
Saat akan meletakkan beberapa selimut ke dalam lemari tiba-tiba debaran jantung Miria semakin kencang dan keringat dingin rasa
gelisah menyerang dan mual.
Segera pergi meninggalkan selimut yang belum masuk lemari jatuh bernatakan di lantai.
"Apa gue hamil lagi gak mungkin." Berjalan sempoyongan keluar kamar mandi tanpa memuntahkan apapun dan saat berjalan keluar tak sengaja menyenggol benda diatas meja dekat pintu kamar mandi.
Shaka yang akan masuk mendengar suara benda jatuh mencari sumber dan melihat Miria berlutut di lantai.
"Miria." Berlari menghampiri dan membantunya berdiri. Di tuntun duduk di kursi dan memberikan air hangat.
"Kamu kena serangan panik?" Melihat gejala dan wajahnya. Shaka pernah mengalaminya tapi, tak separah ini.
"Coba tenang liat aku, tarik nafas... Gak papa semua gak papa, gak ada masalah, baik baik aja ok, sekarang pikirin semuanya baik baik aja..."
Miria mengangguk mengikuti ucapan Shaka dan tenang menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan.
"Minum.." Mengambilkan lagi air biasa dan Miria menerima dengan tangan yang dingin.
"Kamu kenapa tadi?" Menoleh kesana kemari lemari, Shaka melihat lemari milik si kembar berantakan dan selimutnya berserakan di bawah.
Shaka beranjak pergi tapi, tangan Miria lebih cepat menarik ya.
"Biarin dulu, tanganku dingin banget tangan kamu panas..." Shaka memberikan tangannya dan saling menghangatkan kedua tangannya.
"Aku kena serangan panik kok bisa.." Shaka menatapnya seketika mengusap kepalanya.
"Besok cari suster apa pegawai aja biar anak-anak ada yang jaga, kamu gak terlalu capek." Miria menggeleng.
"Enggak, Mas aku aja jagain anak-anak. " Shaka mengangguk terpaksa mengiyakan karena tatapan matanya itu membuat Shaka tak tega menolak lagi pula Miria memang lebih telaten kalo Shaka lihat sendiri bahkan waktu suami dan anak pun sangat miria perhatikan.
Tapi, untuk dirinya sendiri sama sekali tak bisa didapatkan.
"Besok kita keluar sebentar ke mana gitu berdua aja biar anak-anak di jagain bibi ama mb Jeni," ucapnya menoleh ke luar kamar.
"Gak ada penolakan." Kata Shaka saat Miria akan menolknya.
__ADS_1
"Dua tiga jam cukup buat kamu me time." Terpaksa Miria mengangguk dengan ucapan suaminya.
Di saat yang sama pagi ini Cakra terlihat sedih setelah membantu membuat beberapa pesanan.
"Bang Lo tahu ya, kalo Miria sama Shaka dah... nikah?" Juki menoleh dengan ucapan sekaligus pertanyaan itu.
"Ehm.. lebih tepatnya waktu pdkt itu gue dah ada di cerita mereka mau jadi pasangan halal."
Menghela nafasnya lagi dengan kasar.
"Ya elah brow.. frustasi banget dah kek nya, Nih Ka, Lo ganteng orang tua kaya apaan yang lo mau lo bisa minta tapi, lo malah kerja, lo itu juga gak kalah keren dari Shaka yang udah dapetin Miria. Walaupun bukan maksudnya kalo dapetin Miria keren sih."
"Bang gue suka, gue mau jadiin dia temen hidup gue selamanya, gue tahu Miria itu baik tapi, Gue gak bisa bilang gue baik, jadi gue nyari waktu yang tepat tapi, gue gak sempet bilang dan shaka dah dapetin duluan, rasanya aneh gak sih... gue bilang ikhlas tapi, rasanya gue gedek ama dendam."
"Lo kurang gesit."
"Gak gitu bang, gue cuman takut di tolak aja, gue juga pernah kek gitu ke cewek yaa gue di tolak."
"Lo ajak apaan bisa di tolak?"
"Ng*we... atau bokinghotel buat Ons."
"Ya ajak nikah Bang tapi, di bilang gak mau aku sama kamu, kaganya juga gue gak punya titel nama yang di pengen misal dokter sarjana hukum atau PNS."
"Lah mang titel lo apaan?"
"Males gue kasih tahu ntar gue di kirain sombong bang."
