Anxietas

Anxietas
Shaka dan foto


__ADS_3

Miria melihat ponsel yang bunyi saat ia baru selesai mandi setelah membuka dan melihat ternyata pesan dari orang asing.


"Dia pasti marah karena gue sengaja ngirim ke cewek sok itu!" Kata Paula yang bekerja di perusahan produksi makanan ringan milik Papa Yanuar dan jabatan Paula adalah operator produksi bagian keluar negeri, mereka siang ini sedang rapat dan makan siang bersama dengan yang lainnya.


Bahkan memberikan emot love.


Miria meletakkan kasar ponselnya dan mengenakan hujap panjang juga pakaian panjang hitam.


"Kak da yang bisa anterin aku ke tempat kak Shaka rapat gak?" Tanya Miria di grup lima orang itu.


Seketika itu Olva membalasdengan cepat.


"Gue siapa-siapa gue jemput lo Ri!" alas pesan Olva ceat.


"waah hebat.. Olva lo esambet sejak kapan lo jadi siaga siap sedia?" kata Qinan meledek Olva saat ia akan membalas Miriaaa Olva lebih cepat.


Olva dan Qinan sedang ada di cafe mereka berdua sedang ngopi Yuki mengurus pekerjaan ibunya.


Mikaila sedang menghadiri ulang tahun ibunya Alezer.


"Yaa Lo mau ikut kagak?" Qinan mengerutkan dahi.


"Jelas lah, lo tega ninggalin gue!" Keduanya keluar Cafe. Dengan tenang Olva mengemudi.


Di lain tempat Yuki dan Mika melihat pesan grup.


"Kenapa Miria, ada apa sama Shaka?" Tanya Mika membalas pesan miria.


Seketika terkirim gambar Shaka dan perempuan.


Miria menatap foto yang Shaka kirim dari ponsel asistennya dan melihat dari nomor asing membuatnya merasa penasaran.


Miria meminta tolong teman Shaka karena ak mau membuat papa atau kak Zavina kesal.


Klunting!


"Lo dah mastiin sesuatu Ri?" Tanya Mika.


"Iya Kak?" Kata Miria.


"Lo kalo ragu jangan nyusul." Kata Yuki yang kali ini membalas pesan Miria di grup.


"Aku penasaran kak."


Miria keluar dan tak lama mobil Olva datang.


Miria masuk di kursi belakang.


Qinan menyapa Miria.


***


Di tempatnya Shaka mendapat pesan singkat kalo Miria menyusulnya bersama dengan Olva dan Qinan.


"Halo." Shaka menelpon Mika.


"Lo gak usah prank, gak lucu!"


"Dih.. Dodol! Gue gak Ngeprank lo! Gue ngasih tahu, Lo lagian gak jaga jarak lo ama mb Paula yang menor itu, Liat dia biasa tahu nomor Miria dari mana. Tahu juga Lo sama dia kayak makan siang bareng, Baca Pesan gue!"


Seketika itu di matikan telpon dan membuka pesan yang Mika kirim.


Mika melihat telponnya di putus Shaka duluan hanya santai dan meletakkan kembali ponsel di dalam saku dompetnya.


"Maaf kalo saya terburu-buru menutup rapat kita kali ini." Shaka berdiri dan meminta maaf dengan benar.


"Apa yang terjadi pak?" tanya rudi sebagai ketua penyelenggara rapat perusahan ini.


"Sesuatu terjadi, jadi untuk sisa rapat kita lakukan setelah aku mengirimkan konfirmasi kalo urusanku dengan... istriku selesai." Melirik semua peserta rapat di depan juga kanan kirinya termasuk Paula.


"Paula, Rudi kau tanya dengannya bagaimana pekerjaannya selama ini, kumpul kan dari dua tahun lalu sampe sekarang."


Rudi menoleh pada Paula.

__ADS_1


"Ba-baik pak!" Semua langsung bubar dan meninggalkan Shaka sendiri.


Di saat mobil Olva terparkir didepan gedung kantor dan memberikan kunci pada petugas, Qinan mengajak Miria masuk dan bertanya tentang nama Shaka.


Resepsionis pun menjelaskan nama panjang Shaka dan Miria mengangguk tegas.


"Dimana? Dan jadwal apa yang beliau hadiri jam segini?"


Resepsionis pun kaget dan menelpon Rudi.


Di tempatnya Rudi yang sibuk dan di buat lelah mendapat telpon resepsionis.


"Pak di bawah ada nona Qinan teman pak Shaka dan Satu lagi perempuan berjilbab bertanya tentang Pak Shaka."


Rudi mengusap wajahnya.


"Astaga Paula kamu membuat masalah apa sih!" Kesalnya sampai geram.


