sayang, mau jemput nafkah buat kalian biar jadj anak orang kaya."
Miria menggeleng.
"Sengklek otak papa kalian kadang buat mama gak habis mikir, Sayang sini main apa," ucap Miria memanggil arzen di pojokan.
Miria yang pergi ke supermarket di temani bibi dan tiga anaknya di jaga papa dan pelayan rumah.
Aslinya Miria tak mau tapi, papa kekeh meminta Miria pergi belanja bahkan ia di kasih pegangan kartu kredit mertuanya, Astagfirullah... banyak kali Miria menyebutnya.
Bagaimana tidak.
Di luar sana banyak yang sayang-sayang memberikannya pada menantu perempuan ini malah suruh habiskan.
"Bi.. mau beli baju gak, aku beliin pake uang papa, tenang gak potong gaji."
Bibi menganggu malu, cboleh neng sekalian cucu anak bibi."
"Ok kita beli bi."
Kagetnya Cakra melihat bibi rumah Shaka bisa pergi dengan Miria. Apa ia tak salah lihat.
__ADS_1