
Dominic Zeus tembok utama sebelum menyentuh Arzen Janendra dan Abian. Ibu Bion datang ke rumah Shaka dengan sembarangan membawa polisi.
Tak sengaja disana ada Zeus dan Dominic sedang bertamu dan memang datang untuk melihat si kembar dan juga menunggu Shaka karena ingin membicarakan urusan penting.
"Apa ini? Kenapa anda membawa polisi kerumah saya?" Tanya papa bingung.
"Pak Seto, Apa ini?" tanya Papa pada salah satu polisi yang menatap nya dengan ramah.
"Begini pak, Ibu ini minta kami menangkap menantu anda karena telah menuduh Bion mencuri dan juga membuat Bion terluka tusuk di bagian perutnya. Kami di minta menyelidikinya." Miria keluar sambil berjalan perlahan menuruni tangga dan melihat Banyak orang di ruang tengah.
"Nah itu orangnya orang yang mau bunuh Anak saya dia juga yang udah nusuk anak saya, Dia bahkan kabur abis itu!"
Semu menoleh ke belakang dimana mama Bion menunjuk tangga, Miria berdiri dengan wajah bingungnya.
"Siapa, aku, enggak pah, aku kemaren cuman ke Bakery nya kak Qinan buat perilisan toko barunya, toko kueh."
Papa menatap Miria dan mengkode memintanya berdiri jangan jauh dari dirinya.
"Nyonya, anda salah lihat, putri saya, menantu saya ini sama sekali tak pernah bisa melukai orang lain dan apa yang anda lihat belum tentu benar."
"Halah Pak Yanu, anda itu dah di cuci otaknya, Anak kembar tiga kamu juga pasti bukan anak dari shaka kan kamu pasti jual rahim dan dapet kembar tiga, jaman sekarang mana ada dapet anak kembar tiga tanpa riwayat keturunan dan konsumsi makanan yang bisa hamil anak kembar, paling dua, gak mungkin sampe tiga."
Tangan Miria mengepal kencang.
"Nyonya anda salah bicara, jika Saya bukan orangnya anda akan malu dan sekali lagi jangan bawa-bawa nama keluarga dan juga anak-anak saya, Anda ibu juga, apa tidak sakit hati anda bilang kalo anak saya anak haram, apa anda mau anak anda saya sebut anak haram yang bahkan gak berguna dah cuman bisa kuliah buang-buang uang orang tua?"
Wajah mamanya Bion seketika terlihat tak terima.
"Loh saya gak bilang anak haram lo!" Membuka kipas dan kipas kipas wajahnya. Mengelak tak mau di salahkan.
"Sudah-sudah... Nona anda bisa ikut kami sebentar." polisi menengahi perdebatan mereka.
Papa menatap Miria.
Miria yang menatap takut papa, lalu tertunduk.
"Ikutlah, pak Seto akan menjagamu, nanti asisten Papa dateng jemput kamu."
Miria mengangguk.
Ibu Bion pergi dengan wajah culasnya.
__ADS_1
Sampai di kantor polisi semua menatap Miria dengan tatapan yang tajam.
"Kasusnya dah banyak dia malah nikah dan punya tiga anak sama anak pengusaha makanan juga resto?"
"Ya namanya juga penipu biasa lah hidupnya sulit susah, tapi, dosa nambah." Miria mendengar celoteh ibu-ibu yang mengantri membuat laporan dan mengurus berkas di kantor polisi.
Menoleh kesamping Miria melihat wajahnya di sana di tempel dan dia menggunakan cadar kadang tidak kadang menggunakan masker kadang tak memakai jilbab.
"Siapa dia? Aku gak punya tahi lalat di dahi?" Katanya bertanya pada dirinya sendiri.
Di luar sana wanita dengan tubuh ramping postur mirip sekali dengan Miria asik makan mie cup di mini market dan tak lupa minum bir kaleng.
"Ria.. ngapai lo kesini?" Tanya Bima bingung Alezer yang sedang jalan-jalan mengajak Olva ikut berhenti dan turun dari motor sportnya.
"Siapa.. Lo manggil gue, siapa lo?" Katanya balik tanya pada Bima lalu menatap Olva yang memandangnya dengan tajam.
