Anxietas

Anxietas
Hati yang belum pas


__ADS_3

Miria meminum airnya pelan dan Shaka menutup tirai untuk bagian Miria.


"Kamu kenapa bisa kayak tadi, hem?" Menatap lembut.


Miria menghentikan minumnya duduk tegang memegang botol minum.


Ria menatap Shaka dengan mata masih berair dan wajahnya masih sedih.


Ria menatap Shaka seketika menunduk.


"Aku salah apa emang, kamu langsung berubah marah aku juga gak ngapa-ngapain sama mereka, aku gak suka mereka ngatain ibu, Biion... Bion tadi tarik jilbabnya dan kebuka maaf aku gak akan deket-deket lagi.." Shaka kembali mendekat dan merangkul Ria duduk dipinggir ranjang pasien samping Ria.


"Kamu jangan takut, aku gak akan mukul kamu.. kamu gak salah, Ri?" Pelan dan lembut.


Salah sekali Shaka bertanya sekarang.


Kenapa Shaka melihat sisi lmah ini secepat ini apa Miria sudah nyaman dan menunjukkan sisinya yang lemah?


Tapi, Shaka tak bisa yakin kalo Miria sudah percaya dengannya karena pernikahan hanya untuk permintaan papa dan Miria mau karena Shaka juga kurang paham apa alasannya mau menikah dengannya.


Ria merasa nyaman dan tidak takut saat ada di dekat Shaka.


Ria ingat jika ayahnya akan marah kalo mamanya berbuat salah sedikit.


"Sekarang kamu tahukan Shaka kenapa aku marah waktu kamu ajak aku nikah waktu itu." Shaka mengangguk.


Sedikit sesegukan saat bicara, Shaka memakluminya.


"Iyaa Tahu, makanya aku ajak kamu, selain kamu aku gak mau..."


"Padahal di luar sana banyak yang sehat, Shaka yang lebih sehat dari aku..." Shaka mengusap lengan atas Ria menyalurkan rasa nyaman.


Kata sehat yang di ulang dua kali dan di tunjukan untuk menyindir diri Ria sendiri yang kurang sehat.


"Aku gak mau mereka kalo aku maunya kamu... kamu gimanapun dan keliatan ketakutan kayak tadi... aku tetap milih kamu."


Ria sedikit merasa bahagia dengan ucaan shaka yang terkesan membuat Ria satu-satunya tapi, ia tetap tak bisa percaya kalo Shaka memang sudah menyukainya.


"Sekarang rapihin rambutnya pake jilbabnya. Olva beliin buat kamu." Kata Shaka seketika itu Ria melirik kantong kertas coklat disana.


"Mereka gerak cepet.. Qinan datengin aku dia ngeliat kamu hampir ngelempar kursi ke Bion jadi aku datang buat hentiin tapi, aku malah ngeliat kamu di permaluin." Shaka berhenti menjeda ucapannya menatap Ria beralih merapikan rambut istrinya dan memaikan dalaman jilbabnya.


"Kamu marah?" Tanya Ria hati-hati.

__ADS_1


"Iyaa...aku marah sama mereka dan Qinan sama Bima cepet bawa kamu pergi kalo gak kamu mungkin takut sama aku... Aku pukul dan hajar Bion sampai dia gak sadar..."


Ria tiba-tiba memeluk Shaka saat Shaka teliti merapikan rambut Ria..


Shaka tersenyum dan membalas pelukn Ria dengan kecupan di pucuk kepalanya.


***


Tidak tahu sejak kapan rasa aman itu muncul dan membuat Ria merasa nyaman dan terjaga.


Bahkan ia menggunakan Jilbab itu bukan paksaan dari Shaka melainkan tawaran Shaka dan Ria yang memang berniat menggunakannya sejak lama akhirnya memilih menggunakannya.


Ia memang ingin memakai jilbab lagi saat lulus Smp tapi, ketika ia memakai jilbab di rumah ia teringat ibu dan ayahnya bertengkar karena jilbab.


Ria tak siap, tidak ada yang bilang, Ria tak siap.


Ria hanya butuh waktu tapi, saat dengan Shaka seolah itu perintah mutlak dan tak terbantah makanya Ria suka menggunakannya untuk dirinya dan saat Bion menarik sampai lepas jilbabnya ia syok dan mengingat kejadian masa lalu.


