
Miria yang sudah selsai dan melihat hasilnya ternyata tidak seperti harapan Shaka.
Miria menangis dan meletakkan dua tes kehamilan yang hasil sama sekali jauh di harapkan.
Suara pintu terbuka dan langkah kaki.
"Ri..." Suara Shaka memangginya.
Miria tetap diam. Sampai ada suara pintu kamar mandi dan pintu ruang ganti.
"Ria kamu... di.." Melihat Ria duduk dengan hasil tes didepan Shaka mendekat perlahan dan berlutut.
"Negatif." Miria semakin takut dan menjauh.
"Maaf aku gak bisa hiks... Jangan marahin aku, Aku gak tahu aku malah datang bulan hari ini abis hasilnya keluar aku datang bulan, Aku gak tahu..."
Shaka menghela nafasnya dan duduk di samping Miria.
"Kamu mau nya gimana kayaknya kamu gak niat kita punya anak."
"Enggak... aku gak bilang gitu, aku cuman takut..."
Ria tahu hal tentang itu, kalo antara suami istri tidak punya anak pasti yang di salahkan perempuannya dan yang dianggap tak bisa punya perempuannya.
"Kamu nangis?" Shaka menoleh menatap datar.
Miria semakin bergeser menggeleng.
"Aku kelilipan aku tadi keculek jariku sendiri.. aku gak nangis... aku kan udah bilang jangan berharap sama aku, aku gak papa kamu sama Indri." Menunduk takut. Berusaha berani menatap Shaka menyembunyikan kesedihannya.
Shaka meraup wajahnya merasa kesal dan pusing.
"Astaghfirullah hallazim." Shaka menatap Miria. Sepertina Miria sangat terpojok sekarang.
Maafkan aku Ria, ucapnya dalam hai menatap sedih rasanya ia ingin memeluk Miria tapi, Shaka harus mengambil keputusan ini.
"Indri! Indri!... Miria aku belain kamu aku cuman suka sama kamu... kenapa kamu gak peka sih... aku dah bilang aku suka dan cinta sama kamu kita aja gak ada Indri... bisa bahas kita sama masa depan kita... Aku gak marah aku gak akan mukul kamu aku gak... argh!" Bentak Shaka bersamaan pukulan Shaka di didepan dada memukul angin dengan kepalan tangannya.
"Aku mau keluar, Aku akan setujuin apa mau eyang, PUAS!"
Miria semakin menangis dan sedih.
Bukan, bukan gitu maksud Miria Miria sama sekali gak mau Shaka menyetujui menikah sama Indri tapi, Miria takut kalo dia memang gak bisa hamil bagaimana kalo memang kenyataan Miria mand*l!"
Miria semakin jatuh kedalam kesengsaraan semua membencinya semuanya menjauhinya.
Miria sudah mewanti wanti dirinya kalo memang kejadian ini terjadi ia harus terima.
Kalo pun gak bisa di terima Ia akan menerima dirinya sendiri dan siap di pisahkan dari Shaka.
Semuanya hilang saat itu. Semuanya hancur saat itu.
Semuanya akan menjauhinya menertawakannya.
Menyedihkan, mengecewakan, tak bisa di harapkan, pembawa masalah, kesi*l*n gak berujung.
***
Shaka tertunduk leu menutup dan menatap tangan yang memegang pintu, ia tahu ia salah membentak Miria, ia hanya kesal karena Miria selalu memaksa nya untuk dengan Indri bersama Indri dan menikah dengan Indri saja.
Miria masih tak paham kalo Shaka sangat benci dengan Indri.
Shaka akan lakukan itu tapi, Shaka akan tetap ada di pihak Miria.
Cara Shaka akan Shaka lakukan sekarang.
Shaka melangkah turun kebawah dan melihat Eyang sendirian ia ruang tengah.
Ini waktu yang pas.
"Eyang?"
Suara Shaka memanggilna. Eyang menoleh dari kaca mata yang masih bertengger di hidungnnya dan terlihat begitu tebal kacanya.
Eyang menurunkan kaca matannya dan Shaka membenarkan kaca mata yang memang selalu ia pakai jika tidak sedang tidur atau memang sudah lelah bekerja.
Di naikkan sediit kaca matanya dengan telunjuk tangan kirinya.
"Duduk," ucap Eyang.
