
Tak selamanya harapan akan hidup kadang sebelum terwujud Harapan sudah pergi lebih dulu.
Bukan kesalahannya tapi, waktu memang sudah memilihnya.
Tidak akan sia-sia hidup seseorang walaupun ia merasa kalo ia tak bisa melakukan apapun.
Bukan berarti hidup manusia lain berhenti dan waktu berhenti berputar saat salah satu dari mereka tiada.
***
Pemakamam sang ibu. Menyisakan kenangannya selama sakit hanya Miria yang berusaha agar semua tak sulit termasuk ayah ataupun kakaknya.
Bahkan meminta sang adik untuk tetap bisa tersenyum.
Tak ada yang berhenti. Malam setelah hari berkabung tak bisa seperti hari biasanya.
Duduk didalam kamar masih dengan pakaian hitam dan terus menangis menyalahkan dirinya.
Ketakutannya bertambah lagi.
Ia sudah tak berani berharap siapapun selamanya bersamanya.
"Ria." Lembut suara Shaka menyapa telinganya membuatnya menoleh.
"Aku anak yang gak baik ya," ucapnya.
"Aku harus apa supaya ini gak kejadian."
"Tadinya aku cari pendoro ginjal buat Mama aja, aku dah cek ginjal aku bagus... kenapa mama gak mau."
"Aku harusnya ngerawat mama di rumah aja gak usah di rumah sakit kayaknya ada yang salah atau mama jangan-jangan bosen dan mama gak betah."
"Mama gak pernah ngeluh selalu aku yang harus ngerti sampe mama suka sama apa yang berusaha aku ngertiin tanpa mama ngomong. Sekarang kenapa mama pergi kan aku udah bisa paham apa mau mama... mama sembuh kan Aku bakalan usahain supaya sembuh."
"Tapi, bukan sembuh kayak gini, Mama pergi jauh mama gak akan pulang. Tempat mama berobat tempat paling baik. Tapi, mama gak akan pulang, mama gak bisa balik ke aku lagi mama gak bisa sama aku lagi, Shaka...."
Miria berbalik memeluk Shaka dan dengan segenap hatinya pelukan dan tangis Miria Shaka terima dan Shaka akan memeluknya sampai kesedihan itu hilang mereda atau berpindah padanya.
"Mama udah tahu hal ini bakalan kejadian mama juga paham gak semua manusia itu sempurna dan dunia cuman tempat sementaranya, Allah juga udah manggil Mama berarti tugas mama udah selesai."
Sesegukan didalam pelukan Shaka.
"Tapi, tapikan mama belum... liat aku sama kamu kasih dia cucu atau mama belum liat Ciko dewasa."
Kembali menangis hingga akhirnya Miria tertidur di pelukan Shaka.
Kemeja hitamnya sampai terasa dingin dan lembab.
__ADS_1
Air mata Miria sangat banyak di keluarkan.
"Tidur yang nyenyak aku minta Kakak buat gantiin baju kamu, sayang." Mengecup dahi Miria dan membaringkan dengan baik diatas kasur dengan selimut.
***
Bangun dengan kedua mata sembab dan baju tergantikan dengan baik.
"Aaaa..." Teriakannya membuat Shaka yang baru masuk kamar menatap Miria dengan bingung.
Tangannya menyilang didadanya.
"A-aku kok bisa ganti baju? Siapa yang? Kamu? Terus kenapa mata aku sembab? Berapa lama aku nangis semalem?"
Shaka membuka horden dan memberikan senampan sarapan.
"Aku buat roti isi, makan itu minum air angetnya terus susu coklat, aku tahu kamu masih suka susu coklat. Ada ciki di bawah... kamu gak usah kerja gak papa kalo mau kerja juga gak papa."
Lalu duduk didepan Miria membawa meja dan meletakkan makanannya diatas meja.
Miria makan diatas kasur.
Rasanya sangat aneh.
Shaka sangat perhatian sekali kenapa Miria merasa deg degan terus kalo Shaka terlalu baik gini.
"Dah natap muka ku, sekarang makan."
