Anxietas

Anxietas
Amarah besar sang Papa


__ADS_3

Miria duduk di samping Shaka setelaah sholat tahajudnya.


Meraba kepala Shaka dan mengusap lembut.


"Mas bangun, tahajud."


"Hemm." Shaka berbalik dan melihat Ria dengan mukenah renda coklat susu dan wangi parfum setiap selesai sholat itu menenangkan.


"Kamu wangi?" Katanya. Setengah sadar menarik tangan Miria yang entah kenapa dingin wangi dan lembut dan membuat Shaka terus-terusan menempelkannya pada bibir dan hidungnya.


"Kamu mau tinggal sama aku gak?" Tanya shaka pelan.


"Tinggal? Mksudnya?" Miria melihat sang suami yang perlahan bangun dengan wajah kantuk dan rambut berantakannya.


Miria memberikan air minum.


Shaka menerimanya.


"Aku mau pergi dari rumah, Eyang setuju itu." Shaka bergeser maju dan duduk di samping Miria.


"Tapi, nanti siapa... Mas?" Ria melihat sudut bibir Shaka yang sobek.


"Ini gak papa." Sambil tersenyum. Lalu berdiri dan segera wudhu.


Sejak bersama, Miria tak pernah melihat Shaka baik-baik sja di waku yang lama.


Kasihan Shaka. Miria harus bagaimana, ini sebenarnya perasaan apa karena ia waktu itu menerima dan rasanya setelah menerima lamaran rasanya senang tapi, bagaimana ia menolak waktu itu apa ia akan


Kecewa juga.


Salah Miria semuanya yang menimpa Shaka.


Shaka itu baik, tidak sombong bahkan Miria bertemu Shaka juga kebetulan mobil sportnya mogok dan Miria membantu membelikan bahan bakar dengan galon yang ia beli di ukang rongsokkan.


Shaka juga tak malu mendorong gerobaknya dan mengantarkannya samapi rumah Ria.


Shaka tak jauh umurnya dengannya, Miria tahu bagaimana perasaan Shka yang ternyata anak sambung dan ibunya meninggal.


***


"Sayang." Shaka mengusap bahu Ria dan menoleh ke samping melihat Shaka berdiri di sampingnya.


"Kamu sedih, maaf ya." Miria mnangis memeluk Shaka di sambut hangat pelukan Mira oleh Shaka.


"Aku jadi cengeng terus... males nangis tapi, kok sedih banget... ini karena kamu Shaka... kenapa hiks.. hiks... kamu gak nurutin aja mau eyang, aku gak papa beneran seriusan, Shaka... lebih baik aku diduakan dari pada kamu harus pergi dari rumah ini karena nolak Eyang." Shaka masih diam mendengarkan.


"Hiih kamu diem aja... Aaku serius Shaka aku tuh gak apa mau kamu nikah dua empat kali yang penting kamu bahagia dan itu juga printah Eyang, kamu jangan pergi dari rumah ini ya, tolong kamu iyain apa kata Eyang," ucapanya masih sambil menangis di pelukan Shaka.

__ADS_1


"Enggak ada perubahan keputusan." Jawaban Shaka datar.


Keluar dari kamar hanya dengan satu koper dan tas untuk kuliah.


Juan dan Ethan yang baru keluar kamar melihat Miria dengan koper langsung menghamipiri.


"Onty mau pergi?" Tanya Ethan.


"Onty mau bulan madu?" Tanya Juan.


Miria berjongkok dan menatap keduanya.


"Maaf ya Onty gak bisa di sini lagi, Onty mau pindah... Nanti bibi yang tiap sore ajak Ethan sama Juan maen ya."


"Hiks..."Juan menangis di tahan tapi, tetap terisak.


"MAMII..." Ethan berlari ke kamar sang mami dan pintu dibuka dari dalam saat Ethan mengtuknya.


"Kenapa... Shaka Ria?" Kaget saat menoleh kearah Ethan menunjuk ke arah Juan terdengar menangis.


"Mami." Juan berlarian memeluk maminya dan Ethan mnatap sedih.


"Mami Onty jangan pergi mami. Mamiii onty jangan pergi mami.." Shaka mendekat dan menghampiri kakaknya dan mengusap kepala kedua ke ponakannya.