Shaka duduk di samping Eyang.
__ADS_1
"Aku mau nikah sama Indri tapi. Jagan sakitin Miriaa dia etep jadi Istriku."
Wajah Shaka terlihat datar saat mengatakan itu.
Eyang menjelaskan lagi pandangannya dengan mata tuanya.
Eyang menatap serius, dahinya berkerut dan berakhir memeluk Shaka dengan bangga.
"Eyang suka kamu jadi anak penurut... ternyata Miria baik banget... Yanuar... Zavina!" Teriak Eyang.
Seketika itu Papa dan kak Vina datang mendekat.
"Kalian tahu Shaka setuju... akhirnya kita punya Menantu yang sepadan, gak papa dia masih nikah sama Miria, anak itu baik juga." Wajah Eyang begitu sennag dan hanya Eyang yang begitu senang.
Papa dan Kak Vina murung sekali wajahnya. Mereka brdua menghla nafas lelahnya. Papa menatap Shaka dengan tatapan tak suka. Kak Vina dengan atapan yang kasihan.
Miria di lantai dua mendengarnya saat akan turun kebawah mendengar sura senang Eyang mendengar Shaka mau menerima lamaran Eyang untuk indri.
Miria naik keata san duduk diatas kasur dite pi dengan kedua tangan melihat hasil tes kehamilan.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat Miria menatap pintu.
"Masuk aja." Katanya.
Lalu Kak Vina yang membukanya dan masuk membawa dua gelas minuman segar.
Vina juga menutup kembali pintunya.
"Miria kamu... beneran itu kamu yang minta Shaka bilang gitu ke Eyang?" tanya Vina hati-hati.
Miria yang kedua tangannya bersembuyi di belakang punggungnya.
Zavina menyadari itu.
"Kalian udah ngelakuinnya tapi?" Miria menarik tangannya keluar dari belakang punggungnya.
"Aku gagak aku datang bulan habis cek ini, tiba-tiba..." Masih terdengar suara Miria yang bergetar seperti habis menangis.
Vina memberikan segelas jus alpukat dan mengambil hasil tes dan menimpannya diatas wadahnya diatas nakas samping Miria.
"Gak papa... Gak semua harus datang di waktunya bisa jadi lama bisa jadi memang udah ada waktu terbaiknya." Kata Vina lalu tersenyum sambil mengusap tangan Miria memegang gelas jus alpukatnya.
Ria meminumnya.
Dan Vina beralih mengajak Miria bercerita tentang Ethan Juan juga waktu dulu ia tak mendapatkan Juan sampai akhirnya ketika Juan ada suaminya pergi untuk selamanya.
Cerita itu tak terlalu sedih karena Vina pintar mengalihkan kisah sedihnya dengan kelucuan Juan dan Ethan waktu itu.
Miria tetap merasakan kesedihannya.
***
Seminggu berlalu Miria berangkat sendiri diantar taksi kadang gojek kadang Zavina.
Shaka selalu menghindarinya dan bahkan Juan sampai mengerjai Shaka karena tak suka jika ontynya di nakalin Om gantengnya.
"Heh... Om Ganteng, jangan sok ganteng tapi, sukanya nyakitin hati cewek ya.. Jentel dong jadi cowok kayak Papi aku!" Teriakk Juan saat Shaka menghamppiri Miria untuk mengajaknya bicara.
"Om mau ngobrol sama Onty langkahin aku dulu!" katanya dengan mengacungkan pedang mainannya dan ethan yang melipat tangannya dengan wajah datar mirip Shaka.
"Om kita lagi main sam onty jauhin kita sama onty, kita sibuk." Miria mengulum biirnya kebelakang menahan tawa.
Shaka menatap jengah. Menutup mulut Juan.
"Diem bocah Om mau berduan sama Onty.." Seketika itu Shaka menarik tangan Miria mengajaknya menjauh tapi, Ethan dan Juan menahannya dengan menarik tangan satunya.
Aksi tarik menarik membuat Papa menggelng dan vina yang baru datang melihatnya meminta Ethan dan Juan berhenti.
"Mami..."
Keduanya menatap takut dan bergerak bersembunyi di belakang Miria.
"Kalian! Kemari sayang." Katanya seketika itu langsung di turuti dua putranya
Shaka menang sambil memperlihatkan wajah pongahnya.
"OM PLAY BOY!"
