Anxietas

Anxietas
Penyembuhan


__ADS_3

Shaka paham itu semakin perempuan nyaman dengan lelakinya semakin jengkelin sifatnya. Kalo masalah di luar kendali Shaka, shaka gak bisa lakuin semuanya tapi, bisa Shaka berusaha menjaga keluarga kecilnya dari masalah itu gak mudah dan tetap butuh Allah.


***


Mengingat masa-masa dimana mereka pertama bertemu dan sekarang mereka sudah punya tiga putra sekaligus membuat Shaka tak percaya kalo ia sudah menjadi sosok ayah.


Malam berlalu dengan begitu saja. Namun kekhawatiran Miria tentang Syena masih tergambar jelas dan semakin menakutkan memikirkan kemungkinannya.


Sampi pagi tiba Miria bangun lebih dulu dan mempersiapkan segalanya sampai akhirnya jam setengh tujuh pagi.


Suara ketukan dan pintu terbuka oleh bibi.


Tamu yang di buka kan pintuny oleh bibi masuk dan siapa sangka jika tamu yang tak Miria harapkan kehadirannya akhirnya datang.


"Syena?"


Miria tekejut dan semua di meja makan terdiam seketika putranya juga diam.


Syena diantar bii ke ruang makn dan Miria sudah tahu Syena datang dari sebelum ia datang ke ruang makan karena ruang tamu yang luas dengan ruang keluarga itu sudah terlihat siapa tamunya dari lemari kaca besar yang didalamya banyak sekali koleksi kramik dan benda terbuat dari kaca kerisal, Lemari kaca besar tembus pandang bening.


Melihat semuanya terdiam Miria menatap Syena dengan datar. Syena mengangguk samar sungkan.


Langsung mengatakan tanpa basa basi.


"Maaf kalo bertamu kurang sopan, gue-gue mau ketemu Miria sebentar bisa?"


Shaka mengangguk.


Miriayang masih berdiri sebelah Shaka.


Tangan Shaka memegang tangan Miria yang memegang sendok selai.


Miria menoleh.


Mereka berdua pergi ke ruang tamu dan Shaka berdiri menggantikan membuat roti selai empat tumpuk dengn empt rasa yang masing-masing tiga anaknya suka dan ketignya suka rasa berbeda.


"Miria gue minta maaf ama omongan gue waktu itu, gue rasa lo anggep omongan gue serius dan lo berpikir aneh-aneh kan ya?"


Miria mengangguk.


"Bener dugaan gue apa," ucapnya mengepal memukul pahanya malu menatap Miria yang ternyata menatapnya bingung. "Miria gue lagi ada tugas dari suami lo dan gue dokter."


"Dokter?" Miria tak terlalu percaya tapi meliht wajah bahkan mata Syena menjelaskan segalnya Miria terdiam sendiri.


Syena menghela nfasnya mengangguk.


"Gue juga pernah liat tiga nak lo yang selalu buat wajahnya berubah seceria itu dan saat lo sendiri lo ngelaun, maaf gue mata-matain lo, waktu itu gue mau minta maaf lo dari omongan gue di kantor polisi dan lagi, gue... sakit, gue gak bisa liat mereka dari deket, takutnya sakit gue nular dan tiga tahun ini gue juga lagi mulihin kondisi gue, gue habis sakit Alergi yang belum pernah ada sebelumnya kemren gue ada di depan rumah lo dan gue liat anak lo liat gue tapi ada telpon masuk gue tunda masuk dan milih pergi."

__ADS_1


Miria mengerutkan keningnya.


"Lo masih mikir gue bakalan ambil semuanya dari lo?" pertanyaan menebak.


Miria mentap diam.


"Enggk Ri, gue emang gini orangnya, gue tahu lo orangnya lembut banget anget deh... sorry dah buat lo ke pikiran tapi, sejujurnya gue juga gak bisa bohong kalo gue tertarik sama suami lo tapi, lo adalah ibu yang baik juga istri yang baik. Gue cuman bisa mimpi dan sadar dengan kenyataan, kalo gue belum tentu bisa kek lo. Gue pamit ya. Gue rasa kekhawatiran lo tanpa sebab pasti itu pelan-pelan bisa lo hilangin kalo lo cuek dan percaya ama keyakinan lo... tapi, lo orang yang gak mudah cuek susah juga."


Syena berdiri Miria merubah tatapannya menjadi merasa bersalah.


"Gue pamit ya.."


"Gue mint maaf juga yaa gue negatif tingkhing sama lo."


" okay aja sih gak masalah emang orang yang punya trauma bahkan kepanikan yang buruk di tambah punya kekhawatiran gak beralasan, emang gitu, santuy.."