Paula semakin tertekan.


Rudi menempelkan kembali telponnya.


"Bawa dia ke restoran kantor dan minta orang antarkan Nyonya bertemu pak Shaka."


Mendengar kata nyonya Resepsionis dan Paula terkejut.


Resepsionis langsung panik.


"Oh.. mengerti pak."


"ehm.. Maaf Bu, Permisi kalo boleh Saya akan mengantar anda bertemu pak Shaka.


Miria mengangguk.


Qinan yang mau mengikuti Miria di cegah Olva.


"urusab mereka lo ama gue gak berhak." Qinan menatap olva.


"Iyaa bener juga." Jawab Qinan dan berbalik merangkul tangan Olva.


Olva menarik tangannya.


"Makan mulu Badan lo kerempeng heran gue lemak lo kemana?" kata olva berjalan pergi duluan meninggalkan Qinan.


qinan menoleh ke resepsionis.


"Gue cubby gak?"


Resepsionis tersenyum.


"Huh.. Olva.. Liat lo!" Menyusul Olva dan pergi dari sana.


miria yang diantar resepsionis masuk ke restoran kantor yang seperti tempat makan siang tapi, juga terlihat seperti restoran.


"Kamu kenapa kemari," ucap shaka tanpa basa basi saat Resepsionis tadi membawa dan mempersilakan duduk Miria.


Shaka meminta resepsionis tadi kembali bekerja lagi.


"Kamu katanya lagi rapat kerja.. tapi, ini apa? Kamu kirim foto bareng yang lain? Tapi..."


"Kamu cemburu?" Miria terkekeh dengan pertanyan shaka.


"Cemburu? Enggak, enak aja.. aku cuman penasaran, khawatur!"


Shaka berdehem mengangguk.


"Dateng sama siapa?" kata shaka dengan tenang.


"Olva sama Qinan?" Tanya shaka lagi karen Miria tak menjawab dan mrmilih diam saja.


Miria berdehem.


Shaka menganggukkam kepala lagi.

__ADS_1


"Tolong tanya dia mau minum apa jangan sembarangan dia lagi hamil." Kata shaka memanggil penjaga restoran kantor.


"Baik pak."


Shaka menelpon Qinan.


Di tempat tukan ketoprak setelah tukang bakso Qinan melihat ponselnya berlayar panggilan Pak bos galak.


"Apa?"


"Iya... "


"Serah lo, Gue ama Qinan bisa pulanh sendiri, Makasih lo!"


"Yooi!"


Kata Olva ketika di telpon Shaka.


"Apa Shaka ?"


Olva mengangguk.


Qinan memanyunkan bibornya.


"Gimana.. pulang kita?"


"Lo mau nginep ponggir jalan?"


"Yaa kagak olva.." Gemas Qinan.


Di dalam ruangan restoran kantor sekarang.


"Kamu mau makan apa... mau jalan atau mau pulang?"


"Terserah." Cueknya.


Shaka terkekeh berdiri dan mengusap selai di pinggir bibir Miria.


dan menghisapnya di jempol yang di gunakan mengusap selai di bibir Ria.


"Manis.. masih sama rasa awalnya." Miria blushing.


"Aku mau ambil makanan berat dulu kamu harus makan banyak, Aku mau pulang aja urusannya bisa di lanjut dirumah, Makasih cemburunya Sayang."


Miria kembali malu rasanya ia tak pernah merasakan perasaan bahagia yang sehebat ini tapi, ia tak bisa mengungkapkan kalo ia senang dan malah menahannya.


Dalam batin sudah menjerit kegirangan.


Di rumahnya Cakra menatap gerimis didepan jendelanya.


Gelang yang sudah ia siapkan untuk Miria di hari ulang tahun Miria nanti akan ia berikan tapi, ia rasa inj tidak bisa ia berikan.


Indri yang di penjara oleh pemilik toko barang mahal masih dudum diam menatap keluar sel dengan pakaian tahanan.


Saat sedang diam tiba-tiba seseorang mendatanginya.


"Kamu butuh bantuan?" katanya.


"Siapa kamu?"


seorang wanita cantik wajahnya tak bisa Indri liat jelas karena tertutup masker dan kaca mata.


"Aku orang yang mau bantu kamu tapi, syaratnya adalah kasih Shaka ke aku dan buang Miria ketempat yang jauh, sebelum itu buat dia menderita dulu."


Indri tersenyum.


"Boleh."


Paula yang ada didalam ruangannya menerima telpon.


"Hallo?"


"Yaa..?"

__ADS_1


"Baik Nona." Kata Paula.


orang di sebrang sana duduk berhadapan dengan Indri.


__ADS_2