
Eyang menatap Papa dengan tajam.
"Handoyo?" Panggil Eyang seketika itu Indri malu sudah sekarang ia tak punya muka lagi.
"Iyaa-iya saya?" kata ayah Indri.
Lagian siapa yang berani memfotonya diam-diam, Sialnya itu terjadi kemarin pikir Indri.
Melirik mata Indri ke Shaka yang minum air mineral di gelas seakan sedang minum wine yang pertanda aku menang kamu kalah diawal.
Indri mengepalkan dua tangannya di samping badannya.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, kalo gitu aku pulang eyang Papa, kak mau pulang bersama?" Kata Shaka juga mengajak Zavina pulang bersama.
Vina menggeleng tak habis pikir dengan apa yang sedang Shaka lakukan.
"Aku dengan Eyang, kamu pulang lihat Juan dengan Ethan." Shaka mengedikkan bahu dan mengangguk sambil melempar lempar kunci mobil bututnya yang menurut Shaka itu butut kalo menurut Miria itu mobil buat orang rela jual ginjal sama jantung.
"Okeh..." Shaka pergi dan pamit pada semuanya yang ada di dalam ruangan itu dengan senyuman.
Ibu melirik Indri kesal.
"Anak itu kurang ahli menyembunyikan kesenangannya, sial! siapa yang mencari tahu sampai kesana!" bisik Ibunya Indri di telinga ayahnya Indri dan melempar tatapan tajam sekaligus bencinya pada indri.
Indri membuang pandangannya asal tak menatap sang ibu.
Arti tatapan sang ibu yang menurut Indri itu adalah tatapan yang mengeje juga mengoloknya payyah, tak berguna, Enyahlah.
Shaka yang masuk kedalam mobilnya tak jadi menutup pintu mobil saat melihat Ale membawa pelayan laki-laki dengan di seret.
"Woy!" Ale menoleh dan menarik kerah belakang pelayan itu.
"Gue dikira gay sama lo, dia liat kita keluar toilet bareng," ucap Ale seketika Shaka keluar dan menutup kasar pintu mobilnya.
"Dia yang liat?" Shaka menatap wajahnya.
"Dia punya kelainan kirim aja ke rumah sakit jiwa atau buang ke laut dia harus sembuh kalo gak lo jodohin sama cewek atau dukun beranak," Kata Shaka . Berbalik pergi tapi, berhenti di langah ke lima berbalik dan menatap Ale yang balik menatapnya.
"Dia suka ama lo!" Ale menoleh mendorong sampai pelaan lelaki itu jatuh.
Shaka terkekeh dan tak lam para body guardnya datang.
Shaka pergi dengan mobilnya.
"kirim di ke pulau lain pedalaman jika perlu, terserah kalian atau kirim sekaligu keluarganya." Alezer menjauh dengan geli melangkajh pergi ke ruangannya yang sedang duduk menikmati makan siangnya.
***
Shaka pulang kerumah dan melihat jika rumah sangat ramai di dalam ruang tengah sepertinya banyak sekali yang berlarian kesana kemari.
Shaka memberikan kunci mobilnya pada pelayan dan melangkah masuk kdalam rumah.
Brugh...
"Minggir Ethaaaan."
Trak bruuk...
__ADS_1
"Aduh Onty!" Teriak mereka ketika itu Mika dan Miria mendekat dan membantu ke duanya berdiri Shaka yang di tabrak tak di bantu berdiri dan saat melihat bentuk rumah.
"Biasaa Om.. liatin kita main kerajaan sama rakyat jelata!"
Kata Juan dengan polosnya menunjuk Yuki Qinan jadi rakyat jelata Olva penasehat kerajaan Mika ratu. Miria sebagai putri dan kedua anak kecil itu sebagai prajurit bengis pura-pura menggunakan kumis dari pensil alis hitam dan menggunakan coretan merah dari lipstrik Miria.
Shaka kenal itu semua riasan wajah siapa warna dan bau dari riasan itu menguap saat kedua anak itu berkeringat.
"Kalian!" Shaka mengusap wajahnya.
Mika berdiri dan menatap Shaka serius. Shaka megangguk mengerti tatapan mata itu.
"Sekarang onty onty mau pulang kalian salim dulu ya, minta tolong mb juli sama mb Jina bantu siapin baju kalian aja. Mandinya ngantri ya." Kata Miria kedua nya mengangguk dan kedua pelayan muda itu menghampiri merek dan membantu mereka mandi yang sesuai dengan perintah miria saja mereka juga sudah jauh para pelayan langsung membereskan rumah lalu bibi membisikkan seuatu pada Miria.
"Oh iya titipan kak Vina bentar ya Kak Mika." Mika mengangguk dan Shaka beralih berjalan ke sofa di ikuti Qinan dan Yuki juga Olva.
"Lancar?" kata Yuki. Shaka menganggukkan kepalanya. Mikaila mengambil jus jeruk yang bibi bawakan dan di bantu meletakkan di masing-masing temannya.
