
Dua minggu lebih berlalu kini ada acara selametan pemberian nama dan semuanya datangs sesuai undangan.
Hanya orang terdekat dan ustadz ter dekat ada juga ibu-ibu pengajian di komplek perumahan dekat rumah papa Yanu.
Sekarang acara di mulai dan si kembar sudah wangi dan tampan Shaka dan Miria juga siap di bawah juga Sudah mulai terdengar suara mc membuka acara dan membaca susunan acara.
Saat mereka menangis Shaka langsung mengambil salah satunya dan menidurkannya.
"Si tengah emang gak suka keramaian dia suka kebangun malem dan ajak maen aku sama Mas Shaka."
"Yaudah.. ria kamu siap-siap geh... biar Shaka kebawah kamu ngapain biar kliatan rapi, serahin aja sama Ounty cantik disini." Kata Qinan.
"Iyaa Sana gih huss..."
"Anak gue Mika.. Awas sampe sikembar kenapa-kenapa gue tuntut lo!"
"Elah.. Lebay lo pak ketu!" Kata Yuki.
Seketika itu Ale mengetuk pintu Shaka membukanya dan keluar.
"Lo kebawah lah masa lo gak ada di bawah."
Shaka mengangguk. Sebenarnya ia masih tak rena tiga anaknya diasuh tante rempongnya.
"Iya.."
Kelahiran kembar tiga yang di beri nama yang berbeda bahkan nama panjang nya juga beda.
Arzen Raka Wiraditama
Janendra Bumi Kencono
Abian Wahyu Jagatraya
Ketiga keturunan dari Shaka dan Miria kini di gendong Ayah dan omnya juga salah satunya sudah selesai acara potong rambut juga. Nama yang terdengar hebat dan memiliki arti yang besar. Para tamu pun hanya bisa berdoa yang terbaik. Shaka bukan laki-laki biasa dan istrinya sangat cantik para tamu dan tetangga menilai itu juga dari segi nama yang di berikan.
"Dari kecil aja dah good looking gimana gedenya..."
"Semoga gak Bad tata kramanya juga sopan satunnya."
Bisik-bisik tamu yang kagum dengan keluarga kecil ini yang langsung memiliki tiga anggota baru.
"Kenapa gak ngasih nama waktu lahir Ri?" tanya Mika saat telinga tajamnya mendengar beberapa pembicaraan tamu, ia mending mengalihkan fokusnya ke Miria sekarang.
"Udah tapi, mas shaka bilang rahasian dari semuanya." Mika dan lainnya mengerti dengan anggukkan kepala, Shaka memang pantas menjadi pemimpin bahkan menjadi suami, lalu menjadi ayah, sosoknya yang bijak mengayomi itu baik.
Menurut Mika yang melihat dari sisi yang tak kenal Shaka tapi, Miria pasti tahu siapa dan seperti apa bapak ketuanya itu.
Keempatnya mengangguk saat mereka melihat Shaka yang menggendong di bungsu lalu Arya menggendong tengah dan Zafiermenggendong si sulung.
"Nama nya bagus semua, semoga si kembar bener-bener jadi pemimpin yang baik," ucap Olva berbinar bahagia.
"Mereka juha seneng karen ounty yang pinter bela diri walau sampe nyusruk jungkel ini ngelindungin mereka bisa juga ajak dan liat mereka sampe dewasa."
__ADS_1
"Hihi gue terharu Nan!" Yuki nangis bombay.
"Sama gue juga..." Qinan dan Yuki sama sama mengusap air mata.
"Mika lo jahat amat buat kita bedua mewek!"
Miria sedikit terharus sampai menitikan air mata.
Olva juga tak kalah terharu.
Anggota geng Shaka yang namanya di rahasia dari publik itu menyambut ketiga bayi jagoan sehat dan gembul itu dengan suka cita bahkan.
Tak hanya pengajian pemberian nama selametan potong rambut saja.
Zeus mengundang anak didik beladiri juga les bahasa sepanyolnya untuk ramai-ramai mendoakan si bayi sehat.
Lalu Alezer sedekah besar-besaran pada pemukiman pinggiran kota sampai di kira ada pemilu arau caleg lagi nyalon.
Gak cuman itu, Yuki mengeratiskan pengobatan buat anak bayi dan ibunya atau ibu yang sedang dalam masa menyusui atau nyapih.
Untuk Olva Mika dan Qinan mereka bertiga membuat pengajian akbar mengundang tigapuluh pesantren dan juga anak yatim piatu keacara makan bersama dan sholat isya berjamaah.
