
"Anak haram dari hubungan terlarang itu gak pantes ada dirumah kita." Bentak ayahnya pada Miria yang masih kecil.
"Mas Miria itu anak kamu kamu pulang di tanggal ini dan kita tidur bersama sebelum mas pergi lagi dan pulang ya aku sudah melehairkan!" Kata mama.
Mama menyakinkan ayahnya Miria dengan tenaga dan juga mental juga perasaan yang kacau karena baru seminggu melahirkan suaminya menuduh hal buruk sampai Maria sudah mengerti ucapan orang dewasa.
"Halah bohong." Elak sang ayah setiap mamanya menjelaskan dengan biasa dan setiap hal itu di ungkit ayahnya, setiap ia marah pasti ada Miria didekatnya dan ayah selalu menatap benci Miria.
Setelah Ria delapan belas tahun hadir Ciko. Tapi Ciko tak pernah dimarah bahkan hanya diajari dengan sikap tegas dan lembut beda dengan Ria tak pernah dapat kasih sayang ayahnya hanya ada kekerasan dan tatapan jangan jadi lemah hanya di bentak dan di pukul.
Ria takut dengan ayahnya karena ayahnya selalu memukul dan membentak saat perintah yang ia berikan untuk Miria tak pernah benar.
Padahal Ria merasa tak ada yang salah, mungkin kesalahan sangat kecil dan itu bukan Miria tapi Ayahnya sendiri.
Sedih sepi sendiri tumbuh mandiri tak ada teman yang mau bermain dengannya sampai Ria tetap bermain berusaha berteman namun tetap di jauhi karena luka bakar di tangannya dan yang dimarah adalah mamanya tapi, Ria tahu ia yang salah tapi, ia tak akan marah pada mama dan main juga makan menggunakan tangan lainnya yang tak terluka.
Ayah pernah mendekati Ria karena luka bakar di tangan kanannya Ria di suapi ayahnya.
"Ria bisa ayah," ucap Ria kecil dengan wajah polosnya.
Tadinya sang mama yang mau menyuapinya tapi, Miria kecil bersikeras ingin makan sendiri.
Pemandangan sekali seumur hidup dan kasih sayang sekali seumur hidup Ria dapatkan saat kecil adalah makan di suapi ayah.
Jika Ciko dapat kasih sayang dari ayah begitu besar dan dari mama juga kasih sayang lebih banyak lagi, dari Damar juga tapi, Miria sama sekali tak mendapatkan hak kasih ayah sama seperti Damar dan Ciko.
Miria mirip dengan anak perempuan paling kuat seperti mental anak perempuan pertama.
Damar sebenarnya tak suka dewasanya Miria karena itu membuatnya menjadi kakak yang tak guna.
Tapi, itu membuat Damar paham kalo semua itu adalah masa kecil Miria yang tak bisa berkembang dengan baik dan dewsa sebelum puas dengan masa bermainnya.
***
Saat tertidurpun Ria kadang menangis begitu dalam.
Shaka awalnya terkejut tapi, sekarang ia terbiasa dan memilih memeluk dan menenangkannya lalu tangis itu berhenti.
Di pagi harinya Ria bangun dan lupa jika ia menangis.
Shaka juga tak bertanya tentang kejadian di mimpi Ria tiap Ria tidur sambil menangis.
***
__ADS_1
Melihat anak perempuan lain mendapat kasih sayang ayahnya
Sangat banyak dan berlimpah.
Terkadang membuat jiwa anak perempuan Ria iri besar.
Dalam hati selalu berbisik, aku juga mau seperti anak perempuan itu tapi, tidak bisa aku juga tak akan mendapatkannya.
Sikap menyerahnya dan harapan cinta ayah sangatlah tak berarti dan sama sekali hanya bisa di simpan tanpa bisa terwujud.
"Apa yang Papa mau lagi untuk makan siang nanti?" Tanya Zavina dengan senyuman yang manis.
Usapan di kepala Zavina membuat Ria sedih.
Ria juga mau di usap kepalanya oleh ayahnya tapi, sekarang tak akan bisa.
Selesai dengan pekerjaannya menyiapkan bekal untuk Shaka.
