Anxietas

Anxietas
Bahagia sementara


__ADS_3

Tiga hari setelah Miria membuka paket itu Miria tak akan panik di perlihatkan oada siapun ia langsung membuangnya ke tempat sampah dan itu sampah yang pasti akan langsung di buang tanpa di periksa dulu.


Miria ketakutan, sangat takut apa itu benar-benar terjadi dan apa yang harus ia lakukan agar anak anaknya baik-baik saja.


Tidak! Orang itu pasti hanya mengancam.


Klunting!


Pesan masuk dari ponselnya.


"Lo pikir gue bercanda... Ria gue bebas dari penjara dan gue gak akan biarin lo bahagia, Gara-gara lo semuanya benci gue bahkan Olva juga buat mama gue berpihak ke Lo itu pasti Lo kan yang ngatur, Lo jahat lo jahat banget Ri!"


Miria tak kenal dan siapa orang ini apa maksudnya.


Jika ini Saskia tak mungkin karena kabar terakhir jika Saskia akan di penjara seumur hidup atas beberapa kasus.


"Sayang!"


"Eh...."


"Kamu kenapa kaget gitu, ini dah hampir setengah sembilan kamu gak mau bawa masuk si kembar. Bibi dah samperin kamu kamu masih bengong ?"


"Oh.. enggak aku gak papa mungkin aku lagi membayangkan gimana kalo besarnya anak kita, aku gak sanggup kalo..." Miria menatap Shaka.


"Kalo apa?"


"Oh.. enggak papa, ya udah sayang kita masuk semua berjemurnya udah selesai."


Shaka membantu menggendong keduanya dan Miria menggendong Abian.


Sebenarnya kadang Miria menggendong Arzen dua jam sekali atau kadang bergantian saja dan sama rata, itupun berlaku untuk Shaka juga sebagai ayah mereka.


"Ada yang gak beres." Bisik Shaka menatap punggung istrinya membawa Abian bersamanya.


Didalam kamar Arzen terus menangis dan badannya panas.


Miria terus membantu menanngkannya.


Shaka yang merasa tak enak di ruang kerjanya naik ke kamarnya si kembar.

__ADS_1


"Sayang.. apa masih nangisnya?"


"Arzen rewel, panasnya dah turun tapi, gimana ini dia bahkan gak mau tidur laper juga enggak, kenapa dia." Bingungnya.


"Sayang liat mama Nak, kamu kenapa? Mama disini sayang."


Shaka merasa hatinya tak nyaman, sesuatu terjadi dan Miria masih menyembunyikannya, Shaka akan mendiamkannya dulu. Apapun yang terjadi rasanya Arzen paling peka dengan mamanya.


"Sini Arzen sama aku aja... itu kamu susu in Abian sama Janendra dulu." Miria memberikannya pada Miria seketikaitu Miria panik karena setelah menyusui Janendra Abian menangis sangat kencang membut Janen yang mulai tertidur ter kejut. Ditambah Arzen menangis sampai wajahnya memerah.


Zavina kebetulan lewat kamar si kembar iangin pergi ke kamar Ethan dan Juan mengambil seragam sekolah yang tertinggal.


"Loh kenapa si kembar?" tanya nya bingung.


Tak lama datang Ethan dan Juan dengan membaw mainan yang mereka beli di depan sekolahannya krena mereka suka sesuatu yang unik.


"Miria kayak nya kurang sehat kak? Miria menoleh. Shaka juga menoleh pada Miria tepat saat itu juga. Miria menunduk takut dengan tatapan datar suaminya.


"Oh iya gak apa biar kaka yang bantu tidurin si kembar kamu me time sama istri kamu, jangan sampe kena baby blues."


Shaka mengangguk. Miria juga bangun dai duduknya dan pergi mengikuti shaka Juan Ethan masuk diajak sang mama.


Saat mendengar suara mainan asng yang unik yang Ethan bawa ketiganya diam. Juan juga memamerkan mainan menyala dengan lampu.


"Tapi mah ini unik koleksi." kata Juan.


"Aku banuin koleksi juan aja mah, maaf mah nani Ehan kasih pengertian ke Juan." Katanya dengan takut. Zavina tersenyum menggeleng, ada ada saja dua putranya ini.


" iya gak apa asl yang beda jangan sama, kalo bisa kalian jadiin investasi ya jangan jadi berdebu di etalase, mama pusing liatnya," ucapnya membuat keduanya kembali senang.


