
Shaka yang baru sampai didepan halaman rumah sakit dengan Miria langsung turun dan melangkah masuk bersama.
Dari dalam rumah sakit tiba-tiba seorang wanita tua menampar lelaki muda seperti putranya.
"Istrimu tu baru aja melahirkan dan kamu meninggalkannya demi wanita lain yag lebih memiliki segalanya, dia baru aja melahirkan anak pertama kalian."
Seorang wanita paruh baya memarahi lelaki yang sapertinya menantu atau putranya.
"Aku memang sudah cerai dengannya bu bahkan sebelum ia melahirkan."
Seketia itu wanita tua itu menampar lelaki itu lagi, yang sepertinya anaknya itu didepan umum.
"Aku lupa kalo kamu putra kesayanganku, aku lebih memilih menantu dan cucuku, jangan pernah datang dan melihatnya." Wanita tua itu pergi masuk meninggalkan lelaki yang langsung pergi jauh meninggalkan rumah sakit.
"Kamu ngeliatin mereka serius banget," ucap Shaka saat kembali duduk setelah menunggu antrian di bagian pembayaran biaya rumah sakit.
"Sedih, anaknya pasti gak akan bisa lihat ayahnya, semoga aku gak kayak gitu, aku cuman takut kalo suatu hari nanti..."
"Husst ngomong apa kamu, gak akan itu terjadi nanti besok atau kapan pun, jangaan takut, aku ada di dekat kamu." Ria mengangguk dan seketika Shaka memegang tangan Ria, lalu saling bertaut genggaman yang sangat erat.
Setelah selesai membayarnya dan melihat data biaya rumah sakit ibunya. Miria tersedak ludahnya sendiri.
"Shaka hutangku ke kamu jadi banyak." Katanya sambil membolak balikkan daftar biaya rumah sakit ibunya.
"Mau jenguk mama?" tanya Shaka saat akan berjalan keluat tapi, berhenti selum sampai pintu keluar.
"Oh, emang boleh." Balik bertanya dan tatapan mata Shaka ersenyum dengan bibir yang tertarik manis seperti lengkungan senyuman yang sempurna.
"Manis banget cowoknya." Kata orang yang melewati Ria dan Shaka mereka jelas sejak tadi memandangi Shaka dan Ria.
"Mereka.." Ria terlihat agak jengkel.
"Kita jenguk mama kamu abistu kita pulang okay." Kata Shaka menghindari pertengkaran yang takutnya akan terjadi.
__ADS_1
"Iya Suamiku." Ria meekan kata Suamiku dengan keras membuat beberappa orang fokus pada Shaka kecewa.
Shaka terkekeh tak bisa menyembunyikn wajah bahagianya, Miria cemburu itu sangat menghibur nya.
Didepan ruang rawat jalan ibunya Shaka berdiri melihat Ria.
"Kamu gak mau masuk?" tanya Riaa. Ria melihat Shaka tersenyum dan meminta Ria segera masuk duluan.
"Gak papa kamu masuk aja duluan." Kata Shaka.
Ria mengangguk dan Sahaka memilih duduk menunggu ddepan ruangan rawat jalan dan inap.
"Assalamualaikum," seketika itu mata wanita paruh baya terbuka.
"Ria hari ini gak nginep ya." Sambil uduk mendekat ke mamanya.
"Eh.. Kenapa?" Taya nya sangat lemah.
"Aku harus ngerjain tugas kampus di rumah temen darurat," katanya kembali berbohong dan alasannya sama.
"Ria, mama gak bis percaya kamu ngerjain tugas kampus, biaya rumah sakit makin tinggi kamu gak bisa bohong terus."
Ria terdiam kaku.
"Kamu gak pinter bohong, cerita apa adanya ke mama sekarang nak mama using kalo kamu menghndar terus," ucap mama dengan wajah pucatnya.