"Iyaa elo lah, mang ada Miria laen?" Melihat didepannya bir kaleng Alezer mengambilnya dan membaca lalu meletakkannya lagi. Olva yang sudah bicara menoleh melihat Alezer memegang bir kaleng itu.
"Lo minum?" Tanya nya dengan wajah datar Khas Alezer.
"Iya, masalah? Lagian siapa sih lo pada, reseh banget." Berdiri pergi dari sana.
" Heh apaan sih lo, Bikin kesel aja.. siapa lo pada kenapa pada liatin gue gitu," ucapnya seketika mengambil kalengnya dan membuangnya.
"Lo mirip ama Miria, Nama lo?" Olva menatapnya.
"Syena!" Menjawab dengan nada kesalnya.
Alezer dan Bima tertegun.
"Kenapa, kaget lo pada lagian lo sih bisa-bisanya gangguin orang yang salah."
Olva melepaskan pegangan tangannya dan meminta maaf meminta Syena tunggu sebentar. Olva masuk kedalam dan keluar lagi membawa sekaleng bir yang sama.
"Gue ganti."
"Ok Thanks. Dan oh ya.. Lo pada anak orkay yaa, Bisa kali bagi gue duit?" Olva memberikan dua ratus ribu dan Syena langsung pergi tanpa basa basi lagi.
Seketika itu ponselnya berdering.
"Whattt." Alezer mendekat ke Olva ketika istrinya berteriak.
__ADS_1
"Apaan?" Bima ikut mendekat kesamping alezer.
"Sialan, Syena pergi lagi, gue jemput dia sekarang?" Alezer mengangguk. Bima langsung melesat pergi.
Di kantor polisi selesai introgasi Miria hanya didiamkan begitu saja.
Olva Alezer datang dan disana Shaka dan asisten papanya.
"Sayang." Shaka masuk dan memeluk Miria yang duduk dia di sana.
"Tenang ya... Semua baik baik aja."
"Drama macam apa ini. Shaka istri kamu itu pereman dia bahkan melukai Bion sampai harus di jahit lima jahitan dan belum luka dalam dan luka tamparan di wajahnya sampai tergores." Kali ini Papa ny Bion yang bicara.
"Anda itu orang yaang paling teliti, kenapa nda mau di bodohi tahu apa anda tentang istri saya, jika anda paham lalu membawa seseorang ke kantor poisi itu juga di sebut tuduhan plsu dan wajib di proses hukum."
Kedunya terdim.
"Olva lo temenin miria baalik kerumah sama asisten bokap." Olva mengerti.
Miria di rangkul Olva berjalan pelan wajah Miria begitu pucat tertunduk lesu, sepertinya Shaka melihat wajahnya lebih baik sebelum ia masuk Shaka sempat melihat wajah istrinya seperti tertekan takut tak ada yang percaya dengan nya.
Bima datang membawa perempuan yang di maksudmembuat wajah kedua orang tua bion dan Bion sendiri terdiam kaku.
Polisi juga kaget, mta Bima melirik Alezer.
"Perempuan ini bernama Syena dan Syena salah satu pegurus pani asuhan saya ada berks dan rekaman cctv dimana yang bersalah bukan Syena api, yang menjadi buronan dia."
Polisi menerima flash disk yang Bima serahkan ke Alezer dan pihak polisi juga langsung mengeceknya.
" Semua yang saya berikan data asli dan salinan data sebenarnya ada di dala posnel saya."
Beberapa jam menunggu akhirnya hasil keluar dan tersangkanya adalah Bion sendri yang memang awalnya melakukan pelecehan dan Syena hanya membela diri.
"apa-apaan ini saya tak terima anaak itu mau membunuh putra sya kenapa bisa anak saya yang di penjarakan?"marah kedua orang tua Bion.
"bapak jangan tahan Bion dia gk salah yang salah perempua..."
"Jika uang bis bica maka uangku akan bicara sekarang nyonya Tuan, jangaan remehkan uang jika di tangan yang benar."
Syena tersenyum dan berjalan keluar mengikuti Alezer Bima dan Shaka.
__ADS_1