Shka dan Miria tak mengerti dengan jalan pikiran teman-teman nya itu.
Miria sampai pusing.
"Kata mas shaka merek semua gak terlalu banyak uang itu apa?" ucapnya melihat kiriman kado dari Ale dan mamanya. Lalu Qinan dan neneknya lalu Olva sendiri Lalu ada dari bima berbarengan dengan teman yang lainnya, Miria sampai tak enak itu ada uang pribadi ada uang patungan.
"Gak tahu Lah Sayang, Mas susah mahamin mereka, Ya kita terima aja lagian gini juga diut bapaknya awet."
Apa miria gak salah dengar? Bibit pelit Shaka bermunculan ini.
"Mau pelit kamu sama anak sendiri... itu apa maksudnya!"
"Yang mana sayangku?"
"Yang duit bapaknya awet itu apa mas?"
"Oh.. itu!" Shaka bingung dan seketika terkekeh.
"Emang aku pernah bilang gitu."
Salah bicara lagi, Seketika itu Si kembar bangun dan menangis bersamaan.
Shaka terhindar dari amukan Miria.
Makasih anak-anak! Papa terharu! Dalam hatinya Shaka bersyukur.
Beberapa bulan berlalu semuanya mulai tumbuh dengan aktif bahkan mereka semua cepat bisa bicara dan juga mulai belajar tengkurap dan hampir ingin duduk sendiri.
"Cepet banget dia mau buru-buru duduk!" Kata Arya.
"Janen ini malah pengen minum kopi!" Kata damar yang memang sedang main kerumah shaka membawa Ciko dan keluarga kecilnya bersama sama.
__ADS_1
"Apaa... Anak Papa mau minum kopi, Ya ampun Janendra Abian kalian itu buat pusing kakek!" kata Yanuar.
"Pah..." Tegur Zavina sambil ikut duduk bergabung bersama yang lain.
"Tiba-tiba aja dia berdiri terus jatoh duduk abistu, Om pii... om pi... aku angkat kopinya dia ngeliatin aja... mau kayaknya dia."
Semua menatap Janendra seketika itu Abian berteriak kegirangan.
"Kecoaa... sayang.... anak aku pegang kecoa...." Teriak Miria seketika itu membuatnya menoleh ke asal suara.
"Heeh.. pantes anteng anak papa pegang kecoa sayang, nanti papa beliin kecoa paling bagus paling antik yaa.."
Miria merinding sendiri.
"Buang mas buang!"
"Iyaa iyaa." Istri Damar mendekat mengangkat Abian untuk berkumpul lagi.
Makin kemari semua anaknya makin pintar dan bahkan abian yang barusan beberapa bulan sudah bisa kemana-mana.
Miria makin pusing.
"Non.." Panggil bibi.
Miria menoleh melihat kotak hitam yang di bawa bibi.
"Ini paket katanya di kasih buat neng di titipin orang terus ini juga keliatan nya kayanya berat banget."
miria bingung perasaan ia tak pesan apapun tapi, kalo pun pesan tak pernah kotak besar seperti ini.
"Iyaa udah bi.."
"makasih."
Bibi langsung pergi dan Miria membawa kotak itu keatas kamarnya dirasa ini barang privasi, mungkin.
Malam tiba semua penghuni sudah tidur. Shaka sibuk dengan pekerjaan Papa tidur dengan si kembar karena Si kembar mau bersama kakeknya.
Juan Ethan menginap disini malam ini karena besok ada perkumpulan teman sekolahnya dekat sini dan Zavina juga harus keluar kota tiba-tiba.
Miria yang baru selesai menyisir rambut dan selesai dengan perawatan sebelum tidur melihat paket di dekat vas bunga dekat meja riasnya.
"Paket apa ya." Miria mengambil gunting dan membukanya.
Pelan-pelan dan saat bungkusnya sudah terbuka semua ada kertas putih diatasnya.
(GAK AKAN PERNAH GUE BIARIN LO BAHAGIA SEKALIPUN GUE HARUS NYABUT NYAWA ANAK-ANAK LO!)
Dengan tinta merah dan Miria rasa ini darah dan baunya sangat amis.
Miria membukanya dan ketika melihat isinya foto wajah bayi, Janendra Arzen juga ada Abian. Ini semua foto yang diambil waktu mereka lagi ada di halaman rumah berjemur dan ini robek juga ada tinta darah.
Miria ketakutan seketika itu melihat ada ****** tikus juga didalamnya.
__ADS_1