"Yang banyak di habisin mau nambah bilang aku buatin lagi," ucapnya seketika itu mengecup dahi Miria dan mengusap rambutnya.
Shaka bangkit berdiri mencari sisir di meja rias dan kembali lagi ke kasur.
Perlahan rambut Ria di sisi lembut oleh Shaka dan di rapikan juga di ikat rapi supaya tidak mengganggunya saat makan.
Dari pintu Zavina mengintip yang Shaka lakukan pada Miria.
"Adikku sudah besar dan jadi suami yang baik." Zavina langsung berbalik pergi dengan kegirangan menghampiri sang papa langsung ketaman.
Zavina mengintip Shaka tadi itu di suruh Papanya.
"Papa... papah!" Heboh Vina menghampiri ayahnya yang sibuk dengan bonsai kesayangannya diatas meja yang sedang di rawat seperti merapikan rambut anaknya sendiri perlahan dan teliti.
"Hem.. Ada apa Vina.."
"Papa mau dapet cucu cepet kayaknya?" Kata Vina seketika memebuat Sang Papa terkejut dan senang.
"Hah.. apa kamu bilang cucu? Lagi.. dari Shaka, papa? Punya cucu lagi?" Vina mengangguk antusias.
__ADS_1
Papanya masih tak percaya.
"Kamu melihatnya?"
"Semalam kan Zavina gantiin baju Miria terus pagi ini Miria di sisirin juga di siapin sarapan sama Shaka... terus apa lagi kalo bukan udah buka kotak paket." Katanya menatap papa yang menatap nya bingung.
Anaknya ini cantik pernah kuliah dengan nilai baik dan menjadi wanita karir tapi, kepolosan tentang suami istri masih buruk.
Papa jadi bingung Zavina itu bisa dapat ayah Juan cara apa, masalahnya sangat lugu polos dan hanya cantik dan pintar.
Dunia itu kejam untuk gadis lugu tapi, hanya pintar pelajaran bukan pintar bertahan hidup di kejamnya dunia nyata.
Sepertinya Ayah Juan juga sama seperti Zavina makanya menghasilkan Juan yang super tampan dan cerdas dengan fisik sangat sempurna, kulit putih memiliki lesung pipi dan termasuk lamaran untuk Juan dari kolega padahal Cucunya baru saja Smp.
"Vina sayangku, putriku yang manis... dengar mereka itu berarti belum membuatnya, mereka hanya melakukan hal bisa bukan hal luar biasa yang menghasilkan sesuatu." Papanya kembali duduk dan sibuk dengan Bonsainya.
Vina mengerutkan dahinya.
"Iya kah.." Papa menggeleng dengan tanggapan Vina yang tak percaya.
***
"Apa mau sesuatu?" Tanya Shaka sambil membaca buku dengan duduk di kursi di samping jendela.
Miria menoleh dan berbalik dengan tengkurap.
Ia sudah berputar mengelilingi kasur dan beberapa menghela nafasnya karena lelah hanya diatas kasur dan turun kasur hanya untuk ke kamar mandi.
"Apa mau ajak aku keluar? Halah!" Tanya sendiri jawab sendiri.
Shaka berdiri menutup bukunya.
Suara buku tertutup membuat Miria menghentikan aktivitasnya menonton drama di ponselnya dan duduk lalu mematikan ponselnya.
"Beneran?" Dengan semangat dan berapi.
Shaka mengengguk pelan sekali
Miria langsung melompat dari atas kasur mengisi daya ponselnya sebentar pergi bersiap.
Selama satu jam Miria keluar dengan gamis hitam panjang renda bawah yang berwarna hitam juga. Lengannya sangat panjang hampir menutupi punggung tangannya. Jilbab segi tiga warna hitam juga.
Penampilan yang terlihat sederhana serba hitam itu sangat cocok untuk Ria.
Satu kata, Manis.
"Kamu cantik."
__ADS_1
"Aku boleh pakai ini seterusnya... warnanya aku suka..." Shaka mengangguk sambil mengulurkan tangannya.
"Kita berangkat sekarang?"