Beruntung ada Shaka jika tidak mungkin Ria akan langsung tak tahu seperti apa.


Ria berterimakasih sudah didekatkan orang seperti Shaka.


Walau sebenarnya Ria belum bisa mencintai dan memberikan hatinya untuk Shaka.


Jujur jika selama ini beberapa hari menjadi istri, Ria tak bisa merasakan apapun dan hanya merasa kalo Shaka hanya perhatian dan dari dulu Shaka memang sedikit perduli dengannya.


Sekarangpun Shaka mengajak Miria keluar di malam hari sebelum pulang kerumah, dan hari ini juga Ria tak bekerja karena ia izin dan ya sebelum keluar, Ria sempatkan, memeriksa keadaan ibunya di rumah sakit yang di rawat jalan disana dan ayahnya yang di rawat dirumah, tak pernah lewat seharipun.


Miria juga tepat waktu membawakan makanan untuk adiknya dan ya tetangga yang Miria percaya dan kebetulan tetangga itu dekat dengan Ciko adiknya jadi mereka bisa Miria percaya memantau Ciko saat Miria tak dirumah bahkan sekarang ia jarang dirumah jika kira-kira keadaan ayahnya memburuk Ria terpaksa izin dengan Shaka untuk menginap dirumah.


Disini kedi bakso pinggir jalan.


"kamu mau makan ditempat yang enak?" Tanya Shaka yang melihat wajah Miria sangat murung.


"Ria?" Ria kaget ia ternyata melamun dan Shaka melihat bukan masalah tempat yang tidak Ria sukai tapi RIa memikirkan hal lainnya.


"Awas panas." Perhatian Shaka saat Miria hampir menyendoknya.


Miria tersenyum.


"Gak terlalu ini nak, panas dikit." kata nya saat sudah mencicipi kuah baksonya.


Shaka menikmati baso pura-pura tak peka degan apa yang Miria pikirkan dari wajahnya.

__ADS_1


Kluntiing..


"Apa?" kata Miria saat melihat notif pesan dari rumah sakit dan Shaka menarik ponsel Ria cepat.


"Shak.." Kaa Ria hendak mengambil ponselnya lagi.


"Suuut bentar!... Eh." Shaka membaca pesan yang masuk itu lalu memasukkan ponsel Ria kejaketnya dan menatap Ria dengan senyuman manis juga tengilnya.


"Shakaa.." geram Ria.


"Hari ini apa besok. Kamu mau pake uangku atau uangmu?" tanya Shaka membuat Ria mengheran.


"Maksudnya apa?" balik tanya tak paham maksud Shaka.


"Aku ada jatah untuk bulanan mu ada jatah jajan harianmu, aku juga ada simpanan uang darurat atau kau mau aku teransfer uang jajan mu?"


Ria bingung masihan tapi, detik berikutnya melotot lucu.


"Shaka kita kan cuman set.."


"Ri kita gak bahas itu aku tanya kamu mau uang jatah istri atau uang jajan harian?" Ria memakan baksonya memilih diam.


"Aku tanya Ria kamu gak pernah minta uang sama aku aku merasa jadi gak berguna jadi suami bahkan kamu gak bilang apapun yang kamu mau misal, aku mau beli itu ini sana ini yang itu yang..."


"Stop! Stop!" Ria menhentikan ocehan Shaka yang sok melankolis.


"Iyaa aku terima terserah kamu aja lah aku di kasih aku terima aku gak mau minta Shaka aku gak biasa dan kita cuman setahun."


Shaka menghembuskan nafasnya kasar. Mendengar kata setahun keluar dari mulut Ria.


Shaka pastikan kalo Ria belum membuka hatinya.


"Ok deal. Nurut gitu ama suami kan makin sayang istri suami mu ini Ria."


Ria mendecih geli.


"Itu batasnya besok dan belum dan lain-lainnya aku minta kamu bayar yang biasa rumah sakit inapnya aja."


Shaka selesai makan baksonya.


"Apa semuanya aku yang bayar Sayang? OKE!"


Ria melotot kaget lagi.

__ADS_1


__ADS_2