"Makasih bi," ucap Yuki dan Qinan bersamaan.
"Gimana gak berhasil kita berempat masuk tempat laknan ngambil foto sambil ketar ketir takut di *****-***** sama manusia gak punya malu disana." Omel Qinan.
"Iyaa iya, makasih yaa.. oiya ntar malem gue tf dah makasih ya lumayan buat cek out barang shopingan kalian." Shaka menatap keempatnya.
"Emm.." Olva setelah meminum es lemon tea nya.
"Gak.. gak usah gitu Lo, Kita ikhlas bantu Miria ini buat Lo sama Miria.. kita minta Lo, cepet buat anak terus kita bisa main bareng mereka." Kata Olva
Shaka mengangguk anggukkan kepalanya.
"Eh Ria!" Mia melihat Ria datang di bantu pelayan.
Qinan Yuki Olva langsung menerimanya termasuk Mikaila.
"Wah yakin lo, Ria lo pinter masak, pinter Shaka milih lo nilai berharga lo banyak, makasih ya, eh gue kurang nambah lagi boleh kali, ada rasa apa aja." Kata Mikaila.
"Heleh... kebiasaan jangan kasih ri numpang gratisan mulu dia." Qinan tak terima jika Mikaila saja yang di beri tambahan camilan.
"Banyak yuk kak milih aja."
Shaka tersenyum melihat keempat teman perempuan suka dan dekat sekali dengan Miria.
Semuanya pulang tinggal Shaka dan Miria.
Saat membantu Shaka membuka kancing kemeja dan membantu melepaskan nya. Miria tersenyum.
"Gimana?" Shaka menatap Miria.
"Gagal kayaknya." kata Shaka santai dan pergi masuk ke dalam kamar mandi.
***
Hari berlalu tak terasa dua minggu lebih sepertinya terhitung dua bulan lebih atau mungkin hampir tiga bulan.
"Shaka kamu gak mau au malam ini?" Tanya Miria seketika itu shaka yang sibuk dengan talet dn ponselnya di meja belajar menoleh ke Miria.
"Ka-kamu hem, maksud aku kamu pengen apa?" Shaka gugup ia sangat malu.
__ADS_1
"Miria kamu dari kemaren mancing aku terus... apa kamu?" Seketika itu Miria mengecup Shaka duluan di bibirnya lalu pipi kanan kiri dan duduk di pangkuan Shaka.
"Astaghfirullah..." Shaka tergoda sekarang.
Sejak beberapa minggu lalu Miria selalu minta duluan dan shaka tak masalah tapi, ini aneh.
"Iyaa boleh ya ?" Memelas menatap wajah shaka.
Seketika itu shaka membenarkan Miria di pangkuannya menghadap Shaka.
Saat bersamaan hujan turun dengan deras.
Dingin ac dan pelembab kamar juga harum rempah di kamar. Suara hujan juga menambah kesan romantis untuk mereka.
Malam yang panjang.
Shaka merasa senang dalam hatinya penuh bunga karena Miria sangat cantik juga berani sekarang ini memintanya duluan.
Setelah sholat Subuh pagi hari Miria tiba-tiba memberikan kecupan pagi di wajah kecuali, bibir. Membangunkan Shaka. Tertidur lagi di pangkuannya setelah sholat subuh dan mendengarkan Miria mengaji.
"Bangun dah pagi kamu ada jadwal apa?" Kata Ria.
Shaka malah memeluk erat tangannya san mencium telapak tangan Miria.
"Mas.." Shaka bergumam.
Bangun dan duduk lalu bersiap mandi.
Shaka yang sudah masuk kedalam kamar mandi Zavina masuk setelah mengetuk pintu dan Miria membukakan pintu untuknya.
"Kak?"
"Ria... Shaka dimana?" Kata Zavina.
"Mandi." Zavina mengangguk.
"Maaf Miria kakak gak bisa cegah."
Miria diam mendengar pernyataan dari mulut Zavina kalo pertunangan Shaka benar terjadi Miria juga mendengarkan Zavina tentang kejadian beberapa minggu lalu dan ternyata itu hanya editan.
Zavina mengambil kedua tangan Miria membuat Miria tegar.
"Iyaa kak aku gak papa." kata Miria seketika itu di peluk Zavina.
Shaka keluar kamar mandi melihat Miria duduk di pinggir kasur.
"Emm Mas, Pertunangan kalian jadi, Kak Vina jelasin semuanya."
"Terus." Kata Shaka masih sangat santai.
"Kamu diminta berangkat pagi ini acaranya di hotel hercules lantai sepuluh ruang VVIP." Kata Miria memberikan kartu undangan makan bersama.
Shaka mengambilnya dan melihatnya.
"Kamu mau aku dateng.." Shaka menatap Miria menunggu penolakan. Miria malah mengangguk.
"Ok aku dateng." Shaka langsung mengenakan pakaian rapih nya juga sopan dan keluar tanpa menatap Miria lagi.
__ADS_1
"Ini yang terbaik buat kamu, Shaka."