"Sebenernya Riaa udah nikah Ria jadi istri Shaka mama kenal kok pernah ketemu dia waktu itu. Awalnya Ria kerja di Yanuar Food terus tebo empat Ria pertama kerja itu Shaka anak terakhir pemilik Yanuar Food. Shaka dia dah ada seminggu jadi suami aku dan hari ini aku balik lagi lunasin pembayaran rumah sakit mama dan Shaka semua yang bayar," jelasnya taakuttakut dan ekspresi mamanya sangat terkejut, bingung juga harus bilang apa lagi.
Sedih rasanya perasaan seorang ibu yang tak bisa lihat anaknya menikah dan bagaimana anaknya selama sehari-hari. Ibu macam apa dirinya yang selalu menyusahkan anaknya anak perepuan satu-satunya.
"Kamu pulang sekarang besok bawa suami kamu mama mau ngomong sama dia," ucapa sang mama sangat aku.
Ria jadi takut mamanya marah padanya.
__ADS_1
"Ya... Ayah sama cikko sama siiapa?" tannya sang mama dengan wajah kaget baru sadar.
"Aku nitip Ciko sama bu Arum , au belom kasih tahu Ciko sama ayah tapi, kalo bang Damar tahu istrinya juga."
"Aku nikah di wali in abang."
Lagi-lagi hatinya sedih putinya sudah menikah dan ibu penyakitan ini tak hadir ditambah walinya kakak kandungnya sendiri.
"Iyaa makasih ya, kamu jujur mama seneng, besok lagi ceritanya mama mau istirahat kamu pulang nanti suami kamu nungguin."
Ria mengengguk. Dan berdiri sambil menunduk. Mama merasa jika putrinya akan bicara sesuatu lagi.
"Aku kemari sama dia, apa mama mau ketemu?" tanya Ria ketakutan.
"Enggak." Ria paham dan pamit ppergi setelah salim cium tangan dan mengucapkan salam.
Purtrinya berubah memakai jilbab dan cantik dan sudah jadi istri orang.
Ibu Miria itu bukan orang yang bsa melihat kebenaran dengan baik tapi, tahu jika anak-anaknya sedang berbohong padanya.
Namun, Sang ibu tak akan langsung menyinggungnya dan memilih waktu yang tepat seperti Miria yang ia rasa ada yang ia sembunyikan belakangan ini.
Alasan sama tugas kuliah, menginap dirumah teman dan perubahannya menggunakan jilbab dan bau parfum yang ibunya Miria cium bau parfum laki-laki.
Karena setahu ibunya yang mengenal Miria itu tak pernah mau menggunakan parfum atau pewangi lain kecuali, sabun cuci pakaian yang Miria pakai jika wangi nya sudah cukup untuknya.
Tapi menggunakan jilbab di kepalanya itu adalah kemajuan yang ibunya nilai sangat baik. Sebelum sang ibu sakit.
Miria pernah mencoba jilbab di kamarnya dan menggunakan nya dengan cara yang santai dan sederhana. Lalu sang ibu pernah berharap kalo suami Miria nanti memperbolehkan ia menggunakan jilbab dan pakaian yang seharusnya membuatnya mencerminkan wanita baik yang taat aturan berpakaian sopan.
Apa sekarang jawaban dari doa sang ibu terjawab tapi, ia ak tahu siapa suami putrinya, siapa lelaki yang sudah sangat baik menerima putrinya apa daya dan semua biaya rumah sakit juga di tanggungnya.
Sekarang mungkin sudah tenang dengan keadaan sang putri ang sudah menikah, ibunya tinggal memikirkan sang putra bungsunya yang masih kecil.
__ADS_1
Perkiraannya apakah ia akan bertahan sampai putra kecilnya cukup dewasa menanggung beban hidup dirinya sendiri di luar sana.
Rasa sedih setiap hari selalu menghantui hatinya tentang masa depan putri kedua dan putra ketiganya sekarang ia sudah tenang dengan Miria tapi, Ciko?