"Maaf kak.."


"Ria jangan ya... Zavina memohon menghampiri dan memegang kedua tangan Ria.


Ria menunduk dan mencium tangan Zavina.


Ethan dan Juan saling tatap.


"Kakek!" Kedua anak Zavina pergi menuruni tangga dan saat itu Yanuar baru masuk dengan Eyang kedalam rumah setelah bicara di luar.


"Kakek... Onty sama Om Shaka jangan pergi ya, ya kakek..." Mohon Juan.


"Kalo gitu mending Ethan aja ya Kakek... Ethan kan orang asing juga..."


Deg...


Suasana pagi langsung berubah sedih dalam sekejap dengan ucapan Ethan.


Juan mengangguk.


"Juan juga... Juan sama abang Ethan aja gantiin Onty... Mami biar disini jaga kakek... Temen Juan sama Ethan lagi buka toko mainan... abang Ethan sama Juan bisa kerja terus numpang disini sampe lulus Sd... boleh ya Kakek... Jangan usir Onty... Eyang putri.."


Eyang menatap anak kecil yang baru sekolah dasar itu sedih sendiri.

__ADS_1


"Eyang jangan usir Onty sama Om Shaka, Juan janji nanti kalo dah besar Juan gak akan nakal sama mami akan jadi pelindung mami..."


Yanuar semakin sedih dalam hatinya.


"Ethan-Ethan juga, Nani kalo dah besar Ethan mau kayak om Shaka yang keren biar gak bebanin Eyang putri sama kakek."


Melihat Zavina turun dengan Ria dan Shaka, seketika itu mat Papa terlihat sedang emosi tinggi.


"Zavina." Panggil papa. Dengan cepat bib dan Zavina menghampiri Ethan dan Juan membawa keduanya masuk kedalam kamar.


Kedua anak itu diam-diam mengedipkan mata. Dim-diam juga mengacungkan jempolnya.


Merasa sudah aman dari Ethan dan Juan. Papa mengajak semua duduk.


Eyang menatap Miria semakin benci.


"Eyang... jangan liat Ria gitu!" Kata Shaka.


"Cih.. Perempuan gak jelas!" Kata eyangnya.


Papa menghela nafasnya.


"Papa gak bisa biarin kamu pergi Shaka. Rumah restoran juga beberapa aset udah atas nama kamu.. Buat kakak-kakak kamu itu udah di bawa mereka masing-masing jadi kamu jangan pergi... kakak-kakak kamu gak ada yang mau ambil hak kamu termasuk Zavina dia udah banyak mengurus bisnis keluarga Ethan, ditambah bisnis almarhumah nenek Juan dari ayah Juan."


"Pah.. Shaka gak bisa."


"Harus bisa." Paksa papa dengan tegas tak ada bantahan.


"Tapi, Saya.." Miria di tatap papa dengan lembut.


"Nak dirumah ini aja ya, anak bandel itu biar papa yang urus." Kata Papa.


"Shaka gak bisa." lalu berdiri menarik pelan tangan Ria dan akan menarik kopernya.


"JANGAN BANTAH PAPA." Langkah Shaka berhenti. Lalu menoleh kesamping dan berjalan lima langkah sampai akhirnya para bawahan sang papa menutup pintu keluar.


"Eyang akan pikirkan cara lain, hari ini juga Eyang akan pulang lagi ke rumahnya sama Indri kmu gak usah pergi... Apa udah tua dan gak bisa lagi ngurus bisnis." Kata papa dengan tenang walau emosnya naik waktu dua cucu jagoannya menggantikan tempat onty kesayangannya keluar rumah ini.


"Angkat anak lain lagi pah." asal Shaka seketika meja kaca pecah. Miria sampai menunduk takut dan menggenggam kuat tangan Shaka sampai kuku tumpulnya bisa terasa mencengkram kuat pegangan tangannya di tangan Shaka.


"SHAKA!" Suara Papa sangat tinggi.


Miria dan Eyang sampai terlonjak kaget.


Tatapan Shaa dan Ayah sangat keras dan sama-sama egois.


"Shaka... Nurutin papa ja ya," ucap Miria lembut.

__ADS_1


__ADS_2