
Malam yang terasa sangat bahagia bahkan terasa begitu hangat bisa Ria rasakan dengan baik.
Miria juga membantu Zavina menyiapkan semuanya di bantu tamu yang memaksa membantu menyajikan makan malam.
"Tak apa, kamu tamu, jangan buat kami tak enak." Kata Zavina.
Indri, namanya ia anak dari teman sosialita nenek Miranti di keraton dan Nenek Miran juga terkenal di kalangan orang tua keraton.
Kata Nenek Miranti atau keluarga Shaka biasa manggilnya Eyang putri, kalo apa yang harus tercapai itu harus sesuai pilihan hati yang tulus.
Namun, saat masuk kedalam rumah, eyang putri melihat anggota baru tanpa sepengetahuannya dan ia tak tahu sama sekali, siapa dimana dan bagaimana keluarganya, bagi eyang putri pengalaman memasukan orang asing tak jelas itu hanya ibu dari Shaka atau istri terakhir Yanuar.
Yang lainnya atau selanjutnya tak boleh ada lagi.
Saat melihat Ria nenek merasa jika itu bukanlan hal yang bisa di bilang biasa ataupun yang baru tapi, apa ya yang membuat eyang putri merasa kalo Miria itu benar-benar beda, bukannya ia benci cuman agak kurang nyaman dengan melihat wajah juga senyumannya.
Miria gugup sekaligus khawatir jika ia salah melakukan sesuatu saat di perhatikan begitu tajam.
"Asss aduh.." Sakit dan perih punggung tangan Ria tak sengaja menyenggol panci panas.
Padahal ia berusaha untuk tak kena.
Indri melihat Ria menyendok sup jamur kuping dengan kunyit sebagai warna supnya.
"Keliatannya enak?" Tanya Indri.
"Iya ini masakan Kak Vina." Kata Miria dengan senyuman manis di wajahnya.
"Ngomong-ngomong kamu berapa lama tinggal disini kalo aku kayaknya bakalan lama." Kata Indri dengan wajah ramah tapi, mata menatap lain arah.
"Oh itu aku baru sebulan lebih disini." Katanya lalu membawa mangkok berisi sup jamur ke meja makan dan semua duduk di kursi bersiap makan.
"Pimpin doa Yan." ucap Eyang melirik Papa.
"Doa mulai.."
***
Setelah selesai makan dan semua juga sudah kenyang. Zavina mengeluarkan kudapan segar dari buah yang pasti eyang putri suka karena ini kesukaan Juan dan Ethan juga.
"Ealah Vina lama tinggal di luar negeri kamu masih inget ya eyang suka apa, makasih sayang." Zavina tersenyum.
"Makasih juga eyang."
Semua makan sedikit-sedikit. Zavina merasa ia gerah tiba-tiba.
"Yan... Mama mau tanya sama kamu, ini pendapat kamu aja toh ya... Mama sebenernya bawa Indri Arumi Handoyo itu buat di jodohin sama Shaka."
__ADS_1
Seketika itu papa terbatuk dengan cepat Miria dan zavina bergerak tapi, gerakan Zavina lebih cepat karena dekat.
"Eh.. kok batok.. kenapa kamu sampe kaget gitu, pelan-pelan toh yo kalo makan buah saladnya." Kata eyang melirik Miria yang memakan sedikit saladnya walau pelan terlihat di mata eyang kalo Miria menikmatinya.
"Mama kenapa mau jodohin Shaka?" Tanya Papa setelah tenang.
Eyang menatap keheranan.
"Lah ya sudah waktunya toh yo.. Apa kamu ndak mau nimang cucu?" Tanya Eyang membuat Ria sedikit tersedak. Beruntung tak terlalu heboh seperti batuk papa jadi tak ada yang tahu kalo Ria tersedak. Eyang fokus menatap Papa.
"Yanuar Erlangga Prabu." Nama lengkap papa di suarakan sedikit jelas membuat satu meja makan terdiam semakin diam.
"Maaf mah, bukan aku gak mau buat perjodohan dan niat baik tapi, Aku udah nikahin Shaka sama Miria dia menantu aku juga keluarga aku, mah."
Eyang menatap tajam langsung ke arah Miria dan Zavina di sebelah Miria memegang tangan Miria yang ada di bawah meja diatas pangkuannya.
"Kamu?" Kata Eyang seperti sedang melihat dan membaca karakter Miria yang merasa tersudutkan.
"Kalo gitu gimna kita istirahat aja, obrolan berikutnya di omongin besok pagi atau makan malam berikutnya, Eyang.." Kata Zavina berusaha mencairkan situasi.