"eh... Iya Syena mkasih banget ya." Syena tersenyum dan mengangguk pergi lalu kembali lagi.


"Sorry lupa gue, mainan buat si kembar gue mampir sebelum kesini gue juga suka anak kecil. Gue harap lo maafin kelakuan gak sopan gue."


Syena pergi setelah memberikan itu dan Miria awalnya menolak api, melihat wajah Syena Miria jadi tak nyaman akhirnya Miria menerima dengan senang hati dan meminta si kembar menayalami Syena.


Miria memegang mobil mobilan kecil dan masing-masing berisi tiga pasang yang semuanya dengan warna berbeda. Mobil kecil ini sangat mahal. Miria berbalik sambil membawa mobil-mobiln itu. Kekamar si kembar.


"Kamu fokus ke barang itu, aku ada di depanmu." Kata Shaka sebelum Miria melangkah maju kedepan dan menabraknya


"A.. Eh itu kenapa Syena bilang gitu, kamu mas yang punya ide itu. Kamu?" Miria panik langsung menglihkan namun, gugupnya menatap Shaka tak bisa di tutupi yang menatapnya dengan mata tajam juga wajah mengejek.


"Iyaa, ternyata itu berhasil dan selama tiga tahun kamu ngurus si kembar dengan baik kamu bahkan lupain anceman itu, aku juga gak bakalan mau sama yang lain selain kamu Miria."


Seketika itu Miria menatap lain arah dan mendehem.


"Apaan sih."


"Bukan apa-apa tapi, kamu berhasil sembuh pelan pelan dan tinggal kamu harus kuat mental sama suami kayak aku, lain kali terbuka aja sama aku tanpa ragu, kita itu saling mengobati kalo sakit."


"iyaa.."


"iya tapi, kamu tetep aja khawatir gak beralasan dan sampai buat kamu demam dan bahkan menelantarkan si kembar, kamu harus tahu air susu kamu waktu itu berhenti kamu stres berat walau aku jadi ngersa bersalah, sekarang kamu dah kembali normal walaupun gak sebaik perkiraan itu, dah cukup."


Shaka mengusap kepala Miria. Tiba-tiba pikiran tentang Miria dan Shaka datang di kepala Miria yang bilang tentang pernikahan selama setahun.


"Tunggu?"


"Apa?'' Tanya Shaka yang bingung.


"Pernikahan kita sampe tiga tahun dan gimana yang setahun? Aku dah siap kalo kamu mau..."

__ADS_1


"Kenapa itu di bahas lagi?" Shaka menghela nafasnya menarik Miria ke pelukannya.


"Gak jadi sayang, Gak akan ada lagi kontrak nikah, aku bilang cuman setahun itu dulu aku cuman mau mastiin kalo emang aku aku gak bisa punya hubungan tapi, sekrang beda, sekarang Aku dah bisa sama kamu selamanya."


"Tapi, kamu pasti kasihan kalo aku.."


"Enggak ada kasihan adanya rasa bangga satu rumah tangga sama kamu, dan ya sepakatan mama papa atau mama ayah, kadang kamu beruah ubah."


Shaka mengalihkannya dengan pembicaraan lain.


"Mama Ayah, Mama papa, terserah kamu aja.."


Miria menatap Shaka.


Terkekeh Shaka dibuatnya.


"aku mau ke kamar." Shaka tak melepaskannya dan menatap wajah miria.


"Kita keluar?"


Ajak Shaka pada Miria yang masih dalam pelukannya na seketika itu tiga anak kecil mendekat ke mereka sambil membawa masuk motor mainan mereka yang di hadiahkan Mikaila.


Mengamati sampai otak mereka berpikir.


"Nanti kepantai aja papa." Seru Abian paling awal paling keras.


"Enggak! ke mall aja pah." Tolak Arzen memilih ke Mall yang pasti banyak toko mainan dan game stationnya.


"Bukan ke mall ke luar negri aja.." seru datar Janen membuat Shaka menepuk dahinya.


"Abang!"


"Ih Dek?"


Abian dan Arzen menatap Janen yang ada di bagian kanan mereka berdua.


"ok kemana aja boleh tapi, tanya mama mau kemana?"


Shaka menengahi perkelahian ketiga putranya.


" enggak mama, pokoknyaa ya pantai.."


"Enggak pantai mah luar negri aja mamahh."


"Mall... Mall mamah mall aj pokoknya papa kasih uang aja biar mama yang belanja papa kerja aja terus sampe kita kaya raya."


Shaka menghela nafasnya.

__ADS_1


Tamat


__ADS_2