"Cck.. lo mah, dah lo gak sah mikirin kegagalan lo, Gue yakin Lo bakalan dapetin yang lebih baik asal Lo tahu porsi lo sampe mana."
Cakra mengangguk.
Juki memberikan es jeruk.
"Heean gue muka cakep kek lo masih takut di tolak lah kalo muka kek gue masih gak sadar diri dan percaya diri bakalan dapet yang cakep.
"Nyadar lo bang, heh." Juki mencibir.
__ADS_1
"Minum lo!" Cakra mengangguk dan mengambil rokok di sakunya.
"Ok thanks.. brow." Juki mengacungkan jempolnya. Cakra embali diam memikirkan dirinya ang kalah langkah tapi kian detik terlewati dengan perlahan Cakra berpikir dengan bik.
"gue salah kayaknya kalo tetep mikirin dia yang udah sama yang lain." Cakra meminum jus atau minuman segar yang Juki berikan tadi.
Kembali ia bekerja dan dirmah Miria istirahat setelh meminum obat milik Shaka yang belum lawa Shaka minu karena ia juga pernh mengalamii serangan paik. Shaka duduk menatap istrinya yang pulas.
Tidur setelah sholat isya tadi. Shaka tak tahu aapa laagi yang Miria pikirkan, sejauh ini shaka rasa Miria tidak baik,baik saja. Shaka senang Miria memperlihatkan siis lemahnya, semakin Shaka mencintai Miria semakin dalam Shaka mempertahankan Miria.
Dulu waktu di kampus Shaka itu pernah seperti itu sebelum papa tiba-tiba memintanya menikah dan itupun sehari sebelum papa mengatakan itu. Miria terlihat santai dan tenang membantunya lalu menemaninya sampai pulih di ruang kesehatan. Shaka tak tahu seberapa besar alasan Miria percaya kalo Shaka tepat dan Shaka juga tak keberatan jika Miria terlihat seperti orang depresi atau penyakitan sekarang berarti Miri meang telah membuka dirinya.
Pura-pura segalanya baik-baik saja. Pura-pura untuk rasa sedih yang sangat menyayat hati juga gangguan yang timbul di luar sana.
kediaman Cakra setelah pulang bekerja seketia itu papanya menamparnya.
"Loh orang meninggal bangkit dari kubur." Ucapan Cakra terdengar mengejek orang tua didepannya yang menyambut anaknya dengan tatapan dn tamparan keras sekaligus dendam terpendam.
Tamparan kedua di pipi satunya kembali nyaring sura itu terdengar. Bion dengan wajah yang pucat terlihat dengan mata yang menyipit.
"Sakit gak tuh."
Itu tamparan kedua adalah ucapan Caka yan tak pantas ke orang tuanya.
Apa itu didikan orang tua untuk anak yang bahkan tak pernah menerima kasih sayang ayah dalam umur nya yang sudah sangat lama
"Kamu liat adik kamu itu hampir dibunuh dan kamu masih meminta di main judi mau jadi apa kamu sebagai kakak seharusnya kamu itu menjaga dan membuat adikmu itu orang yang lebih baik."
"Udah?" tanya Cakra setelah sepi beberapa detik lalu.
"Anak kurang ajar." Ketika akan menampar ketiga kali putranya tangannya berhenti di udara dan mengambil vas di meja namun ditahan mamanya bion.
"Stop pah jangan udah, cukup, cakra baru pulang kamu jangan gitu sama anak itu dia juga harus bisa hidup supaya papa juga masih bisa proses warisan ayah yang mau jatuh ketangan cakra semua kalo sampe Cakra kenapa-kenapa dan pengacara ayah tahu kita gak bisa ngambi warisan itu."
"Haah... Kamu masuk kamar ganti pakaian dan makan." Cakra mendengus dan berjalan santai seperti tak terjadi aapun seperti tamparan barusan seperti lemparan tempe goreng panas a sengaja kena wajahnya dan dia sendiri yang melakukan itu.
Hidup Cakra sangat berantakan dan juga tak ada cahaya semenjak saat itu, saat melihat miria Cakra mulai bisa bercanda dengan hidupnya yang kejam tadinya ia hanya menanggapi hidup kejamnya dengan wajah datarnya dan perlahan tersenyum diam-diam tanpa siapa pun tahu dan juga sebelum pulang Cakra menyempatkan melihat Miria, sekarang ia akan kembali dengan kegelapannya.
__ADS_1
"Cih.."