"Zavina.." Ucap Eyang.
"Kamu antar dia ke kamaranya dan juga tidurkan ethan dan Juan dulu." Kata dan perintah Eyang sangat jelas membuat Zavina paham jika eyang sedang tak bisa di bantah. Maksud antar kekamar adalah Indri.
Papa dan Eyang sama kerasnya. Kata Zavina saat melihat sekilas ekspresi wajah keduanya.
Ria pamit dengan bahasa permisi . Eyang hanya diam menatapnya. Papa kini yang merasa tak enak dengan Ria.
Satu persatu meninggalkan meja makan.
"Kamu buat kesalahan lagi Yan, orang asing.."
"Mah."
"Diam! Mama belom selesai bicara."
"Apa yang bakalan mama lanjutkan sih! Omongan mama ituh bisa nyakitin hati menantu aku." Kata papa.
Eyang menatap jengah.
"Ck... Kamu liat dia gak sepadan sama kita kenapa kamu buat karakter bagus seperti Shaka jadi buruk karena buat Shaka menentukan dengan siapa dia suka. Kita yang harus mengawasi perempuan mana bibitnya darimana bobotnya bagaimana juga apa yang orang tuanya kerjakan." Jelas Eyang panjang.
Papa meletakkan sendoknya.
"Mama jangan buat kesalahan sama yang mama lakuin ke ibunya Shaka." Membalik ucapan ibunya, mengingatkan kejadian dulu dimana eyang putri membuat Shaka kehilangan ibunya dan adik nya juga.
"Terserah Mama mau apa, kita pokoknya harus punya menantu sepadan." Tuntunya lalu berjalan pergi meninggalkan meja makan dan putranya sedirian.
__ADS_1
Papa benar pusing harus mengikuti yang mana.
***
Sampai didepan kamar tamu dan di bukakan pintunya, Indri masuk dan berdiri di atas karpet.
"Kamu menantunya?" Kata Indri seperti pertanyaan untuk menyakinkan dirinya tapi, bagi Miria lebih seperti terdengar, sindiran atau lebih kasarnya, Menantu dari kasta mana level mana dan mungut dimana.
"Iya.. Kalo gitu, Indri selamat istirahat kalo perlu sesuatu dan bingung mb ini akan bantu kamu." Jelas Ria lalu keluar kamar Indri. Miria senang Papa mengakuinya di suasana yang kaku tadi.
"Tapi kalo kamu di duakan gimana?" Miria berhenti, langkah yang hampir melewati pintu berhenti dan berbalik lalu menatap dengan ramah. Rasanya dunia bahagianya berubah dunia suram dalam sekejap.
"Tidak masalah. Aku juga belum mendapat kejelasannya, kalo memang seperti itu tidak masalah, kelihatannya kamu menyukai Shaka, Suamiku." Penekan kata suamiku membuat Indri sedikit geram diam-diam.
Miria keluar dan pintu di tutup oleh pelayan.
Indri tersenyum penuh arti setelah melihat pintu tertutup rapat.
"Tidak ada yang bisa menyingkirkan aku dirumah ini karena penguasa rumah ini dekat dan suka denganku, ayolah Indri Shaka itu paling tampan dan dia paling berbakat serta serba bisa di tambah multitalent juga anak laki-laki dari keluarga kaya yang rajin ibadah juga tak ada perempuan yang pernah dekat dengannya kecuali, ibunya... Geser saja posisi istrinya sekarang." Katanya pada dirinya sendiri.
Seketika terkekeh dan tersenyum sambil melihat kukunya yang bersih juga jarinya yang lentik dan putih.
"Aku akan jadi menantunya."
****
Shaka barusan memasuki halaman rumah dan melihat ada sopir Eyang putrinya. Dahi Shaka berkerut lalu datar tiba-tiba.
Satu hal terlintas di benaknya.
Miria.
Didalam kamarnya Miria duduk sambil menatap cermin mengurai rambut panjangnya dan menyisirnya perlahan.
"Ri?" Suara Shaka dari balik pintu.
Miria melangkah ke pintu dan membuka pelan dan Shaka masuk lalu menutup dan menguncinya.
Miria langsung membantu Shaka berganti pakaian juga air mandi yang udah siap.
"Nanti aku mandinya sekarang aku cuci kaki dulu."
"Jangan keluar kamar minta pelayan bawa makanan ku keatas aja."
Setiap perintah dan ucapan hanya diangguki dan di balas senyuman oleh Ria.
Miria memikirkan ucapan Indri tadi.
__ADS_1