"Aku berangkat dulu kak, papa." Pamitnya saat pergi dengan mengucap salam dan mencium tangan yang paling tua darinya.
Dalam perjalanannya naik mobil dengan sopir papa tak lama akhirnya Ria sampai di tempat tongkrongan Shaka dan temannya ia turun dan melangkah masuk lalu tak melihat Qinan yang biasanya menyalakan musik k-pop ataupun Yuki Mika duduk sambil meundingkn masalah belanja onlinenya hanya ada Olva tapi, barangnya bukan orangnya.
Kemana orangnya?
Alezer memakai kaosnya dan jaketnya turun kebawah.
Ria tak perduli dengan Alezer ia terlihat cuek judes dan datar.
Ria melangkah duduk kedekat barang Olva tak lama olva turun dari lantai tiga.
"Eh Ria!" Sapa Olva lalu duduk dan menata rambutnya dan menggunakan hoddienya.
"Lo bawa apaan Ri, tumben gak sama shaka?"
Melihat seperinya itu bau masakan karena ada bau harum bumbu matang nya.
"Oh makan siang sekalian sarapannya." Shaka yang di cari ternyata tak ada.
Olva mengangguk dan membaca bukunya.
"Kak?" Olva menoleh.
"Iyaa? Nyari Shaka ya lo?" Tebak Olva langsung.
__ADS_1
"Ria.." Suara berat itu.
Menoleh keduanya kebelakang ternyata ada Shaka turun dari lantai tiga sepertinya.
"Shaka ada di atap benahin kamar di atap tempat penjaga gedung ini kadang anak laki-laki yang jaga Ri." Jelas Olva. Ria mengangguk kecil tersenyum.
"Ayo mau dimana?" Kata Shaka tahu kalo Ria ada perlu dengannya.
"Eh maaf ya Kak... Aku tinggal." Olva mengangguk dan memilih membuka laptopnya dan menonton drama kesukaannya.
Di atap di bawah tempat yang cukup teduh payung warna putih yang sepertinya baru di ganti dan kursi kayu lipat.
"Aku bawain ini buat..."
"Buat?" Tanya Shaka meledek.
"Iyaa iyaa gak usah di terusin." Ria menghela nafasnya menyediakannya dan memberikan pada Shaka bekalnya yang siap makan.
***
Sepertinya harus lebih sabar dengan Ria ini tak mudah juga tak sulit.
Shaka akan menunggu saat nya Ria mau dan Shaka tak bisa memaksa Ria buru-buru membuka hati untuknya.
Di layani dan di sambut sebagai seorang suami dan istri yang perhatian kesuaminya itu, bagi Shaka syukur alhamdulilah.
Jika saat itu tiba seluruh milik Shaka akan menjadi milik Miria dan Dunia Shaka yang memang sepenuhnya sudah Miria akan lebih banyak Miria di dalamya.
Mencintai sosok perempuan sederhana seperti Miria itu tak mudah untuk jaman sekarang.
Tapi Shaka beda.
Shaka akan tetap Suka perempuan yang sejak awal bertemu dengannya memberikan sikap baik tanpa kenal siapa orang itu dan tanpa wajah yang penuh senyuman ataupun Riasan.
Shaka akui dulu ia bertemu Miria dengan wajah alaminya bahkan tak ada lipstik tertempel di bibirnya atau bedak dan perawatan kulit.
Kulit Ria pun tak seputih sekarang dulu dia hitam dan bau sampah. Sekarang Ria yang jadi maha Siswa tak begitu lebih baik walau shaka juga tahu kalo Ria lebih memilih pewangi sabun cuci pakaian dari pada parfum.
Perempuan seperti itu sulit di temukan bahkan saat bersama suaminya ia selalu tampil cantik alami di luar dan didalam rumah ia lebih baik lagi cantiknya, karena ia hanya milik suaminya.
Namun, Satuhal dari Ria, Trauma dan ketakutan yang bahkan belum atau tak akan pernah terjadi, selalu saja ia takuti.
Shaka tahu itu. Sabar lebih lagi untuk Shaka dan masa depan yang segera ia capai harus sabar.
__ADS_1