Shaka menoleh cepat langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Shaka menatap tajam.
Tapi, dua keponakannya maah mengejk dengan wajah jelek dan kedua bok*ng di goyang-goyang.
***
Shaka mengajak Miria pergi keluar dengan mobil sportnya datang kesalah satu pameran motor sport seketika iu melihat Mikaila dan Alezer.
"Ria.." Sapa Mika. Seketika itu Mika di panggil lagi. Alezer juga hanya menyapanya saja.
"Mereka berdua itu keluarga jauh dari bungan pernikahan buyut mereka." Jelas Shaka pada Miria yang seperti bingung karena keduanya ada tapi, teman Shaka yang lain tidak ada.
Shaka mengajak Miria kekuar ke halaman gedung pameran yang taman hijaunya seperti taman mansion bangsawan luas dan indah kalo malam hari dengan lampu taman.
"Sebenernya aku kemari bukan cuman mau ngajak kamu keluar kesini tapi, aku cuman mau minta maaf kemaren bentak kamu... Aku gak maksud gitu."
Shaka menatap Miria.
"Tanggal pertunangan aku sama Indri udah di tentuin... Apa kamu masih mau berubah sekarang."
Miria diam, seketika tersenyum paksa.
"Aku... Gak papa... Hem... sambil jalan aja kita ngobrol."
Shaka mengikutinya.
"Aku sebenernya gak mau tapi, Kamu terus maksa aku apa kamu gak ngerasain hal yang sama kayak aku?" Miria menghentikan langkahnya.
Shaka menghentikan ucapannya. Melihat gerakan tangan Miria yang mengusap matanya dengan tisu.
"Aku cape... kita pulang sekarang." Miria berbalik dan berjalan mendahului Shaka.
Shaka menatapnya dengan berbalik badan saja.
Menatap keatas lantai dua.
Alezer menganggukkan kepalanya.
Shaka mengangguk.
Esok pagi yang cerha di hari jumat.
Shaka yang baru selesai dengan tugasnya sebagai mahasiswa sekaligus asisten dosen di kampus pulang kerumah dan tak sengaja melihat Miria habis mandi dengan rambut basah dan kaos putih kebesaran.
"Miria..."
Shaka menatap dengan tatapan hausnya.
Shaka seperti melihat danau di tengah padang pasir.
"Hah?" Mendekat seketika itu bau parfum dan juga bau wangi rambut basah yang dingin memabukkan.
"A! Shaka!"
Jam tiga sore setelah sholat asar Miria sujud sangat lama bahkan Shaka yang barusan pulang dari masjid dekat komplek rumahnya melihat dari ia masukkan kamar menganti baju. Miria masih saja sujud.
Saat akan menggunakan jam tangannya. Ria selesai tapi, wajahnya basah hidungnya merah dan matanya merah dan basah kelopaknya.
"Aku hari ini..." Kata Shaka berhenti saat melihat wajah sedih di paksa tersenyum.
"Maaf..." Shaka menunduk.
Miria mengusap kedua rahang dan pipi Shaka.
"Gak papa."
" Berangkat gih... Aku dirumah sama Juan sama Ethan... nanti juga katanya Kak Yuki sama yang lainnya dateng mau ketemu Kak Zavina tapi, mau maen sekalian ketemu aku."
Shaka membungkuk sedikit menyembunyikan wajahnya di bahu istri yang ia peluk dengan erat.
"Selamat ya.." Shaka semakin mengeratkan pelukannya.
Miria semakin sedih tiba-tiba air matanya keluar lagi. Tak mau kalah, Miria juga mengeratkan pelukannya.
Betapa senangnya Eyang saat Shaka mau menerima perjodohan ini. Sekarang mereka akan menemui calon besannya.
Sebenarnya ini paksaan Miria karena ia belum bisa memberikan kepastian. Shaka sebenarnya bisa memberontak lagi tapi, Shaka tak mau Miria di kutuk Eyang seperti saat itu.
Shaka menatap semuanya, Papa yang kesal Kak Vina yang tertunduk lesu. Eyang yang begitu semangat.
"Ayoo!" Eyang menggandeng Shaka.
__ADS_1
Kak Vina berjalan belakangan minta pelayan katakan pada Miria jika titipan untuk Yuki dan Mika ada di ruangannya.
Bibi mengerti.