" iyaa mah setuju makasih mah." keduanya menjawab bersamaan.


Fous mereka ke si kembar lagi dan saat ini di kamarnya sendiri, Shaka meminta Miria duduk dan melonggarkan jilbab juga menyalakan ac sedikit dingin.


"minum airnya pintu juga udah aku kunci, sekarang tarik nafas terus kamu cerita ke aku kenapa?" kata Shaka dengan lembutnya.


Miria memegang erat erat gelasnya danmmenoleh kesana kmari ia binung harus bagaimana.


"Sayang lihat aku, hem." memegang kedua tagan Miria setelah meletakan gelasnya ke atas nakas, Miria menatap Shaka ketakutan.

__ADS_1


"A-aku aku-aku gak pap aku cuan mau istirahat."


Menghela nafas beratnya, Shaka memegang engusap punggung tngan Miria dengan jempolnya pelan pelan.


"Apapun kalo sampe buat kamu gak nyaman si kembar juga inget kamu pernah panik krena aku kenap iso waktu gak sengaja ngiis daging, si kembar juga ketakutan sayang dia itu pasti orang yang aku kenal, sekrang bilang sayang sebelumaku cari tahu sendiri dan aku gak akan ampunin orang itu lagi," jelasnya dengan tenang dan tegas.


Miria menarik tangannya dan memilih saling menumpuk diatas pangkuannya matanya menatap tangannya di pngkuannya.


" kamu bad mood sayang."belm sempat berlanjut lagi ucapan Shaka ponsel Miria berdering dan telpon masuk dari nomor gak di kenalmasuk Miria mau mengambilnya tapi Shaka lebih dulu merampasnya Maria diam takut. Shaka mengangkatnya dan terdengar suara yang sengaja terdengar suara samar-samar itu mulai akan bicara.


" Jangaan siapun yang mengangkat telpon ini Gue mau lo dengerin baik-baik kaata gue. Lo tinggalin Shaka dan biarin dia buat gue atau lo mau nyawa anak lo pulang lagi ke surga, pilih.


"A-aku gak ngerti." Shaka mengisyaratkan Miria bicara.


"Bodoh lo, Lo jadi oon ya selama lo jadi ibu, berani lo dateng ke kantor polisi marahin gue dan sekarang lo ketakutan lo pasti takut gue bneran bunuh anak lo?"


berhenti bicara menarik nafasnya dan tersenyum lalu terkekeh terdengar dari telpon yang masih menyala.


"Tenang aja gue gabakalan apa apain anak lo asal lo bisa lauin apa yang gue mau sekarang."


Shaka mematikan telponnya setelah orang itu memutusnya lebih dulu dn setelah mengtakakan sesuatu yang mana memina Miria pergi ke stasiun kereta sekarang.


" Shaka aku minta maaf aku gak maksud aku mohon jangan jangan abaiin apa yang dia bilang aku mohon hiks... Aku gak mau kehilngan sikembar aku mohon."


Shak meletakkan ponselnya dengan kasar diatas kasur.


"Jangan keluar dari rumah tanpa izin suami lagi atau kamu gak bakalan bia liat si kembar selamanya."


Miria terdia menangis ketakutan Shaka keluar membanting pelan pintu kmarna. Saat iu juga Ethan dan Juan keluar dri sana lalu Zavina.


"Kak jangan pulang dlu gue hrus ngurus sesuau dan minta papa datengin pengawal lagi buat kamt Miria sama amar Janendra Arzen Abian." Katanya lalu pergi.


Tanpa bisa bertanya lagi Zavina menelpon bodyguarnya di rumah sekaligus asisten dari keluargan Ethan yang memang setia melayani orang tua Ethan saat masih hidup.


Mereka pengawal atau Bodyguard bayangan jadi keluarga dari pihak ayah atau ibu yang Zavina atau Ethan tak tahu ada atau tidak, tidak bisa tahu kalo Ethan punya orang kepercayaan ayahnya.


Semuanya tersa seperti mimpi tak nyata.. keluarga bahagia apanya yang ada didepan mata Miria.


Tak pernah terbayangkan kalo ia akan mendapatkan Kemalangan di selimuti kebahagian ini dan shaka pasti akan marah besar..Miria tak bisa membiarkan ini.

__ADS_1


Ketika melihat ponselnya Shaka mengubah sandinya dan sidik jarinya adalah sidik jari Shaka.


Miria kebingungan sekarang.


__ADS_2