Anxietas

Anxietas
Ketakutan masih ada


__ADS_3

Mereka tak bisa mengenal dirimu dengan baik bahkan mereka juga yang hidup bertahun tahun denganmu kadang masih bingung dengan apa yang kamu suka dan tidak suka.


Pengertian dan perhatian juga memaklumi satu sama lain, penting!


Saat ini pun Ria hanya bisa duduk diam melihat Shaka yang tengah mengurus semua laporan didalam kantornya jam sudah waktunya tutup dan Ria masih disini menunggu Shaka yang sibuk.


Jika Ria perhatikan Shaka itu tak terlalu buruk pernikahan ini lebih baik dan tak terlalu buruk.


"Apa yang kamu liat?" Tanya Shaka pada Ria yang langsung mengerjap matanya. Berdeham dan mengalihkan wajahnya.


"Enggak aku ngantuk liatin kamu utu aja." Kata nya malu malu.


Shaka terkekeh dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Shaka aku minta maaf kalo misalnya kemaren gak ada anu.. pengantinnya aku belom seiap."


Shaka menutup berkesnya menghela nafasnya.


Ria memainkan jarinya kagang saling mengusap usap tangannya bukan karena dingin tapi takut, kadang juga kaki dan tangannya beku tak bisa bergerak.


Seperti sekarang Ria takut Shaka akan mencecarnya dengan banyak pertanyaa.


Bahkan bayangan Ria adalah ia di rendahkan di katai pemalu keterlaluan.


"Iya.. gak masalah."


Jawaban yang di kuar harapan dan perkiraan Ria.


Deg...deg...


Hatinya rasanya menghangat tapo, ia tak boleh senang dulu.


Ia takut kalo Shaka sengaja bilang seperti itu pasti karena ia terpaksa.

__ADS_1


Shaka pasti juga menginginkan hal itu tapi, Ria tak bisa memberikannya.


""lagian kenapa kamu mikirin itu sih Ri. Kan aku juga tahu kamu sama aku itu sama tapi, ku juga gak maksa kamu kalo kamu mau sekarang kalo kamu masih taku gak apa mau same kapanpun aku tunggu."


Ria paham itu Shaka akan menunggunya tapi, kan Ria takut kalo misalnya tidak di beri juga Shaka akan bermain di luar.


"Kamu ngapain mikirin macem-macem.. aku juga dah lama bisa nahan cuman nungguin kamu siap itu gak masalah buat aku... aku kan dah janji, aku dah pernah bilang kalo misalnya kamu setuju nikah sama aku aku bakalan tepatin semua janji aku, Kamu ingetkan itu!"


Ria mengangguki ucapan panjanh Shaka. Shaka tersenyum melihat wajah polos dan bingung Ria.


"tapi, kamu bilang se-setahun itu?"


Shaka terdiam dan bangkit lalu berjalan ke sofa ruangannya duduk di samping Ria tiba-tiba meletakkan kepalanya di atas pangkuan Ria yang snagat empuk dan nyaman bahkan Shaka tak pernah bisa merasakan pangkuan ibunya karena ia malu sekarang dengan Ria ia langsung meletakkan kepalanya begitu saja.


Ria rasanya ingin menjerit kaget dalam batinnya.


Shaka terkekeh.


Shaka memejamkan matanya dan merasakan usapan lembut tangan Ria dan juga usapan di dahinya.


"Kamu masih takut sama aku.. sama pernikahan...kita?" Tanya Shaka tiba-tiba.


Ria terdiam agak lama lalu bersuara pelan lagi menjawab.


"Iya, takut...aku takut kamu kalo lagi tegas sama datar mukannya suara kamu tadi pagi tanya itu kayak orang marah, aku gak bisa nahan emosi...aku sering di ganggu mereka diem tapi sekarang aku gak mau diem aja, apa lagi nanti kalo aku diem aku jadi lemah...takut jadi beban kamu."


Shaka mengambil satu tangan Ria dan mencium punggung tangannya.


"Gak.. aku gak marah yaa kecuali, kamu keterlaluan dan sekali ini gak papa."


" Kamu juga gak ngerepotin apa lagi nge bebanin aku, aku senang kamu bergantung sama aku... Kamu juga gak lemah kamu Perempuan tangguh Ria."


Seketika itu hati Ria menghangat.

__ADS_1


Tapi, ia tetap tak bis apercaya pada Shaka takut Shaka sama seperti suami kejam di luar sana dan hubungan pernikahan itu rentan konflik mau sekuat apapun hubungannya.


Karena godaannya lebih besar ketika belum menikah.


Seketika itu sunyi.


Shaka membuka matanya ternyata Ria memainkan ponselnya sambil tertidur.


Shaka bangun dan menempatkan Ria di sofa dengan nyaman mematikan ponsel dan menyimpan ponselnya di meja.


Keputusannya belum menyentuh Ria adalah karena hubungan pernikahan ini malah sangat menakutkan dan nyata bagi Shaka. Ia takut dirinya tergoda di luaran dan membuar Hati Ria hancur.


Ia memilih tak dekat dengan perempuan manapun adalah karena Shaka tahu Hati wanita itu rapuh.


Shaka tak bisa melihat ibunya menangis bahkan ia juga lebih baik menjauh saat melihat teman perempuannya menangis karena masalah mereka yang tak ada hubungannya dengan Shaka.


Hati Shaka bisa marah jika sampe Shaka membuat perempuan menangis. Selama ibunya hidup Shaka berusaha keras membuat tersenyum ibunya sekarang ia sudah memiliki Istri, Shaka juga harus membuat Ria terus tersenyum. Air mata Perempuan dalam hidupnya itu sama seperti peluru yang terus tertembak ke dadanya sakitnya benar-benar hampir tak bisa di jelaskan.


Sekarang Shaka benar-benar harus tahu cara membuat Ria melupakan traumanya perlahan.


Ria itu kuat tapi, tak bisa sekuat Shaka. Ria itu menyimpan Traumanya bukan menutup rapat dan menyimpanya dengan sangat baik.


Justru hanya di simpan dan bisa ia ingat sewaktu waktu.


Shaka beruntung kenal Ria saat itu.


Jika bukan Ria, Shaka tak akan mau menikah walaupun Ria bukan yang sempurna. Shaka tetap mau yang seperti Miria.


Hidup dengan penuh tekanan dan mental yang tak sehat, nasehat kedengaran seperti bulyan di tambah lingkungan teman dan keluarga yang tak selalu baik.


Anak perempuan tengah yang harus bersikap seperti anak perempuan pertama.


Banyak sekali hal yang Shaka lihat saat mengenal Miria. Bahkan teman-teman Shaka kenal Miria dari cerita Shaka.

__ADS_1


__ADS_2